Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Ini demi kamu Nadira


__ADS_3

Apartemen Palo alto, California.


Selesai makan siang, Nina dan Melinda memilih kembali ke apartemen. Sebelum kesana, mereka mampir ke minimarket yang ada di sebelah bangunan apartemen tersebut.


"Kak Nin, ada Indomie." pekik Melinda sembari menunjukkan sebungkus mie instan bitubpada Nina.


"Ambil banyak terus cari beras sama cemilan kita untuk seminggu kedepan."


Melinda mengangguk.


Sedang Nazeef dan Dion hanya berdiri mengikuti mereka.


Puas berbelanja Nina dan Melinda menuju apartemen dengan menenteng dua kantung plastik di tangan mereka masing-masing.


Tanpa berpikir macam-macam Melinda mendial password apartemen lalu melangkah masuk diikuti Melinda, Dion, dan Nazeef.


Langkah empat orang itu berhenti ketika melihat keadaan ruang tamu yang sudah berantakan. Tidak ada menyadari jika mereka menelan saliva bersamaan apalagi melihat sofa ruang tamu tersebut terdapat pakaian pria dan wanita berserakan disana.


Mereka tahu itu milik siapa dan dengan sigap Nina meletakkan kantung plastik yang di pegang ke lantai lalu berjalan secepat kilat memungut pakaian Nadira begitu juga Nazeef melakukan hal sama memunguti pakaian Qenan.


"Lebih *cepat sayang."


"Ah, Qenan*."


Suara desa han terdengar jelas membuat mereka terpaku sejenak lalu saling pandang. Setelah itu mereka memilih meninggalkan tempat tersebut tanpa suara.


"Kita harus kemana Lin?" tanya Nina setelah mereka berada di lobby apartemen.


"Check-in deh kak."


"Kita ikut." celetuk Nazeef mendapat tatapan tajam dari Dion.


"Kita harus menjaga mereka Ion, kalau nggak nanti Nadira marah." elak Nazeef.


"Terserah." jawab Dion cuek.


Nazeef pun menghentikan satu taksi lalu mereka masuk dalam diam, bahkan sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara karena sedang mengkondisikan degub jantung yang berlebih.


"Kenapa harus satu kamar sih?" tanya Nina keberatan begitu masuk ke kamar hotel.


Nazeef sengaja memesan 1 kamar hotel dengan 2 ranjang dalam satu ruangan.


"Hemat Nin. Kami jatuh miskin disini." sahut nazeef mendapat delikan tajam dari Dion.


Dion sedari tadi diam karena memperhatikan Melinda apalagi setelah masuk ke kamar hotel. Cewek berisik itu tengah sibuk dengan ponselnya dan senyum-senyum menatap layar ponsel tersebut.


Andai Dion tahu jika saat ini Melinda sedang bertukar pesan dengan sugar Daddy nya membicarakan seharian bersama Dion dan ia merasa bahagia saat ini.


"Gue udah pesan baju untuk kita kak." kata Melinda yang sebenarnya sugar Daddy nya lah yang melakukan hal itu.

__ADS_1


"Oh iya, kita tunggu aja."


Tak lama pesanan Melinda datang dengan 2 paper bag berisi 2 pasang pakaian setiap paper bag nya.


Melinda mengambil paper bag khusus untuknya sebelum tadi sudah mengucap terimakasih kepada pegawai hotel.


Tentu saja salah satu paper bag itu khusus untuknya karena 2 pakaian itu pilihan sugar Daddy Melinda.


Melinda berjalan ke kamar mandi mengganti kimono tidur lalu melakukan video call kepada Rian.


Dion yang sedari tadi memperhatikan Melinda hanya bisa diam saja.


"Ion, gue nyesel satu kamar sama mereka." keluh Nazeef yang ternyata memperhatikan Nina yang sedang video call dengan Arga.


Dion menghela nafas dan memilih diam saja. Hingga pintu kamar mandi terbuka lebar menampakkan sosok Melinda yang telah memporak-porandakan hatinya.


Ia menelan saliva dengan kasar melihat penampilan Melinda yang tampak sek*si.


Sial!


Dion bangkit memilih keluar kamar hotel diikuti Nazeef. Tak mungkin ia harus berdiam diri sedangkan hidangan sudah siap di santap.


...****...


Pagi harinya, di kamar apartemen Nadira sedang menghukum Qenan akibat dari permainan tiada henti kemarin. Hanya beberapa waktu jeda untuk mengistirahatkan dan mengambil pasokan udara sebagai bekal permainan berikutnya.


