Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Dua pasang


__ADS_3

"Pa, beneran mama mau datang ke acara minggu depan?" tanya Dion ketika menyambangi ruang kerja papanya.


Papa Surya menatap Dion sejenak kemudian mengangguk. "Katanya begitu."


"Buat apa mama datang?"


Papa Surya mengedikkan bahu. Ia pun penasaran dengan kedatangan mantan istrinya itu ke acara perayaan atas kehamilan dari penerus bisnis Wijaya's Group.


Begitu juga dengan Dion, merasa curiga dengan kabar yang di dapat. Ia sangat tahu bagaimana acuh mamanya terhadap dirinya.


"Aku balik ke ruangan dulu, pa."




...****...


"Kita mau kerumah siapa, Nan."


"Kerumah Jafar, adik abang Wido tersayang." sahut Qenan sewot.


Nadira mengerutkan dahi melihat wajah Qenan berubah masam. Bukan salahnya jika Wido masih memiliki perasaan lebih. Jika saja takdirnya tidak bertemu Qenan mungkin saat ini telah hidup bersama Wido.


"Ngapain kerumah bang Jafar?" Nadira mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sama orang aja manggilnya abang, kakak, kalau sama aku nama doang. Sebut sayang aja jarang. Bahkan lupa kapan terakhir panggil aku sebutan itu." bukan jawaban yang di tanya Nadira, tetapi keluhan nya selama ini.


Hati Nadira mencelos mendengar keluhan Qenan karena benar adanya. Bukan tak ingin, namun lidahnya terbiasa menyebut nama Qenan bukan yang lain.


"Mas."


Wenan menoleh namun wajahnya tetap masam.


"Sayang."


"Nampak banget terpaksanya."


Mulut Nadira menganga mendengar itu. Ingin sekali rasanya ia memperkosa suaminya itu.


Eh!


"Daddy jangan marah."


Nah, apalagi ini. Mengapa wajah Qenan berubah merah merona begitu. Apa suaminya itu sedang tersipu malu?


"Daddy tambah tampan kalau sedang tersenyum. Jadi makin cinta."


Benar dugaan nya, Qenan menyukai panggilan yang ia sematkan. Senyuman nya semakin melebar ketika tangan Qenan mengelus perut buncitnya.


"Ah, Edzard tahu kalau Daddy menyapa mu, ya?"

__ADS_1


Tendangan-tendangan halus itu selalu saja muncul bila tangan Qenan berada di perut Nadira.


"Daddy luar biasa." puji Nadira langsung mendapat acakan rambut dari Qenan di atas kepalanya.


"Mommy juga luar biasa, sangat."


...****...


Di kediaman Jafar.


Saat ini Rania tengah duduk di pinggir kolam renang menanti sang suami yang tengah memasak untuknya di gazebo di dekat kolam renang.


Di kehamilan nya yang sedang menunggu hari kelahiran, membuat Jafar semakin protektif dengan gerakan nya.


Seperti saat ini, hanya untuk berjalan ingin mendekati Jafar saja harus ada yang menuntun nya.


Aku kayak orang penyakitan, padahal hanya beberapa langkah.


"Bi, lepasin dong."


"Saya nggak berani, nyonya."


Padahal jika saja Jafar sadar, ini adalah kehamilan keduanya jadi tidak perlu sekhawatir ini. Tetapi sepertinya sang suami tak mau tahu tentang itu.


"Suamiku." panggilnya.


"Jangan foto suamimu ini, Rania. Apa kamu tak takut aku di ambil wanita lain?"


"Aaww.. Sakit sayang."


"Masih berani?"


"Enggak, ampun-ampun."


Di tengah keributan yang mereka buat, kepala penjaga rumah mereka menghampir dan melaporkan jika tamu sudah sampai di depan.


"Ajak aja mereka kesini." titah Jafar berubah dingin dan itu membuat Rania heran.


...****...


Di depan rumah Jafar.


Nadira memindai pandangan nya ke seluruh pelantara rumah itu. Menurutnya indah, tetapi menyeramkan karena banyak pria berbadan kekar berdiri setiap sudutnya.


"Rumahnya serem, Nan. Kayak berasa menunggu antrian masuk ke rumah hantu." celetuk Nadira berbisik membuat Qenan terkekeh.


Masih dengan tangan saling menggenggam. Seseorang datang kembali dan mengajak masuk ke dalam rumah Jafar menuju halaman belakang terdapat kolam renang.


Jafar melepas celemek nya dan menyerahkan pada kepala pelayan, masakan nya akan di teruskan oleh koki setelah melihat tamunya sudah di persilahkan duduk di gazebo.


Ia dapat melihat tubuh tegang sang istri ketika melihat tamunya. "Tak apa, ayo kita kesana. Aku ada urusan dengan Qenan. Kamu bisa selesaikan masalah kalian."

__ADS_1


Rania hanya mengangguk lemah berjalan mengikuti langkah Jafar.


Sebelum ikut duduk, ia menerima uluran tangan Qenan kemudian barulah duduk. "Kita makan dulu. Tadi aku memasak." ujar Jafar memecah keheningan.


Tak berselang lama pelayan mengantarkan empat piring steak daging dan empat gelas minuman di meja.


Setelah di persilahkan menikmati makanan, kedua pasangan itu mulai memakan jamuan tersebut.


Nampak Qenan dengan telaten memotong daging menjadi potongan kecil-kecil agar memudahkan sang istri menikmatinya.


Rania tersenyum melihat pemandangan itu, seperti itulah Qenan sangat memanjakan Nadira.


"Kamu mau aku potongkan begitu?" bisik Jafar mengetahui arah pandangan Rania ke pasangan di depan nya.


Rania menggeleng karena merasa tak perlu. Ia tidak terlalu suka ketika makan direcoki orang lain.


Usai makan, Jafar dan Qenan pergi meninggalkan istrinya. Rania dapat melihat dengan jelas tatapan mata Nadira tak rela Qenan pergi jauh.


"Lo udah biasa ikut Qenan kerja?" tanya Rania memulai pembicaraan diantara keduanya.


Nadira mengangguk. "Hampir tiap hari. Oh iya, lo nikah sama bang Jafar?"


Rania terkekeh geli dengan pertanyaan Nadira. "Ya iya lah, lo nggak lihat gue sampek bunting gini?"


"Iya sih."


Senyap. Keduanya kembali saling diam. Cukup lama hingga Rania kembali berujar.


"Na, maafin gue di masa lalu."


Benar dugaan nya, Nadira pasti tak akan marah dengan semua yang telah terlewati. Buktinya sekarang wanita itu tersenyum tulus padanya.


"Gue udah maafin, udah lewat juga kok."


"Makasi, Na."


Akhirnya mereka saling memaafakan dan berpelukan. Rania mengajak Nadira berkeliling rumahnya. Mereka banyak bercerita tentang kehamilan.


"Kamu kok bisa nikah sama abang itu? serem."


Rania tertawa renyah. "Dia hebat di atas ranjang. Kalau Qenan gimana?"


Rania terkekeh melihat Nadira tersipu malu karena pertanyaan nya.


Tiba-tiba Rania meringis merasakan sesuatu di perutnya. Matanya tertunduk melihat sesuatu mengalir di kakinya.


"Ran, lo mau lahiran."


❤️


TbC

__ADS_1


__ADS_2