Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Selamat pagi, sayang


__ADS_3

"Boy, kok lo disini?" tanya Nazeef baru masuk rumah dan mendapati Qenan sedang duduk di sofa ruang tamu dengan laptop di depan nya dan sebatang rokok terkapit di jemari Qenan.


"Suka-suka gue. Ini rumah gue juga." sahut Qenan menghisap rokok lalu menghembuskan asap dari mulutnya tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.


Nazeef duduk di seberang Qenan mengambil sebatang rokok di dalam bungkus rokok itu lalu menyalakan nya.


"Kemana kakak ipar?" pandangan nya mengedar mencari sosok Nadira.


Qenan menoleh ke samping menatap Nazeef dengan tajam. "Ngapa lo cari istri gue?"


Nadira berdecak sebal karena Qenan selalu sensitif jika masalah Nadira. "Bukan itu maksud gue, tumben lo diem anteng di depan laptop. Gak ngadon?"


Di hisap kembali rokok itu lalu di keluarkan asap dari mulutnya. "Istri gue lagi enggak bisa, Minggu depan baru bisa."


Jawaban Qenan langsung membuat Nazeef terbahak. "Kasihan." ejeknya.


"Kasihan mana sama lo?"


Tawa Nazeef menghilang seketika setelah Qenan bertanya seperti itu. "Lo mah gitu. Eh Nan, kakak ipar udah tahu belum acara resepsi pernikahan kalian sama pembukaan pabrik di Bandung?"


Qenan menggeleng. "Besok gue kasih tahu. Adik kita mana?" Ia baru menyadari bila Dion tidak ikut pulang.


"Dia lagi ngadon." jawab Nazeef santai membuat Qenan terbelalak. Setelah itu kepala Nazeef sudah mendapatkan pukulan dari Qenan.


"Lo ngajarin yang gak bagus Zeef. Gue udah bilang pikirkan masa depan. Umur udah 20 tahun, Gaji yang gue kasih itu bahkan lebih dari yang seharusnya. Gunain untuk hal berguna. Bukan malah pengaruhi Dion masuk ke dunia lo yang lain." cerocos Qenan sangat yakin bila Dion melakukan itu karena Nazeef.


Nazeef mengelus kepala sembari merengut.


Belum sempat Nazeef menjawab, Nadira berjalan ke arah Qenan dengan muka bantalnya.


...****...


Tadi, setelah meminta maaf kepada Qenan tidak bisa membantu pelepasan, ia memilih tidur dalam pelukan Qenan.


Pelukan yang sangat ia rindukan. Wangi maskulin dari tubuh Qenan yang selalu membuatnya candu. Tempat sandaran yang selalu membuat aman dan nyaman.


Beberapa jam kemudian, tangan Nadira meraba ke sisi sebelah mencari Qenan namun tak di dapat. Matanya terbuka dan mengedar pandangan bahkan suara parau itu juga memanggil Qenan namun nihil, suaminya tak ada di kamar.


Nadira bangkit lalu melangkah keluar kamar mencari Qenan. Ternyata ada di ruang tamu dan ia memilih menyusul.


"Sayang." panggil Nadira lalu merebahkan tubuh hendak tidur di pangkuan Qenan.


Qenan yang tahu maksud Nadira langsung meletak laptop di sampingnya. "Kenapa bangun?" tanya Qenan setelah kepala Nadira berada di pangkuannya.


Dengan mata terpejam dan memeluk perut Qenan, Nadira berujar. "Kamu enggak ada."


Dibelai sayang rambut Nadira sembari membicarakan tentang persiapan pembukaan pabrik makanan mereka. Rencana di buka dua bulan lagi dan sebulan kemudian acara resepsi pernikahan Qenan dan Nadira.


Tiba-tiba Nadira terbangun teringat sesuatu lalu mengubah posisi tidur menjadi membelakangi perut Qenan.

__ADS_1


"Zeef, Nina udah putus sama Arga. Pelet terus gih, dia masih nunggu kamu."


Dengan mata berbinar Nazeef tersenyum menatap Nadira dan itu membuat Qenan melempar bungkus rokok tepat di kepala Nazeef.


"3 detik nggak pakek senyum."


Nazeef berdecak. "Iya, sorry. Ya udah, gue mau ke kamar dulu."


Qenan membelai rambut Nadira sembari menjelaskan rencana resepsi pernikahan dan pembukaan pabrik mereka.


Sedang Nadira hanya mendengar dan menerima saja. Toh, ia tak mengerti persoalan seperti itu.


