
"Apa-apaan kalian?" sentak Qenan melihat kekacauan di ruang tamu rumah nya.
Mengingat nampan yang ia bawa itu adalah kebutuhan sang istri, ia memilih untuk ke kamar lebih dahulu menyerahkan susu dan roti untuk Nadira tanpa memberitahu kekacauan yang telah terjadi di rumahnya.
"Di habiskan ya, setelah itu kamu istirahat. Aku ada kerjaan sebentar."
Nadira mengangguk lalu memakan dua lembar roti dan menghabiskan susu hamilnya.
Qenan menerima gelas kosong diletakkan di atas nampan lalu menyelimuti Nadira dan baby Aditya.
Satu kecupan di kening Nadira dan juga baby Aditya. Mau bagaimana pun perasaan Wido terhadap istrinya tak memungkiri jika ia juga sayang pada baby Aditya si bayi menggemaskan itu.
Setelah Nadira sudah terlelap barulah ia turun dengan sesuatu di tangan nya. Enak saja mereka membuat kekacauan di rumah yang selama beberapa bulan ini di tempati tanpa adanya asap rokok dan alkohol.
Ya, Qenan sangat berusaha betul untuk menghentikan kebiasaan buruk nya itu ketika Nadira di nyatakan hamil.
Dengan pistol sudah ia todongkan kearah mereka satu persatu, Qenan menyuruh mereka semua berdiri.
"Suruh siapa merokok dan minum-minum di rumah gue, hah?"
"Bos, kami kan capek kerja terus. Lembur hampir tiap malam. Kami butuh hiburan tanpa para wanita yang merepotkan." sahut Nazeef dan di angguki para pria yang tak lain adalah 2 orang kepercayaan Nazeef yang membantu sahabatnya itu mengurus ketiga bisnisnya.
"Bos, turunkan pistol itu. Kami masih sadar kok, nanti kami bereskan."
Qenan menghela nafas dengan berat lalu menurunkan todongan pistol tersebut.
"Cepat bersihkan kulit kacang yang berserak ini sebelum istriku sadari keberadaan kalian."
"Tenang aja, tuan. Pasti kami bersihkan. Lebih baik tuan istirahat."
Mata Qenan melotot lalu mendengus kesal mengapa memiliki anak buah seperti ini. "Zeef, kenapa lo disini? kenapa gak balik jaga istri yang tengah hamil?"
"Di lagi ke rumab bokap nya. Gue sendirian makanya ajak mereka kemari."
"Kayak lo yang punya rumah."gumam Qenan kemudian.
"Segera bersihkan sebelum istri gue tahu. Gunakan pewangi ruangan setelah itu. Dan tidurlah di kamar tamu."
"Siap, bos." sahut mereka dengan serempak.
__ADS_1
Qenan berbalik kembali ke kamar. Ketika masuk ke dalam kamar, pertama kali mata melihat adalah pemandangan dimana sang istri tengah memangku baby Aditya.
Sebelum menghampiri mereka, di simpan pistol tersebut ke dalam brankas lalu ke kamar mandi membersihkan diri lebih dahulu barulah memghampiri istri dan baby Aditya.
"Qenan, pakai baju sana." usir sang istri ketika ia hendak mengambil alih menggendong baby Aditya.
Qenan terkekeh baru menyadari jika belum mengenakan pakaian hanya handuk terlilit di pinggang.
"Sebentar, sayang." Di kecup bibir Nadira sekilas kemudian bangkit menuju ruang ganti.
Nadira hanya bisa menggeleng kepala melihat tingkah Qenan. Senyuman nya mengembang kala melihat sang suami sudah berpakaian. Seperti biasa, suaminya itu jika akan tidur maka hanya mengenakan celana pendek berbahan kain dengan kaos dalam saja atau bahkan hanya celana pendek saja.
Aku kan jadi tergoda!
Nadira memalingkan wajah menjadi memandang baby Aditya sedari tadi bangun namun tak ingin berceloteh.
"Qenan, tadi pas kamu keluar bang Wido telepon kamu kata beliau nitip Aditya karena mau ke luar kota."
Qenan mengangguk lalu mengambil alih baby Aditya. "Tapi ingat, jangan ada yang di rumah kita kalau aku udah di rumah."
