
"Hallo.. Lo dimana Qen?" tanya Nazeef terbata. Saat ini ia tengah menelepon sahabatnya.
"Apartemen, tidur."
"Astaga lo lupa dimana istri lo?" Nazeef tampak gusar mengatakan itu.
"Qen, Milly dan Mario dalam bahaya. Sekarang lo datang ke rumah papa Reno."
"Apa? oke gue kesana sekarang."
Satu jam kemudian Qenan baru sampai di kediaman orang tuanya. Saking terburu-buru dan khawatir kepada Nadira, Milly dan Mario harus mengendarai sepeda motor sport nya.
Helm pun ia lepas lalu ia letak di atas motornya. Dua mobil sahabatnya juga terparkir disana. Dengan langkah lebar ia masuk ke dalam rumah.
"Sayang.." Ia terperangah dengan apa yang terjadi di ruang tamu rumah orang tuanya itu.
Posisi Nadira tengah duduk di sebelah Nina dan Melinda juga beberapa pelayan disana. Nazeef dan Dion duduk di lain sisi bersama beberapa pelayan juga. Sedang papa Reno terduduk lesu dengan mama Sinta yang berdiri bak seorang Ratu tengah menghukum rakyat nya.
Qenan segera menghampiri Nadira namun langkahnya terhenti akibat perkataan Mama Sinta.
"Jangan coba-coba untuk dekatin menantu mama atau Milly dan Mario taruhan nya."
"Ma.." protes Qenan dan Nazeef.
"Jangan di apa-apain Milly ma.. Dia baru aja lahiran."
"Mario baru kehilangan pacar nya ma.."
Mama Sinta mencebik bibir sedang yang lain terperangah melihat Qenan dan Nazeef begitu khawatir dengan dua ekor hewan yang bernama Milly dan Mario.
Ya, Milly adalah seekor Rubah Fennec betina. Rubah Fennec adalah mamalia jenis rubah paling kecil di dunia. Hewan ini tergolong family Canidae sebagai hewan terkecil di keluarga tersebut dan nokturnal. Rubah ini terkenal akan rasio tubuh yang unik dengan ciri telinga panjang disertai dengan tubuh yang mungil.
Dan Milly adalah peliharaan Nazeef.
Sedangkan Mario adalah seekor Kucing Serval jantan. Kucing Serval itu milik Qenan.
Serval (Leptailurus serval), juga dikenal sebagai Tierboskat, adalah kucing liar yang ada di Afrika. Studi DNA telah menunjukkan bahwa serval berkaitan erat dengan Kucing emas Afrika dan karakal.
"Kenapa kamu hamili Nadira boy?"
Qenan baru tahu jika hal ini karena mama Sinta sudah mengetahui hubungan nya dengan Nadira.
"Ma, Qenan suaminya wajar Rara hamil."
"Kamu sadar apa yang kamu bilang barusan?"
"Sadar."
__ADS_1
Mama Sinta duduk di sebelah papa Reno dengan memijit pangkal hidungnya.
Sedang Qenan akan menghampiri Nadira namun lagi-lagi larang yang ia dapat malah harus duduk bersama Nazeef dan Dion.
"Kenapa bisa Nadira di sandera?" bisik Qenan pada Nazeef.
"Tanya adik ipar lo." sekarang Nazeef fokus pada Milly yang sedang menatapnya juga.
"Tadi nyokap lo telepon ajak Nadira masak bareng. Lo tahu kan Nadira suka masak?"
Qenan menghela nafas panjang menatap Nadira tengah menatapnya juga. Hatinya seakan teriris bersamaan jatuhnya air mata Nadira.
Di sisi lain dimana Nadira duduk bersama Nina dan Melinda. Ketika melihat Qenan baru saja tiba ingin sekali ia mendekap tubuh sang suami. Apalagi melihat wajah Qenan yang sedikit membengkak karena ada bekas bogeman disana.
Rasanya tak bisa lagi membendung air mata ketika Qenan dilarang untuk mendekati nya. Ia tak perduli lagi dengan mereka, hanya Qenan yang ia ingin kan sekarang.
Qenan terus mendekati Nadira walau para pelayan menghadang nya.
"Ma.. Bagaimana bisa mama lakukan ini sama Qenan? apa selama ini Qenan terus membantah? enggak pernah ma.. Tolong, jangan kayak gini."
Qenan berbalik ke arah Nadira kembali, menatap tajam kepada siapa saja yang menghalangi langkah nya.