"Tangan jangan kemana-mana juga. Fokus yang aku bilang tadi aja Nan." Mode cerewet Nadira sedang on.


"Iya-iya."


Beberapa menitan kemudian pijitan Qenan berubah menjadi elusan bahkan jemari sudah sampai di bawah rumah nya.


"Qenan." pekik Nadira merasakan salah satu jemari Qenan sudah melusup masuk kedalam pintu inti Nadira.


Kenapa suami ku berubah ganas gini. Astaga!


"Ini pagi Ra, kamu kan tahu kebiasaan ku." ucap Qenan dengan suara bariton yang terdengar sek*si di telinga Nadira.


Ya, tentu saja Nadira sangat tahu kebiasaan Qenan bila di pagi hari. Pastilah suami nya itu menginginkan pergumulan panas sebelum beraktivitas.


"Nan, pulang aja deh aku."


Qenan menghentikan aksinya lalu turun dari tempat tidur menuju kamar mandi tanpa kata. Di hidupkan shower membiarkan tubuh tersiram dengan air dingin.


Cukup lama Qenan di dalam kamar mandi. Beberapa saat kemudian keluar dengan handuk melilit di pinggang. Membuka lemari dan mengambil paper bag berisi pakaian lengkapnya.


Tanpa perduli Nadira yang memperhatikan gerak-geriknya. Hati nya menjadi dongkol ketika Nadira menolaknya dan mengancam akan pulang.


Ia tidak terlalu suka memohon pada seseorang.

__ADS_1


"Nan."


Tanpa menoleh Qenan berucap. "Mandilah."


Tampak Nadira bangkit dengan selimut melilit di tubuh polos Nadira ke arah kamar mandi. Cukup lama Qenan menunggu Nadira membersihkan diri.


Qenan memalingkan wajah ketika Nadira keluar kamar mandi dengan handuk melilit di atas dua gundukan berharga yang sangat di sukainya apa handuk itu tidak menutup sempurna di bagian bawah. Tampak jelas di mata Qenan pangkal paha Nadira.


S**h*it


...****...


Sepanjang jalan beriringan Qenan tak membuka suara membuat Nadira sedih dan merasa bersalah. Pastilah sadar jika Qenan tersinggung dengan ucapan nya tadi.


Hingga di restoran pun masih saling diam membuat para sahabat mereka bertanya-tanya.


"Ini mah nggak ada yang kenyang." tutur Nadira melihat gambar daftar menu sarapan yang di perlukan pelayan restoran.


Kedua sahabatnya membenarkan apa yang dituturkan Nadira.


Nadira sendiri memilih panekuk dan roti bakar dengan selai. Sedang Melinda dan Nina memilih hash brown dan panekuk masing-masing 2 porsi. Dan ketiga pria muda itu hanya memesan roti bakar dengan selai dan secangkir kopi untuk mereka masing-masing.


Qenan tersenyum tipis melihat Nadira makan begitu lahap tanpa rasa malu atau jaim sedikit pun. Ditambah gerutuan membuat ia terkekeh karena Nadira merasa belum kenyang kalau belum makan nasi.


Astaga, perut istriku orang Indonesia banget.


"Kalau masih lapar pesan aja lagi." ujar Qenan menatap Nadira. Disadari ternyata ia tak bisa lama-lama marah kepada Nadira.


Nadira menggeleng. "Nanti kami mau masak aja sendiri."


Qenan menghela nafas ketika menatap mata Nadira. Ingin sekali ia habiskan waktu bersama sebelum harus berpisah jarak kembali namun pendidikan nya sekarang harus di selesaikan.


"Aku berangkat dulu, kamu hati-hati disini. Kabari aku kalau ada apa-apa. Jangan terpisah dari sama mereka, oke?"


Bukan maksud tidak mengizinkan Nadira pergi sendirian. Namun ia tahu bagaimana istrinya yang susah mengingat jalan kembali pulang.


Nadira mengangguk dan tersenyum. Matanya terpejam menerima kecupan Qenan di keningnya setelah itu Qenan pergi kuliah bersama kedua sahabatnya.


...****...


Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata berbeda jenis kelamin mengepal tangan melihat adegan manis Qenan dan Nadira.


Sang wanita pergi begitu saja membawa amarah yang tak terbendung. Sedang sang pria kembali ke apartemen membawa luka yang mendalam.


*Ini demi kamu Nadira.


🌸*


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2