
Malam telah tiba, acara yang di tunggu-tunggu setiap siswa dan siswi di akhir sekolahnya adalah Acara Perpisahan.
Acara malam ini sengaja di desain dengan pencahayaan yang redup dan lampu berkelap-kelip seperti suasana di dalam bar.
Acara hendak dimulai namun Nadira masih duduk sendirian di tempat duduk tamu VIP tempat acara itu di gelar.
Kedua sahabatnya masih diperjalanan. Suami, adik, dan sahabat sang suami entah pergi kemana sejak tadi meninggalkan dirinya sendirian disini.
Lagi-lagi matanya menangkap sosok mantan berada di acara perpisahan sekolah Qenan. Lantas ia ingin mendekati cowok itu karena penasaran mengapa bersama cewek yang ia kenal.
"Haishh.. Kenapa mereka jalan ke tempat gelap-gelapan sih?"
"Ha kan, bener dugaan gue dua orang itu mau mesum kesini. Lo aja yang bego Nadira.." gerutu Nadira lalu membalikkan badan segera kembali ke tempat duduk semula.
Saat ia kembali ternyata acara sudah di mulai namun sang suami belum juga kembali.
Tak lama kemudian Nina dan Melinda sampai dan itu membuat Nadira merasa sedikit tenang.
Pementasan band-band sekolah sedari tadi sudah mengiringi jalan nya acara, bahkan tidak sedikit dari mereka ikut menikmatinya termasuk kedua sahabatnya.
Hingga di puncak acara, orang yang sedari tadi di nanti muncul di atas panggung. Sorak-sorai menghiasi tampilan sang suami.
Penerangan menjadi semakin redup dan sorak-sorai itu semakin riuh ketika Qenan memainkan piooner Dj nya.
Senyum itu terus mengembang melihat Qenan dengan lihai bermain pada alat DJ nya.
"Kenapa aku nggak pernah tahu kalau Qenan bisa ngeDJ?"
Para penonton sudah jingkrak-jingkrak namun tidak dengan nya, ia memilih duduk fokus melihat suami yang semakin mempesona.
"Eehh.. Mau apa Qenan jalan kesini padahal musik masih main aja itu." spontan Nadira berdiri dan panik membuat Nina dan Melinda tertawa.
"Ciye.. Yang di jemput pangeran.." ledek Melinda.
"Bukan pangeran, tapi sultan."
Nadira hanya mencebik saja, suasana yang tadinya riuh kini berubah hening di tengah alunan musik DJ karena sang Disjoki tengah mendatangi seseorang.
...****...
Qenan terus berjalan menuruni panggung lalu melangkahkan kakinya mendekati seseorang yang begitu berharga di hidupnya, Nadira.
Senyum itu semakin mengembang kala melihat Nadira memalingkan wajah karena sedari tadi tatapan mereka terkunci dan membuat wajah istrinya itu merona.
Sangat menggemaskan.
Ketika ayunan kaki terhenti, saat itu pula ia sudah berdiri tepat di depan sang istri yang tengah menunduk.
__ADS_1
Selalu saja begitu jika ia menatap dalam ke matanya. Ia kecup pucuk kepala Nadira lalu dirangkul lehernya dan membawa nya ke atas panggung.
"Oh No Qenan.. Aku nggak mau."
Bukan nya melepaskan justru membuat Qenan tergelak dan itu membuat para penonton menjadi riuh.
"Qenan, aku ngapain disini?" bisik Nadira ketika mereka sudah berada di depan alat-alat DJ yang dimainkan oleh Qenan.
Qenan tak menanggapi karena sudah mulai bermain dengan alat-alat DJ tersebut. Namun ada yang berbeda, tangan kirinya senantiasa merangkul pinggang Nadira posesif.
...****...
Musik DJ itu mampu menghipnotis semua orang untuk berjoget namun tidak dengan nya, Pesona seorang Qenan begitu menghipnotis dirinya.
Setiap hari mereka selalu bersama tetapi debaran jantung itu masih sama. Membuat dadanya sesak namun menenangkan ketika Qenan berada di dekatnya.
Ternyata beginilah rasanya jatuh cinta berulang kali kepada orang yang sama.
