
"Boy, ayo kita ke apartemen dulu.. Bersihkan badan mu, lihatlah penampilan mu. Dan kita harus obati jejak bogeman papa Surya, gila para mertua lo, belum di jelasin udah main bogem aja."
Jangan tanya penampilan Qenan bagaimana, darah yang mengalir dari selang kangan Nadira tentu sudah meresap di swater hitam yang ia kenakan dan terasa bau amis disana serta rambut acak-acakan.
"Gue mau lihat Rara."
"Iya tapi kita mandi dulu."
Lama Qenan terdiam di kantin rumah sakit tersebut. "Zeef, bisa gak lo suruh congkel mata mereka yang perhatiin kita dari tadi? apa mereka gak tahu kalau gue udah nikah?"
Mulut Nazeef menganga sempurna mendengar cecaran Qenan yang seharusnya tak perlu ia jawab karena pasti Qenan tahu jawaban nya.
Bagaimana orang-orang itu tahu jika Qenan sudah menikah? sedang papa mertuanya saja baru tahu beberapa waktu lalu.
"Zeef, gimana cara ambil hati mertua?"
Astaga.. Apa lagi ini Qenan? bagaimana bisa Nazeef menjawab pertanyaan itu sedangkan ia sendiri belum pernah menikah. Tapi kalau ditanya bagaimana cara menaklukkan hati cewek pastilah tahu jawaban nya.
"Gak tahu."
"Ck.. Gak berguna."
"Ayolah Qenan, kenapa lo jadi bege gini? udah tahu gue belum nikah."
Bibir Qenan terkatup sempurna tanda membenarkan apa yang dikatakan Nazeef. Otaknya semakin buntu ketika berpikir cara apa yang bisa membuat papa Surya mengerti saat dititik emosi seperti ini.
Ia memaklumi jika papa Surya melakukan hal ini namun sangat di sayangkan bila papa Surya tak ingin mendengar penjelasan nya lebih dahulu.
Hatinya semakin resah memikirkan keadaan Nadira di dalam sana.
...****...
"Mana Qenan pa?" tanya Nadira lemah ketika bangun ternyata sudah berada di rawat inap kamar VIP itu.
"Dia gak boleh datang kesini." sahut papa Surya dingin sedang duduk di sofa ruangan itu.
"Kenapa?"
"Karena dia udah nikahi kamu tanpa izin papa, pasti dia udah paksa kamu sampai hamil kan?"
Mata Nadira membola sempurna mendengar ucapan papa Surya. "Papa salah, kami menikah sebelum kita bertemu."
Akhirnya Nadira menjelaskan awal mula ia menikah dengan Qenan dan tetap melanjutkan pernikahan tersembunyi itu.
Kini papa Surya yang terkejut dengan apa yang baru saja di dengar. Bayangan masalalu kembali terngiang di kepala nya.
Bagaimana mudah nya ia jatuh cinta kepada Melati karena kebersamaan nya secara intens.
Dan bagaimana mudahnya ia berpaling karena kebersamaan nya kepada mama Dion.
"Apa kamu mencintai nya nak?"
"Ya, Nadira sayang dan cinta Qenan pa."
"Kamu percaya gak kalau cinta itu bisa datang karena terbiasa?"
Nadira mengangguk setuju karena sepertinya itu dialami dirinya.
"Dulu papa juga mengalami itu, papa terbiasa bersama dengan mama mu dan hal itu pula yang papa alami dengan mama nya Dion."
__ADS_1
Nadira tertegun mendengar hal itu, pikiran nya mulai menerka apa yang akan dikatakan papa Surya selanjutnya.
"Kamu adalah wanita pertama yang dekat dengan Qenan. Apa kamu gak pernah berpikir, jika bukan kamu yang dekat dengan Qenan saat ini tetapi wanita lain pasti Qenan akan mencintai wanita itu juga bukan?"
Lagi-lagi ia terkesiap mendengar pertanyaan papa Surya dan kali ini ia membenarkan ucapan sang papa.
Kenapa ia tak pernah berpikir sampai kesana?
Sama hal dengan dirinya dengan mudah jatuh cinta pada Qenan dan melupakan perasaan nya kepada Rendi.
Itu semua karena ia terbiasa hidup bersama dengan Qenan dan jatuh cinta dengan sejuta pesonanya.
Tapi, apakah Qenan juga sama hal nya dengan dirinya?
