Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Kita udah nikah


__ADS_3

Jika Qenan dan Nadira berada di parkiran, berbeda dengan Dion dan Melinda. Mereka saat ini sedang berada di ruang OSIS.


Malam ini Dion ingin berbicara serius pada Melinda.


"Dandanan kamu terlalu tebal Lin, beda sama Nadira dan Nina."


Dion dapat melihat Melinda sedang salah tingkah dan tak berani menatap dirinya. "Kamu lebih cantik saat natural Lin, jangan dandan gitu. Kamu masih 17 tahun."


Melinda mengangguk. "Aku kerja part time oppa, di tempat kerja ku harus dandan."


"Kerja? kerja apa?"


...****...


Melinda diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Dion. Ada sesuatu yang sulit untuk diutarakan.


Yang pasti, ia mencintai Dion.


"Jadi pelayan." Melinda menjawab dengan jujur bukan?


"Oh.. Ya udah. Kamu jaga diri baik-baik ya. Jangan pecicilan kalau nggak ada aku."


Hatinya tersentuh melihat sikap hangat Dion malam ini. Sungguh, Dion yang seperti inilah yang dinantikan Melinda sejak dulu.


Tapi kini keadaan nya berbeda, ia sudah tak lagi sama.


"Iya, oppa tenang aja."


Ia semakin terharu atas perlakuan Dion saat ini. Usapan-usapan di atas kepala dan kecupan mendarat di pucuk kepala nya membuat sesak di dada.


"Aku sayang kamu Lin."


Kalimat yang ia tunggu sekian lama akhirnya terdengar di indera pendengaran nya. Namun, keadaan tak lagi sama.


"Elin juga sayang oppa. Disana oppa baik-baik ya belajarnya."


Dion mengangguk. "Tunggu aku pulang."


"Pasti."


...****...


"Lo gak dicariin sama Arga?" tanya Nazeef berada di kantin sekolah yang tak ada orang satupun. Dan mereka kini duduk bersebelahan.


"Dicariin. Tapi dia mana bisa apa-apa, kan kerja."


"Loh kalian gak kerja bareng?"


Nina menggeleng. "Enggak, bos Qenan udah ubah jam kerja kami berdua hari ini."


Ya, hari ini Nina masuk shif pagi sedang Arga masuk shif sore.


Nazeef berdehem mendengar jawaban Nina. Andai Nina tahu jika itu adalah ulahnya pastilah ia akan kena hajar oleh Nina dan bos nya sendiri.


Sorry boy gue pinjem nama lo bentar ya.


"Kalau pacaran jangan sampek lupa waktu Na.. Lo harus kuliah yang bener."


Nina mengangguk. "Iya, mana mungkin gue sia-siain kesempatan ini Zeef, bokapnya Nadira baik banget sama gue. Udah di kuliahin, di kasih tempat tinggal lagi sama bos Qenan."


"Oh iya, gimana kabar bokap lo masih mintain duit?"


Tentu Nazeef ingat pertama kali mereka bertemu orang tua Nina dan juga ia masih ingat ketika Nina sedang bersama nya tanpa sengaja ia membaca pesan dari orang tuanya meminta uang pada Nina.

__ADS_1


"Masih, itu untuk biaya kedua adik gue."


Nazeef berdecak kesal. "Tapi gak harus nyuruh-nyuruh lo minta ke Nadira juga kan?"


"Gue pinjem Zeef."


"Iya, tapi bokap lo nyuruh minta bukan?"


Mendadak Nazeef menjadi geram. Andai sekarang sudah cukup umur dan bisa menikahi Nina, dengan senang hati ia biayai keluarganya. Tidak melulu meminta dengan Nina sehingga membuatnya harus bekerja pada malam hari.


"Zeef, please itu keluarga gue."


"Sorry, gue cuma nggak tega lihat lo harus kerja banting tulang ngehidupi keluarga lo. Padahal seharusnya itu udah kewajiban mereka."


Suasana mendadak suram karena perdebatan barusan dan Nazeef merutuki hal itu.


"Pulang dari Amerika, gue akan nikahi lo."


Nina tersentak lalu menatap dalam ke mata Nazeef, mencari keseriusan atau hanya candaan disana.


"Lo lupa kalau gue ada Arga?"


Nazeef mengedikkan bahu acuh. "Gue nggak perduli, jadi puas-puasin aja pacaran selama dua tahun ini."


"Iihh.. Kenapa lo nyebelin gini sih.. Padahal lo masih ada Risa."


"Emang, dan gue juga nggak tahu dia dimana."


