Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Ayo Abang antar pulang


__ADS_3

Setiap pertemuan tidak akan terhindar dari perpisahan. Namun yang paling sulit dilakukan adalah berpisah dengan orang yang dicintai. Rasanya mungkin tak terbayangkan bagaimana harus berpisah dan melanjutkan hidup tanpa orang yang kita cintai tersebut di sisi kita.


Sayangnya dalam hidup ini, sebuah perpisahan tak terhindarkan, dan kita hanya punya pilihan antara terus mengingat orang tersebut atau melupakannya. Beberapa orang memilih untuk melupakan seseorang sebab, ini akan memudahkan mereka untuk bisa menjalani kehidupan mereka.


Dan apakah Nadira harus melupakan Qenan?


Entahlah.


"Biar ku antar." ujar Wido sedari tadi mengikuti Nadira berjalan tanpa arah.


Tadi di dalam kamar setelah melihat Nadira keluar langsung mengikuti tanpa mendengarkan makian Qenan untuknya yang telah berani mengikuti Nadira.


Hatinya sakit ketika melihat pundak Nadira bergetar karena sedang menangis.


"Pergilah bang, aku gak mau Rania salah paham lagi. Maaf telah memulai kekacauan ini." Nadira sadar ini berawal dari nya yang sudah ikut campur masalah Wido dengan Rania bahkan memaksa Wido menikahi Rania.


"Jangan ngomongin yang udah lewat, sekarang aku antar pulang."


Nadira menggeleng. "Aku mau pergi."


"Ya udah, ayo aku antar." Melihat Nadira setuju, akhirnya ia menghubungi sopir untuk menjemput mereka.


Malam itu juga Nadira pergi dan Wido dengan setia mengantar kemana tujuan Nadira.


...****...


"Nan, udah. Bukan waktunya lo ngamuk begini." Dion mengingatkan, lantaran perabot ruang kerjanya sudah terbentuk lagi.


Setelah dari hotel dan melihat Nadira pergi tanpa mau mendengar penjelasannya membuat ia sedih dan marah menjadi satu.


Hingga memilih pulang namun kenyataan pahit yang ia dapat. Rumah dalam keadaan kosong tak berpenghuni. Akhirnya setiap benda yang berada di depan nya hancur menjadi pelampiasan kemarahannya.


"Aarrgghh.." jeritnya merasakan sakit dihati.


"Lebih baik kita istirahat dulu. Gue tahu lo belum ada istirahat semenjak dari pabrik." ujar Dion pada Qenan. Melinda sendiri sudah kembali ke apartemen karena ia mengerti ini di luar rana nya.


Qenan menatap Dion dengan tajam. "Katakan ke gue dimana Nadira pergi, Ion."


"Gue gak tahu Nan, bahkan gue kaget lihat Nadira kayak biasa aja padahal sepanjang jalan dia nangis."

__ADS_1


Qenan mengacak rambut frustasi. Ia merasa bersalah karena kurang hati-hati. Mengingat adakah hal mencurigakan saat makan malam. Hingga ingatan tertuju ketika para rekan bisnis nya meninggalkan ruangan itu lalu masuk pelayan mengatakan itu minuman terakhir dari mereka, setelah meminumnya ia merasa pusing dan tak sadarkan diri.


"Sial."


...****...


Sudah sebulan Qenan mencari keberadaan Nadira. Setiap sudut ibu kota sudah ia datangi dan setiap Panti Asuhan di hampiri hanya sekedar bertanya karena ia tahu istrinya itu sering keluar rumah hanya sekitaran Kampus, Kafe, Mall, dan Panti Asuhan.


Jangan tanyakan acara resepsi pernikahan mereka karena tentu itu sudah batal, bahkan papa Surya tak lagi mau dijumpai. Hanya Dion yang masih mau menjumpai nya.


Dion sendiri percaya jika Qenan di jebak, namun ia pun tidak tahu keberadaan Nadira dimana. Papa Surya dan Wido benar-benar menutup akses untuk mereka yang ingin mengetahui Nadira berada dimana.


Ponsel berdering tertulis nama Papa Reno dan mengatakan mereka telah sampai di kediaman nya. Terpaksa memutar balik arah menuju rumahnya.


Beberapa saat kemudian mobilnya telah sampai di kediaman nya. Dilihat bukan hanya mobil papa Reno, ada mobil Nazeef juga.


