
"Sonia?" gumam Qenan setelah mendapat laporan dari anak buahnya.
"Ya, lo tahu kan siapa dia?"
"Hem."
"Tapi itu bukan kesalahan istri gue. Justru dia lah yang udah rusak kebahagiaan istri gue."
Nazeef menghela nafas. "Dan ternyata dirikan perusahaan sangat sulit dari jualan baju sama sediain makan dan minum orang, boy."
"Kita enggak boleh nyerah gitu aja. Terus ikuti dia, gue denger dia bakal balik ke Indo saat perayaan kehamilan istri Dion, kan?"
Nazeef mengangguk.
Belum sempat mereka membahas masalah pabrik, pintu ruang kerja Qenan terbuka menampakkan istri tercinta hendak masuk. Dengan cepat menyembunyikan laporan-laporan tentang masalah pabrik agar istrinya tak curiga.
Tapi tunggu, kenapa wajah istrinya itu cemberut dan semakin heran dengan istri Nina juga cemberut duduk bersamaan di sofa.
"Mi amor, apa semua nya baik-baik aja?" tanya Qenan dari kursi kebesaran nya, ia merasa semakin membesar perut Nadira semakin sensitif jika mengenainya.
"Jangan ngomong sama aku, Nan. Kamu sangat menyebalkan." pungkas Nadira.
"Apa? jangan coba-coba bertanya padaku, Zeef." kata Nina menatap Nazeef dengan tajam.
Qenan dan Nazeef saling pandang merasakan jika mereka melakukan kesalahan. Nazeef bangkit membawa Nina ke ruang kerja nya. Sedang Qenan mendekati Nadira dan bersimpuh menggenggam tangan istrinya.
Tetapi kedua tangan nya di tepis oleh Nadira. Bukan marah melainkan gemas pada Nadira. "Jangan cemberut gitu, bibirnya mau jatuh."
Qenan benar-benar menahan kekehan nya ketika Nadira melotot padanya, kemudian di elus perut buncit sang istri ketika hendak di tepis membuat ia berujar.
"Lihatlah Mommy kamu, Mommy nggak bolehin Daddy sapa kamu. Apa mau Daddy jengukin aja ya?"
Plak
Qenan terkekeh melihat wajah garang Nadira dan semakin membuat istrinya terlihat menggemaskan.
Cup
Cup
Cup
"Jangan cium-cium." larang Nadira bahkan tangannya mendorong kepala Qenan agar menjauh dari perut buncitnya.
Qenan menghela nafas panjang. "Baiklah, sekarang katakan apa kesalahan suami kamu ini, sayang." Ia bangkit duduk di sebelah Nadira dan ingin mengusap kepala istrinya namun tangan kembali di tepis oleh Nadira.
__ADS_1
Dirinya tersentak ketika Nadira mengeluarkan majalah dari tas ransel nya.
"Kenapa sama majalah ini, sayang?" tanya Qenan penasaran.
"Nggak kamu lihat sampul majalah itu?"
Qenan mengerutkan dahi merasa belum mengerti dengan apa yang di maksud Nadira.
"Masih enggak ngerti?" tanya Nadira dengan tatapan menyalang membuat Qenan menggeleng polos.
Nadira menghela nafas dengan kasar. "Lihat sampul majalah itu Qenan, kenapa kamu sok tebar pesona begitu?"
Qenan mengambil majalah tersebut. Ia melihat dengan seksama sampul tersebut adalah dirinya dan Nazeef. Dengan tulisan 'Pebisnis yang Sukses di Usia Muda'.
Menurutnya tidak ada yang salah dengan sampul majalah ini, lalu mengapa Nadira sampai marah?
Qenan pun berpikir keras kalimat apa yang akan diucapkan karena tahu pasti Nadira akan tambah marah.
"Sayang, lihatlah, aku bahkan gak tersenyum di sampul itu."
"Sama aja, apa lagi yang ada di instagram. facebook, dan sosial media lain nya. Apa itu komentarnya. Hiisshh sok ganteng."
Qenan menatap Nadira dengan gemas. Ingin rasanyabia tertawa melihat wajah cemberut istrinya itu.