Hening kembali. Nina sendiri bingung harus berbicara apalagi karena sedari tadi ia sedang mengontrol debaran jantung.


Cup


Mata Nina melotot merasakan kecupan di pipinya. Sontak hal itu membuat ia menoleh ke arah Nazeef namun semakin membuat matanya seakan ingin terlepas.


Jantungnya benar-benar akan copot saat bibir Nazeef mulai melu mat bibirnya. Ia tak mengerti harus melakukan apa hingga lidah Nazeef memaksa masuk ke dalam rongga mulutnya. Ia yang tak tahu pun membuka mulutnya memberi akses bebas kepada lidahnya.


"Di balas sayang." ucap Nazeef menghentikan aktivitas nya sejenak.


"Aku nggak ngerti."


"Ikuti apa yang aku lakuin."


"Nanti kamu melewati batas Zeef."


Nazeef menggeleng. "Hanya bibir aja." Tanpa menunggu jawaban Nina, ia memulai kembali dengan apa yang sudah ia lakukan tadi.


...****...


Masih di parkiran dimana Qenan dan Nadira berada. Bedanya mereka sudah duduk di depan dimana Qenan duduk di belakang kemudi dan Nadira di sebelahnya.


"Ra.."


"Hem." Nadira berdehem sebagai jawaban karena saat ini ia fokus bermain game di ponsel.


"Kita belum pernah coba di mobil kan Ra?"


Mendengar pertanyaan Qenan membuat Nadira terkejut dan menjatuhkan ponselnya tanpa sengaja.


Dan ia tak menjawab karena memilihencari ponselnya dengan wajah cemberut. Bagaimana tidak? rasa khawatir menyelimuti hati saat ini memikirkan ponsel kesayangan nya.


"Sorry Ra.." ucap Qenan ketika mendapatkan ponsel Nadira sudah retak di LCD nya itu.


"Tuh kan.. Ini akibat dari ke omesan kamu Nan.. Ini hape aku beli di gaji ku yang pertama tahu."

__ADS_1


"Ra, aku bisa belikan yang baru."


Nadira berdecak sebal. "Aku tahu, tapi ini dari hasil kerja ku di Kafe Hebat tahu."


"Lah yang gaji kamu aku tahu."


Wajah Nadira semakin masam ketika Qenan berbicara seperti itu. Apalagi dilihatnya wajah Qenan tetap datar seperti biasanya.


Tuhan.. Kenapa aku berjodoh dengan wajah datar ini?


"Besok beliin yang baru." gumam Nadira pada akhirnya.


Qenan tampak tersenyum.


Ia sengaja tak merasa bersalah karena sejujurnya sudah lama ingin mengganti ponsel Nadira yang sangat jauh berbeda dengan nya.


Bagaimana tidak? harga ponsel itu hanya 2 juta, sangat berbanding terbalik dengan ponsel miliknya.


Padahal jika sudah kuliah sangat dibutuhkan ponsel pintar untuk penunjang belajarnya.


"Oke, tapi harus aku yang pilihkan ya.."


"Iya."


"Laptop kamu juga harus ganti. Yang sama kayak aku."


"Tapi masih bagus yang lama Nan."


"Iya bagus, tapi kenapa tiap nonton harus di laptop ku?"


Nah, kalau gini Qenan sudah tahu pasti Nadira tidak bisa menjawab.


Tanpa menunggu jawaban dari Nadira, ia menghidupkan mesin mobil lalu melaju menuju apartemen mereka. Ia memilih pulang bersama sang istri daripada harus berlama-lama di pesta yang tak begitu penting untuknya.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di apartemen. Keduanya membersihkan diri masing-masing, berganti pakaian lalu membaringkan tubuh di atas tempat tidur bersamaan.


Nadira memilih meletakkan kepalanya di lengan Qenan lalu memeluknya dari samping.


"Mulai besok, aku yang akan antar jemput kamu." tutur Qenan.


"Iya, kamu udah ganti profesi sekarang." ledek Nadira dan tergelak.


"Nanti gaji aku ya.."


Nadira mengangguk. "Tenang, suami, papa, dan mertua aku orang kaya."


Merasa gemas Qenan pun mengecup bibir Nadira lalu melu mat bibir bawahnya sedikit keras.


"Sakit." rengek Nadira.


"Bengkak Ra." Qenan terkekeh melihat bibir Nadira bertambah memble.


"Udah biasa, oh iya Nan. Besok jemputnya pakek motor dong."


Qenan mengerutkan dahi. "Kenapa?"


"Biar kayak anak ABG gitu loh di jemput pacarnya."


Qenan berdecak sebal. "Kita udah nikah."


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2