Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Saling diam


__ADS_3

"Maaf ya nunggu lama." ucap Nadira baru saja tiba di kafe Hebat dimana ia sudah janjian dengan Nina dan Melinda.


"Gak apa-apa."


"Kita berangkat sekarang?" tanya Arga yang baru saja bergabung.


Nadira melirik ke arah Nina tampak menjadi tidak semangat setelah kehadiran Arga namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Ia pun melihat bagaimana mimik wajah Melinda yang sama hal nya dengan Nina. Hanya helaan nafas yang terdengar lalu ia mengangguk.


Mereka pun pergi dari Kafe Hebat menuju mall sesuai janjian mereka ingin menonton bersama. Awalnya hanya bertiga namun agaknya pacar Nina ingin ikut bergabung.


"Kak Arga naik di depan ya biar kami bertiga duduk di belakang." ujar Nadira ketika hendak memasuki taksi yang sudah ia pesan.


Arga setuju dan taksi pun melesat membelah jalan ibu kota menuju bioskop terdekat.


"Aku lupa kalau ini malam Minggu, pantas aja rame." celetuknya menikmati perjalanan.


"Kakak nggak di marahin sama suami kakak main keluar?" tanya Melinda.


Nadira terkekeh karena hari ini bebas tanpa hambatan, suaminya pulang terlambat. "Jangan pikirkan dia."


Sebelum mereka berempat sampai ke bioskop, mereka mampir lebih dahulu membeli minuman dan popcorn masing-masing.


...****...


"Zeef, coba lo lihat istri gue ada dimana." titahnya pada Nazeef karena saat ini ia sedang menyetir.


Jika di dunia novel sahabat yang berprofesi sebagai asisten pribadi nya juga merangkap sebagai sopir, berbeda dengan Qenan dan Nazeef karena keduanya tak pernah mempermasalahkan siapa yang menyetir mobil jika sedang berdua.


Berbeda jika ada Nadira maka Nazeef lah yang mengemudi.


"SARINAH XXI."


Qenan menganga mendengar itu, dengan cekatan tancap gas ke tempat dimana istrinya berada.


"Pelan woy.. Gue belum nikah." pekik Nazeef saat Qenan kebut-kebutan.


Namun agaknya Qenan tak menggubris sama sekali pekikan Nazeef karena tujuan nya segera sampai ketempat dimana sang istri berada.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka telah sampai ke tujuan. Dengan cepat Qenan keluar dari mobil hingga suara gebrakan pintu mengagetkan Nazeef yang masih berada di dalam.


"Dia itu sebenarnya khawatirin kakak ipar terjadi sesuatu atau khawatir kakak ipar bareng cowok lain?"


Nazeef berjalan cepat mengejar Qenan yang sudah menjauh darinya.


Qenan sendiri sudah melihat sang istri berjalan beriringan dengan cewek berambut pendek dan ia yakin itu adalah Melinda tapi tak perduli siapapun itu, yang terpenting istrinya.


Dengan sigap di rangkul pinggang ramping Nadira dengan posesif.


"Aakkhh.." pekik Nadira terpejam namun indera penciuman nya merasakan harum tubuh yang sangat ia kenali lalu menoleh kesamping melihat siapa yang merangkulnya, dan benar saja dugaan nya.

__ADS_1


"Qenan, kamu mengejutkan ku."


Qenan bergeming dengan wajah datarnya meski Nina, Arga, dan Melinda menyapa.


Nazeef datang tergesa-gesa dengan dua tiket film yang hendak mereka tonton. Bagaimana Nazeef tahu film apa yang hendak di tonton? itu karena Qenan mengatakan nya saat di perjalanan tadi.


"Ini tiket kita." Ucap Nazeef menyerahkan satu tiket kepada Qenan.


Nazeef melirik sekilas ke arah Nina yang tengah menatapnya namun ia acuh walau hatinya perih melihat kebersamaan Nina dengan Arga.


Dengan wajah datar ia melangkah mengikuti Qenan dan Nadira melewati Nina begitu saja tanpa melirik sedikitpun.


...****...


"Kenapa pergi tanpa ku sih?" sungut Qenan dengan wajah bermuram durja.


Nadira meringis menatap wajah muram durja Qenan dan merasakan rangkulan Qenan kian posesif setelah memasuki bioskop.


"Kamu bilang bakalan pulang terlambat, ya aku kan mau abisin malam Minggu di luar dong."


Qenan berdecak kesal dan semakin kesal ketika tempat duduk ia dan Nazeef berjauhan dengan tempat duduk Nadira.