Sesampainya di ruang tamu, mama Sinta langsung memeluk Qenan yang tampak tidak ada semangat hidup lagi. Rambut gondrong tak tertata rapi, bulu-bulu halus tumbuh di rahang kokohnya dan ada kumis tipis berbaris disana.


"Sayang, gimana kabar kamu?" tanya Mama Sinta ikut sedih melihat keadaan Qenan. Ia beralih duduk di sebelah anaknya itu.


"Qenan gak baik kalau Rara gak ada ma." sahut Qenan dengan pundak bergetar. Untuk pertama kalinya ia memperlihatkan air matanya di depan sang mama semenjak kepergian Nadira.


"Kamu udah makan?" tanya mama Sinta.


"Udah." jawabnya singkat, wajahnya berubah datar setelah menumpahkan isi hatinya. Ia duduk tegak kembali menatap ke arah papa Reno.


Papa Reno menyerahkan amplop coklat lalu Qenan membukanya. Senyum getir terbit kala membaca surat itu.


Secepat dan selemah ini cinta mu untukku, Ra?


"Jangan terburu-buru. Mungkin Nadira hanya butuh waktu. Besok papa akan coba ngomong sama mertua mu lagi."


Qenan menarik nafas mengangguk lalu bangkit melangkahkan kaki menuju kamarnya dengan Nadira.


Ketika sudah berada di dalam kamar, ia memindai pandangan setiap sudut kamar nya masih tertata rapi dengan letak perabot yang sama. Duduk di tepi ranjang merasakan keheningan malam.


Matanya menatap lurus dinding kaca menembus langit malam. Pikiran nya berkelana mundur dimana mereka sering bersenda gurau di balkon. Bermain kartu domino atau ular tangga di lantai balkon itu. Dengan hukuman ciuman bebas dimana saja hingga berakhir dengan pergumulan panas disana.


Pandangan nya beralih ke sofa. Sama halnya mengingat seringnya ia menemani Nadira menonton drama-drama kesukaan nya. Adegan romantis, adegan yang menguras emosi, bahkan ia dengan telaten menghapus air mata atau bahkan dada nya menjafi sandaran sebagai peredah kesedihan hanya karena menonton.

__ADS_1


Pandangan pindah dimana lemari berhias berada. Nadira sering duduk berlama-lama disana hanya untuk menata rambut cokelat panjang nya. Dari hanya kuncir kuda, kepang, ayah bahkan kuncir satu di atas ubun-ubun seperti Upin.


*Mengapa jadi begini, Ra? Apa kamu gak percaya aku lagi? bahkan setiap kali aku mandi, selalu menggosok tubuhku ini dengan kuat agar bekas sentuhan wanita itu hilang dari tubuhku. Tapi kenapa kamu gak kembali juga?


Ini udah satu bulan sayang! Dan apa ini? kamu menyerah*?


...****...


Keesokan harinya.


Di suatu tempat, jauh dari perkotaan. Dengan senyum mengembang Nadira melangkah perlahan menuju rumah yang selama sebulan ini ia tempati.


Tidak ada fasilitas mewah sedikit pun. Rumah kontrakan dengan dua kamar, ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi.


"Loh, Abang udah datang?" tanya Nadira siang itu setelah masuk dalam rumahnya.


"Udah." jawab Wido singkat.


"Aditya mana?"


"Tidur sama Mbak sus nya."


Nadira mengerutkan dahi menatap aneh ke arah Wido yang diam saja sedari tadi.


"Abang kenapa?"


Wido menatap Nadira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kenapa kamu mengirim surat itu ke Qenan, Dira? kamu nggak tahu kan betapa terpuruk nya Qenan setelah kamu pergi? bagaimana kamu bisa egois kayak gini? kamu hamil, anak itu butuh ayah nya."


Deg


Nadira menunduk. "Gimana bisa Abang tahu kalau aku aku hamil?"


Wido mengacak rambut nya. "Jangan terlalu bodoh untuk mempertanyakan itu. Aku cinta dan sayang sama kamu. Dan aku ingin kamu bahagia, aku tahu kamu merindukan nya kan?"


Lagi, Nadira menangis karena perasaan nya sendiri. Ia takut, takut Qenan menduakan nya. Maka dari itu ia memilih pergi sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.


"Ayo Abang antar pulang."


🌸

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2