Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Nikah


__ADS_3

Sudah dua Minggu berlalu sejak kejadian waktu itu, kini Rania hanya diam dan pasrah atas perlakuan Sarah yang semena-mena dan Ja'far masih saja acuh padanya.


Tidak tahu saja mereka jika Rania tengah menyusun rencana. Jangan lupakan jika ia adalah wanita licik sebelum berada di hutan ini.


Di tengah sarapannya, Ja'far keluar kamar dengan rambut acak-acakan khas bangun tidur duduk di depan nya. "Buatkan aku kopi kayak biasa."


"Nanti, masih makan."


"Aku lagi gak mau marah padamu Rania, cepat buatkan kopi." tekan Ja'far.


"Ck, aku bilang nanti. Aku disini hanya pemu as naf su mu aja kan? bukan pembantu dan baby sitter kalian."


Tangan Ja'far terkepal erat mendengar ucapan Rania. Entah mengapa ia tak suka jika Rania mengatakan bahwa wanita itu hanya sebatas pemu as naf sunya saja.


"Ja'far, mulai hari ini aku akan menerima semua perlakuan padaku. Aku juga gak akan lagi meminta mu melepasku."


Mata mereka bertemu dan terkunci beberapa saat lalu memalingkan muka bersamaan. Entah mengapa jantung keduanya berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Apa rencana mu? aku tahu pasti kamu wanita licik yang ketahuan Tuan Wido." Ja'far menatap Rania tajam.


Rania sendiri tersenyum karena pertanyaan inilah yang di nantikan nya. "Kamu sungguh ingin tahu apa rencana ku?"


Ja'far mengangguk pasti sembari terus menatap wajah cantik dan bibir tipis Rania.


Sial.


"Kamu pasti ingatkan kalau aku ini ibu nya anak Tuan mu?" tanya Rania menahan rasa gugup karena di pandang begitu intens padanya.


"Ya."


"Aku ingin tinggal di kota agar aku bisa melihat anakku." pinta nya.


Rahang Ja'far mengeras dan tatapan itu berubah menjadi tajam. "Kenapa? apa kamu masih ingin dekat dengan Tuan Wido?" sentak Ja'far.


Sentakan Ja'far terdengar ditelinga Rania bukan marah karena takut ia membuat ulah melainkan seperti nada cemburu


Cemburu? gak mungkin.


"Aku belum selesai ngomong Ja'far, dengarkan aku dulu."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku ingin kamu nikahi aku."


"APA?" Ja'far tersentak namun entah mengapa perasaan nya senang.


Belum sempat Ja'far bicara lagi, Sarah keluar dari kamar langsung duduk di pangkuannya. Lalu ia melirik Rania yang menunduk menikmati sarapan kembali.


Seperti biasa, usai sarapan Rania mencuci piring lalu membersihkan pekarangan markas tersebut. Tak lupa ia mengobrol dengan para bodyguard yang menjaga markas tersebut.


Ia cukup beruntung karena para bodyguard disana masih menghormati nya. Walau ia menjadi tawanan bersama Bella dahulu, namun hanya Ja'far yang menyentuh nya.


Berbeda dengan Bella. Ada rasa iba namun sepertinya sepupunya itu menikmati juga.


"Hei, ja lang."


Rania berdecak mendengar sebutan dari Sarah untuknya. "Sesama ja lang bisa diam nggak? mending kamu rapihkan kamar mu sana."


Rania berlalu begitu saja. Cukup sudah ia di injak-injak Sarah karena selama wanita itu berada di markas selalu mencari masalah dan selalu mengaduh pada Ja'far seolah ia adalah pelakunya.


"Ja'far." pekik Rania tertahan ketika tubuhnya terhuyung karena di gendong Ja'far bak karung beras.


"Kenapa ke kamar mu?" tanya Rania merengut langsung di bungkam Ja'far.


Ja'far sendiri menahan tubuh Rania agar tetap rapat dengan nya. Entah mengapa ia lebih suka Rania yang melawan dan berani padanya dari pada menurut seperti sebelumnya.


