
Meninggalkan wanita yang menemaninya selama ini tentu sangat berat untuk Qenan. Bahkan ia rela membatalkan acara peresmian pabrik demi menemani Nadira setiap saat.
Tetapi, tanggung jawab sebagai pemimpin tentu itu adalah cerminan yang tidak boleh dilakukan olehnya. Dengan berat hati ia harus pergi.
"Hubungi aku kalau terjadi sesuatu, Ra." pinta Qenan dua hari lalu dan di angguki Nadira. Bukan tanpa alasan ia meminta itu, karena sekarang papa Reno dan mama Sinta sudah pindah menetap ke Amerika karena orang tua papa Reno tidak ingin tinggal di Indonesia.
Sedang sahabat istrinya, Nina. Dia sedang bersama Nazeef pergi ke Banyuwangi, Jawa Timur dimana tempat konveksi kaos milik nya.
Hanya Dion dan Melinda menjadi harapan untuk menjaga Nadira. Karena ia tahu, istrinya itu sudah berubah menjadi wanita manja kesayangan nya.
Sebenarnya sore tadi ia sudah tiba di Jakarta setelah 3 hari pergi ke Bandung dimana letaknya pabrik pertama miliknya.
PT. Edzard Abraham Transindo
Mengapa Edzard? karena kata itu memiliki arti PENJAGA. Dan ia ingin memberi nama anak laki-laki nya nanti.
Sore sudah berada di Jakarta namun tidak bisa langsung kembali menemui istrinya karena ia memiliki undangan makan malam pada rekan bisnis nya yang juga pebisnis muda.
Tidak ada yang mencurigakan hingga makan malam usai dan rekan bisnisnya meninggalkan tempat jamuan.
Kini ia tinggal sendiri hendak bangkit namun kepala terasa begitu pusing berkunang-kunang sampai tak sadarkan diri.
...****...
Di rumah Nadira terus saja tersenyum menantikan kepulangan Qenan. Ia akan memberikan kejutan kepada suaminya itu. Bagaimana tidak? Ternyata kesehatan nya yang menurun ditambah mual dan muntah itu datang ketika Qenan jauh darinya.
Mengapa ia tidak menyadari hal itu dari awal? padahal ia pernah mengalami itu sebelumnya. Tetapi mengetahui Qenan terlambat pulang membuat cewas karena ini hampir tengah malam.
"Ra, makan dulu. Kan Qenan udah kabari sebentar lagi pulang." ujar Dion sedari tadi melihat Nadira gelisah menatap pintu utama.
"Ini hampir jam sebelas Ion." keluh Nadira mulai merasa tidak tenang.
Suara ponsel Nadira mengagetkan mereka. Lalu segera mengangkat nya. Tubuh Nadira membeku setelah mendengar ucapan seseorang di seberang telepon.
Kepalanya menunduk bersamaan air mata itu lolos terjun dari matanya. Dada kian sesak. Hati hancur karena sudah di hantam lava panas.
Hancur lebur.
Hatinya semakin perih ketika notifikasi pesan WhatsApp dari nomor yang menelepon mengirim sesuatu.
"Di-dion, apa hidup di negara bebas telah merubah suamiku? atau memang kayak begitulah suamiku sebenarnya? dan hanya aku yang tak mengenal dengan benar suamiku?" Nadira mencecar Dion dengan derai air mata.
"Apa yang terjadi kak?" Melinda baru saja tiba terkejut melihat sahabat sekaligus kakak iparnya menangis histeris.
Di rebut ponsel Nadira dan betapa kaget Melinda melihat isi pesan itu lalu menyerahkan ponsel itu pada Dion. Segera ia tenangkan Nadira lebih dahulu.
Dion menerima ponsel Nadira. Tangan nya terkepal melihat isi pesan tersebut. Lalu mendekap tubuh Nadira memberi ketenangan kepada kakak nya itu.
"Ayo kita buktikan kalau yang ada di pesan itu gak bener."
...****...
Di tempat lain.
Rania tersenyum miring menatap ponselnya. Kemudian menghubungi salah satu orang yang setia menjaga target selanjutnya.
__ADS_1
"Yang lebih berkuasa aku atau dia?"
"Nyonya, tapi ini adalah mandat Tuan, Nya."
"Kalian mau saya pecat?"
"Jangan Nyonya, baiklah kami akan kesana sekarang."
Senyum kemenangan terbit di bibir Rania.
...****...
Pihak hotel meletakkan tubuh Qenan di atas ranjang. Rencananya berhasil untuk menjebak Qenan agar pria itu menjadi miliknya seutuhnya. Mereka kini berada di salah satu hotel kecil di pinggiran kota.
Wajah Bella tersenyum melihat Qenan terbaring tak berdaya di atas ranjang. Ia tahu kalau caranya ini licik, namun ia sudah tidak sabar untuk memiliki Qenan seutuhnya.
"Dia masih pingsan?" tanya Rania.
Bella menoleh ke sumber suara. "Udah lama sampek?"
"Udah 15 menit yang lalu. Sudah ayo cepat, kenapa hanya melihatnya saja."
Rania dan Bella ternyata masih sepupu. Mendengar Bella begitu tergila-gila dengan Bule bernama Qenan Abraham membuat Rania bagaikan mendapat angin segar yang sudah lama dendam tumbuh di hatinya.
Mereka akan mengambil foto Qenan dan Bella yang polos seperti selesai melakukan pergumulan panas lalu mengirimkan ke Nadira. Setelah itu terserah Bella jika memang benar-benar menginginkan Qenan. Karena mereka hanya membius Qenan namun rudal masih bisa bangun.
