
Beberapa bulan yang lalu, sepulang kuliah seperti biasa Nadira akan di jemput Wido. Semenjak ia mengetahui keadaan kedua sahabatnya membuat tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi mereka.
"Mau pulang kemana?" tanya Wido.
Nadira yang baru selesai memasang sabuk pengaman tampak berpikir. Minggu kemarin ia menginap di rumah mertua selama dua Minggu itu berarti ini adalah giliran menginap di rumah papa Surya.
"Papa dimana bang?"
"Tuan ada di Malaysia karena dua hari lagi pembukaan pusat perbelanjaan yang waktu itu."
Nadira menghela nafas. "Aku ikut kamu kerja boleh?"
"Serius? apa gak apa-apa? Qenan gimana?" tentu Wido senang dan tambah semangat bekerja karena di temani Nadira.
"Nanti aku bilang bang, ini masih malam disana."
Wido belum juga melajukan mobil karena harus memastikan Nadira benar-benar ingin ikut dengan nya.
"Aku mau melihat langsung proyek pembangunan tempat wisata di Bogor Dir."
"Bogor? aku ikut ya? aku kangen sama ibu."
Apa yang bisa dilakukan jika Nadira sudah seantusias ini?
"Tapi bakal lama dan panas. Aku mau ngecek pengerjaan, pemenuhan kebutuhan material dan memenuhi kebutuhan jasa yang dibutuhkan. Agar proses pembangunan dapat berjalan sesuai rencana, dan yang pasti tepat waktu. Apa gak apa-apa kamu ikut?"
"Kalau panas aku nunggu di dalam mobil." jawab Nadira.
Wido memiringkan badan ke arah Nadira. Mau sebahagia apapun ia jika Nadira ikut bersamanya, sekali lagi tak ingin mengambil kesempatan itu. Karena ia tahu batasan kepada Nadira yang sudah menjadi istri orang.
"Kamu yakin?" tanya Wido memastikan.
Nadira menatap Wido dengan tajam. "Mau aku ikutin atau gak?" tidak menjawab melainkan balik bertanya membuat Wido memasang sabuk pengaman lalu melajukan mobil.
"Nanti mampir ke panti ya bang." pinta Nadira di tengah jalan.
"Oke."
Selama di perjalanan Nadira sengaja memejamkan mata agar tidak banyak bicara kepada Wido namun karena mengingat sesuatu membuat ia membuka mata kembali.
"Bang, bilangin Rendi dong jangan dekati aku lagi." Nadira mengaduh pada Wido.
Wido menoleh melihat Nadira lalu fokus ke jalanan kembali. "Kok bisa dekati kamu lagi?"
__ADS_1
Nadira mengedikkan bahu. "Nggak tahu, udah 2 Minggu ini selalu nyamperin aku ke kelas dan terus aja ngajak balikan padahal dia tahu kalau aku udah ada Qenan."
Terdengar helaan nafas Wido. "Nanti om bilangin ya. Kamu udah makan siang?" tanya Wido di tengah kemacetan.
"Udah tadi."
Nadira tersenyum sumringah ketika mobil sudah berada di kota Bogor. Tatapan mata terus melihat deretan bangunan di kota tersebut.
"Kamu kangen kesini?" tanya Wido mendapat anggukan Nadira yang masih sibuk menatap bangunan dari jendela mobil.
Tanpa terasa mobil Wido sudah sampai ke tempat proyek tersebut. Masih ada tiga alat berat sedang sibuk mengerjakan tugas masing-masing.
"Ini mau di buat apa?" tanya Nadira.
"Buat tempat wisata. Nantinya kamu dapat menikmati berbagai keindahan dari danau buatan yang mana sengaja dirancang semirip mungkin dengan Venice, Italia. Kalau kamu ingin berkunjung ke Italia tapi terlalu jauh dan sayang untuk merogoh kocek yang mahal, kamu bisa mengunjungi lokasi wisata ini."
"Kamu lihat alat berat yang disana itu?"
Nadira mengangguk.
