Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Kenapa lo panggil gue Dion?


__ADS_3

"Dion.. Beneran kak Nadira hamil?" tanya Melinda ketika di perjalanan pulang.


Dion menoleh ke arah Melinda lalu fokus ke jalanan lagi. Ia tak menjawab karena merasa seperti ada yang berubah dari Melinda si cewek berisik.


"Dion, aku ngomong sama kamu loh.."


Mendengar sesuatu yang tak pernah di dengar membuatnya semakin kesal. Di tepikan mobil dipinggir jalan.


"Loh.. Kok berhenti? rumah ku masih jauh Dion.."


Dion menatap tajam Melinda hingga membuat ia bergidik ngerih.


"Kenapa lo panggil gue Dion?" tanya Dion dingin.


Melinda berdehem menahan senyum senang karena berhasil dengan rencana nya.


"Gak kenapa-kenapa."


"Kenapa lo panggil gue Dion?" tanya Dion sekali lagi membuat Melinda semakin ingin tertawa.


"Karena itu nama kamu Dion.." Melinda terus menekan kata 'Dion' setiap ia mengatakan nya.


"Oh s hit.." Dion memukul setir lampiaskan kekesalan pada dirinya. Entah mengapa ia tak suka Melinda panggil nama nya.


"Jangan panggil gue Dion." imbuhnya.


"Jadi aku harus panggil apa?"


Karena masih kesal lantas membuka sabuk pengaman lalu menghadap ke arah Melinda. "Panggil gue kayak biasa."


"Tapi aku rasa gak perlu Ion.. Panggilan itu udah aku coba lupakan sama kayak perasaan ku ke kamu."


Mendengar itu mendadak geram lalu mencondongkan tubuh ke arah Melinda membuat sang empunya gelagapan bahkan susah bernafas, bahkan Melinda meremas ujung rok yang ia kenakan menahan kegugupan yang tercipta.


"Panggil gue kayak biasa." tatapan itu semakin dingin.


"Tapi.."


"Gue gak terima alasan apapun."


"Oppa.." ucap Melinda lirih dan berhasil membuat Dion menjauh.


Dion kembali memasang sabuk pengaman lalu mengantar Melinda pulang. Sebelum Melinda sampai dirumah juga Dion mengatakan Melinda harus video call seperti biasa.


Tentu hal itu membuat Melinda senang namun harus bisa menjaga sikap di depan Dion.


Setelah mengantar Melinda pulang, ia langsung melesat ke kediaman papa Surya beristirahat hingga pagi menjelang.


...****...


Di sisi lain dimana Nazeef dan Nina juga berada di dalam mobil.


"Kita jemput Risa dulu ya, gue juga mau antar dia pulang."


Nina terperangah mendengar itu, bagaimana bisa Nazeef membuat ia berada satu mobil dengan Risa?


"Turun kan gue di depan itu. Gue bisa naik ojol." ucap Nina dingin.


"Nggak, kita tinggal di satu gedung ngapain lo turun disini."

__ADS_1


Nina menatap Nazeef tajam. "Lo jangan gila Zeef, lo sendiri yang bilang mau berubah kenapa ngulah?"


Nazeef tersenyum geli melihat wajah Nina. "Ya, tapi kamu harus tahu kalau Risa cewek gue yang paling setia dan nerima gue apa adanya jadi gue harus hargai perasaan dia walau hati gue untuk lo."


"Bulshit."


"Serius, bisa di bilang lo madu nya Risa dan gue menomorsatukan lo."


"Gila!!! cerita nya kayak perlombaan nulis novel tema 'Berbagi Cinta'. Parah."


Nazeef terkekeh tanpa menjawab karena fokus ke jalanan.


Seperti apa yang di katakan Nazeef bahwa ia akan menjemput Risa di kafe dan mengantar nya pulang.


Suasana di dalam mobil tersebut hening namun mencengkam karena baik Risa maupun Nina saling menyindir dan melayangkan tatapan tajam.


Persis istri pertama dan istri kedua bertemu.


Setelah mengantar Risa di dalam ke adaan di mobil kembali hening. Bahkan Nina sengaja memejamkan mata karena tak ingin di ganggu oleh Nazeef.


Bohong bila hatinya baik-baik saja. Di depan matanya Nazeef di cium oleh cewek lain. Dan Nazeef sendiri hanya diam menerima perlakuan dari Risa.


