Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Qenan


__ADS_3

Sepertinya sinar matahari siang ini begitu mencuat karena terlihat jelas dari seorang cewek yang tengah berdiri tak jauh dari gerbang SMA KUSUMA BANGSA sedari tadi bolak-balik mengusap keringat di dahinya.


"Lama bener sih mereka pulang." gerutu cewek itu.


Bel sekolah elit itu akhirnya terdengar dan tak berapa lama banyak kendaraan roda empat dan roda dua berhamburan keluar sekolah.


"Sekolah elit mah gitu, yang keluar mobil dan motor gede. Lah di sekolah gue naik motor matic aja udah wow banget."


Ia pun melangkahkan kaki nya masuk ke sekolah tersebut dengan meminta izin lebih dahulu kepada security. Berbekal nama orang-orang yang ia kenal dan berpengaruh pada sekolah elit tersebut akhirnya Nadira mendapat izin.


Banyak pasang mata menatap nya heran ada juga yang mengenali dirinya pura-pura acuh dan ia tak perduli akan hal itu.


Langkahnya terhenti ketika melihat orang-orang yang dicarinya bahkan salah satu orang itu terus menatap tanpa senyuman tapi bukan orang itu yang ia cari, adik nya lah yang membuat ia datang ke sekolah elit ini.


Ia adalah Nadira.


"Dion.." panggil Nadira membuat sang empunya menoleh ke arah Nadira.


Ketika Nadira sudah dekat dengan Qenan, Nazeef, dan Dion, ia mendekati mereka lalu berhambur dalam pelukan sang adik.


Dion.


"Nadira.. Lo kenapa?" tanya Dion menatap Qenan yang sudah menatap tajam ke arah nya.


"Gue seneng hari ini." ucap Nadira masih belum menyadari sang suami sudah kebakaran jenggot.


"Seneng kenapa?"


"Nama kamu masuk di 25 seniman kontemporer Indonesia di Galeri Prima, Bangsa, Kualu Lumpur, Malaysia." Sahut Nadira girang mengurai pelukan.


Mata Dion membulat sempurna. "Jadi lo beneran daftarin?"


Nadira mengangguk.


Dion menarik Nadira kembali dalam pelukan. "Oh Tuhan.. Makasih kak.. Makasih."


Untuk pertama kalinya Dion memanggil Nadira dengan sebutan kakak di depan Nadira dan itu membuat Nadira senang.


Minggu lalu saat Nadira dan Dion bertukar kabar, Nadira mengatakan iseng-iseng daftarin salah satu lukisan tema mesjid yang ada di ruang lukis Dion itu ke perlombaan lukis dan apabila masuk 25 besar maka akan di pamerkan di pameran yang ada di Malaysia.


"Ehem."


Kedua kakak beradik itu baru sadar jika masih ada orang lain selain mereka.


"Qenan.." cicit Nadira setelah pelukan mereka terurai.


"Kesini hanya untuk peluk Dion?"


Nadira menelan saliva melupakan satu orang ini.

__ADS_1


"Dion, gue gak mau tahu lo harus buang itu jaket yang udah kena peluk istri gue." titah Qenan tak terbantah lalu menarik tangan Nadira menjauhi Dion dan Nazeef yang masih mematung.


"Gila punya kakak ipar cemburuan parah." gerutu Dion tapi dibukanya juga jaket yang ia kenakan.


Nazeef terkekeh. "Macam gak kenal Qenan aja. oh iya selamat kawan.. Lukisan lo memang pantes ada di sana."


Dion mengangguk senang.


Sedang di dalam mobil Qenan masih saja merajuk pada Nadira membuat Nadira bingung harus bagaimana membujuk suaminya.


"Maaf Nan.."


Qenan bergeming. Sekali lagi ia tak suka miliknya di sentuh orang lain.


Nadira yang putus asa akhirnya melakukan hal yang sama seperti Dion lakukan walau merasa sangat malu.


"Ra.." pekik Qenan terkejut lalu membuka jaket yang ia kenakan untuk memakai kan ke Nadira.


"Jangan nangis.. Aku diem karena gak mau kamu jadi sasaran amarah ku Ra.."


