Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Perhatian Nadira


__ADS_3

POV author


Langit masih tampak gelap bahkan ayam belum terdengar suara berkokok. Qenan mengerjapkan mata berulang kali, setelah pandangan sudah kembali ia terduduk melihat dua sahabatnya masih terlelap.


Bibirnya melengkung mengingat betapa manja nya ia tadi malam sampai hendak tidur pun harus di peluk Nadira lebih dulu.


Bucin!


Beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri diri lebih dulu lalu menyusul Nadira yang sudah ia yakini pasti berada di dapur.


Ia akui Nadira cepat beradaptasi dengan lingkungan, terbukti saat hari pertama mereka menikah. Dengan mudah nya Nadira menguasai dapur di apartemen nya.


Lagi-lagi Qenan memakai pakaian rumahan Dion walau sedikit kekecilan untuknya hingga kaos yang ia kenakan sangat ngepas di tubuhnya. Beruntung di dalam mobilnya selalu membawa pakaian da lam, sebenarnya Qenan selalu membawa pakaian ganti namun saat di hotel kemarin Nazeef sudah membawanya ke loundry jadi hanya ada pakaian da lam yang masih baru saja.


Karena Qenan dulu sudah biasa menginap di rumah papa Surya tak sulit menemukan letak dapur rumah ini.


Ia tersenyum melihat Nadira tengah sibuk di depan kompor di temani Bi Asih ART papa Surya yang bertugas untuk memasak.


Bi Asih menyadari kehadiran Qenan hendak menyapa namun ia memberi isyarat untuk tak bersuara.


"Non Nadira.. Bibi ke belakang dulu ya.." pamit bi Asih.


"Oh iya bi."


Qenan mendekat setelah bi Asih pergi. Secepat kilat ia lingkarkan kedua tangan di perut Nadira.


"Ini aku." ucapnya saat Nadira hendak mengeluarkan suara.


"Oh ya ampun ngagetin tahu gak.."


Qenan terkekeh langsung mengecup pipi istrinya itu membuat mata Nadira membulat.


"Qenan.. Ini di rumah papa jangan aneh-aneh." bisiknya memberi cubitan di lengan suaminya.


"Aauh.. Sakit Ra.. Oke sorry, udah kebiasaan juga." Qenan melepas pelukan langsung mengangkat kedua tangan ke udara.


"Sekarang duduk, abis ini matang aku buatin jus sama sereal untuk sarapan kamu."


Qenan mengangguk setuju namun belum beranjak karena ia ingin mengambil potret istrinya lalu duduk di meja makan yang satu ruangan dengan dapur.


Di buka aplikasi media sosial yang sangat jarang ia kunjungi. Di upload foto Nadira yang tengah memasak di 'instagram' dengan caption yang akan membuat para followers nya patah hati.


'you are the first and last for me.


Only you Forever ❤️😘'


__ADS_1


Dan benar dugaan nya. Belum lama ponsel itu tergeletak di atas meja makan sudah membuat keributan dan itu membuat ia jengah.


Cukup lama Qenan menunggu Nadira memasak dan menyiapkan jus serta sereal untuknya. Beruntung mereka terbiasa bangun awal terbukti sampai sekarang penghuni rumah ini belum ada yang bangun.


"Ini jus jeruk sama sereal nya. Ini bagus untuk meredahkan pusing akibat mabuk." Ucap Nadira ketus meletakkan jus dan sereal di depan Qenan.


"Iya gak mabuk lagi."


"Aku bukan nya ngatur-ngatur kamu Qenan, tapi aku itu khawatir sama kamu, gimana kalau otak kamu jadi rusak, terus sakit jantung, apalagi sampek sakit kanker. Ada kanker hati, mulut, tenggorokan, esofagus, belum lagi masalah paru-paru, dan juga pencernaan kamu bisa bermasalah tahu gak." omel Nadira panjang lebar membuat Qenan bergidik ngerih.


Begini rupanya di omelin istri. Mama aja gak pernah ngomel panjang lebar karena aku nyaris gak pernah buat salah. Tapi lihatlah istriku ini.. Dari tadi mulutnya terus bicara mengomel tiada henti.


"Hei.. Kamu dengerin gak sih?" sungut Nadira kesal karena sedari tadi Qenan diam saja hanya menatap bibirnya.


