
Qenan membawa Nadira ke suatu tempat. Di kawasan Jakarta Selatan. Seperti biasa, kedua sahabatnya nya itu akan menjadi obat nyamuk di antara mereka.
"Nazeef, boleh aku tanya?" tanya Nadira hati-hati.
Nazeef melirik dari kaca spion lalu fokus ke jalanan lagi. Ia mengangguk. "Tanya aja kakak ipar selagi suami kakak fokus sama kerjaan nya."
Mendengar Nazeef berbicara seperti itu membuat Qenan menarik pinggang Nadira agar duduk semakin rapat padanya dengan mata masih fokus pada iPad di genggaman.
Nazeef dan Dion tergelak sedang Nadira tersenyum menggelengkan kepala. "Qenan, ini Nazeef loh." tegur Nadira.
"Belum cukup dua tahun bebas berinteraksi sama lawan jenis mu Ra?"
Pertanyaan Qenan memang dengan suara lemah lembut bahkan tatapan Qenan tak teralihkan dari iPad dan satu tangan tetap di pinggang Nadira. Namun bagi Nadira, pertanyaan itu sangat mengintimidasi dirinya.
Rasanya jlep di hati.
"Oke, baiklah tetap begini." ucap Nadira akhirnya.
"Zeef, apa kamu udah punya pacar?" tanya Nadira hati-hati.
"Kakak ipar, kami disana miskin. Mana ada yang mau sama kami." sahut Nazeef sewot melirik Qenan dari kaca spion di dalam mobil.
Dion terkekeh. "Itu mah lo, gue kagak. Kakak gue tajir."
"Itu berarti gak punya pacar ya?" tanya Nadira membuat ketiga pria muda itu melengos.
Bagi mereka sesuatu hal yang tak perlu di pertanyakan.
"Oh iya, nanti malam lo jadi ikut nggak Qen?" tanya Nazeef.
Nadira menatap Qenan dengan tajam hingga yang di tatap menelan saliva dengan kasar. Entah mengapa mimik wajah Nadira terlihat begitu menyeramkan saat ini.
"Enggak."
"Oke, lo Ion?"
"Ikut."
...****...
Tanpa terasa mobil yang di tumpangi Nadira sampai di sebuah rumah berlantai 2 dengan beberapa mobil sudah terparkir di garasi.
"Nan, ini rumah siapa?"
"Rumah kita dan anak-anak kita nanti."
Nadira menoleh kearah Qenan yang tengah tersenyum padanya. Ia menghentikan langkahnya lalu memperhatikan rumah tersebut.
"Ini terlalu besar untuk kita Nan."
__ADS_1
"Tenang kakak ipar, kami siap menemani." potong Nazeef mendapat tatapan tajam dari Qenan.
Bagaimana mungkin tinggal bersama dengan kedua sahabatnya? tidak tahukah mereka alasan Qenan memilih tinggal di rumah besar hanya berdua dengan Nadira untuk merealisasikan fantasi yang selama ini ia pendam begitu lama.
"Ra, jangan coba-coba untuk mengijinkan mereka tinggal disini."
Nadira mengangguk. Ia sendiri mengingat Qenan pernah mengatakan jika ia ingin rumah terpisah dari papa Surya dan mertuanya.
"Nginep boleh beberapa hari?"
Qenan menghela nafas lalu mengangguk lemah. "Apa yang enggak aku kasih ke kamu Ra?"
Nadira tersenyum senang lalu mereka masuk ke dalam rumah tersebut. Ia terkejut mendapati keluarganya sudah berkumpul di ruang keluarga.
Dengan sopan Nadira menyalami kedua mertuanya dan juga papa Surya. Takblupa ia bertanya kabar kedua mertuanya itu lalu bertanya pada papa Surya.
"Papa sehat? udah minum obat?"
Papa Surya mencebik. "Papa nggak separah itu Dira."
Lalu ia beralih ke arah Wido yang menggendong bayi. Nadira yang memang suka dengan bayi dan anak-anak langsung menghampiri Rania tanpa merasakan kecanggungan.
"Hai Ran."
Lalu Nadira mendekati Wido meminta izin agar boleh menggendong bayi itu.
...****...
Hari ini Wido mengajak nya ke suatu tempat. Tidak tahu kemana tapi ia dapat melihat kebahagiaan menghiasi wajah suaminya.
