Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Rania


__ADS_3

Sebulan lebih Nadira tidak masuk kuliah bertatap muka. Karena selama di Bandung, ia kuliah secara online.


"Kangen lo tahu gak." Nina memeluk Nadira dari samping.


"Gue juga, gimana hubungan lo sama Nazeef?"


"Lancar aja. Oh iya, ini pakek liptint gue. Lo pucat parah." Nina menyerahkan liptint pada Nadira.


Saat ini mereka berada di taman kampus, sedang Melinda masih ada kelas. Keduanya menunggu pria mereka pulang kuliah.


Nadira menerima liptint dari Nina. Ia melihat penampilan nya sendiri di kaca kecil yang selalu dibawa kemana-mana. Kaos hitam dengan rambut tergerai.



"Thanks, ia gue mabuk parah kalau pagi."


Nina mengusap perut Nadira. "Hamil enak gak, Dir?"


Nadira tersenyum tahu maksud pertanyaan Nina. "Enak, sabar ya. Gimana Nazeef? kapan mau lamar lo?"


Nina mengedikkan bahu. "Nggak tahu, belum ada libur panjang juga untuk ke rumah bokap kandung Nazeef."


"Kalau mau kesana, gue ikut ya."


"Lo hamil, jangan aneh-aneh Ra. Inget lo punya riwayat keguguran."


Dengan wajah merengut Nadira menurut. Jika sudah di ingatkan masalah anak tentu ia akan menurut.


Hingga ketiga pria muda dan Melinda datang menghampiri. Secepat kilat Nadira langsung memeluk dan menghirup bau badan Qenan yang menenangkan diri.


"Udah nunggu lama?" tanya Qenan sembari mengusap rambut panjang Nadira.


"Enggak."


"Ada yang kamu inginkan sebelum kita sampai ke rumah sakit?" tanya Qenan membuat kedua sahabatnya melotot kearahnya.


Nadira menengadah menatap Qenan. "Boleh?"


Qenan mengangguk. "Aku pengen makan popcorn yang di jual di bioskop, Nan. Mau aku makan sambil nunggu antrian nanti."


Ketiga pria itu menghembuskan nafas lega karena permintaan Nadira kali ini tidak akan merepotkan mereka.


"Ya sudah, ayo kita beli sekalian jalan ke rumah sakit."


Nadira mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Qenan yang merangkul dirinya.


"Kami ikut." seru Nazeef menggandeng tangan Nina.


"Gue juga."


Qenan menghentikan langkah lalu berbaik begitu juga Nadira. "Mau ngapain? tanya Qenan dengan wajah datar.


"Kami harus tahu keadaan ponakan kami dong." kata Nazeef.


"Gak boleh." tolak Qenan.


"Gak peduli."

__ADS_1


"Hei, mau dibawa kemana istri gue." pekik Qenan karena Nadira sudah di rangkul Dion.


Qenan mengejarnya hingga sampai di parkiran, ia memberi pukulan pada bagian tubuh Dion yang menyentuh Nadira.


"Ck, Nadira kakak gue juga." protes Dion. Sebenarnya pukulan Qenan tidak terlalu sakit.


"Gak ada yang boleh sentuh Nadira selain gue."


Nadira sendiri sudah kesal langsung mengomel. "Kalian berdebat mulu, jadi nggak?"


"Jadi."


Akhirnya mereka berenam menuju rumah sakit dalam satu mobil.


...****...


Di hutan.


Rania sudah mulai membiasakan diri dan menerima beginilah takdirnya. Menjadi pemu as bira hi seorang pria bernama Ja'far. Daripada harus rela di jual dan menjadi pelampiasan banyak pria.


Sebenarnya ada banyak pertanyaan mengapa hanya Bella? kenapa dirinya tidak?


Namun pertanyaan itu harus ia pendam sendiri dari pada hal itu akan membuat Ja'far marah dan kembali kasar padanya.


Sudah satu Minggu Ja'far tidak berada di markas. Sebenarnya di hutan ini ada beberapa markas yang tidak terlalu jauh jarak diantaranya. Tetapi Ja'far lebih suka berada disini karena lebih jauh dari permukiman.


Di tinggal seminggu entah mengapa membuatnya merasa kehilangan. Ia sudah terbiasa dengan kehadiran pria berbadan tegap berkulit sawo matang itu.Walau selalu berbicara ketus dan tanpa ekspresi, namun ketika sedang bercinta Ja'far berubah menjadi pria romantis dengan kalimat-kalimat seperti memuja tubuhnya.


Siang itu ketika ia hendak membuat makan siang, terdengar suara deru mesin mobil yang sudah ia hafal. Dengan senyum mengembang ia berjalan dengan semangat untuk menyambut Ja'far. Tetapi langkah nya melambat ketika melihat Ja'far keluar mobil bersama seorang wanita berpakaian minim.


Ada apa dengan hatiku?


"Tolong siapkan kamar untuk kekasihku, Sarah." suara Ja'far mengatakan itu penuh penekanan di telinga Rania.


Rania hanya mengangguk tanpa menatap Ja'far dan berlalu masuk ke kamar kosong di sebelah kamar Ja'far.


