
**Emak boleh ngambek gak?
Biar enak gak ngambek.. Di like juga dong yaa.. Boleh minta like nya lebih dari 600 like gak**?
"Aku ngerasa bersalah sama papa." ucap Nadira kepada Qenan setelah berada di panti asuhan.
"Jangan sedih, papa hanya butuh waktu. Sekarang kita makan dulu ya.." Qenan senantiasa menenangkan Nadira.
Nadira mengangguk lalu menuju meja makan. Hanya ada ibu Endang, Nina, dan Nazeef disana.
"Anak-anak gak ikut makan Bu?" tanya Nadira.
"Udah tadi, sekarang mereka pada tidur siang bareng ibu panti lain nya. Gimana papa mu?"
Nadira menunduk lesu. "Kayaknya papa marah sama Nadira Bu.."
"Papa mu hanya butuh waktu, udah sebaiknya kalian makan dulu baru istirahat."
Nadira bangkit mengambil piring Qenan untuk menyediakan makanannya. Tanpa bertanya seberapa porsi yang diinginkan Qenan karena ia sudah sangat ingat seberapa banyak porsi makan Qenan.
Semua yang dilakukan Nadira terlihat jelas oleh mata ibu Endang, ia semakin curiga ada sesuatu hal yang disembunyikan Nadira. Dan ia berencana untuk menanyakan hal itu nanti.
"Ra.. Kenapa ikan nya asin? terus kok keras gini?" tanya Qenan mencicipi sambal ikan asin yang Nadira siapkan untuk Qenan.
"Iya, Asin nya kebangetan. Terus kenapa kalian pakai tangan?" Bukan Nadira yang berbicara melainkan Nazeef.
"Lo mau tahu ini ikan apa?" tanya Nina pada Nazeef dan Nazeef mengangguk.
"Ini namanya ikan asin. Ha.. Ini lo yang lagi kita makan." terang Nina girang sembari mencuil daging ikan asin di letak ke tumpukan nasi yang sudah di siram kuah sayur daun singkong.
Qenan pun mencuci tangan dimangkuk berisi air lalu menirukan cara makan Nadira. Sangat kaku dan merasa sedikit jijik karena baru pertama kali Qenan memakan nasi menggunakan tangan langsung.
"Begini rupanya rasa diri lo Zeef? lumayan lah.." puji Qenan menyeruput kuah sayur daun singkong di piring nya.
Nina dan Nadira tertawa sedang Nazeef sudah memerah bagai udang rebus. Ibu Endang hanya menggeleng kepala melihat tingkah laku anak muda.
"Susah ya makan pakai tangan?" tanya Nadira ketika melihat Qenan kesulitan menangkup nasinya.
Qenan mengangguk. "Aku belum terbiasa Ra.."
Nadira yang sudah selesai makan mengambil alih piring Qenan hendak menyuapi Qenan.
"Biar aku suapi, nunggu kamu makan lama."
__ADS_1
Qenan mengangguk patuh lalu mencuci tangan nya kembali dan mengeringkan nya menggunakan kain lap di atas meja.
"Ck.. Kalian.. Buat gue iri. Kriting.. Suapi gue dong." rengek Nazeef pada Nina.
"OGAH.."
Nadira dan Qenan tertawa. Lagi-lagi ibu Endang perhatikan gelagat Nadira dan Qenan yang sering sekali mendapati keduanya menatap penuh cinta, seperti sudah biasa hidup bersama. Seperti saat ini, Nadira tengah suapi Qenan dan Qenan memberi minum pada Nadira karena ia tahu Nadira belum minum setelah selesai makan.
Ia pernah muda bagaimana dulu juga pernah pacaran. Tapi tidak pernah sedekat itu seperti Nadira dan Qenan. Masih ada rasa malu dan gengsi.
*Ada apa ini*?
Selesai makan siang Nadira dan Nina mencuci piring, sedang Qenan dan Nazeef berada di taman panti asuhan. Mereka berdua sedang membahas tugas Sejarah dari guru mereka.
"Hah.. Kenapa pak Aller sangat menyebalkan?" tanya Nazeef.
"Ck.. Tinggal hapal doang. Lo nya aja pembukaan UUD aja gak hafal dari dulu. Ngitungin duit gue aja lancar."
"Siapapun pasti lebih suka ngitung duit bege."
Qenan tak menganggapi lebih memilih melihat pemasukan hari ini di usaha Kafe Hebat.
Sedangkan di dapur Nadira tampak melamun memikirkan bagaimana keadaan papa Surya. Ada rasa bersalah di hati memikirkan bagaimana terpuruk nya papa Surya saat di pemakaman mama Melati tadi.
Nadira tersentak karena ia melamun tadi. "Ya Bu.."