"Di tukar aja sih." tutur Melinda merasa geli melihat Qenan menggerutu sedari tadi.


Akhirnya Nadira dan Nazeef bertukar posisi sehingga ia dan Qenan berjauhan dari mereka.


...****...


Tidak tahukah jika ia sedang menata hatinya?


Sepanjang tayang nya film bergenre romantis itu, hatinya diliputi rasa kecewa dengan apa yang di lihatnya.


Bagaimana tidak? Nina yang mengatakan ingin dirinya memperjuangkan cintanya namun melihat Nina pasrah ketika Arga menirukan adegan ciuman di layar lebar itu membuat hatinya mantap untuk mengubur dalam-dalam perasaan cinta ini.


Sesakit ini melihat orang yang kita sayang dimiliki cowok lain. jerit Nazeef dalam hati.


...****...


Nina terkejut ketika melihat Nazeef datang dengan nafas terengah-engah menghampiri Qenan dan Nadira menyerahkan selembar tiket.


Tubuhnya terpaku cukup lama melihat cowok yang dirindukan nya.


"Sayang." bisik Arga membuyarkan lamunan nya.


"Ah iya kak." sahutnya kikuk. Mau bagaimana pun ia harus menjaga hati Arga.


Jantung seakan hendak terlepas ketika mengetahui jika Nazeef duduk di sebelah nya. Ada rasa senang namun lebih dominan rasa yang menyesakkan dada.


Bagaimana tidak? di sebelah kiri adalah sang pemilik hatinya dan sebelah kanan adalah pemilik raga.


Tapi ia sadari, ini adalah salahnya dan membuat sang pemilik hati menyerah. Andai ia bersabar sedikit saja pastilah kisah cinta nya tak serumit ini.

__ADS_1


Dan kini ia hanya bisa diam dan menyesali segalanya.


...****...


Sepertinya acara menonton malam ini tidak sesuai ekspektasi Nadira. Karena apa? suaminya sedari tadi ngedumel kepadanya.


"Sekarang kamu udah nggak mau dekat-dekat aku lagi."


Lihatlah, entah mengapa sepertinya sang suami sedang sensitif terhadap dirinya.


"Bukan gitu." elaknya membela diri.


"Buktinya kamu mau nonton sendiri. Untung aja aku udah pasang alat pelacak di ponsel mu."


Perkataan Qenan membuat ia terperangah karena baru mengetahui jika dirinya juga dalam pengawasan sang suami.


Enggak cukupkah hanya om Wido yang mengawasi ku?


"Ya udah lah, mulai besok aku kuliah sendirian, di kantin pun sendirian, apa-apa sendirian."


Mendadak mood nya memburuk. Entah mengapa ia kurang senang di awasi orang lain.


Enggak bisakah aku bergerak bebas? aku pun tahu batasan.


Akhirnya pasangan suami istri itu hanya diam saja. Sepertinya sifat egois keduanya sedang meninggi dan tak ingin ada yang mengalah.


Bahkan selesai menonton, keduanya langsung pulang dalam diam dari perjalanan hingga sampai ke apartemen.


Nadira lebih memilih membersihkan diri lebih dahulu menghindari Qenan adalah pilihan saat ini.


Sebenarnya ia menyadari kesalahan yang tak izin suami lebih dahulu, namun setelah mengetahui Qenan juga mengawasi nya membuat enggan untuk berbicara.


Dan tak mungkin ia mengungkapkan jika karena itulah ia ikut diam.


...****...


Qenan merasa bingung atas sikap Nadira yang tiba-tiba juga ikut diam. Bahkan dapat dilihat wajah Nadira yang tertekuk.


Ia berpikir hanya mendiami sepanjang jalan, tetapi ia salah karena Nadira masih diam hingga selesai membersihkan diri.


Semakin heran ketika Nadira keluar kamar mandi sudah mengenakan baju tidurnya, tidak seperti kebiasaan Nadira ketika sehabis membersihkan diri pasti keluar kamar mandi hanya mengenakan handuk yang hanya menutupi aset-aset berharga Nadira.


Berpikirlah keras apa kesalahan nya yang membuat Nadira diam begini bahkan dengan acuh melewatinya naik ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya.


Memilih menyegarkan diri lebih dahulu lalu ikut berbaring memeluk Nadira dari belakang dan ikut terlelap menjemput mimpi indah.


Untuk pertama kalinya mereka saling mendiami ketika ada masalah.


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2