
Dalam hidup kita akan selalu membutuhkan orang lain. Tidak melulu soal pacar, hubungan dengan sahabat atau teman sejati adalah sesuatu yang yang penting dalam hidup. Sahabat adalah seseorang yang sudah benar-benar menyatu dalam kehidupan kita, selalu ada untuk kita, selalu bisa menghibur di kala kita sedih, dan selalu bisa mengatakan hal yang tak bisa dikatakan orang lain.
Qenan melihat penampilan kedua sahabatnya nya terlihat kusut. Kini mereka masih berada di teras rumah Qenan
"Apa?" sergah kedua nya bersamaan dengan wajah masam.
Qenan menggeleng lemah lalu menyerahkan kunci pada Nazeef. Sedang Nadira merasa tidak enak menjadi berujar. "Kenapa kalian turuti Qenan datang kesini? ini udah malam, kasian Nina sama Melinda."
"Gak apa kak, kami udah biasa saling merepotkan. Nanti kan kalau anak kalian udah lahir, kami juga harus kasih nama bayi nya."
"Nggak boleh." tukas Qenan.
"Boleh juga."
Qenan menoleh ke arah Nadira. "Sayang, itu anak aku bukan anak mereka."
"Tapi kami juga direpotkan." ucap kedua sahabat Qenan bersamaan.
"Udah ayo." Nadira tidak hiraukan wajah merengut Qenan.
4 orang itu pun masuk ke dalam mobil menuju perumahan Hijau Daun sebelum memasuki perumahan mereka.
Mobil berhenti agak jauh dari rumah yang di maksud Nadira. Ketiga pria tersebut celingukan mencari sesuatu dan melihat pohon jambu yang di maksud Nadira.
"Ra, jambu itu masih kecil-kecil. Belum matang. Aku carikan di toko buah atau supermarket jambu air yang lebih besar." ucap Qenan.
"Iya, Ra. Warna nya aja yang merah tapi masih kecil-kecil." sambung Dion.
"Iya, kakak ipar. Nipu itu pohon jambu air nya." imbuh Nazeef.
Mulut Nadira menganga mendengar ucapan 3 pria bersamanya. Benarkah ketiga pria tersebut tidak tahu bentuk jambu air kancing benik? pikir Nadira.
"Apa kalian nggak tahu bentuk jambu air kancing benik?" tanya Nadira melirik ketiga pria muda itu bergantian.
"Ya, kayak jambu air biasanya kan?"
Nadira menunduk memijat pelipisnya sembari mengulum bibir menahan tawa. Ia merasa ketiga pria muda bersamanya ini kampungan.
Astaga, sebenarnya yang berasal dari kampung itu aku atau mereka sih?. gumam Nadira dalam hati.
"Udah cepat sana minta, entar baby nya ileran mau?"
Akhirnya mereka turun dari dalam mobil, berjalan mendekat ke rumah tersebut. Nazeef bertanya pada orang yang berada di jalanan komplek tersebut lalu kembali dengan wajah pucat.
"Selain anjing nya galak, yang punya lebih galak kata orang itu, kakak ipar."
"Heh kakak sulung, keluarkan duit segepok gih. Bila perlu kita pindah itu pohon ke rumah kalian." ujar Dion memerhatikan rumah sebagai target mereka.
Mereka berempat masih berdiri di seberang rumah itu. Tidak ada yang berani untuk mendekat.
__ADS_1
"Hei, siapa disana? kenapa lihatin rumah saya begitu?" sentak pria baruh baya kedua tangan berada di pinggang dengan postur tubuh gempal, perut buncit, mengenakan kaos singlet dan sarung kotak-kotak.
"Mam pus, beneran galak boy."
Sebenarnya tanpa Nadira sadari, ketiga pria muda tersebut tidak berani mendekati rumah tersebut karena ada anjing dan sang pemilik galak. Mau bagaimana pun ketegasan, wibawa, dan aura pemimpin tercipta di diri mereka. Namun mereka tetaplah anak laki-laki berusia 20 tahun yang memiliki ketakutan.
"Hei." sentak pemilik rumah itu lagi membuat keempatnya terjingkat kaget.
Nadira sendiri sudah bersembunyi di belakang tubuh Qenan dengan memeluk lengan suaminya itu.
Qenan maju beberapa langkah agar berada di depan. "Maaf, pak mengganggu-."
"Memang ganggu." potong Bapak pemilik rumah.
"Kami kesini ingin membeli jambu air bapak." Demi apapun, jika bukan karena keinginan istrinya sangat malas harus berurusan pria seperti ini, batin Qenan.
"Gak dijual." Bapak tersebut masih memasang muka garang.
