
"Pusing kepala gue sumpah." gerutu Nazeef meletakkan alat tulis nya di meja kantin.
"Ayo kita ke kafe Zeef." ajak Qenan.
"Gue baru juga duduk boy." keluh Nazeef namun tak bangkit menuruti.
"Ini perintah."
Nazeef berdecak mengikuti langkah Qenan.
"Gue nebeng." pinta Nazeef langsung menangkap kunci mobil tiba-tiba dilempar begitu saja ke arahnya.
Mereka masuk ke dalam mobil dalam diam dan itu berarti Qenan dalam mode suntuk karena biasanya masalah pekerjaan lah yang dibahas mereka sepanjang perjalanan.
"Ada acara di kafe kita?" tanya Qenan ketika mobil sudah berhenti di parkiran Kafe Hebat.
Nazeef mengedikkan bahu. "Gue belum ada buka email boy."
"Sama, bahkan dari tadi malam gue gak pegang hape."
Mereka turun langsung di sambut girang para tamu acara itu dan hal itu membuat ia semakin kesal.
Garis-garis di dahi nya kian mengerut atas perlakuan para tamu itu dengan seenak nya membawa ia dan Nazeef ke acara itu.
Matanya memicing memperhatikan salah satu dari mereka yang berdiri membelakangi nya saat ini.
Lalu ia lirik jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya.
"Gak kuliah?" gumamnya.
Terdengar suara riuh menyuarakan kedatangan dirinya dan berhasil membuat cewek yang ia maksud berbalik melihat dirinya dengan matanya yang terbuka lebar lalu sedetik kemudian cewek itu cengengesan.
"Akhirnya pemilik kafe ini bisa ikut gabung juga.." kata sang punya acara histeris mendekati Qenan hendak merangkul lengan nya.
Namun dengan sigap ia menjauhkan tubuhnya mendekati cewek yang sudah memperhatikan nya tanpa kedip.
Ketika berada di hadapan cewek itu ia gerakkan dagu sebagai isyarat mengapa ada disini? dan jawaban cewek itu hanya cengiran dan mengangkat dua jemari nya berbentuk V.
Belum sempat Qenan berbicara lengan nya sudah ditarik Nazeef.
"Sesekali lo harus ikut nimbrung sama klien kita." tukas Nazeef karena melihat penolakan dari Qenan.
"Udah ada lo juga." kata Qenan sewot dan membiarkan orang-orang memotret dirinya dan juga Qenan.
Namun ada yang menarik di situasi ini, cewek yang ia hampiri tak lain adalah sang istri sedang menatapnya dengan bibir manyun.
Ketika pandangan mereka terkunci, alam bawah sadar mengajaknya melangkah mendekati sang istri.
Banyak mata yang memperhatikan mereka berdua. Bahkan menimbulkan banyak tanya.
"Kenapa sampai sini?" tanya Qenan berbisik tepat di telinga Nadira membuat empunya merasa geli.
"Tadi masuk cuma satu dosen Nan, terus di ajak kesini karena temen aku ulang tahun."
__ADS_1
Saat qenan hendak mengajak Nadira ke ruangan nya, segerombolan teman Nadira menghampiri mereka.
"Nadira, kenalin dong sama pemilik Kafe Hebat."
Nadira menaikkan satu alisnya merasa heran karena teman-teman nya ini berubah seakan akrab dengan nya. Padahal biasanya mereka acuh-tak acuh.
"Oh iya ini kenalin Qenan." jawab Nadira ramah.
Dengan semangat teman-teman Nadira mengulur tangan dengan senyum semanis mungkin.
Tapi lihatlah, Qenan tak menggubris uluran tangan itu bahkan tak menanggapi mereka hingga membuat mereka kesal.
"Sombong banget." gumam salah satu dari mereka.
"Tapi dia tampan." sambung gumaman lain nya.
"Nadira, kok sombong banget sih?" tanya Sera yang berulang tahun.
Nadira mengedikkan bahu.
"Loh kakak ipar disini juga?" tanya Nazeef yang baru saja bergabung dengan mereka.
"KAKAK IPAR?"
Nazeef tersentak mendengar pertanyaan yang mirip dengan jeritan cewek-cewek itu.
"Iya kakak ipar."
"Siapa kakak ipar yang kamu maksud?" tanya Sera.
Penjelasan Nazeef membuat para cewek itu terkesima dan semakin mengagumi nya.