Nadira nampak cemberut. "Kenapa selalu begitu?"
"Aku enggak suka privasi ku di ganggu. Dan kamu harus tahu ini, aku enggak mau kamu lebih banyak bicara dengan mereka dari pada aku."
Nadira melongo mendengar alasan kedua yang di berikan Qenan. Tak menyangka bahwa suaminya akan secemburu itu.
"Mi amor. Dormir, es tarde. (Sayangku, tidurlah. Ini sudah larut.)"
Nadira bergeming menatap Qenan sedang menimang baby Aditya.
"Aku akan menjaganya." Sepertinya sang suami tahu kegundahan hatinya.
Akhirnya Nadira memilih tidur lebih dahulu. Sedang Qenan masih berusaha untuk membuat baby Aditya tertidur.
Satu jam kemudian bayi itu terlelap dalam gendongan. Di baringkan disisi antara Nadira dan dirinya. Qenan bergeming menikmati wajah polos istrinya.
Ada rasa khawatir kepada sang istri karena seseorang mencoba mengacaukan bisnis nya dan orang itu adalah dari masalalu.
Akan ku bunuh mereka yang akan mengusik mu, Ra.
__ADS_1
Cukup lama diam menikmati akhirnya Qenan ikut memejamkan mata tetapi sebelum itu ciuman harus mendarat di seluruh wajah sang istri.
...****...
Pagi harinya, Qenan terbangun tanpa melihat wajah sang istri. Duduk setelah kesadaran nya pulih. Mengedar pandangan mencari sosok wanita selama ini menemaninya.
"Tumben Rara gak tungguin aku sampek bangun." keluh Qenan kemudian.
Qenan beranjak ke kamar mandi membersihkan diri lebih dahulu. Selesai mandi, di lihat pakaian kerja nya tidak ada di tempat biasa.
Mencebik bibir kemudian tersenyum devil ketika ide datang begitu saja. Bukan memakai pakaian kerja, melainkan memakai yang tak di sukai istrinya jika ia berada di luar kamar ketika para pelayan berada di rumah.
Sengaja berjalan santai memilih menuruni tangga bukan lift seperti biasa. Bersiul-siul agar menjadi bahan perhatian walau ia sendiri risih akan hal itu tetapi demi mendapat perhatian sang istri reka melakukan ini.
Lihatlah istriku itu, anak orang aja sampek lupa dengan ku apalagi anak ku nanti? enak aja, enggak ada yang boleh rebut Rara dari ku.
Matanya melotot ketika melihat dapur di penuhi manusia. Ternyata orang-orang pembuat rusuh tadi malam belum pergi dari rumah nya.
Menyadari kehadiran Qenan di ruang makan yang terhubung dengan dapur langsung menghentikan kegiatan dan menyapanya.
"Pagi, tuan."
Qenan mengangguk namun hawa panas menghampirinya karena tatapan Nadira sangat tajam membuat nyalinya ciut.
"Tolong lanjutin suapi Aditya ya, sus." ucap Nadira menyerahkan mangkuk makanan kepada pengasuh itu.
Nadira berjalan perlahan mendekati Qenan membuatnya menelan saliva dengan kasar. Bukan karena takut tetapi pikiran nya sedang traveling melihat bo kong istrinya berlenggak lenggok seperti sedang mengapit rudal di dalam sana.
Matanya melirik kedua aset berharga istrinya terbungkus rapi namun mampu membuat hasratnya mendadak menginginkan sang istri.
Di usap dahi nya yang basah karena keringat ulah pikiran traveling nya.
"Kenapa Daddy gak pakek baju kerja malah pamer badan gini? sengaja cari perhatian orang dengan bertelanjang dada?" cecar Nadira tak rela tubuh suaminya di kagumi wanita lain. Nadira langsung mengajak Qenan meninggalkan dapur menuju kamar mereka.
Qenan sendiri diam menikmati omelan sang istri. Sesampainya di dalam kamar, dengan cepat Qenan mengunci pintu kamar.
Di peluk tubuh wanita yang mengandung anaknya itu agar berhenti mengomel. "Udah ya marahnya. Aku kangen."
❤️
__ADS_1
Bersambung..