Perlahan Bella membuka jas lalu kemeja putih Qenan. Ia langsung menelan saliva menatap dada bidang serta perut kotak-kotak Qenan. Naluri wanita normal nya memaksa segera melakukan penyatuan.
"Bella, tahan dirimu. Kita harus melancarkan rencana lebih dahulu, sebelum Qenan bangun." Rania menegur Bella membuat ia mengurung niatnya.
"Done."
"Jadi udah boleh ni?"
"Terserah."
Dengan cekatan Bella membuka celana panjang Qenan menyisakan celana boxer. Kemudian meraba dada bidang Qenan dengan ero tis.
Saat ia hendak menelusuri leher dan telinga tiba-tiba pintu di dobrak dari luar.
"Brengsek." maki Dion namun ia segera berbalik karena melihat Bella dalam ke adaan polos.
Bella dan Rania kaget langsung memungut pakaian dengan cepat memakai nya. Rania sendiri berdiri terpaku melihat suaminya ada bersama Dion.
Melinda maju lebih dahulu ketika melihat Bella sudah mengenakan pakaian. Tamparan berulangkali dilayangkan pada pipi mulus penuh makeup Bella.
"Wanita murahan."
Plak
Sedang Dion sudah memberikan bogeman pada Qenan langsung membuat sadar. Kini ia tahu jika sahabatnya telah di jebak. Tetapi emosi yang sudah di ubun-ubun tak bisa terelakkan untuk memberi Qenan pelajaran.
...****...
Wido menatap Rania dengan tajam. Beruntung tadi ia mendapat kabar jika Nadira pergi tengah malam dalam keadaan menangis. Kini ia tahu alasan nya mengapa.
__ADS_1
Ia maju mendekati Rania langsung melayangkan tamparan di pipi kanan dan kiri hingga membuat istrinya itu tersungkur ke lantai.
"Bangun." titahnya dingin.
"Mulai malam ini, kamu Rania Angelina bukan lagi istri ku. Malam ini juga kamu aku talak."
Rania menggeleng menangis histeris. "Jangan tinggalkan aku, mas."
Wido tersenyum miring. "Ternyata inilah jawaban ku kenapa nggak bisa cinta sama kamu karena memang kamu tak pantas mendapatkan cinta."
"Emon, Donal. Kemari kalian."
Dua bodyguard itupun datang dengan wajah tertunduk. Tadi mereka sempat mengakui kesalahan karena Rania menghubungi mereka untuk jangan menjaga Nadira agar suaminya tidak tahu keberadaan Nadira. Tetapi kedua bodyguard itu takut untuk berbohong pada Wido akhirnya memilih mengakui kesalahan.
"Bawa wanita licik ini dan wanita murahan itu ke markas, katakan pada anak buah kalian kalau wanita ini siap melayani mereka."
Rania terus meronta dan memohon ampun pada Wido namun agaknya pria itu tidak tersentuh sedikitpun.
...****...
Jangan tanya bagaimana keadaan Nadira. Sepanjang jalan menuju hotel tersebut ia terus menangis. Namun ketika sudah berada di depan hotel ia menyudahi tangisan hingga kini ia menatap suaminya dengan datar tak terbaca.
"Mi amor."
Perih.
Panggilan sayang Qenan untuknya seakan menyayat hati. Di tatap juga wajah Qenan dengan datar.
"Ini nggak kayak yang kamu lihat, aku di jebak. Bahkan aku nggak tahu kenapa bisa sampai disini."
Nadira masih diam saja.
"Ra, tolong bicaralah."
Hening. Bahkan suasana di kamar hotel itu menjadi tenang menantikan suara yang keluar dari Nadira. Semuanya khawatir karena Nadira tak bersuara dan wajah nya tak bereaksi apa-apa.
"Qenan, kamu masih ingat apa yang ku ucapkan saat aku ke Amerika menyusul mu? Lebih tepatnya saat kita melihat jembatan Golden Gate Bridge."
Qenan yang tengah bersimpuh di depan lutut Nadira sedang duduk di sofa hotel langsung menegang. Ia ingat hal itu.
"Perlu ku ulangi?" tanya Nadira masih menatap Qenan.
"Qenan, kamu tahu aku paling gak suka dengan pengkhianatan. Kamu pasti tahu awal cerita bagaimana kita bisa di pertemukan bukan? dan kamu pasti sangat tahu kalau aku mudah melupakan pengkhianat itu kan?"
Qenan menggeleng. "Tolong, Ra. Jangan tinggalkan aku." Qenan mengecup kedua punggung tangan Nadira merasakan sesak di dadanya.
Nadira menarik kedua tangan nya. "Biarkan aku pergi." Wajah Nadira masih saja datar, padahal hatinya begitu sakit.
"Enggak, sayang. Kamu nggak boleh pergi dari ku. Ku mohon, tetap lah bersamaku." pinta Qenan mulai panik bahkan kini ia memeluk kedua lutut Nadira.
"Aku juga mengatakan kalau kejadian ini terjadi, baik kamu sengaja atau tidak maka izinkan aku pergi, Nan. Waktu ku bersama mu kini telah habis." Dengan kasar Nadira meronta agar kakinya terbebas dari pelukan Qenan.
Sebenarnya ia hampir sama dengan Qenan. Tidak suka miliknya di ganggu. Dan ia paling tidak suka dengan pengkhianatan terlebih kisah kedua orang tuanya juga adalah tentang pengkhianatan.
Nadira berjalan gontai dengan air mata kembali menetes. Di peluk perut yang masih rata namun ada kehidupan baru di dalam sana.
__ADS_1
Aku pergi.