
"Istriku, bisakah kamu duduk tenang?" tanya Ja'far melihat Rania sedari tadi tampak gelisah.
"Mas, aku pengen gorengan deh."
Saat ini Rania tengah hamil memasuki bulan ke tujuh. Ya, memang Rania meminum obat penunda hamil, namun ketika masih di markas dan Ja'far pertama kali membawa Sarah tetapi masih menggagahi nya ia salah meminum urutan obat tersebut dan hasilnya adalah hamil.
Mengetahui Rania hamil, Ja'far meminta istrinya itu mengubah panggilan nya selain 'sayang'.
"Oke." Jafar menghubungi seseorang.
Satu jam kemudian, di depan rumah Jafar tampak riuh karena kang gorengan beserta gerobak jualan nya sudah bertandang disana.
Sudah menjadi sebuah kebiasaan Jafar ketika Rania menginginkan sesuatu yang ada di luar sana, pasti ia juga menghadirkan pemiliknya.
Tak sulit untuk mewujudkan itu karena Jafar dan anak buahnya dengan mudah menggertak mereka.
"Jangan terlalu banyak makan gorengan nya, istriku." tegur Jafar melihat betapa lahap Rania memakan gorengan itu.
Setelah melihat Rania posisi aman di kelilingi anak buahnya, ia meninggalkan mereka menuju ruang kerja nya.
Ia baru saja mendapat pesan dari Emon dan Donal mengenai masalah pabrik Qenan karena bahan baku dari suplier utama mereka mendadak menghentikan pemasukan dan menghambat kinerja pabrik.
Penyelidikan terus dilakukan anak buahnya karena takut ini adalah ulah musuh bisnis papa Surya ataupun papa Reno atau bisa saja itu musuh Qenan.
Mengingat betapa mulus perjalanan bisnis Qenan selama ini. Yang terlihat, tetapi ia yakin bahwa Qenan dan Nazeef sangat bekerja keras untuk membangun semua itu.
Memikirkan bisnis papa Reno yang bersih membuat ia yakin jika itu ulah musuh di dunia bisnis Papa Surya.
Jika sudah menyangkut papa Surya maka pengawasan utama ada pada Nadira. Jika terjadi sesuatu pada wanita igu, maka dengan pasrah kepala nya terpenggal sesuai perkataan Wido jika mereka lengah atas keselamatan Nadira.
Malam harinya, setelah mendapat informasi akurat, seringai devil terbit ketika mengetahui siapa dalang dari masalah pabrik Qenan.
Mulai hari ini, ia menugaskan anak buahnya untuk mengawasi Nadira dengan ketat namun tetap jangan terlihat dari Nadira maupun Qenan.
Tak lupa mengabari Wudo siapa dalan tersebut namun tidak memberi tahukan papa Surya lebih dahulu.
"Sayang." seru Rania seraya mengetuk pintu ruang kerjanya.
Dengan cepat Jafar menyimpan berkas bukti-bukti tersebut kemudian berdehem sebelum bersuara mempersilahkan Rania masuk.
"Masuk, sayang."
Tampak Rania membuka daun pintu lalu menyembulkan kepala. "Lagi sibuk ya?"
"Udah selesai kok. Ada apa?"
__ADS_1
"Enggak ada, aku udah selesai makan gorengan nya karena itu aku menyusul." sahut Rania berjalan masuk dan duduk di sofa memerhatikan sang suami.
"Ada apa, hm?" Jafar merasa di perhatikan lantas membuatnya bangkit mendekati sang istri.
Rania menggeleng. "Apa nanti anak kita juga galak kayak kamu?"
Jafar tertawa lucu dengan pertanyaan Rania. "Sedikit banyaknya akan meniru ku, sayang. Tidak apa galak, nanti kalau udah ketemu pawang nya juga bakal lemah lembut." sahutnya kemudian sembari mengelus perut Rania.
Rania mencubit lengan Jafar. "Kamu ini, kalau sempat galaknya seperti mu, yang ada dia bakalan gak laku."
"Laku. Buktinya aku laku."
Rania mencebik saja. Terkadang ia tak habis pikir bagaimana bisa jatuh cinta kepada pria galak seperti Jafar.
"Jangan pikirin gimana kamu bisa jatuh cinta padaku, sayang."
Rania melongo menatap Jafar heran. Apakah suaminya itu betubah menjadi cenayang?