Ibu Endang perhatikan Nadira dan Nina seksama. "Kamu udah lama berhubungan dengan pacar mu tadi?"
Nadira menelan saliva dengan kasar. "Hampir tiga bulan Bu.." sahut Nadira gugup.
"Tapi ibu merasa kalian udah kayak suami istri nak.. Ibu perhatikan dari tadi kalian kayak saling bergantungan. Apa hanya perasaan ibu aja ya?"
Lagi-lagi Nadira menelan saliva susah payah. Ia dan Nina saling berpandangan.
"Ibu.. Sebenarnya Nadira sama Qenan udah nikah malam tahun baru ini Bu.." terang Nadira lirih tak mampu memandang wajah ibu Endang yang sudah terkejut.
"Apa? tapi tadi papa mu bilang calon.." Sedetik kemudian ia tersadar sesuatu.
"Apa kalian menikah secara diam-diam?"
Nadira mengangguk. "Kejadian nya begitu cepat dan kami menikah sebelum bertemu papa, dan kami harus merahasiakan pernikahan ini karena Qenan masih sekolah Bu.. Dan papa izinkan kami menikah kalau Qenan udah tamat sekolah."
Ibu Endang tak dapat membendung air matanya lagi, ia hanya bisa terisak sembari memeluk Nadira yang ikut menangis.
__ADS_1
"Ya Tuhan.. Kenapa nasib mu sama dengan mama mu nak.. Bagaimana bisa pernikahan itu terjadi Dira?"
"Ceritanya panjang Bu, intinya aku hampir di perkosa sama dua preman dan Qenan menolong ku.. Tapi kami di grebek warga dikira aku hendak di perkosa Qenan jadi kami di nikahkan Bu.."
"Ya Tuhan nak.." Ibu Endang terus memeluk Nadira yang juga tengah menangis.
Nina melihat itupun memilih keluar dari dapur memberi waktu berdua untuk mereka.
"Dira.. Apa kamu udah melakukan itu sama Qenan?"
Nadira hanya mengangguk dalam pelukan ibu Endang. Dada ibu Endang semakin terasa sesak mengetahui jawaban Nadira.
"Andai akan seperti ini ibu memilih melarang mu pergi ke Jakarta Nadira.. Bagaimana ibu menghadapi kemarahan mama mu di alam sana? ibu gagal menjaga mu Dira.."
Nadira mengurai pelukan itu dan menggeleng. "Enggak Bu, Nadira bersyukur dinikahi Qenan."
Malam harinya setelah makan malam mereka berempat pamit pulang ke Jakarta. Tadi selepas saling tangis, ibu Endang berbicara berdua dengan Qenan.
"Apa benar kamu udah nikah sama Nadira?"
"Benar Bu." jawab Qenan singkat padat jelas tanpa ekspresi.
"Kamu masih muda, masih sekolah, masa depan mu masih panjang. Apa kamu bisa tak seperti Surya dengan cepat berpaling?"
Qenan tersenyum tipis. Ia bisa memaklumi apapun yang terucap dari ibu Endang. Itu adalah bentuk perlindungan untuk Nadira.
"Memang benar saya masih muda, masih sekolah, dan masa depan masih panjang. Tapi selama mengenal Nadira, saya gak pernah menutupi keberadaan Nadira Bu walau di luar sana saya mengakui Nadira sebagai pacar saya."
"Saya sedari masuk SMA telah dipaksa lebih dewasa dari teman seumuran saya."
"Jangan formal begitu Nak Qenan, ibu jadi gak enak sama kamu." potong ibu Endang.
Qenan tersenyum lagi dan mengangguk. "Aku udah terbiasa mencari uang sendiri, bahkan dari kelas dua SMA aku gak Nerima uang jajan dari orang tua ku. Selama ini aku hanya dekan dengan seorang wanita yaitu mama ku dan aku bisa menjamin hanya Nadira yang akan menjadi istriku Bu. Dia satu-satunya."
Ibu Endang tampak manggut-manggut. "Kalian udah melakukan itu, kenapa gak buat Nadira hamil? bukan nya itu memudahkan pernikahan kalian nak?"
"Bisa aja aku lakuin itu Bu, tapi apa kata orang menilai Nadira? pasti jadi jelek bukan? dan aku tahu gak mudah untuk kami punya anak di masa muda ditambah Nadira besok masuk kuliah dan aku harus sekolah juga kerja. Tapi ada niat saat aku tamat sekolah akan bicarakan soal anak sama Nadira."
"Baiklah, ibu titip Nadira sama kamu, jangan sakiti Nadira.. Ibu percaya sama kamu Qenan.. Jangan buat ibu kecewa.
"Aku akan berusaha dan gak akan biarkan cewek lain merusak hubungan kamu Bu.."
🌸
__ADS_1
***Bersambung***...