"Itu nanti bakalan jadi Danau buatan. Terus yang di bagian sana, itu akan dibangun berbagai permainan menarik kayak perahu bebek, gondola, atau bahkan perahu yang bisa kamu dayung sendiri." jelas Wido sembari menikmati kecantikan wajah Nadira.
Nadira tersenyum melihat lokasi tersebut dengan pandangan tak fokus karena pikiran nya melayang membayangkan tempat wisata ini telah selesai dan ia akan berlibur kesini bersama Qenan.
Cukup lama Nadira menemani Wido bekerja sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di pondok tempat para pekerja istirahat.
Hati Nadira semakin tak karuan melihat satu persatu makanan dan cemilan kesukaan nya ada di depan mata. Sebagai seorang wanita tentu ia merasa bersalah dan tak enak hati mendapat perlakuan istimewa dari pria lain yang mencintai kita dengan tulus.
Tanpa terasa malam semakin larut, Wido membawa Nadira ke panti asuhan.
"Maaf ya Na, kita kemalaman." Ia sangat menyesali hal itu.
Nadira mengangguk. "Nggak apa-apa." Ada rasa takut jika nanti Qenan video call bertanya sedang dimana atau dengan siapa.
Keduanya keluar mobil dan di sambut Ibu Endang dengan hangat. Dengan manja Nadira merangkul tangan ibu Endang menyandarkan kepala di lengan wanita paruh baya itu sembari mengikuti langkahnya.
"Dira kangen ibu." ucap Nadira setelah duduk di sofa ruang tamu.
Ibu Endang memukul lengan Nadira dengan gemas. "Buatin minum Pak Wido sana." titahnya.
"Nggak usah Bu, Dira pasti capek habis perjalanan jauh tadi." tolak Wido halus karena tak ingin Nadira bertambah kelelahan karena membuatkan teh untuknya.
Dengan wajah cemberut akibat tatapan ibu Endang adalah titah tak terbantah akhirnya Nadira bangkit menuju dapur untuk membuatkan teh.
__ADS_1
Sepeninggal Nadira, ibu Endang menatap Wido sendu.
"Jangan menatapku kayak gitu mbak."
Ibu Endang menghela nafas. "Menikahlah, lupakan Nadira."
Wido diam membisu. Bagaimana bisa ia menikah sedang wanita yang di cinta sudah menikah? itu pikirnya.
Obrolan itupun terhenti ketika Nadira datang membawa dua gelas teh hangat untuk Wido dan ibu Endang.
"Kamu nggak buat teh?" tanya ibu Endang kepada Nadira.
Nadira menggeleng. "Ibu lupa kalau Dira nggak terlalu suka teh?"
Ibu Endang terkekeh. "Kayaknya ibu udah terlalu tua sampek melupakan itu."
Wido permisi keluar sebentar karena harus menerima telepon.
"Ibu kenal sama bang Wido?" tanya Nadira melihat tatapan sendu ibu Endang yang melihat Wido berjalan keluar.
"Dia adalah donatur tetap di panti kita dan dialah yang membiayai hidup mu secara pribadi." sahut ibu Endang menatap lurus ke arah pintu.
"Apa?"
Ibu Endang tersentak lalu menyadari kesalahannya telah keceplosan mengungkapkan kebenaran yang ada padahal Wido telah melarang mengungkapkan apa yang selama ini telah dilakukan Wido untuk Nadira.
"Ibu, kenapa baru sekarang kasih tahu Nadira?"
"Maaf nak." cicit ibu Endang.
"Kenapa ibu gak kasih tahu Nadira kalau dia begitu berjasa di hidup Nadira?"
Nadira keluar dengan derai air mata. Kenyataan yang baru saja diketahui nya membuat semakin merasa bersalah dan merutuki Widi sekaligus.
Tiba berada di luar panti, ia langsung menuju mobil mencari dimana Wido berada. Tetapi setelah sampai di mobil sepertinya tidak ada Wido disana.
Pandangan nya terus beredar mencari sosok pria yang menyebalkan namun hangat bagi siapa yang merasakan perhatian nya.
Itu dia!
Dengan langkah lebar Nadira menyusul Wido yang sedang duduk termenung di bangku samping panti.
"Dasar pria bodoh."
__ADS_1
🌸
Bersambung..