Sesak namun membuat bahagia.
Bagaimana ia tak bahagia? sedari awal mereka menikah, Qenan lah yang berusaha keras mempertahankan pernikahan rahasia ini, dia juga yang selalu belajar menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab.
Cowok, bukan pria muda yang seharusnya hanya memikirkan sekolah itu harus bertambah beban karena kehadiran dirinya.
Tapi lihatlah suaminya itu, dia mampu menyelesaikan semuanya. Lalu apalagi yang membuat ia meragukan cintanya?
"Qenan.." rengeknya setelah tahu itu ulah sang suami.
Ia berdecak ketika melihat Qenan terkekeh. Bukan karena kekehan Qenan adalah bentuk ledekan, tetapi ia terpesona lagi pada wajah bule suaminya itu.
Rambut yang sengaja di cat cokelat bagian depan, alis tebal berbaris teratur, mata kacang almond berwarna cokelat gelap nan tegas itu, hidung mancung tak ada gelombang apapun seperti perosotan yang ada di TK, jakun yang menonjol yang selalu naik turun dan yang sangat ia sukai saat Qenan menelan saliva berulangkali ketika pikiran suaminya itu mulai mesum.
Dan terakhir bibir tipis itu.
Nadira menggeleng ketika pikiran nya mulai liar.
Ia tetap diam ketika Qenan membawanya ke parkiran dan masuk ke dalam mobil.
"Loh kita mau kemana?" tanya Nadira bingung.
"Udah di dalam mobil, kamu bisa pandangin aku, pegang-pegang aku, cium-cium aku, dan perkosa aku juga boleh." sahut Qenan santai membuat Nadira melongo.
Nadira memalingkan wajah keluar jendela merasa malu karena ketahuan sedari tadi memandangi wajah Qenan, pahatan yang sangat sempurna.
"Qenan.. Aku malu tahu." ia semakin kesal karena Qenan sudah tergelak.
"Dan mana bisa aku perkosa kamu, keadaan ku belum pulih." wajah Nadira berubah sendu.
__ADS_1
...****...
Tawa Qenan berhenti lalu duduk merapat dengan Nadira karena mereka duduk di kursi penumpang tengah.
"Maaf ya, ya udah.. Aku pasrah ini, kamu suka bagian mana di wajah ku?" tanya Qenan mencoba mengalihkan kesedihan Nadira.
Ia tersenyum ketika Nadira menatap nya lalu menunjuk dengan jemarinya tepat di dahi.
"Kenapa suka kening ku?"
Senyuman Nadira menular padanya. "Suka aja, suka aku elusin dan cium juga."
"Oh ya? coba cium lagi."
Dan benar saja Nadira mengecup dahi Qenan dan itu hampir membuat Qenan tertawa. Karena apa? tidak tahukah Nadira jika itu adalah akal-akalan Qenan?
"Terus mana lagi yang kamu suka dari wajah ku?" tanya Qenan mencari kesempatan.
"Semuanya, aku suka semuanya yang ada di dirimu Nan."
Dengan menahan tawa berharap kali ini kesempatan itu datang lagi.
"Coba cium dimana aja yang kamu suka."
Dan benar saja, kesempatan itu datang lagi dan sekarang Nadira sedang menciumi setiap sudut wajahnya.
Ternyata otak lambat istriku masih ada.
Ketika bibirnya juga menjadi bagian yang disukai Nadira lantas membuatnya tak ingin melewati.
Dengan suka rela menerima dan memberi sapuan lidah dan lilitan di dalam rongga mulut Nadira.
"Kalau begini aku rela diperkosa sama kamu Ra." tuturnya setelah ciuman itu terlepas dan nafasnya masih tersengal.
Nadira tak menjawab karena sudah menyembunyikan wajahnya di dada Qenan.
"Ra.. Tolong jaga hatiku dan hatimu agar tetap utuh ya.."
Ia menunduk menatap Nadira yang mendongak menatapnya. Senyuman itu terbit ketika matanya tak sengaja melihat bibir Nadira yang bengkak karena ulahnya.
"Kamu juga."
Ia eratkan pelukan seakan tak ingin terlepas.
🌸
Bersambung..
__ADS_1