Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Nadira


__ADS_3

Menjadi suami siap siaga itulah yang terus dijalani Qenan. Ia tidak membiarkan Nadira pergi sendirian. Tetapi agaknya siang itu Nadira sedikit membangkang.


Tanpa sepengetahuan Qenan, ia datang ke Perusahaan Qenan yang di bangun atas usaha nya sendiri. Memang belum sebesar Perusahaan papa Surya dan papa Reno. Tapi ia sangat bangga pada suaminya itu.


Edzard Abraham Company


Di usap perutnya dengan sayang. "Sayang Mommy, lihatlah Perusahaan Daddy kamu. Belum juga kamu lahir, tapi kamu udah punya pabrik dan perusahaan."


Di edarkan pandangan. Lobby kantor yang cukup luas dan nyaman. Sebenarnya ia sadari tatapan tanda tanya dari orang-orang yang berada di kantor suaminya itu.


"Eh." Nadira merasa heran ketika para pegawai berbaris seperti hendak melakukan penyambutan. Bahkan ia langsung mundur beberapa langkah agar tidak di tubruk oleh mereka.


Dahinya mengerut ketika semua orang itu menunduk hormat. Ia pun mengintip sedikit dari sela barisan orang-orang itu.


Hela nafas panjang karena sesak dada melihat siapa yang mereka sambut. Jantung nya berdegup kencang melihat dan merasakan aura kepemimpinan Qenan begitu jelas.


Namun tersadar membuat ia sembunyi sebelum Qenan melihatnya disini. Ia berdecak ketika melihat Qenan diam tanpa menanggapi hormat dari para pegawai itu berbeda dengan Nazeef yang tersenyum membalas hormat dan sapaan itu.


Ia terjingkat kala ponselnya berdering.


...****...


Qenan menoleh mendengar suara ponsel berdering ketika berjalan di barisan penyambutan dirinya. Ia tidak mentolerir pegawai yang melanggar peraturan yang ia buat.


Ketika menoleh ke asal suara dan memerhatikan seorang wanita tengah menunduk gelagapan karena suara dering ponsel itu.


Wanita yang sangat ia kenal. Berjalan mendekati wanita itu.


"Mi amor."


Ia terkekeh melihat Nadira nyengir kuda seperti maling yang ketangkap basah.


"Ngapain, hm?" meraih pinggang Nadira hingga merapat pada tubuhnya.


Qenan tidak perduli dengan bisik-bisik pegawainya dan ia tahu, sahabatnya itu akan menangani jika ada gosip miring tentangnya dan Nadira.


"Aku cuma pengen lihat kantor kamu doang abis itu balik, eh keburu kamunya datang."


"Kabari aku kalau mau datang kesini. Oh iya, kamu sama siapa kesini?" Qenan celingukan mencari sahabat istrinya.


Nadira senyum pepsodent di tanya seperti itu. "Aku nyetir sendiri naik mobil yang warna hitam, Nan." Nadira cengengesan menyerahkan kunci mobil ke Qenan.


Wajah Qenan berubah datar. "Pilih di gendong atau pakai kursi roda?" tanya Qenan dingin.


Nazeef yang sedari tadi menyaksikan sepasang suami istri itu langsung meninggalkan tempat itu setelah Qenan mengatakan kursi roda.


Berjalan dengan cepat menuju ruang kesehatan Perusahaan. Ia dapat melihat perubahan wajah Qenan, itu berarti sahabatnya tengah marah.


Nazeef meminta kursi roda pada perawat yang ada disana. "Cepatlah sus. Bos lagi marah."


"Ini, Tuan."

__ADS_1


Nazeef berlalu begitu saja dengan langkah lebar menuju lobby. Pegawai sedang berbaris tampak berdiri saja karena Qenan masih berada disana dan penasaran siapa wanita yang tengah bersama pemilik Perusahaan di bidang makanan ini.


Selama ini yang mereka tahu, Qenan dan Nazeef pria muda berstatus single karena gak pernah membawa seorang wanita.


"Ini kursi rodanya, Bos."


Qenan menerima kursi roda tersebut lalu melihat Nadira masih saja berdiri. "Mau di gendong atau duduk di kursi roda ini?"


Nadira masih berdiri menunduk tak berani dengan Qenan. "Kamu jangan marah."


Apakah ini termasuk hormon kehamilan?


Mengapa hatinya sakit ketika Qenan bersikap dingin seperti ini padanya?


Suaranya berubah menjadi parau menahan tangis. Matanya sudah mengembun.


Qenan menghela nafas.


"Kembali bekerja." titahnya tanpa melihat para pegawainya bubar barisan dengan saling berbisik.


"Kemari lah." Qenan merentang kan tangan mempersilahkan Nadira masuk dalam pelukannya.


Dibalas pelukan Nadira dengan erat. Bukan bermaksud marah pada Nadira, namun ini pertama kalinya ia tahu bahwa Nadira bisa menyetir mobil.