Apakah perasaan Qenan sama dengan dirinya yang sudah mencintai terlalu dalam walau dalam kurun waktu yang singkat?
Ia terus mengingat hal apa yang membuat ia jatuh semakin dalam dengan rasa cinta ini.
Apa saat Qenan mengajak nya menjadi teman satu kamar?
Atau ungkapan rasa cinta Qenan untuk pertama kalinya?
Jawaban nya bukan.
"Nggak salah apa yang papa bilang kan nak?" tanya papa Surya yang memperhatikan mimik wajah putrinya.
Nadira bergeming.
"Jangan sesali apa yang udah terjadi, maafkan papa yang selama ini bodoh nggak perhatikan kamu."
Nadira mengangguk.
Mendengar pertanyaan itu kembali membuat Nadira sedih kembali, ia memeluk perut yang tak ada janin lagi di dalam sana.
"Pa, Nadira mau ketemu Qenan." pintanya masih meringkuk memeluk perutnya.
Papa menghela nafas panjang. "Kita belum selesai bicara nak."
"Apa kamu tahu kalau Qenan, Nazeef, dan adik mu akan melanjutkan pendidikan ke Amerika?"
Nadira terperanjat langsung bangkit mencoba duduk menatap papa Surya mencari kebohongan di matanya namun ada rasa kecewa tidak menemukan kebohongan itu.
"Apa Qenan gak ada cerita?"
Nadira menggeleng.
"Apa dia berniat meninggalkan mu nak?" Tangan papa Surya tampak terkepal.
"Nadira harus ngomongin ini pa.." bujuk Nadira.
Papa mengangguk. "Boleh, tapi keputusan tetap di tangan papa."
...****...
Gedung Prima, Kuala Lumpur, Malaysia.
"Wah selamat ya oppa.. Aku ikut seneng tahu."
Dion mengangguk. "Ya, terimakasih."
__ADS_1
"Oppa kapan balik?"
Dion diam sejenak memperhatikan Melinda ada yang berbeda dari cewek berisiknya saat ini.
"3 hari lagi, lo pakai make up lagi?"
Ia dapat melihat Melinda salah tingkah setelah ditanya seperti itu. Bahkan cewek itu tak berani menatapnya saat ini.
"Melinda, lo belum jawab gue." sentak Dion, bukan masalah make up nya saja, namun penampilan Melinda tidak seperti biasa apalagi ini sudah malam, pikirnya.
"Lagi pengen aja oppa.. Gimana? aku cantik kan?"
Dion mengerutkan dahi semakin curiga dengan Melinda seperti ada yang di tutupi dari cewek itu.
"Jelek. Lo kayak tante-tante girang."
"Oppa, udah dulu ya.. Bye."
Video call itu terputus begitu saja dan itu berhasil membuat Dion semakin curiga kepada Melinda. Apalagi akhir-akhir ini ketika video call malam hari pasti Melinda dalam keadaan ber-make up.
"Ada apa dengan mu Lin?"
...****...
"Hai calon istri.." sapa Nazeef tengah melakukan panggilan video call juga terhadap Nina.
Nazeef terkekeh melihat Nina yang melotot dan cemberut akibat sapaan yang tak tahu malu darinya.
Setidaknya melihat wajah cewek yang ia sayang sebagai pengobat luka di hatinya dan sebagai pelipur lara karena masalah Qenan berimbas dengan nya.
"Dasar gendeng, gue ini pacar orang."
"Gue tahu, tapi cuma pacar kan? kalau gue calon suami lo di masa depan."
Nazeef mengulum senyum ketika melihat wajah Nina merona dan ia yakin hingga kini hati Nina untuk nya.
Setelah berpikir panjang, Nazeef merelakan Nina untuk berhubungan dengan cowok lain namun setelah ia kembali maka Nina harus menjadi miliknya meski harus merebutnya.
Egois memang.
Namun bukan kan cinta itu buta?
🌸
Bersambung...
*Para readers ku tersayang, maafkan emak yang masih belum bisa normal waktu up nya karena ada kesibukan di dunia nyata.
Dan untuk yang komentar di setiap bab nya terima kasih banyak dan maaf belum bisa balas satu persatu.
Tapi emak selalu baca satu-persatu dan itu membuat emak terhibur.
Salam
emak author.
Windii Riya FinoLa
Emak muda beranak dua dan paling ribet sejagat Maya. 🙏🙏❤️❤️❤️😁😁*
__ADS_1