Tentu ia tak menolak karena Wido sendiri tidak pernah mengajak nya keluar rumah selain untuk keperluan kehamilan nya dahulu dan saat imunisasi anaknya saja.
Sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan halaman yang cukup puas. Ia masuk mengikuti langkah besar Wido. Sedari tadi ia memperhatikan gerak gerik Wido yang terus memancarkan rona bahagia di wajah suaminya itu.
Hingga ia mengerti setelah kedatangan 4 orang di rumah itu. Lalu ia menatap suaminya lagi, benar dugaan nya. Ternyata Wido masih mencintai Nadira. Bahkan Nadira sama sekali tak menatap ke arah Wido sekalipun.
Begitu besar cinta mu mas padanya. Nadira, bolehkah aku membenci mu?
"Hai Ran."
Ia tersenyum terpaksa. "Hai."
...****...
"Siapa namanya bang?" tanya Nadira mengelus pipi mulus bayi laki-laki tersebut.
"Aditya Wira Prasetyo." sahut nya tersenyum.
"Waw, nama yang bagus." Nadira berjalan mendekati ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ma, ganteng kan? hidung nya mancung." puji Nadira. Ia berani memuji karena saat ini Qenan sedang berada di ruangan yang akan di jadikan nya ruang kerja di lantai dua bersama Nazeef dan Dion.
"Memang nya kamu Ra, pesek." ledek papa Surya.
Nadira mencebik bibir karena di sindir masalah hidung tetapi itu justru membuat orang-orang disana tertawa renyah.
"Ish papa mah gitu, ini hidung orang Indonesia banget tahu pa." tutur Nadira sewot namun tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri menimang bayi mungil itu.
Mama Sinta tersenyum melihat tingkah Nadira seperti sudah biasa melakukan hal tersebut. "Kamu udah pantes punya bayi Ra." celetuk mama Sinta membuat Nadira tersipu malu.
Ya, seperti yang Qenan harapkan, kepulangan nya membuat Nadira siap untuk menjadi seorang ibu dan mewujudkan impian Qenan memiliki banyak anak.
...****...
Melihat istri menggendong anak dari pria yang mencintai istrinya tentulah ada rasa tak rela. Melihat Nadira di peluk papa Surya saja membuat cemburu apalagi pria lain?
Tetapi hatinya menghangat melihat setiap perlakuan Nadira ke bayi itu, dengan menimang, memberikan susu, bahkan ia tersenyum kala menikah Nadira mengajak bicara bayi itu.
Melangkah perlahan mendekati sang istri lalu merangkul pinggang Nadira dengan posesif dari belakang. Di lihat bayi laki-laki itu sedang menatap Nadira.
"Ganteng kan Nan?" tanya Nadira sembari mengelus pipi mulus bayi itu.
"Masih gantengan aku Ra." sahut Qenan narsis.
Tanpa terasa waktu bergulir hingga Mentari bergantikan dewi malam. Sudah waktunya makan malam dan semua orang berkumpul.
Nadira baru saja selesai menyiapkan makanan untuk Qenan dan ia melihat Rania kesusahan makan karena bayi itu tengah terjaga.
Ia yang belum duduk melangkahkan kaki mendekati Rania. "Sini biar aku pegang Aditya nya Ran."
Cukup lama Rania menatap Nadira lalu menggeleng. "Nggak perlu Na, aku bisa sendiri."
Nadira merasa kecewa namun ia tersenyum kemudian. "Oke." Niatnya hanya membantu karena juga ia melihat Wido di panggil papa Surya membuat ia merasa iba.
Setelah duduk, ia tampak murung karena menyadari raut wajah Rania kurang bersahabat tadi.
"Nanti kita buat sendiri." bisik Qenan membuat tubuhnya meremang.
...****...
Qenan melihat istrinya berjalan mendekati Rania untuk membantu wanita itu agar makan lebih mudah.
Secemburunya ia dengan bayi dan ayah dari bayi itu tapi cukup bangga dengan Nadira yang ingin menolong Rania. Tapi mendadak geram ketika bantuan yang di tawarkan istrinya di tolak mentah-mentah oleh Rania.
Jangan lupakan jika dirinya sangat tak menyukai Rania apalagi perlakuan Rania terhadap istrinya.
"Nanti kita buat sendiri." bisiknya mencoba menghibur Nadira.
Bukan hanya menghibur, tapi itu tujuan utama malam ini.
__ADS_1
🌸
Bersambung...