"Iya, semenjak kamu makin tenar malah mereka bilang aku nggak pantas sama kamu. Enggak sebanding."
Nah kan apa, benar dugaan nya. Pasti setelah marah akan menangis seperti saat ini. Di peluk wanita yang tengah mengandung anak nya itu. Membiarkan menangis sesuka hati setelah tenang baru akan berbicara pada istrinya.
"Sayang, jangan pernah hiraukan mereka yang bilang kalau kamu nggak pantas bersanding denganku."
Nadira menatap Qenan intens. "Aku takut kamu tinggalin aku. Kata mereka, ujian pria itu ketika mereka berada di puncak kejayaan. Mereka akan setia pada wanita yang menemani dari awal atau akan mencari wanita lain yang lebih menarik."
Qenan tersenyum lalu mengecup bibir Nadira. "Buat apa aku mencari yang lain apa lagi hanya karena lebih menarik? padahal kamu jauh lebih menarik dari wanita di luar sana."
Nadira mencebik bibir karena jawaban Qenan terdengar hanya gombalan saja. "Nampak sekali bohongnya. Mana ada aku lebih menarik dari mereka. Hidungku pesek, bibirku domble juga."
"Qenaaann.. Sakit ih." pekik Nadira karena Qenan menggigit bibir bawahnya secara tiba-tiba.
"Kedua hal itu adalah nilai plus nya. Jangan insecure. oke?"
...****...
Di ruang kerja Nazeef. Seperti biasa Nina akan mengomel pada Nazeef.
"Itu, kenapa kamu senyum-senyum di sampul majalah itu, heh?" tanya Nina menunjuk majalah di atas meja.
__ADS_1
Nazeef sendiri menggaruk kepala bagian belakang merasa bingung harus menjawab apa. Karekternya yang ramah tentu saja akan tersenyum bila di foto.
"Di suruh tersenyum sama fotografer nya, Na."
"Halah, kamu memang begitu. Buktinya bos kamu bisa nggak senyum."
"Ya beda lah, Senyuman nya itu cuma untuk Nadira."
Nina berkacak pinggang dengan mata melotot. "Jadi maksud kamu senyuman kamu untuk semua orang gitu?"
"Ya iya lah, yang penting hatiku jangan."
Nina mencubit pinggang Nazeef karena kesal. "Kenapa jadi kayak nyanyian dangdut sih?"
Nazeef hanya bisa tertawa karena jujur, walau Nina sering mengomel padanya tetapi rasa cinta itu tak pernah memudar.
...****...
Tadi, sebelum Nadira dan Nina berada di kantor Qenan. Keduanya harus ke kampus karena harus mengumpulkan tugas karena dosen nya tak hanya ingin berupa email saja.
Sewaktu di kampus setelah menyerahkan tugas, Nadira dan Nina makan di kantin. Tahu apa yang terjadi disana?
Para gadis pada histeris melihat foto Qenan dan Nazeef menjadi sampul majalah. Bahkan terang-terangan mencium foto para suami mereka.
"Gila, rasanya pengen gue bejek itu cewek udah cium-cium Nazeef."
"Pengen gue jambak tahu gak bibir dia." gerutu Nadira.
Bahkan ada gadis mendekati mereka menunjukkan majalah tersebut dan memuji Qenan dan Nazeef di depan mereka.
"Suami lo hebat, Dira. Bileh gue pinjem nggak?"
Mata Nadira terbelalak mendengar itu. Dengan perasaan kesal, bangkit langsung merebut majalah itu. Begitu juga Nina mengikuti Nadira dan mengambil majalah entah milik siapa.
Sepanjang perjalanan kedua wanita hamil itu tak kunjung menyelesaikan gerutuan. Bahkan memukul majalah itu tepat di wajah suami mereka masing-masing.
"Lihat aja, Nazeef bakal gue bejek itu. Gimana bisa dia senyum-senyum disitu?"
"Haish.. Nggak lo lihat suami gue? sok tebar pesona."
❤️
Bersambung..
Tetap dukung karya emak ya..
__ADS_1