
"Loh kalian barengan?" tanya Nadira baru saja sampai di Restoran Pizza Hut dimana Nazeef dan Melinda berada.
"Iya.." jawab mereka bersamaan.
"Nina mana?" tanya Nadira lagi.
Nazeef melihat jam di tangan kiri nya. "Biasa nya jam segini udah ada di kafe."
"Udah ngobrolnya?" tanya Qenan menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang akan keluar dari istrinya.
"Iya udah." gumam Nadira.
Pesanan Nadira dan Qenan sudah berada di atas meja. Saat Nadira hendak mengambil satu potong pizza tangan nya di cekal Qenan lalu telapak tangan nya di lap dengan tissue basah yang selalu dibawa kemana-mana dalam tas selempang Qenan.
Hati Nadira menghangat mendapat perhatian kecil dari sang suami. Sebenarnya ia sadar tadi sangat berlebihan hingga menangis melihat Qenan hanya tersenyum saat ditanya senang di kecup Rania. Tapi entah mengapa ia merasa sedih mengingat itu.
Padahal tadi setelah Rania kecup pipinya, dengan spontan Qenan mendorong Rania hingga jatuh ke lantai. Bahkan Qenan sempat memakinya hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian disana.
Emang dasar Nadira sedang cemburu di luar batas dirinya.
Entahlah.
Qenan sendiri mengelap telapak tangan Nadira tanpa melihat itu karena ia masih fokus membahas masalah permintaan konsumen.
"Gue gak setuju kalau sediain menu baru lain dari bahan utama." ucap Qenan yang sekarang tengah sibuk mengambil potongan pizza untuk Nadira.
"Tapi ada bener nya juga brother kata mereka, biar ada yang baru."
Qenan tetep kekeuh pada keputusan. "Gue tetep gak setuju Zeef, coba lo pikir kalau misal ada menu baru dari bahan utama yang berbeda.. Pasti menu yang lain bakalan terlupakan dan pekerjaan kita bertambah untuk cari supplier yang sediain bahan berkualitas. Itu merepotkan."
"Iya ya.. Kenapa gue gak mikir sampek kesana? gue gak mau terjun langsung ke tempat pelosok-pelosok lagi hanya untuk cari supplier. Cukup dulu aja."
Ya, Qenan dan Nazeef saat baru memulai usaha kafe Hebat, mereka harus terjun langsung ke perkampungan untuk mendapatkan supplier pisang dan ayam karena hanya di perkampungan yang banyak menyediakan bahan utama tersebut.
"Itu lo tahu.."
"Tapi gue seneng banyak cewek disana."
Yang ada di meja itu pun berdecak sebal pada Nazeef.
Qenan dan Nazeef melanjutkan berbincangan masalah menu kafe sedangkan Nadira mendengarkan curahan hati Melinda atas apa yang terjadi sebelumnya antaran dia dan Dion.
"Ya Ampun.. Memang si Rania itu ya.. Tadi abis cari gara-gara sama kami sekarang malah ganggu kamu dan Dion."
"Mungkin memang gini akhirnya kak.."
Nadira menggeleng. "Enggak.. Kamu jangan nyerah gitu aja.. Toh ini baru satu bulan kan? usaha sedikit lagi ya.."
"Ya, tapi aku mau tukar strategi kak.."
"Strategi apa?"
__ADS_1
Melinda tersenyum jenaka. "Nanti kita lihat aja, sebenernya ada dua strategi sih.. Tapi aku coba yang satu dulu kalau gak berhasil juga baru deh strategi akhir tapi kalau gak berhasil juga aku bakal nyerah."
"Iya kalau itu kakak dukung kamu.. Menangkan lah hati Dion ya.. Dia sebenernya anak nya baik dan perhatian kok."
Melinda mengangguk dan kembali semangat. "Makasih kak.."
Mereka terus bercerita tentang drama-drama yang sudah pernah di tonton, dari drama Korea, China, hingga Thailand mereka ceritakan.
"Lihat ini kak Oppa Cha Eun-woo mirip kan sama oppa Dion?" tanya Melinda menunjukkan foto artis Korea kepada Nadira namun suaranya menjadi pelan kala melihat Nadira meletakkan jari telunjuk di bibir sebagai isyarat untuk diam.