"Sayang.." Qenan sedikit membungkuk mendekap Nadira dengan erat.
"Jangan nangis lagi, nanti hidung pesek kamu merah kayak hidung badut." Qenan mencoba menghibur Nadira dan berhasil, ia mendapat pukulan di dada nya.
"Ini kenapa?" tanya Nadira menyentuh sudut bibir nya yang memar dan membuat Qenan meringis.
Ia menggenggam tangan Nadira yang berada di sudut bibir nya lalu mengecup dengan sayang. "Kamu harus istirahat Ra, ayo aku antar ke kamar ku dulu."
Nadira mengangguk mengikuti jalan Qenan menuju lift dan membawanya ke lantai tiga.
Sesampainya di kamar Qenan mengarahkan Nadira ke tepi tempat tidur.
"Jangan nangis lagi." Qenan terus mencoba menenangkan Nadira.
"Maaf kalau aku hamil nya sekarang, andai aku gak hamil pasti gak akan gini."
"Jangan dipikirkan, kasihan anak kita." Qenan mengelus perut rata Nadira.
Nadira yang merasa elusan Qenan bukan merasa baik-baik saja justru membangkitkan gai rah nya. Memang selama hamil Nadira merasa lebih sensitif atas sentuhan Qenan seperti saat ini.
Nadira menggigit bibir bawah untuk menahan sesuatu yang ingin keluar dari mulut nya.
"Kamu pengen ya.." tutur Qenan menyadari gelagat Nadira.
Nadira memalingkan wajah.
__ADS_1
"Aku bantu pelepasan ya.. Nanti kalau aku udah siap bicara sama mama baru kita ngamar." Qenan mengerling mata menggoda Nadira.
Suaminya itupun benar-benar membantu nya mencapai pelepasan. Dengan satu tangan bekerja di inti sedang satu tangan lagi mere mas salah satu aset berharga nya.
"Ssstthh Qenaan.."
Qenan terus maju mundur jari tengah nya di dalam sana, sangat sulit menahan diri karena si rudal sudah berontak di dalam sana. Jika saja di lantai dasar semua orang tengah menunggu nya pasti saat ini sudah menghabiskan waktu bersama sang istri.
"Aaaahhhh.." Desa han panjang keluar pertanda Nadira sudah mencapai pelepasan dan ia pun mengeluarkan jari tengah dari sana.
Di rebahkan tubuh Nadira lalu di ***** sekilas bibir ranum itu. "Istirahat ya."
Qenan berlalu ke kamar mandi membersihkan jari lalu keluar menuju lantai dasar.
"Kenapa lama?" tanya mama Sinta ketus.
"Papa pasti tahu jawaban nya gimana tenangin istri gimana."
"Kenapa papa sih boy.." gerutu papa Reno.
"Gini ma, terserah mama mau setuju atau nggak yang pasti Qenan tetap pertahankan Nadira dan setelah lulus sekolah Qenan akan daftarkan pernikahan kami."
"Mama belum kasih jawaban apa-apa loh."
"Terserah. Bi.. Itu Milly sama Mario bawa ke belakang lagi." titah Qenan berbicara kepala pelayan.
"Dan kalian dua pasangan yang gak pernah ngaku perasaan masing-masing bisa pulang sekarang."
Nina dan Melinda dari awal sudah takut pada Qenan langsung ngacir keluar rumah.
"Qenan, jadi ayah itu sulit loh.."
"Memang, harus bisa bagi waktu antara keluarga dan pekerjaan bukan? selama Qenan nikahi Nadira juga Qenan belajar bagi waktu ma. Qenan gak pernah lagi pulang malam."
"Kamu juga harus kuat mental."
Qenan mengangguk setuju. "Iya Qenan tahu itu ma. Tapi percayalah, Qenan terus berusaha untuk jadi suami dan ayah yang baik untuk Nadira dan calon anak Qenan."
"Ma.. Kehamilan Nadira membuat dia cengeng dan manja apalagi kalau menyangkut yang ada sama Qenan, tolong kalau mau marahin Qenan jangan di depan Nadira."
Mama Sinta menghela nafas panjang. "Ya udah sana temenin menantu mama. Malam ini nginap disini aja. Masalah papa nadira kita pikirkan bersama."
"Makasih ma." Qenan berlalu menuju kamarnya dimana sang istri berada. Setelah masuk pertama kali dilihat nya Nadira sudah terlelap.
🌸
Bersambung..
__ADS_1