
"He.. Ngapain disini?" suara itu terdengar membentak di telinga Nadira karena ia terkejut.
Nadira yang masih memilih pisang beku di lemari es pun harus mengurung niat nya sejenak lalu berbalik melihat seorang wanita yang sedari dahulu tak menyukai nya.
"Cuma cari pisang doang." jawab Nadira singkat lalu berbalik badan lagi.
Ia tahu seseorang yang bernama Mira itu adalah orang yang selalu bersikap sombong di kafe ini, selain dia senior, dia juga orang yang dekat dengan Pak Diki sang manager.
"Suruh siapa kamu bertindak sesuka hati di kafe ini?" tanya nya lagi dengan nada menusuk.
Interaksi antara Nadira dan Mira pun tak luput dari perhatian para koki dan pelayan di dapur itu namun tak dapat melerai karena takut bila Mira mengaduh pada pak Diki.
Nadira menghela nafas panjang. Ia tak ingin menimbulkan keributan hingga terdengar sang suami yang posesif.
Dengan Dion saja Qenan tak terima apalagi dengan orang lain, pikir Nadira.
Ia juga teringat saat Dion meminjam ATM yang diberikan papa Surya itu karena uang jajan Dion raib akibat dari cemburu nya Qenan ke Dion.
"Aku cuma cari pisang beku kak." ucap Nadira masih sopan.
"Jangan mentang-mentang kamu ada main sama bos jadi seenaknya aja disini." cecar Mira lagi.
Nadira berulang kali menghela nafas menahan rasa tersinggung nya karena mendengar 'ada main' dari Mira.
Nadira tahu alasan mengapa Mira tidak suka padanya. Itu karena saat a masih bekerja di kafe Hebat, pak Diki memperlakukan nya sangat baik apabila Mira tidak satu shif dengan nya.
Ia memilih tak perduli lalu beranjak mendekati meja yang sudah ada cokelat cair disana. Tadi sebelum mengeluarkan pisang beku lebih dahulu membuat saos cokelat nya. Kini ia mencelupkan pisang-pisang beku itu ke dalam saos cokelat lalu di letak ke piring.
Senyuman itu mengembang melihat barisan pisang coklat telah tersaji di piring langsung melangkah ia bawa ke ruang kerja Qenan.
"Kak Evi, saos cokelat ini simpen di kulkas dulu ya. Nanti ingatin aku kalau pas mau pulang biar aku bawa." Nadira tersenyum hingga menampakkan deretan gigi putih nan rata itu.
"Iya Dir."
"Bayaran nya nanti minta sama bos ya."
"kakak mana berani Dira.." pengakuan itu sukses membuat Nadira cekikikan karena ia selalu memperhatikan wajah-wajah pekerja di kafe Hebat terlihat ketakutan apabila Qenan mengunjungi kafe nya.
Dert
Dert
Dert
Ponsel Nadira berdering sebelum ia pergi dari dapur itu. Nama 'Qenan🦁' tertera di layar ponselnya.
"Hallo."
"Aku udah baca cara membuat pisang coklat itu sangat mudah."
"Iya terus kenapa Nan?"
"Kenapa lama banget datang ke ruangan ku Ra?"
Nadira berdecak kesal. "Aku itu reuni sama pegawai lain." Nadira menatap Mira yang tatapan tak suka padanya.
"Cepatlah kesini."
"Iya, udah dulu ya.."
Ia pun memutuskan panggilan tersebut. Nadira beranjak meninggalkan dapur namun alangkah terkejutnya atas perlakuan Mira terhadapnya di dapur itu.
Prank
Piring kaca berisikan pisang cokelat berserakan di lantai bersamaan dengan piring tersebut sudah tak berbentuk.
__ADS_1
Pegawai kafe yang ada di dapur terkejut melihat itu namun lagi-lagi tak bisa berkutik. Mereka bisa saja melaporkan kejadian itu tapi lagi-lagi mereka takut setelah pemilik kafe pergi, gantian mereka lah yang akan di marah habis-habisan.
Pernah kejadian seperti itu ketika Nazeef yang mengunjungi.
"Dira.. Lo baik-baik aja?" tanya Nina baru saja tiba karena sedari tadi ia sibuk melayani pelanggan di depan.
Nadira yang tengah berjongkok menatap nanar pisang-pisang cokelat tersebut mengangguk lemah.
"Gue gak apa-apa." sahutnya namun air mata itu mengalir dari matanya.
Kehamilan nya sungguh membuat dirinya menjadi seseorang yang sangat perasa. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya dahulu.
"Gue buatin lagi ya.." bujuk Nina yang tahu Nadira tengah hamil.
Nadira menggeleng. "Gu-gue butuh Qenan."
"Gue panggilin sebentar." Nina segera berlalu.
Mira tersenyum miring melihat reaksi Nadira yang berlebihan menurut nya.
"Ck.. Mau cari muka? gak usah sok sedih kamu. Di depan bos berakting jadi cewek menyedihkan tapi kalau di belakang jadi cewek murahan godain calon suami orang."
Sementara itu Nina mondar-mandir di depan ruang kerja Qenan. Dari ia mengetahui jika Qenan adalah bos dimana tempatnya bekerja sudah takut melihat wajah datar dan dingin itu walau tahu Qenan masih anak SMA.
Nina mengetuk pelan pintu itu.
"Masuk."
Nina menelan saliva mendengar satu kata terucap begitu dingin menurutnya.
Menakutkan!
"Bos."
"Hem."
Gimana Dira betah sama bos sih?
"Dira di dapur menangis."