"Kalau gitu minta deh pak." celetuk Nazeef.
"Kalau mau minta-minta di balai desa sana, ada pembagian sembako." usir Bapak tersebut.
Qenan yang sedari tadi menahan kesal berjalan mendekati rumah itu namun kembali lagi karena suara longlongan anjing itu seperti hendak menerkam.
"Lo aja yang maju, takut gue." ucap Qenan pada kedua sahabatnya.
"Enggak, gue enggak mau. Mending gue jagain pintu kamar kalian dan dengerin suara enak-enak kalian dari pada harus hadapin itu si guk guk." Nazeef berjalan mundur hingga posisi berada barisan paling belakang.
Nadira sendiri terperangah menyaksikan perdebatan 3 pria muda di antaranya. Rasanya ia ingin sekali meledek sembari tertawa nyaring tetapi rasa ingin memakan jambu air kancing benik itu memenuhi kepalanya hingga memberanikan diri mendekati rumah sang pemilik pohon.
"Pak."
"Iya." Suara bapak tersebut berubah melembut mengetahui seorang wanita memanggilnya.
Sedang ketiga pria itu tercengang, pasalnya tadi pemilik rumah itu begitu garang.
"Boleh ya pak, Nadira minta jambu air nya. Nadira lagi hamil." Ia mengusap perut ratanya.
"Oh, boleh nak. Mana suami kamu?"
Nadira menoleh kebelakang menunjuk Qenan sedang berdiri disana.
Bapak tersebut memanggil Qenan. Nazeef dan Dion ikut berjalan dengan hati-hati takut anjing tersebut mendekati mereka.
Nadira sendiri meminta ketiga pria muda itu memanjat dan mengambil buah itu disetiap ia menunjuknya.
Sedang 3 pria muda tersebut menahan kesal karena Nadira seakan mengerjai mereka dan selalu merasa jatuh harga diri sebagai pria muda sukses dibuat seorang wanita, Nadira.
Ditambah pemilik pohon tersebut bersikap lembut pada Nadira membuat Qenan semakin kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya satu membuat ia kembali senang ketika melihat wajah binar Nadira setelah mendapatkan apa yang diinginkan istrinya itu.
__ADS_1
Hingga sesampainya di rumah, Nadira menahan Nazeef dan Dion sebentar untuk mampir. Ia mengambil sesuatu yang sudah di buatnya tadi sebelum berangkat dan mencuci buah jambu air kancing benik itu.
"Apa itu, Ra?" tanya Qenan melihat Nadira membawa sesuatu.
"Bumbu rujak." sahut Nadira enteng.
"Bumbu rujak kok begitu? bukan nya ada kacang nya?"
"Iya, tapi ini lebih mantap. Ini bahan nya cuma kecap, gula, cabe rawit di potong-potong." sahut Nadira mengambil satu buah jambu air itu lalu di totol ke bumbu rujak dan melahap nya.
Ia mengulangi lagi hanya menghabiskan tiga buah saja lalu ia menatap ketiga pria tersebut. Nadira menggeser sepiring jambu air dan bumbu rujak tersebut mendekat ke arah mereka.
"Aku udah kenyang, kalian habisin ya." pinta nya memohon.
3 pria muda itu menelan saliva karena sedari tadi mereka memerhatikan Nadira memakan itu terasa ngilu di gigi mereka.
Melihat ketiga pria itu hanya diam membuat wajah Nadira sendu bahkan matanya sudah berkaca-kaca.
"Kakak ipar jangan khawatir, kami akan menghabiskan nya." ucap Nazeef merasa tak tega.
"Iya kami akan habisin." ujar Qenan dan Dion mengangguk setuju.
Senyuman manis bahkan Nadira mendekati Qenan tanpa malu ia memeluk dan melabuhkan kecupan di pipi Qenan karena merasa senang.
"Oke, aku tunggu kalian habisin ya."
Sumpah demi apapun saat ini mereka ingin menenggelamkan ibu hamil tersebut. Dengan terpaksa mereka mengambil jambu itu lalu di colek sedikit bumbu rujak buatan Nadira.
Melahap dan menahan rasa asam dari jambu tersebut. Menahan mulut agar tak berucap makian untuk Nadira.
*Dasar ibu hamil.
🌸*
Bersambung..
*Udah hari Senin aja ini. Sekali lagi emak ingatkan.
Vote nya di klik.
Favorit apalagi, klik lah ya.
Hadiah bunga dan kopi juga boleh.
Satu lagi, klik Rate terus tekan 5 bintang ya, biar senang emak.
Like dan komen juga jangan lupa.
Bolehkan sekali-kali emak yang nuntut?
__ADS_1
Sayang kalian banyak-banyak.😘*