"Besok kita menikah, persiapkan dirimu."


Rania melotot mendengar ucapan Ja'far, memang itu rencana nya tapi tidak secepat ini.


"Bagaimana kekasihmu? kamu tahu, aku adalah wanita yang posesif."


"Dan aku adalah pria yang tak suka di kekang."


Setelah menjawab itu, Ja'far sudah menyerang Rania. Semangatnya semakin menggila karena Rania terus saja meronta ingin dilepaskan.


Ja'far sendiri tidak tahu mengartikan perasaan nya pada janda Tuan nya ini. Tapi yang pasti, sedari awal ia sudah terpesona pada Rania.


...****...


Keesokan harinya, apa yang dikatakan Ja'far benar terbukti. Rania dibawa ke kota menuju KUA.


Sepanjang jalan setelah dari KUA Rania terus saja menampilkan wajah yang di tekuk. Dan itu di sadari oleh Ja'far.

__ADS_1


"Dengan wajah kayak gitu kamu terlihat cantik." celetuk Ja'far.


Rania bersidekap menoleh ke arah Ja'far. "Apa sekarang Ja'far si kejam dan menakutkan berubah menjadi pria penggombal?"


"Hei, kenapa kamu berubah menjadi wanita menyebalkan?" sentak Ja'far namun Rania biasa saja tak menampakkan rasa takutnya.


"Pelankan suaramu Ja'far, telingaku masih bekerja dengan bagus. Jangan lupakan aku ini istrimu."


Ja'far dibuat tercengang atas ucapan Rania. Wanita yang baru saja dinikahinya. Ia baru mengetahui sisi lain dari istri barunya itu.


Ia pun berdehem. "Baiklah, mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah pribadi ku. Ingat, jangan macam-macam. Kamu gak boleh keluar rumah selain bersama ku. Setelah mengantar mu, aku akan kembali ke markas. Sarah menungguku."


Rania tersenyum lalu mengecup pipi Ja'far. "Oke. Sepertinya kamu berubah menjadi suami yang posesif, Ja'far."


Ketahuilah, jauh di dalam lubuk hati Rania, ia begitu sakit mendengar Ja'far menyebut wanita lain di depan nya. Namun, tekad nya sudah bulat.


Ia akan memenangkan hati Ja'far.


Di kecup oleh Rania membuat tubuhnya terpaku beberapa saat. Padahal mereka telah melakukan lebih dari itu, bahkan ia sendiri sudah hafal tiap jengkal di tubuh Rania.


Tubuhnya kian membeku kala Rania membisikkan sesuatu padanya. "Apa kamu gak ingin melakukan nya di mobil sebelum kita sampai?"


Ia tersadar ketika Rania sudah berada di pangkuan nya. Sebelum ia terpengaruh di tekan tombol kaca pembatas antara kursi kemudi dan penumpang.


...****...


Di Markas.


"Kurang ajar, sebenarnya siapa Rania itu? bukan nya dia sama seperti ku? Tapi kenapa para bodyguard disini begitu patuh padanya?"


Sarah mencengkeram seprei menyalurkan emosi nya kali ini. Dirinya diliputi amarah dan rasa cemburu menjadi satu ketika mengingat beberapa kali perlakuan Ja'far pada Rania berbeda ketika Ja'far memperlakukan padanya.


Bagaimana tidak? selama ia berhubungan dengan Ja'far, pria dingin itu tak pernah memulai lebih dahulu. Selalu ia yang memancingnya barulah disambut oleh Ja'far.


Tetapi ketika bersama Rania, sering sekali ia melihat Ja'far memulainya lebih dahulu. Padahal Rania tidak ada memancing Ja'far sama sekali.


Ia terus berfikir, apa yang ada pada Rania, padahal ia jauh lebih dewasa, tinggi badan semampai, perut rata, dua gundukan nya besar. Kaki nya jenjang, serta kulit putih mulus.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2