Bodoh nya ia tak bisa berbuat apa-apa juga tubuh ini seakan berkhianat dengan hati nya. Tubuhnya seolah sedang berpura-pura kuat melihat itu.


"Udah sampek Na." Nazeef membangun kan Nina dengan lembut.


Nina yang memang berpura-pura langsung membuka mata lalu membuka sabuk pengaman kemudian membuka pintu mobil.


"Buka pintu nya Zeef." sungut Nina karena pintu mobil terkunci.


Nazeef menarik Nina dan mendekap nya erat mengucapkan kata maaf berulang kali.


Harus jawaban apa yang ia berikan pada Nazeef?


Mengapa Nazeef tahu jika ia mencintai cowok playboy ini?


Dan lagi-lagi tubuh nya berkhianat. Mengapa harus mengangguk?


...****...


Pagi hari tak seperti biasanya. Nadira sudah berada di kamar mandi memuntahkan segala isi perutnya.


"Ooeek.. Ooeek..."


Qenan yang masih tertidur pun terusik langsung bangkit ketika sadar itu adalah suara sang istri, ia pun beranjak masuk ke kamar mandi.


"Masih mual?" tanya Qenan sembari memijit tengkuk leher Nadira.


Nadira menggeleng membersihkan mulut di wastafel. "Biasanya gak sampek muntah."


Setelah berbicara seperti itu ia bercermin memantulkan wajah pucat dan rambut yang masih berantakan.


"Kenapa aku jadi jelek begini?" tanya Nadira masih bercermin dan membuat Qenan menggeleng kepala.


"Nan.."


"Hem.."


"Aku jelek.."

__ADS_1


"Terus?"


"Kamu gak akan duain aku kan?"


Qenan menghela nafas lalu memeluk Nadira dari belakang. Menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh Nadira di lehernya.


"Kamu begitu mempesona bagaimana bisa aku akan duain kamu?"


"Serius? kalau nanti aku jadi gendut setelah melahirkan gimana?" tanya Nadira karena pernah ia baca artikel perubahan berat bada wanita setelah melahirkan.


"Tak apa gendut apalagi di bagian ini dan ini." sahut Qenan meremas di bagian kedua aset yang bergantung di dada dan bokong nya.


"Qenan.. Kenapa tangan kamu juga mesum?" cebok Nadira menjauhkan diri dari Qenan.


Tapi langkah nya terhenti karena Qenan sudah mencekal tangannya. "Mau kemana?"


"Ya mau jauh dari mu lah."


"Yakin?"


Nadira cemberut. "Qenan ini udah siang, kamu mandi gih.. Aku mah udah mandi."


"Morning kiss dulu."


"Enak aja.. Bayar."


Qenan tak menjawab namun beranjak keluar kamar mandi mengambil dompet di atas nakas.


Membuka nya mengambil beberapa benda pipih persegi panjang dan menyerahkan kepada Nadira.


"Untuk apa?" tanya Nadira bingung.


"Kamu bilang harus bayar."


Nadira mencebik lalu beranjak keluar kamar mandi dan mengunci Qenan di dalam kamar mandi dan mengancam tak akan mencium kalau Qenan belum mandi.


Akhirnya Qenan mengalah mandi juga mendengar pintu kembali tak terkunci.


Selesai mandi qenan tak mendapat sang istri di dalam kamar namun seragam sekolah nya sudah tersedia di atas tempat tidur. Ia pun memakai nya menyiapkan diri pergi ke sekolah.


"Rara mana pa?"


Papa Reno hanya menunjuk dengan dagu mengarahkan ke arah dua wanita yang sedang asyik di depan kompor.


"Jangan di susulin, nanti pisau itu bisa melayang kalau ganggu mereka."


Qenan berdecak. "Rara gak gitu pa.." Ia pun mendekati Nadira lalu memeluk dari belakang seperti kebiasaannya di apartemen.


Nadira yang tahu kebiasaan Qenan pun seperti kebiasaan nya juga mengusap rambut Qenan dengan sayang.


Kedua orang tua Qenan dibuat tercengang atas perlakuan manja anak semata wayang nya. Mereka tak menyangka jika anak mereka yang terkenal datar, dingin, dan sangar bak raja hutan terlihat manis seperti anak kucing di depan menantu mereka, Nadira.


"Masak apa?"


🌸


Bersambung..


Emak kehabisan kuota jadi terlambat up nya gaes..

__ADS_1


__ADS_2