"Siapa juga yang jatuh cinta sama kamu." kilah Rania.
Jafar menyeringai. "Oh, nggak jatuh cinta?"
"Enggak, aku udah punya calon yang lebih tampan dari mu." Rania tersenyumbpenuh maksud tetapi tidak dengan Jafar. Pria itu sudah menatap Rania dengan tajam.
"Siapa pria itu yang berani merebut cinta mu dari ku?" tanya Jafar dingin dengan sorot tajam.
Jafar bangkit menuju meja kerjanya. Selama Rania menjadi tawanan dan berubah menjadi istrinya selalu dalam pengawasan. Selama ini tak pernah ada yang mencurigakan dari Rania.
Tapi ini apa? sungguh mengejutkan baginya. Ia kecolongan.
Diambil pistol kesayangan nya lalu berjalan menarik pergelangan tangan Rania mengajaknya ke lantai dasar.
"Sayang, kita mau kemana?"
"Aku akan membunuh mereka yang lengah mengawasi mu sampai kamu berani menduakan aku."
Rania menganga. Mengapa jadi menyalahkan para pengawal? Ia menghentikan langkah. "Kamu apaan sih?"
"Kamu yang apa-apaan Rania? kamu duain aku." ucapnya lirih membuat Rania meringis mendengarnya.
Rania mengajak Jafar ke ruang kerja pria itu lagi. Lalu meminta pria itu menyimpan senjatanya lagi. Setelah menyimpan senjata itu, ia mengajak Jafar duduk kembali di sofa. Bahkan dengan sengaja duduk di pangkuan suaminya.
"Kenapa gak tanya siapa pria itu, hm?" tanya Rania menatap Jafar berwajah datar itu.
Di bawa satu tangan Jafar menyentuh perutnya. "Anak kita, Jafar. Pria itu anak kita."
__ADS_1
Kening Jafar mengerut detik berikutnya paham apa yang dikatakan Rania. "Enggak boleh. Kamu enggak boleh berpaling dariku." ucapnya memeluk Rania dengan dagu di bahu istrinya itu.
"Aku hanya meminjamkan mu pada anak kita."
Rania membalas pelukan Jafar. Merasa beruntung di cintai pria galak dan kejam seperti Jafar. Tetapi hatinya begitu lembut padanya.
Rania sudah tahu jika Jafar adalah anak sebatang kara yang dulunya hidup di jalanan saat di Perancis dan bertemu Wido.
Sejak saat itulah Jafar mengabdikan hisupnya pada Wido walau pria itu menganggap Jafar adalah adiknya. Tetapi bagi Jafar, Wido adalah tuan nya
Pernah sekali Jafar keceplosan menceritakan awal mula Wido bertemu dengan Nadira.
Jatuh cinta pada pandangan pertama.
Tetapi setelah ia meminta Jafar bercerita lebih lanjut, suaminya itu diam tanpa meneruskan ceritanya.
Memikirkan Nadira, wanita yang sangat di manja Qenan. Ceria, tidak pernah membedakan kasta, dan suka menolong.
Itu yang ia ketahui tentang Nadira. Sangat berbeda dengan dirinya. Mungkin ia bisa seperti Nadira, tetapi jika boleh jujur. Ia sudah terbiasa hidup mewah mungkin sulit jika harus hidup di ruang lingkup orang biasa.
Dan ya, ingin sekali rasanya ia meminta maaf dan berterima kasih pada Nadira.
Wanita yang dicintai mantan suaminya.
Wanita yang sangat dicintai Qenan. Pria yang pernah ia kejar untuk menjadi miliknya.
Wanita pemaaf dan melupakan masalalu.
*Kapan kita bisa bertemu Nadira?
❤️
Bersambung..
Hai kesayangan emak..
Terimakasih sudah menjadi pembaca setia novel emak🥰
Apalah emak tanpa kalian, sayang.
Tetap setia dan nantikan setiap bab nya ya?
Oh iya, tetap dukung karya emak ini ya..
tetap like, komen, vote, dan kasih hadiah nya ya?
__ADS_1
dukungan kalian tetap emak hitung sampai akhir bulan untuk menentukan siapa 5 orang yang beruntung mendapatkan pulsa 20rb setiap pemenang nya.
Selamat menunaikan ibadah puasa🙏🙏*