Mengapa tidak ada yang memberi tahu padanya?


Di belai dengan sayang surai cokelat istrinya itu. Menghirup wangi vanilla dari tubuh Nadira. Kemudian ia gendong ala bridal style. Ia tersenyum menatap Nadira yang tengah menatapnya. Kedua tangan Nadira mengalungkan di lehernya membuat jarak wajah mereka dekat.


Nazeef dengan sigap menekan tombol lift khusus petinggi Perusahaan lalu memencet lantai 15 dimana lantai tertinggi gedung tersebut.


"Nan, kayaknya kamu bakalan jadi tranding topik deh." ucap Nadira setelah duduk di sofa ruang kerja Qenan. Cukup luas, rapi, dan seperti biasa, suaminya itu suka bernuansa hitam, abu-abu, dan putih.


"Biarkan aja. Kamu kalau capek bisa istirahat di kamar itu." sahut Qenan acuh karena ia masih kesal pada Nadira. Ia sendiri sudah duduk di kursi kebesaran nya.


"Sayang, maaf aku gak izin mau nyetir sendiri. Yaudah mulai besok, aku pakek sopir aja deh."


Nadira menelan saliva ketika ia selesai bicara tadi Qenan justru menatap nya dengan tajam.


Apa aku salah omong?


"Oh, jadi kamu lebih suka pergi sama sopir dari pada sama aku?"


Nadira tercengang. Ah, Nadira baru ingat jika suaminya itu pencemburu akut.


"Yaudah sama kamu." sahut Nadira menurut.


"Nampak banget kamu terpaksa."


Nadira menghela nafas panjang. "Ya udah, kemanapun kamu pergi aku ngikut."


Qenan tak menjawab namun senyuman itu terbit ketika mata masih fokus di depan laptop dengan tangan sibuk mengetik disana.

__ADS_1


...****...


Dion baru saja sampai di meja resepsionis dengan menenteng dua kantung plastik di tangan nya.


"Qenan ada di ruangan nya nggak?" tanya Dion dengan setelan jas hitam nya.


"A-ada Tuan, tetapi ada tamu."


"Tamu? penting kah?" tanya Dion melihat gelagat aneh pegawai resepsionis tersebut.


"Cewek, tuan. Dari tadi belum kembali."


Dion mengangguk lalu berjalan menuju lift. Ia tidak menyangka kedatangan kakaknya akan membuat tranding topik.


Sepertinya ini adalah hari patah hati para wanita yang bekerja di Perusahaan sahabatnya itu.


Ia berjalan keluar dari lift menuju ruang Nazeef mengajaknya ke ruang kerja Qenan. Sedikit mengganggu jam kerja sahabatnya sepertinya tak apa.


"Apa itu, Ion?" tanya Nazeef penasaran.


"Pesanan kakak gue."


"Haish, gue udah makan siang." gerutu Nazeef pasti akan terulang kembali apa yang pernah dilakukan Nadira.


"Bisa sopan sedikit kalau masuk ruangan orang?" sentak Qenan melihat kedua sahabatnya nyelonong masuk begitu saja.


Tetapi agaknya kedua sahabatnya itu tidak menggubris apa yang ia ucapkan.


"Kakak gue yang cantik, ini pesanan lo. Ubi Cilembu sama seporsi ayam geprek dengan cabe wow dari Restoran milik suami lo." Dion menyerahkan dua kantung plastik yang ia bawa tadi pada Nadira.


Qenan mendekat lalu duduk di sebelah Nadira. "Kenapa minta Dion? bukan minta sama aku?"


Kedua sahabatnya memutar bola mata jengah dan Nadira tersenyum. "Tadi itu aku di kampus lagi video call sama Dion, Nan. Dan dia bilang lagi di Bogor. Ya udah aku minta tolong belikan ayam geprek untuk anak Panti terus aku pengen ubi Cilembu."


"Ya udah, sini aku suapin ya. Mau ayam dulu atau ubinya?"


"Ubi nya aja."


Dengan telaten Qenan mengupas kulit ubi Cilembu tersebut lalu memotong nya. Nampak sangat menggugah selerah.


"Mau lagi?" tanya Qenan setelah Nadira menghabiskan 1 buah ubi.


Nadira menggeleng. "Udah, sisanya kalian makan ya? aku mau makan nasi aja."


Tuh kan, apa gue bilang. Beruntung aku pesan hanya sekilo. Hah.. Ini yang menyebalkan ibu hamil nya atau calon ponakan gue sih?


"Kok belum di makan? kalian nggak mau ya?" tanya Nadira dengan wajah sendu nya.


"Jangan sedih, kami habiskan sekarang." sahut Qenan menenangkan istrinya lalu mengecup kening Nadira.


*Hah, istriku.

__ADS_1


🌸*


Bersambung..


__ADS_2