
Mengetahui ponsel mati akhirnya ia memilih naik ojek saja. Hatinya bertambah gusar saat sepeda motor itu membawa nya semakin dekat gedung apartemen dimana Qenan tinggal.
Dada nya kembali sesak ketika sepeda motor itu berhenti. "Ini mang ongkosnya, terimakasih." ucapnya tulus kepada tukang ojek langganan nya.
"Ini kembalian nya Dir."
"Untuk mang aja deh."
Binar mata sangat kentara dari mata tukang ojek tersebut. "Terimakasih Dir, kalau begini besok istri mang bisa beli beras. Terimakasih banyak Dir.. " Ucapan terimakasih terus terucap sampai Nadira mengatakan hanya ingin di doakan semoga selalu sehat kepada mang Amad.
Resah.
Takut.
Dan merasa bersalah.
Itulah yang dirasakan Nadira sekarang. Berjalan dengan perlahan untuk menetralkan degub jantung sedari tadi tak ingin bersahabat dengannya.
Setelah keluar dari lift menuju unit apartemen Qenan, ia semakin memperlambat langkah nya.
Berulang kali di hirup udara dalam-dalam lalu hembuskan secara perlahan pula. Memberanikan diri menekan tombol-tombol password apartemen tersebut.
Pintu terbuka dengan tersaji gelapnya ruang tamu. Ada rasa lega karena Qenan belum pulang, ia pun merayap ke dinding mencari letak saklar lampu
"Qenan.." Pekik Nadira terkejut setengah mati karena orang yang belum siap ia temui sudah berada di apartemen.
Nadira terus mencoba menelan saliva yang sangat susah pikirnya. Ia terus mengumpulkan keberanian menghadapi masalah dan mengakui kesalahan.
Ia langkahkan tungkainya mendekati Qenan dan duduk di seberang Qenan. Tatapan mata Qenan seakan menikam habis jantung dan hati nya.
Tatapan itu benar-benar menusuk.
Qenan tersenyum miring melihat Nadira duduk si seberang bukan duduk di samping nya.
Apa ada cowok lain Ra?
Keduanya memilih diam, Qenan ingin melihat seberapa jauh usaha Nadira untuk mengakui kesalahan nya
Sedang Nadira memilih diam karena takut terus mendera dan menunggu Qenan memulai pembicaraan.
Tiga puluh menit kemudian tak juga ada yang membuka suara. Qenan mende sah karena rasa kecewa memenuhi pikiran.
Qenan bangkit tanpa perduli Nadira yang tengah menatapnya.
"Qenan.." panggil Nadira
Qenan berhenti melangkah seakan ada angin segar berharap Nadira menjelaskan dan meminta maaf padanya.
"Mau kemana?" tanya Nadira membuat Qenan kecewa lagi.
__ADS_1
"Kamu tidur lah, gak bagus untuk mu yang baru aja pulang." sindir nya melanjutkan langkah menuju ke balkon yang ada di kamarnya.
Tapi ia membalikkan tubuh menuju dapur mencari sesuatu yang ia butuhkan untuk penenang diri. Setelah menemukan nya ia langsung masuk ke kamar.
Nadira melihat apa yang dibawa Qenan ke kamar lantas mengambil gelas kecil menyusul Qenan di kamar.
Saat sudah masuk ke kamar ia melihat pintu balkon terbuka lantas membuat ia mendatangi suaminya itu.
Benar dugaan nya, kini Qenan tengah melihat kota Jakarta dari atas sini membelakangi dirinya. Dan satu gelas berisikan minuman keras di tangan nya.
Nadira melihat botol minuman itu di atas meja. Di dudukkan bokongnya di sana lalu menuang minuman itu di gelas yang ia bawa dan dengan sengaja meletakkan gelas ke meja sedikit keras agar Qenan menyadari kehadiran nya.
Dan benar saja, Qenan membalikkan tubuh nya melihat asal suara tersebut. Matanya melotot mendapati Nadira hendak meminum minuman keras tersebut.
Dengan gerakan cepat di tepisnya gelas tersebut hingga melayang ke sudut balkon.
"Apa-apaan kamu Rara.." ucapnya meninggi menatap Ngalang ke Nadira yang masih di kuasai rasa terkejutnya.
"Aku hanya ingin minum bersama mu." jawabnya lirih. Sebenarnya tadi hanya memancing perhatian Qenan agar mau bicara padanya.
"Apa kamu gila? bagaimana bisa aku biarkan kamu minum-minuman terlarang itu?"