"Dengar sayang.. Aku dengar kok." sahutnya.


Lagi-lagi kata 'sayang' yang terucap dari mulut Qenan membuat dirinya membeku namun hatinya meleleh.


Ah dasar suami bocah.


"Boleh aku makan?" tanya Qenan menatap Nadira yang masih membeku menatap lurus ke arahnya namun sepertinya pikiran sedang melayang.


Qenan menyeringai, detik berikutnya ia mengecup bibir Nadira dan di lu mat nya sekilas.


"Qenan.." rengek Nadira membuat Qenan tertawa.


Aku ingin selamanya bersamamu, semoga gak adalagi yang menghalangi hubungan kita Ra..


"Ehem." Seseorang berdehem membuat dua sejoli itu menoleh ke arah suara tersebut.


Nadira tersenyum kikuk mengetahui seseorang itu sudah bertandang ke rumah papa Surya pagi-pagi buta.


"Pagi om.." sapa Nadira sopan.


"Pagi. Bi Asih kemana?" tanya Wido datar.


"Gak tahu, ada perlu apa ya om?" tanya Nadira masih sopan sedang Qenan masih meneruskan makan nya.


Ditanya cemburu? pastilah, tapi ia tak mungkin melarang Nadira bicara dengan orang lain asal Nadira jangan di pandang terlalu lama apalagi sampai di sentuh.


Jangan coba-coba.


"Mau minta buatin kopi kayak biasa." sahut Wido santai.


Nadira menatap Wido sekilas karena Wido juga tengah menatapnya. Beruntung Qenan masih sibuk dengan makanan nya.


Oh ternyata om Wido udah biasa pagi-pagi di rumah papa. ucap Nadira dalam hati.

__ADS_1


"Emm.. Om udah sarapan belum?" tanya Nadira.


"Belum." sahut Wido singkat.


"Jangan minum kopi ya.. Gak bagus untuk perut kosong. Nanti lambung om naik. Kalau naik bisa buat perut om mual, kepala pusing, terus bisa vertigo. Kan kita nanti mau ke Bogor dan om yang nyetir, bahaya kan om? aku buatin sereal aja ya.."


Wido tertegun mendengar nasihat dari gadis yang ia cintai selama ini. Hal ini adalah pertama kalinya mereka berbicara akur. Melihat dari kejauhan saja sudah membuat ia jatuh hati apalagi diperlukan semanis ini?


"Boleh."


Nadira pun membuat sereal yang sama dengan Qenan. "Teh atau jus jeruk om?"


"Teh aja."


Nadira menyerahkan segelas teh dan semangkuk sereal di depan Wido.


Qenan beranjak setelah selesai memakan yang di sediakan Nadira untuknya. Berjalan menaiki tangga, dan ia melihat Nadira tengah menatapnya. Ia pun memberi isyarat lewat dagunya untuk ikut naik ke atas dan Nadira mengangguk.


"Om, aku ke atas dulu ya.."


Wido mengangguk dan berkata. "Makasih ya.."


Melihat Nadira sudah tak nampak senyum yang ia tahan kita terlihat mengembang. Berinteraksi dengan Nadira adalah keinginan nya sedari dulu.


Sedang di lantai atas, Qenan membawa Nadira ke ruang lukis Dion. Tempat favorit adik tiri istrinya.


"Kayaknya kamu terlalu cerewet pagi ini Ra.."


Nadira gelagapan apalagi tangan Qenan sudah menahan pinggang nya agar tubuh mereka tetap merekat bagai lem.


"Maaf." cicitnya sembari mencoba menjauhkan diri.


"Kamu tahu, gerakan badan kamu membuat aku semakin menginginkan mu Nadira.. Aku udah menahan nya dari kemarin." kata Qenan membelai wajahnya dan satu tangan lagi sudah berada di punggung nya.


"Ini di rumah papa Qen.."


"Kamar papa ada di bawah, kita bisa bermain sebentar sebelum sarapan pagi.


Tak ingin mendengar penolakan lagi dari Nadira, dengan cepat ia bungkam dengan bibirnya. Menikmati pagi dengan orang tercinta adalah kebahagiaan untuknya.


"Gak ada tempat tidur." tolak Nadira di saat hasrat itu tengah membara.


"Ada dinding."


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2