"Tapi sorry sama sikap nya dia ya.. Dia itu bakal ngomong panjang lebar, lemah lembut dan sangat manis kalau sama pasangan hidupnya." lanjut Nazeef membuat para cewek-cewek mendadak lesu mendengar 'pasangan hidup.'
"Siapa pasangan hidupnya? cantikan mana sama gue?" tanya Sera yang memang dia lah paling menonjol tampilan nya.
Nazeef dibuat melongo mendengar pertanyaan itu. Mendadak teringat ancaman Qenan waktu lalu.
"Kalian nilai sendiri aja kakak ipar gue." kalimat teraman menurutnya.
Nadira hanya nyengir kuda lalu tangan nya berada di atas udara dengan mengatakan say hello.
"Lambat." umpat Qenan lalu merangkul leher Nadira membawanya ke ruang kerja.
Di tutup pintu ruang kerja nya tak lupa menguncinya agar tak ada yang menggangu. Sedari tadi wajah yang di tekuk kini semakin tertekuk melihat Nadira diam saja tak ada peka sama sekali.
Ia menghela nafas panjang lalu mendudukkan bokong nya di sofa membiarkan Nadira sedang mengedarkan pandangan di ruangan yang baru ia datangi.
Sebenarnya tak jauh berbeda di Kafe Hebat dimana Nadira bekerja dahulu. Hanya saja ruang kerja ini memiliki skat pemisah antara mejanya dengan meja Nazeef.
Seperti dua ruangan dengan satu pintu.
"Kamu kenapa?" tanya Nadira duduk di sebelah Qenan.
__ADS_1
Qenan yang bersandar memejamkan mata akhirnya membuka mata setelah mendengar pertanyaan yang ia tunggu-tunggu.
"Kepala ku pusing dan perut ku lapar."
"Mau aku pijitin dulu atau makan dulu?" tanya Nadira khawatir.
"Aku mau makan kamu boleh?" tanya Qenan. Jujur rudal miliknya sudah merindukan sentuhan dari sang istri.
Plak
Pukulan di lengan Qenan dilayangkan Nadira yang tak berasa apa-apa. "Belum boleh Qenan.."
"Belajar pakai cara lain Ra, ini benar-benar buat aku sakit kepala."
Nadira menatap wajah Qenan yang sayu, ia tahu jika Qenan tak bisa menahan nya lagi. Bukan hanya sekali ia merasakan rudal terbangun ketika Qenan memeluknya.
Tapi ia tak tahu gimana cara agar rudal tenang.
"Kamu masih pakai seragam sekolah loh.."
"Nanti aku ganti." sahut Qenan dengan suara berat nya.
Sedetik kemudian bibir kedua nya sudah terlihat saling bertautan. Semenjak kembali dari Malaysia, ini pertama kalinya bibir mereka menyatu untuk saling menuntut lebih.
"Begini?" tanya Nadira ketika ia genggam rudal Amerika milik Qenan.
"Ah ya Rara.. Lebih keras.." sahut Qenan racau nya. Sensasi yang diberikan Nadira membuatnya melambung tinggi.
"Nadiraaa.." erang nya menggebu.
Sensasi luar biasa itu semakin Qenan rasakan ketika Nadira menuruti apa yang di intrupsi kan Qenan, tangan nya mere mas dan menekan kepala Nadira menyalurkan rasa nikmat yang tak dapat di nilai dengan kata-kata.
"Cukup sayang." ucapnya memandangi wajah Nadira yang mendongak menatapnya.
Kini tangan nya yang bekerja maju mundur dan satu tangan lagi menikmati dua aset berharga milik Nadira.
Gerakan tangan nya semakin cepat kala rudal akan meledak.
Ia mendongak mende sah hebat lalu kembali menunduk melihat ledakan itu meleleh di kedua aset berharga milik Nadira.
Dengan nafas terengah-engah mengangkat tubuh Nadira ke pangkuan nya lalu ia dekap tubuh istrinya itu tanpa rasa jijik dengan cairan ledakan miliknya.
"Makasih sayang.." kecupan di dahi dan bibir Nadira ia berikan.
Nadira menyembunyikan wajah di dada nya. "Aku malu udah liar gitu."
Qenan terkekeh. "Aku suka, sangat suka sayang.. Kamu luar biasa."
🌸
Bersambung..
*Maaf ya emak slow up.
__ADS_1
Demam baya emakðŸ˜*