Nadira juga memperlihatkan ponselnya kepada Melinda menunjukkan foto Dion. Mereka cekikikan karena sedang bandingkan antara artis Korea tersebut dengan Dion.
"Kak, kirim ke wa ya foto oppa Dion.." seru Melinda berbisik pada Nadira.
"Iya, imut kan Dion.. Apa lagi bibir nya itu." celetuk Nadira.
"Iya kak, pengen praktekin adegan 18 plus yang ada di drama yang kita tonton deh."
Tanpa mereka sadari ada dua pasang mata yang memperhatikan. Qenan yang tidak tahan mendengar obrolan mereka pun akhirnya menjitak pelan kepala istrinya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Qenan dingin.
Sontak pertanyaan itu membuat nadira kelimpungan mencari alasan. Namun ia tersenyum saat mendapat sesuatu.
"Ini Nan.. Aku lihat ini." Nadira menyerahkan ponselnya pada Qenan.
Qenan yang melihat itu mengerutkan dahi. "Kapan kamu foto aku Ra?"
"Abis itu yang kita pindah dari balkon." sahut Nadira ambigu.
"Ya Ampun Ra.. Pizza aku sisa dua potong?" tanya Qenan terkejut karena ia belum ada memakan pizza nya.
Nadira cengengesan pertanda ia lah pelakunya. "Maaf ya.. Aku lapar Nan.."
"Bukan nya kita tadi udah makan ya?"
"Iya tapi masih lapar."
Qenan tak menjawab karena tengah menghabiskan dua potong pizza yang tersisa. Melinda dan Nazeef sudah pamit lebih dahulu meninggalkan sepasang suami istri yang dirahasiakan ini.
"Ra, besok papa sama mama pulang dari luar negeri. Minta aku nginap disana." Qenan berbicara lirih.
"Gak apa-apa, Aku bisa nginap di rumah papa." Nadira merasa ini waktu nya untuk berbicara pada Dion masalah Melinda dan Rania.
"Kamu kayak seneng bener jauh dari aku." gerutu Qenan membuat Nadira tertawa.
"Enggak lah, aku ngerasa ada saat dimana kita juga harus habis kan waktu bersama keluarga. Nanti kalau pernikahan kita udah diketahui papa mama juga pasti bakal gantian nginep nya."
Qenan mengangguk setuju. "Ya, tapi harus ingat.. Aku gak mau menetap di rumah salah satu orang tua kita."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Gak bebas sayang.. Aku mau bercinta di setiap sudut tempat tinggal kita nanti." Qenan mengerling mata pada Nadira.
"Dasar Qenan omes.." gerutu Nadira lagi.
Qenan terkekeh tanpa suara lalu merangkul leher Nadira dan mengangkat dagun agar mendongak menatapnya.
*Cup
Cup*
Kecupan itu terhenti saat Qenan mendengar ada ibu-ibu membicarakan mereka.
"Ck.. Mereka gak tahu aja kalau yang aku cium ini istriku.."
Nadira sendiri merasa malu karena cibiran itu terdengar di telinga nya.
"Namanya juga bule ya pasti sembarang tempat kalau mau ciuman."
"Resiko punya suami bule.. Udah ayo Nan kita pergi aja. Kamu sih.."
"Aku susah kendalikan diri kalau dekat kamu Ra.. Pengen nya cium kamu terus."
Nadira tak menjawab hanya menggeleng kan kepala sembari mengikuti langkah Qenan yang menggenggam erat tangan nya.
Mereka masuk ke dalam mobil namun mobil itu tak kunjung laju karena pemiliknya tengah menikmati bibir ranum Nadira.
Astaga Qenan.
Nadira pun menikmati tiap luma tan yang diberikan Qenan dan ia pun tak segan-segan untuk membalas hal yang sama.
"Udah ayo kita pulang." ajak Nadira dengan nafas terengah-engah dengan masih berkabut gai rah.
Qenan tersenyum mengusap bibir Nadira dengan ibu jarinya. "Iya.. Nanti lanjut di rumah kan?"
Nadira yang merasa malu segera memalingkan wajah ke luar jendela.
🌸
Bersambung...
Foto Cha Eun-woo yang ada di hp Melinda.
Foto Dion yang ada di hp Nadira.
Foto Qenan yang di tunjukkan Nadira.
__ADS_1
Penampakan Nazeef gaes..