Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Boneka


__ADS_3

Keesokan hari nya di SMA KUSUMA BANGSA pada jam istirahat pertama. Qenan dan Nazeef sudah bertandang di ruang OSIS dimana Dion berada.


"Kalian keluarlah." usir Dion jengah karena Qenan bak seperti patung hanya mata saja yang bergerak berbeda dengan Nazeef yang sedang teleponan di sudut ruang OSIS tersebut.


"Apa kalian gak ada pelajaran remedial? Minggu depan kita udah UN. Sana perbaiki nilai kalian." usir Dion lagi.


Kini tatapan Qenan tajam kearah nya sedang Nazeef sudah memutar leher ke samping menatap Dion juga lalu berkata. "Selagi ada Qenan di kelas mah nilai gue aman." Setelah itu ia melanjutkan teleponan nya lagi.


"Oh iya Qen, nanti gue sama Nadira mau belanja."


"Siapa yang izinin?"


"Ini gue izin."


"Tapi intonasi omongan lo kayak ngasih tahu gue."


Dion memutar bola mata jengah lalu menarik nafas membuangnya kasar.


"Hah.. Jadi lo gak kasih izin? kami juga mau beli beberapa keperluan untuk di bawa ke Malaysia."


Qenan diam tak berkutik, hingga kini perasaan tak rela masih menyelimuti hatinya. Tapi apa yang bisa ia lakukan? apalagi papa Surya menghubungi nya tadi malam setelah pemecatan Mira.


"Gue ikut."


"Ck.. Iya."


"Gue gak di ajak?" tanya Nazeef baru selesai teleponan.


"TERSERAH!" ucap Qenan dan Dion bersamaan membuat Nazeef memanyunkan bibir.


Hal itu sukses membuat Dion tertawa dan senyum tipis dari Qenan.


"Jijik gue lihat muka lo gitu." ledek Qenan.


"Pengen muntah." Sambung Dion.


"Bangsat." umpat Nazeef.


Sesuai yang dikatakan Dion, sepulang sekolah ia menjemput Nadira dengan dikawal sahabat sekaligus suami dari kakaknya.


Dan juga sekaligus ingin melihat atau mengajak seseorang yang diam-diam sudah mengetuk hatinya.


Dua cowok dengan beda style itu sudah berada di depan gerbang kampus Nadira. Qenan berpenampilan serba hitam dari jaket hingga celana jeans bagian lutut tersobek dan sepatu saja yang berwarna putih, sedang Dion hanya mengenakan kaos hitam dan celana jeans biru serta sepatu yang sama berwarna putih juga.


Seperti kebiasaan seorang Qenan jika mengenakan jaket pasti menyembunyikan wajah bule nya dibalik topi jaket tersebut.


"Makanya itu muka jangan bule." cibir Dion.


"30 menit disini tapi udah banyak yang lihatin muka lo."


"Diem lo. Apa lo gak nyadar kalau mereka juga liatin lo yang baby face itu."


Dion berdecak tak lagi membantah karena benar adanya. Keduanya pun diam seribu bahasa.


Senyuman terbit dari bibir Qenan ketika mata nya menangkap seseorang yang mereka tunggu sedari tadi mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Udah lama?"


"Enggak, baru aja sampek." sahut Qenan berbohong dan mendapat pelototan dari Dion namun Qenan tak perduli dan ia pun membawa Nadira masuk ke dalam mobil Dion yang mereka tumpangi tadi.


"Tadi aja pas kesini lo yang nyetir sampek ngebut gak sabar pengen ketemu Nadira, ini udah ada Nadira malah gue yang nyetir." cibir Dion ketika hendak melajukan mobilnya.


Qenan tak menanggapi karena ia tengah sibuk dengan ponsel dan satu tangan lagi menggenggam tangan Nadira.


"Kalian mending baikan deh." usul Nadira.


"OGAH." jawab mereka bersamaan membuat Nadira tertawa.


"Kalian kompak tahu gak.."


"Aku gak mau punya adik ipar kayak Dion Ra.."


"Apa lagi gue, punya kakak ipar kayak Qenan? idih."


Akhirnya mereka telah tiba di pusat perbelanjaan. Salah satu mall yang ada di Jakarta pusat. Dengan langkah tegap Qenan berjalan tetap dengan menggenggam tangan Nadira sedang Dion bagai obat nyamuk yang selalu mengikuti mereka.


Tadi di kampus Nadira, tak ada tanda-tanda Melinda disana.