"Kamu juga meminumnya, bukan nya aku pernah bilang kalau melihat mu mabuk maka aku akan ikut minum bersama mu?"
"Sial..." umpat nya meletakkan gelas nya dengan kasar lalu duduk di sebelah Nadira.
"Qenan, aku tahu aku salah.. Aku pergi tanpa izin mu tapi papa Surya menyuruhku untuk merawat om Wido. Dia sakit dan sahabat beliau pergi."
"Atas dasar apa kamu bisa menilai kalau aku gak akan izinkan? dan kenapa harus kamu yang merawat nya?"
"Maaf." cicitnya, Nadira benar-benar tak ingin berdebat.
"Maaf? maaf untuk yang mana Ra? untuk pergi tanpa izinku? atau maaf karena kamu udah berani merawat cowok lain? atau terlambat pulang dan biarkan suami menunggu mu di rumah sampai dua jam?" cecar Qenan mengeluarkan unek-unek pada sang istri.
Nadira terhenyak mendengar itu, bukan masalah kesalahan awal namun pertanyaan Qenan mengusik hati membuat tambah rasa sesal dan bersalah.
"Dua jam?" gumam nya lalu menatap dalam manik mata coklat gelap milik Qenan. Ia terus merapat mengikis jarak diantara keduanya.
"Maafin aku Nan, sungguh aku menyesal karena ini. Aku gak akan ulangi lagi. Maaf." Akhirnya pertahanan Nadira runtuh, sesuatu yang di tahan kini akhirnya meluncur deras.
Nadira menangis, entah mengapa jika di depan Qenan ia merasa lemah tak berdaya.
Qenan menghela nafas lalu mendekap sang istri yang tengah menangis karena ulah nya sendiri. Melihat Nadira menangis, bagaimana ia mau marah-marah? bahkan emosi tertahan sedari sore menguap entah kemana setelah melihat Nadira menangis penuh sesal.
"Janji jangan di ulang lagi." titah Qenan dan di anggukki Nadira dalam dekapan.
"Tapi kamu harus tetap aku hukum."
Nadira mengurai dekapan menatap Qenan dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Kenapa ada hukuman sih?"
"Karena itulah hidup, apa yang kita perbuat pasti ada hukuman nya."
"Hukuman nya apa?"
"Mau hukuman yang pahit-pahit dulu atau manis nya dulu?" tanya Qenan menyeringai.
Diam sejenak akhirnya Nadira memutuskan hukuman yang pahit-pahit lebih dulu.
"Pilihan yang bagus." Puji Qenan.
"Mulai besok aku yang jemput kamu kuliah, setiap jam harus kasih kabar aku dan juga kirim foto di setiap kamu berada saat kuliah. Aku gak mau kamu dekat-dekat dengan cowok lain lagi."
"Wido, atau siapapun.. Dan sama Dion juga jangan senyum-senyum atau ketawa."
Mulut Nadira menganga mendengar hukuman tersebut dan benar saja ini adalah hukuman pahit sepahit obat dari dokter.
Melihat mulut Nadira menganga seperti itu sangat menggoda dengan cepat ia lahap bibir ranum itu. Dilu mat dan di cecap dengan rakus menyalurkan rasa kesal yang tertahan sedari sore.
Cumbuan itu terlepas saat Nadira hampir kehabisan stok oksigen di rongga paru-paru nya.
"Dan satu lagi jangan melongo atau menganga di depan cowok lain." titahnya tak terbantah.
"Iya, tapi harus ya tiap jam begitu?"
"Ya kalau kamu memang ingin di maafin."
Nadira mengangguk patuh, tak apa menurutnya karena ia tahu itu demi dirinya juga.
"Terus kalau hukuman manis nya apa?" tanya Nadira polos membuat Qenan gemas.
"Aku menginginkan mu. Aku sangat merindukanmu Ra.." ucapnya dengan suara berat menahan gai rah.
"Ya udah ayo di kamar, sebagai permintaan maaf ku, maka dengan senang hati aku akan melayani mu."
Qenan menggeleng mengangkat tubuh Nadira ke pangkuan nya. Di rapikan anak rambut itu lalu di selipkan ke daun telinga nya.
"Aku gak mau di kamar Ra.." Lagi-lagi suara berat itu terdengar seksi di telinga Nadira.
"Jadi?"
"I want to make love in the open." (aku ingin bercinta di alam terbuka.)
"WHAT?!"
🌸
Bersambung...
__ADS_1