Ja'far sendiri merasa aneh dengan tingkah Rania tidak seperti biasanya.


"Honey, beneran disini aman?" tanya Sarah bergelayut manja di lengan Ja'far.


"Ya." jawab Ja'far singkat karena ia tengah melihat Rania tengah membersihkan kamar.


Rania keluar kamar membuat Ja'far memalingkan wajah karena takut disadari Rania jika ia tengah memerhatikan nya.


"Ja'far, kamar udah siap."


Ja'far mengangguk.


"Honey, kenapa pembantu ini memanggil namamu? bukan nya memanggil Tuan?" tanya Sarah merasa tidak suka kekasihnya dipanggil nama begitu saja.


Ja'far sendiri tidak menjawab. Mau bagaimana pun Rania sekarang, tetap saja ada rasa hormat untuk Rania karena wanita itu adalah ibu dari anak Tuan nya, Wido.


Ja'far mengajak Sarah masuk ke kamar meninggalkan Rania yang diam saja.


...****...


Melihat pintu kamar itu tertutup, Rania berlalu ke dapur melanjutkan rencana nya memasak makan siang.

__ADS_1


Dada nya kian sesak ketika mendengar suara kenikmatan bersahutan dari dalam kamar tersebut.


Rania terus berusaha tenang walau matanya sudah menganak sungai. Tangan terus memotong wortel hingga tanpa sengaja jemarinya terluka terkena irisan pisau.


Tubuhnya luruh menatap jemarinya berdarah. Air mata meluncur tak terelakkan. Ia tidak tahu air mata itu tertuju pada luka di jemarinya atau dari hati nya yang sakit.


"Kamu gak boleh jatuh cinta sama pria menyeramkan itu, Rania."


Setelah menguatkan hati sendiri, ia bangkit mencuci jemari yang terluka lalu mencari kotak P3K yang tersimpan di atas meja sudut dapur. Mengambil plaster dan memasang nya di luka tersebut.


Beberapa saat kemudian ketika Rania sudah duduk di meja makan dan makanan sudah tersaji di depan nya. Sepasang kekasih itu keluar kamar dengan keadaan lebih segar.


Rania mencoba tetap acuh lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Terus mencoba baik-baik saja ketika Ja'far dan Sarah duduk di depan nya.


"Honey, hanya ini makan siang nya?" tanya Sarah menatap semangkuk sup ayam dan sambal di atas meja.


"Apa hanya ini?" tanya Ja'far entah bertanya pada siapa namun Rania tahu itu tertuju padanya.


"Makan aja apa yang ada, kalau mau yang lebih enak kalian bisa pesan Go Food." sahut Rania ketus tanpa menatap sepasang kekasih itu.


"Honey, kenapa dia kayak gak menyukai ku?" Sarah terus saja berbicara dengan manja pada Ja'far membuat Rania merasa muak.


Ja'far membelai rambut Sarah dengan sayang. "Pergilah ke kamar mu, biar dia aku yang urus." ucapan Ja'far mampu membuat Sarah tersenyum kemenangan dan ia pun berlalu.


Rania sendiri menyaksikan adegan mesra itu hanya bisa menahan sakit dan sesak di dada. Bahkan ia bisa merasakan ini jauh lebih sakit daripada Wido begitu mencintai Nadira.


Ja'far berdiri lalu berjalan berpindah ke sisi Rania. Di tangkup kedua sisi wajah dengan satu tangannya hingga membuat Rania meringis.


"Apa maksudmu bicara ketus begitu pada kekasih ku?" sentak Ja'far tepat di depan wajah Rania.


Rania menatap nanar mata Ja'far. Tatapan penuh luka.


Aku jatuh cinta pada pria yang salah. Kenapa aku selalu saja terjebak pada pria yang telah memiliki kekasih?


"Ja'far, lepaskan aku." Rania meronta ketika lengan nya di tarik dengan kasar menuju kamarnya.


Ketakutan tercipta ketika melihat Ja'far mengunci kamarnya dari dalam. Mundur untuk menghindari Ja'far adalah pilihan tepat saat ini.


"Jangan sekarang Ja'far, aku mohon."


Ja'far menyeringai. "Bukan nya kamu merindukan sentuhan ku? aku yakin itu."


Rania menggeleng. "Aku enggak mau, bukan nya kamu sendiri bilang akan membuangku setelah kamu menemukan yang baru? sekarang aku minta lepaskan aku." sentak Rania.


Mendengar Rania meminta dilepaskan darinya membuat ia marah. Dengan cepat menangkap Rania lalu dengan kasar ia hempas ke atas ranjang.


Dengan brutal mencumbu wajah, bibir, tempat-tempat kesukaan nya. Pakaian Rania telah sobek tak terbentuk. Rania terus berontak semakin meningkat li bi do Ja'far.


Ketika hati ingin berontak namun tubuh tak bisa bohong. Dengan gerakan kasar pun Ja'far mampu membuat Rania merasakan kenikmatan.


Hingga akhir puncak kenikmatan telah menghampiri disitulah Ja'far membisikkan sesuatu pada Rania.


"Jangan coba-coba pergi dariku walau aku ada yang baru."


🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2