"Qenan.. Ayo ke toko boneka itu." tunjuk Nadira menarik tangan Qenan.


Senyum bahagia terlihat jelas di wajah Nadira hingga ia mendapatkan satu boneka yang terlihat imut menurutnya.


"Fotoin aku dong.." pinta Nadira pada Qenan dan tentu suaminya itu menuruti.


Dion juga tak mau kalah dengan Nadira ia mengambil boneka Pikachu lalu meminta Qenan juga memotret nya.


Dan benar saja, tak berselang lama Nazeef datang bersama seseorang.


Risa.


"Sorry nunggu lama."


Nadira hanya diam saja karena merasa kesal pada Nazeef si cowok plin-plan menurutnya. Bagaimana bisa mengatakan cinta pada Nina tapi tak memperjuangkan justru masih berhubungan dengan cewek lain.


Dasar playboy cap ikan asin.


"Mau yang pakek nasi atau yang lain?" tanya Qenan yang tahu akhir-akhir ini Nadira makan banyak.


Nadira yang sudah berwajah masam pun tak selera untuk makan lagi namun ia tetap memesan.


"Aku pengen yang ini aja." Nadira menunjuk 2 spaghetti deluxe, 1 Winger, 2 Coca-Cola.


"Gak yang ini aja? ini ada nasi nya."


Nadira menggeleng lesu karena melihat Risa terus menempel pada Nazeef.


"Oke."


Qenan pun menyebutkan pesanan nya begitu juga Dion, Nazeef, dan Risa. Mereka terlibat obrolan namun tidak dengan Nadira karena ia tengah asyik memainkan boneka squirtle miliknya.


Tak butuh waktu lama pesanan mereka sudah tersaji diatas meja.

__ADS_1


Dion menendang kaki Nadira membuat ia meringis tertahan di tengah acara makan nya. Nadira melotot ke arah Dion, beruntung Qenan masih sibuk berbicara pada Nazeef masalah pembukaan kafe Hebat di Lombok.


Dion menunjuk seseorang yang duduk tak jauh dari mereka dengan dagu.


"Qen.. Nina." ucapan Nadira membuat Nazeef menegang.


"Mana Ra?"


"Itu, aku kesana dulu ya.." tanpa menunggu jawaban dari Qenan ia sudah beranjak mendekati Nina duduk bersama Arga.


"Nina.."


Nina menoleh sang menyengir kuda. "Hehehe Dira.."


"Lo gue ajak gak mau rupanya udah janjian sama kakak kasir." Nadira pura-pura merajuk.


"Sorry, dimana bos?" tanya Nina.


Nadira berbalik menunjuk dimana semua yang bersama nya berada. "Pindah kesana yuk.. Bosen gue ada Risa."


Nina melihat Arga yang mengangguk akhirnya mereka bergabung bersama Nadira.


Nina melihat Risa yang terus menempel pada Nazeef dan Nazeef sendiri tak mengelak membuat ia merasa semakin sakit.


Di tengah keheningan penuh kecanggungan Nina mengatakan sesuatu yang membuat semua orang terkejut kecuali Qenan.


Ucapan Nina yang membuat Nazeef pupus harapan dan amarah menjadi satu. Tetapi tidak dengan Nadira, ia begitu senang. Setidaknya Nina tak melulu menunggu kepastian dari Nazeef dan ini bisa menjadi pelajaran untuk cowok plin-plan seperti Nazeef.


"Kak Arga.."


"Ya."


"Apa kakak masih mengharapkan ku?" Pertanyaan Nina sangat pelan namun bisa terdengar ke telinga mereka.


"Kamu tahu jawaban kakak dari dulu akan tetap sama."


"Kak, aku bukanlah cewek berada."


"Kakak juga."


"Aku tak secantik cewek di luaran sana, aku juga tak secantik Nadira."


Nadira berdecak begitu juga Qenan.


Arga tersenyum tulus. "Kalimat kasar nya begini. Nadira cantik sesuai dapat nya bos Qenan. Jadi jangan pernah bandingkan dirimu dengan Nadira yang memang gak seposisi kita."


Nina akui, Arga lebih dewasa dari dirinya. "Aku terima kakak. Buatlah hati ku jatuh cinta sama kakak."


Mendengar ucapan Nina membuat Nazeef emosi dan pergi meninggalkan tempat itu.


🌸


Bersambung..


__ADS_1



__ADS_2