
POV NADIRA
Seperti halnya menyukai senja yang tak perlu kujelaskan, aku selalu menyukai matamu. Menatap lebih dalam kesana, lalu menenggelamkan diriku berlama-lama.
Tidak ingin berlari lagi. Segala penat seolah menemukan obatnya. Matamu selalu bisa menenangkan segala yang gusar. Mengenangkan segala yang sudah terlalu jauh berjalan.
Aku melihat diriku semakin dalam, semakin tidak mau keluar dari matamu. Terkadang tidak terlalu banyak bicara, kita hanya menikmati udara sambil saling menatap.
Dalam hati, aku selalu memanjatkan doa, agar denganku saja kamu ingin menetap.
"Aku suka segala tentangmu. Terlebih saat kamu menjadi cemberut dan cemburu. Tentu tidak dengan porsi berlebihan. Saat begitu, kamu semakin terlihat memesona. Ingin rasanya kupeluk dan tidak kulepas berlama-lama."
Aku tersenyum mendengar nya. "Kenapa begitu?"?
"Memeluk tubuhmu dan menatap matamu dalam waktu yang sama, adalah hal termanis dari jatuh cinta."
Aku tersenyum dan mataku terpejam merasakan kecupan mendarat di keningku. Betapa bahagiaku hari ini walau ku tahu tak lama lagi akan berpisah dengan nya.
"Berjuanglah bersama ku hingga akhir Ra."
Lagi-lagi aku tersenyum haru atas ucapan Qenan. Siapa yang tak akan jatuh cinta bila diperlakukan manis begini?
Akupun mengangguk lalu menyandarkan kepalaku di dadanya kembali menikmati senja terakhir di kota Bali.
Tahukah kamu suamiku? disaat seperti inilah yang akan aku rindukan, tetapi aku tak boleh egois bukan?
Aku tak mungkin menghalangi cita-cita mu. Lalu bagaimana dengan cita-cita ku? jangan pikirkan. Karena setelah kamu menikahiku, kamulah yang menjadi cita-cita ku.
Hanya kamu, kamu, dan kamu.
"Ayo kita masuk, angin mulai dingin Ra." ajaknya dan akupun mengangguk.
Aku tersenyum ketika merasakan Qenan menepuk-nepuk bokongku agar pasir pantai tak lagi ada disana.
"Makasih."
"Mau gendong?" tanya Qenan langsung jongkok di depan ku membuat aku tertawa.
"Aku berat Qen." kataku ragu-ragu.
"Kamu lupa kalau aku sering gendong kamu pas rudalku merindukan mu?"
Kami berdua pun tergelak bersama melupakan dua orang yang selalu setia mengikuti kami.
Untuk pertama kalinya aku digendong Qenan seperti ini. Ternyata, pacaran setelah menikah itu sangat indah.
...****...
POV AUTHOR
"Ra, bisa nggak kamu masak nya cuma untuk aku?" tanya Qenan merasa tak rela Nadira menyiapkan makanan untuk kedua sahabatnya.
Kedua sahabatnya itu hanya mendengus kesal. Sedang Nadira terkekeh geli menyaksikan kecemburuan nya.
__ADS_1
"Aku cuma memasakkan aja Nan, cuma kamu yang aku sediain ini." Nadira menyerahkan sepiring makan malam untuk Qenan.
Selesai makan malam, Qenan membantu Nadira membersihkan piring kotor dan alat-alat memasak nya tadi.
Semua itu terlihat jelas oleh kedua sahabatnya yang membuat mereka terheran-heran.
"Gue geli lihat Qenan bersikap manis gitu tahu nggak." celetuk Nazeef.
"Tapi, kalau udah nikah memang begitu. Bukan cuma butuh kata-kata cinta doang. Sekali-kali bantu istri kerjaan rumah aja udah buat istri tambah cinta."
Nazeef menoleh ke arah Dion karenanya jawaban itu. "Lo bilang gitu kayak udah pernah nikah aja, dan ini ya.. Gue kalau udah nikah sih mau nya istri gue cuma layani gue di tempat tidur doang."
Dion mencebik. "Ngomong sama lo pasti arahnya ke sono terus. Berubah Zeef, perjalanan kita masih panjang. Lo harus berubah menjadi baik. Jangan lupakan pada akhirnya nanti kita akan menjadi pemimpin di perusahaan, kita harus kasih contoh yang baik."