Nadira mengangguk.


"Kamu udah makan?" tanya Qenan lagi.


"Udah." sahut Nadira semangat.


Qenan tersenyum tipis. "Makan apa aja?"


Bibir Qenan melengkung mendengar makanan yang di makan sang istri lalu tangan nya terulur mengusap lembut perut rata itu.


"Jangan makan terlalu pedas ya.. Gak bagus."


Nadira mengangguk lalu mencondongkan tubuh untuk mengecup pipi Qenan. "Ayo kita pulang."


Qenan mengangguk lalu menghidupkan mobilnya.


...****...


Sesampainya di rumah Dion menghubungi papa Surya tentang lukisan nya. Ia mengabari hal itu karena ingin membuktikan bahwa ia juga bisa mencapai apa yang ia inginkan dan mendapat sedikit perhatian dari papa Surya.


Ada rasa bahagia ketika papa Surya mengatakan "Bagus, selamat nak. Tiket biar om Wido yang pesankan, bawa Nadira juga bersama mu."


Kini Dion bingung harus mencari cara agar Qenan mengizinkan Nadira pergi bersama nya.


Ia pun menghubungi Nazeef bertanya bagaimana cara untuk Qenan mengizinkan dan seperti nya keberuntungan berpihak padanya. Ternyata Qenan akan pergi ke Lombok untuk pembukaan kafe Hebat disana.


Dengan rasa gembira ia mengabari Nadira melalui pesan. Sekian lama ia menunggu balasannya namun tak kunjung ada balasan tapi tak mempermasalahkan yang penting sudah ia kabari.


...****...

__ADS_1


Di kediaman keluarga Reno Abraham. Keluarga kecil itu akan makan siang yang terlambat. Lebih tepatnya para pria yang akan makan.


Mama Sinta dan Nadira terlihat lihai melayani suami masing-masing menyediakan makanan.


"Qen.." Nadira memanggil Qenan dengan lembut setelah menyediakan makan untuk Qenan dan duduk disebelah nya.


"Hem.."


"Boleh aku ke Malaysia ikut Dion?"


Terdengar dentingan keras dari sendok yang di gunakan Qenan. "Kapan?" Wajah Qenan berubah menjadi datar dan suara nya terdengar dingin.


"Dua hari lagi."


"Kamu hamil Ra.."


"Kan aku disana sama papa Surya juga." ucap Nadira lirih. Seperti dugaan nya pasti Qenan tak akan mengizinkan.


Qenan diam tak menjawab tapi melanjutkan makan nya kembali. Papa Reno dan mama Sinta yang melihat sikap Qenan hanya bisa menghela nafas.


"Ada orang suruhan papa yang jaga Nadira boy." papa Reno mencoba membujuk Qenan namun tetap saja tak ada jawaban.


Selesai makan Qenan langsung meninggalkan ruang makan menuju kamar meninggalkan mereka yang masih ada disana.


"Sayang.. Kamu yang sabar ya hadapi Qenan.." tutur mama Sinta dan Nadira tersenyum tulus.


"Iya ma.. Udah biasa Qenan gini kok."


"Ya, dia itu mirip sama papa mertua kamu. Sangat posesif, mama aja kewalahan kalau lagi kerja pasti di ikutin papa." cibiran mama Sinta sengaja menyindir papa Reno.


Nadira yang merasa segan akhirnya meminta izin menyusul Qenan ke dalam kamar.


Ia buka pintu kamar lalu masuk ke dalam tak terlihat Qenan di sana tetapi melihat pintu balkon terbuka sehingga ia langkahkan kesana.


"Qenan.."


Qenan yang tengah merokok menyadari Nadira berada di balkon langsung menyudahi merokok.


"Masuk lah, asap rokok gak bagus untuk mu Ra.." Qenan menuntun Nadira masuk ke dalam kamar, ia tutup pintu balkon lalu masuk ke kamar mandi.


Keluar dari kamar mandi Qenan terlihat lebih segar melangkah ke lemari pakaian dengan santai memakai pakaian di depan Nadira yang tengah menatapnya.


"Kapan kamu berangkat?"


🌸


Bersambung..


__ADS_1



__ADS_2