Ia adalah tipe wanita penerima apa adanya.


Karena sudah merasa mengantuk, ia tertidur kembali dan Qenan menggendong nya ke kamar yang ada di lantai 2.


...****...


Pagi harinya, seperti biasa Nadira sudah sibuk berkutat di dapur. Siang nanti, pelayan rumah tiba dan penjaga rumah sudah tibah lebih dahulu.


Tetapi para pelayan tidak di izinkan menginap karena itu adalah perintah dari Qenan. Hanya penjaga rumah yang tetap berjaga 1x24 jam secara bergantian.


"Pagi." sapa Qenan menghampiri Nadira sedang meletakkan sepiring sarapan di depan tiga kursi.


Nadira tersenyum. "Pagi."


"Nyicil, Ra. Kamu kan tahu sendiri Minggu depan baru bisa."


Nadira mencebik. "Aku tawari pakek senam jari kamu nggak mau."


"Ya enggak enak dong. Masa satu tahun aku nunggu, begitu pulang harus senam jari lagi."


Nadira hanya menggeleng kepala.


"Selamat pagi semua nya.." sapa Nazeef girang.


"Pagi." jawab Nadira tapi tidak dengan Qenan.


Qenan lebih memilih duduk di kursi kepala keluarga tanpa perduli Nazeef terus berceloteh.


"Wow, Daebak. Gilgeori Toast." ucap Nazeef melihat menu sarapan paginya.


Nadira nyengir kuda. "Iya, baru belajar."


Gilgeori Toast artinya adalah “roti panggang jalanan” alias “roti bakar kaki lima”. Sejarahnya mirip-mirip dengan hobi orang Indonesia yang suka makan roti bakar atau mie instan di pinggir jalan ataupun di warung.


"Boy, kita hari ini free kan?" tanya Nazeef setelah menghabiskan gilgeori toast miliknya.


"Hem."

__ADS_1


Nazeef tersenyum. "Oke, gue berangkat dulu ya mau lihat ayang beb."


Nazeef keluar rumah dan tak berapa lama terdengar suara mesin mobil menyala meninggalkan pekarangan rumah.


Sedang Qenan dan Nadira selesai sarapan dan membersihkan piring kotor langsung bersiap pergi ke butik mama Sinta untuk memilih gaun resepsi pernikahan mereka.


...****...


Senyum mengembang terus terukir di sudut bibir Nazeef sepanjang perjalanan. Tidak menyangka jika takdir seakan berpihak padanya.


Mobil telah terparkir di depan Kafe Hebat tempat Nina bekerja. Ia baru teringat beberapa hari lalu pak Diki mengirim jadwal jam kerja di Kafe ini.


Ternyata yang berubah adalah jam kerja antara Nina dan Arga.


Keluar dari mobil lalu berjalan memasuki Kafe. Senyuman tetap terukir dan membalas sapaan para pekerja disana. Tidak menemukan Nina di depan, membuat Nazeef melangkah ke dapur dan benar saja, disana ada Nina sedang sarapan.


"Selamat pagi, calon istri." sapa nya membuat Nina terkejut dan tersedak akibat perlakuan nya.


...****...


Rindu?


Sudah pasti.


Ingin bertanya kabar?


Tak akan terjadi.


Itulah yang dialami Nina selama ini. Walau ia sudah tak berhubungan dengan Arga tetap saja tidak ada rasa berani menghubungi Nazeef lebih dahulu.


Hari ini jam kerja masuk pagi. Beruntung tidak ada mata kuliah yang harus di ikuti. Tadi malam, ia tidak bisa tidur dan bangun kesiangan hingga tak punya waktu untuk sarapan.


Setelah selesai membersihkan seluruh ruangan Kafe dan pekarangan barulah ia sarapan. Tetapi baru beberapa suapan sudah di kejutkan oleh suara yang sangat dirindukan membuatnya harus tersedak sedemikian rupa.


"Uhukk.. Uhuk.. Uhuk." Nina terus terbatuk-batuk bahkan berulangkali memukul dadanya.


"Sorry sayang."


Mata Nina melotot mendengar Nazeef memanggilnya 'sayang'.


Astaga jantuuung. jerit Nina dalam hati.


🌸


Bersambung..


*Maaf ya semalam emak wirid dan santunan anak yatim, jadi cuma bisa 1 bab.


Semoga kita dalam keadaan sehat dan bahagia selalu ya*.

__ADS_1


__ADS_2