"Iya-iya, Lo gak jauh beda sama Qenan. Tukang ceramah."
...****...
"Jangan kak, belum waktunya kita lakuin itu." Nina buru-buru bangkit dan berlari masuk ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi ia menangis merasa mengkhianati seseorang namun semua terlambat, ini adalah salahnya.
Berharap orang itu membebaskan ia dari jeratan yang sengaja dibuat sendiri.
Nina menggeleng. "Ini salah lo Nin, jangan berharap lagi sama dia."
Nina keluar dari kamar mandi dan melihat Arga masih berada di kamar nya.
"Maafin kakak." ucap Arga.
Arga memeluk Nina dengan erat. "Kakak akan menunggu waktu itu."
Nina mengangguk. "Sabar ya, tak akan lama."
Akhirnya mereka memilih keluar apartemen menuju minimarket di lantai dasar karena keperluan dapur Nina sudah habis.
Semoga semua baik-baik aja.
...****...
"Yes baby.. Akkhh.."
Di apartemen mewah itu Melinda sedang melayani sugar Daddy nya dengan cara berbeda. Lambat laun ia mulai menerima profesi nya sebagai sugar baby.
Ini semua karena Dion sudah meninggalkan nya. Bukan menyalahkan namun memang harus seperti itu, Dion harus meninggalkan nya.
"Kamu memang hebat baby.."
Melinda tersenyum. "Makasih karena Daddy masih bisa menjaga kesucian ku."
Rian tersenyum lalu membantu Melinda menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Aku harus benar-benar menahan nya karena kamu begitu berharga. Sampai kapan kamu diam aja, kenapa nggak kamu balas ibu tiri mu? dengan mudah aku bisa melakukan nya."
__ADS_1
Melinda tersenyum haru. "Jangan Dad, semenjak ayah menikahi ibu, aku bisa lihat kalau ayah begitu bahagia. Aku nggak mau ayah hancur lagi kayak dulu saat kehilangan ibu kandung ku."
Rian membelai rambut Melinda lalu menghela nafas. "Baiklah, aku pulang dulu. Dia pasti udah dirumah."
Melinda mengangguk. "Hati-hati."
"Kamu juga, jangan coba-coba menduakan Daddy mu ini."
Melinda terkekeh. "Aku tahu pekerjaan ku Dad, udah sana, pasti dia udah menunggumu. Jarang-jarang kan dia dirumah."
Keduanya tergelak.
Rian bangkit lalu berjalan menuju kamar mandi sebelum akhirnya ia akan pergi.
Sedang Melinda termenung memikirkan masa depan nya. Bagaimana bisa ia menjadi sugar baby begini?
Ini bukanlah kemauan nya, tapi memikirkan dua tahun kedepan membuat semakin takut.
Aku takut jika pelanggan ku selanjutnya tak sebaik Daddy Rian. Tapi nggak mungkin aku meminta Daddy menahan ku, dia udah berkeluarga.
"Baby.. Istirahat lah. Kenapa masih termenung?"
Melinda menggeleng.
"Apa kamu merindukan nya?" tanya Rian dan mendapat anggukan kepala dari Melinda.
"Dia pergi selama dua tahun kan?"
"Iya dad."
"Maafin Daddy ya."
"Bukan salah Daddy, aku beruntung Daddy yang menyewa ku. Kalau enggak, aku nggak tahu gimana nasib masa depan ku."
Rian menghela nafas lalu mengecup kening Melinda. "Makasih selama ini selalu patuh padaku, andai kita bertemu lebih dulu dari dia."
"Udahlah Dad. Cepat sana pulang."
"Heh.. Kamu mengusirku?" sentak Rian namun dengan mimik lembut membuat Melinda tergelak.
"Daddy nggak pantes jadi cowok galak."
Rian pun tertawa dan pamit untuk benar-benar pergi dari apartemen itu.
Alasan Rian mencari wanita malam pada saat itu karena ia sedang bertengkar dengan istrinya.
Ria juga memberitahu Melinda penyebab pertengkaran mereka karena istrinya sangat jarang memiliki waktu untuk Rian.
Istrinya lebih mementingkan profesinya sebagai model.
*Semoga kalian tetap langgeng.
🌸*
__ADS_1
Bersambung..