Sontak perkataan Nina langsung membuat Qenan tersentak berdiri hingga decitan kursi terdengar begitu keras.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?" sentak Qenan langsung berlalu tanpa menunggu jawaban Nina.
Nina sendiri hanya bisa mengelus dada seraya keluar dari ruang kerja Qenan.
Sesampainya di dapur ternyata Nadira bergeming pada tempat nya tadi yaitu jongkok menatap pisang cokelat yang sudah meleleh di lantai.
Kedatangan Qenan membuat suasana dapur menegang apalagi wajah Qenan sudah memerah dengan rahang itu terlihat mengeras.
Sepertinya oksigen di dapur yang ber-AC itu sudah habis hanya karena kehadiran pemilik Kafe Hebat tersebut.
"Sayang.. Kenapa menangis hem?" tanya Qenan lembut yang ikut berjongkok di sebelah Nadira.
Nadira menoleh lalu berhambur dalam dekapan Qenan, punggung bergetar seraya air mata itu semakin bercucur deras.
"Qenan.. Maaf aku nangis hanya karena pisang cokelat." ucap Nadira di tengah isak nya.
"Aku buatin lagi ya.." Qenan mencoba memaklumi bagaimana perubahan Nadira karena hormon kehamilan atas ulah nya yang tak bisa menahan diri untuk tidak bercinta pada Nadira.
Qenan membawa Nadira berdiri di depan meja dekat lemari es setelah menghapus air mata Nadira.
"Kursi." titah Qenan entah kepada siapa dan dengan sigap salah satu pegawai nya memberikan apa yang di titahkan Qenan.
"Bos, saos cokelat nya masih ada di kulkas." ujar pegawai bernama Evi yang disebut Nadira tadi.
__ADS_1
Qenan tidak menanggapi namun ia membuka lemari es mengambil semangkuk saos cokelat dan beberapa pisang beku di freezer.
Dengan telaten Qenan mencelup pisang-pisang itu ke dalam mangkuk berisi saos cokelat.
Melihat belum ada piring di meja itu ia kembali memberi titah.
"Kenapa kalian lambat sekali? mana piring? dan anda yang berdiri di dekat pecahan piring itu cepat bersihkan. Apa harus saya yang bersihkan dan setelah itu kalian tak perlu bekerja besok."
Dengan cepat salah satu pegawai kafe mengambil piring dan diberikan kepada Qenan sedang Mira dengan perasaan dongkol membersihkan kaca dan pisang-pisang berserakan karena ulah diri sendiri.
"Segini cukup?" tanya Qenan pada Nadira dan mendapat anggukan.
"Ini siapa yang ngasih tangkai di pisang nya?" tanya Qenan lagi.
"Aku."
Qenan menatap Nadira dengan sebelah alis naik ke atas seakan tak percaya.
"Beneran Nan, Rasain ini tangan ku masih terasa dingin." rajuk Nadira karena Qenan tak percaya padanya.
"Oke-oke aku percaya. Nadira.. Kamu begitu manja gimana aku biarkan kamu pergi tanpa aku?" Sebenarnya Qenan masih tak rela mengizinkan Nadira pergi bersama Dion.
"Aku gak lama, cuma 4 hari. Ayo kita ke ruangan kamu aja Nan.."
Qenan membawa Nadira menuju ruang kerja nya dengan sepiring pisang cokelat di tangan Qenan.
"Kamu tunggu sebentar ya, aku ada urusan di luar." ucap Qenan berbohong.
"Iya, jangan lama-lama." Sebenarnya Nadira ingin bertanya lebih namun sepertinya pisang cokelat di atas meja lebih menggiurkan dari pada bertanya lebih lanjut.
Qenan keluar ruangan menuju dapur kembali. Lagi-lagi ia harus mengendalikan diri karena kafe masih tampak ramai dan ada Nadira disini.
Duduk di kursi dimana Nadira tadi duduk. "Panggil pak Diki kesini." Qenan kembali memberi perintah tanpa berbicara pada orang disana.
Tak berselang lama datanglah seseorang yang dimaksud Qenan. Pak Diki seorang pria muda berusia 25 tahun.
"Tanyakan sama pegawai di dapur ini siapa yang udah buat Rara menangis tadi."
"Rara?"
Qenan berdecak kesal. "Nadira."
Pak Diki menatap satu persatu seolah bertanya apa yang sudah terjadi di dapur saat ia tak ada karena saat kejadian tadi ia sedang rapat dengan calon custumer yang akan menyewa kafe bulan depan acara ulang tahun.
"Mira.." gumam pak Diki setelah tahu siapa yang membuat kekasih bos nya menangis.
"Pecat dia." tutur nya mendengar gumaman pak Diki.
"Ta-tapi bos."
"Aku tak suka di bantah dan aku tak suka cara mu perlakukan salah satu pegawai ku dengan istimewa sampai buat pegawai itu seolah ratu di kafe ku." Qenan terus menatap tajam pak Diki itu, bohong jika ia tak mengetahui apa yang terjadi di Kafe Hebat miliknya.
"Panggil dia." titah nya.
Kini Mira sudah berdiri di depan Qenan dan berdiri di sebelah Pak Diki. Ada rasa takut di tatap Qenan yang tengah menatap tajam padanya.
"Anda saya pecat."
"Tapi saya udah teken kontrak."
Qenan berdecak. "Saya gak akan jatuh miskin hanya untuk mengganti denda dari perjanjian kontrak kerja itu." Qenan hendak melangkah namun terhenti mengatakan sesuatu setelah itu pergi meninggalkan dapur kafe miliknya.
"Ini berlaku untuk semuanya. Siapa pun yang membuat Nadira menangis maka akan berurusan dengan saya."
🌸
__ADS_1
Bersambung..