Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Kakak kecil?


__ADS_3

Makan malam telah usai, Wido pamit pulang membawa istri dan anaknya kembali ke rumah. Setelah Rania di nyatakan hamil, ia memutuskan pindah dari apartemen ke sebuah rumah berlantai dua. Mereka menempati kamar di lantai dua, namun tidak di kamar utama karena kamar itu khusus untuknya.


Bahkan Rania tak boleh masuk selangkah saja ke dalam kamar utama. Mengetahui Rania hamil membuat sikapnya terhadap Rania mulai berubah.


Tidak pernah kasar.


Ia mengikuti kata Nadira untuk membuka diri dan hati untuk Rania. Hingga informasi tentang Nadira pun hanya sekedar mendengar dari anak buahnya, tidak lagi melihat foto dan video Nadira.


Tetapi cinta tak bisa di paksakan, walau ia sendiri tahu masalalu Rania yang menjadi korban kebejatan papa tirinya. Sampai ia membalaskan dendam Rania terhadap papa tirinya pun tak pernah menggetarkan hatinya.


Kecewa pada ibu Rania tentu saja, apalagi sekarang hidup mertua nya itu ia yang menanggung dan terlihat ibu mertuanya tak ada sedikitpun rasa bersalah kepada Rania.


Dengan begitu iba tetap saja hatinya tidak bergerak sedikit pun. Seperti ada sesuatu yang mengganjal ketika ingin menerima Rania masuk ke hatinya.


"Biar apa kamu menolak saat Nadira ingin membantumu?" tanya Wido sarkastik.


"Maaf mas." cicit Rania tertunduk.


"Awas aja kalau berani mengulang nya lagi. Jika itu terjadi lagi, aku tak segan-segan membuat mu dan ibumu menderita."


Di ambil anaknya dari gendongan Rania lalu dibawa ke kamar utama dimana hanya ia dan Aditya yang bisa masuk ke dalam sana.


Sedang Rania menatap nanar suami dan anaknya dengan tangan terkepal.


...****...


Seperti rencana awal, setelah makan malam bersama keluarga, Nazeef dan Dion datang ke salah satu club' malam terkenal di ibu kota.


Lampu kelap kelip menerangi bangunan itu. Musik DJ memekakkan telinga terdengar, Liukan tubuh menari-nari di atas sana dengan sangat erotis mengundang syah wat.


Di lantai dua, Nazeef dan Dion sudah di tunggu anak-anak tim basket SMA di private room. Mereka bebas malam ini karena akan menginap di rumah baru Qenan dan Nadira.


"Hai bro." sapa Heru dengan menjabat tangan Nazeef dan Dion.


Dion melihat risih ruangan itu karena sudah ada beberapa wanita malam disana, bahkan tanpa malu mereka bercumbu.


Dion menggeleng lalu meminum minuman beralkohol itu dengan santai. Selama kuliah di luar negeri membuat ia terbiasa mengkonsumsi minuman beralkohol itu, apalagi jika musim dingin tiba. Namun ia bukan lah pecandu.


Nazeef bangkit keluar meminta sesuatu pada manager club' tersebut. Manager tersebut mengarahkan pada seseorang yang selalu menyediakan apa yang di minta seperti Nazeef katakan.


"Kebetulan memang masih ada yang fresh. Dia baru satu kali pakek."


"Di jamin gak Tan?" tanya Nazeef.

__ADS_1


"Di jamin, tapi kalau mau bawa dia harus sistem kontrak."


Nazeef tampak terdiam memikirkan sesuatu. "Oke, aku mau seminggu dulu."


"Oke, uang nya transfer aja, tarifnya yang Tante bilang tadi."


Nazeef mengangguk sembari mengotak-atik ponsel lalu mengatakan sesuatu lagi. "Udah ya Tan."


"Oke ganteng, sebentar biar Tante siapin dulu."


Ia mengangguk sembari melihat orang itu pergi. Tak berapa lama kembali dengan senyum kepuasan.


"Udah siap ya, di kamar 01."


"Oke." Ia bangkit menuju kamar 01. Malam ini ia ingin melampiaskan hasrat nya karena begitu merindukan Nina.


Selama di luar negeri sudah beberapa kali mencoba menjalin hubungan namun tetap sama, Nina masih menguasai hatinya.


Di buka pintu kamar 01 tersebut. Dapat dilihat wanita belia cantik dengan gaun malam yang sek*si sedang menundukkan kepala.


Langkah kaki terus mendekat sembari membuka jaket lalu di letakkan di tepi ranjang. Duduk di sebelah wanita itu. Ia memperhatikan gelagat wanita itu yang sedang meremas ujung gaun seperti merasa gugup.


Satu alis terangkat menatap aneh wanita bayaran di sebelahnya ini. Dengan tidak sabar ia berdiri tepat di depan wanita itu keluar menengadah kan wajah wanita itu dengan jemarinya.


Matanya membola melihat siapa wanita itu. Bahkan saking terkejutnya membuat ia memundurkan langkahnya.


"Kakak kecil?"


...****...


Sedari sore Melinda sudah berada di club' dimana Tante Angel memanggil nya. Rasa takut terus berkecamuk di hati. Harap-harap cemas menanti kedatangan Rian namun tak kunjung tiba bahkan hingga tengah malam Rian tidak menampakkan diri.


Ia pasrah hingga tengah malam Tante Angel memaksa untuk melayani pelanggan. Sedari sore sudah banyak yang ingin membayarnya namun ia bersikeras untuk membayarnya dengan sistem kontrak bukan hanya sekali pakai.


Dan disinilah ia berada di kamar 01 menanti pria yang membayarnya dan harus dilayani selama seminggu ke depan.


"Kakak kecil?"


Melinda sama terkejutnya dengan Nazeef. Ada rasa tenang karena ia mengenal orang yang akan memelihara nya namun wajahnya berubah sendu mengingat Nazeef adalah sahabat Dion.


"Jelaskan kak."


Ia menunduk namun tetap menceritakan dari awal bagaimana terjerumus di dunia malam ini.

__ADS_1


"Jadi karena itu kalian nggak lagi berhubungan?"


Melinda mengangguk.


Cukup lama keduanya terdiam hingga Nazeef bangkit. "Kakak tunggu sebentar."


...****...


Nazeef memilih keluar kamar itu. Berpikir keras bagaimana ia akan melakukan hubungan suami istri dengan wanita yang masih di cintai sahabatnya? Ia tak setega itu menikam sahabat sendiri.


Tentu ia sangat tahu jika Dion masih memiliki perasaan untuk Melinda. Karena Dion adalah tipe cowok susah jatuh cinta tetapi sulit melupakan orang itu.


Ia berjalan menuju dimana Dion berada. "Ion, Lo masih sadar kan?" tanya Nazeef melihat gelas Dion sudah tandas.


"Masih, tenang aja."


"Bantu gue yuk." mohon Nazeef.


Dion menoleh ke arah Nazeef penuh tanda tanya. "Bantu apa?"


Nazeef belum menjawab karena matanya melirik teman-teman yang lain nya sedang asyik bercumbu membuat melupakan tujuan utama nya menyusul Dion.


Dion memukul kepala Nazeef hingga sang empu meringis.


"Iya sorry. Ayo ikut gue." Nazeef menarik paksa tangan Dion.


"Mau kemana bege." kata Dion mengikuti Nazeef naik ke lantai atas dimana kamar 01 berada.


"Ion, gue cuma mau bilang enggak sengaja. Batas waktu selama seminggu dan gue harap lo bisa usahain ngebebasin dia dari sini."


Dion mengerutkan dahi bingung. "Lo ngomong apa? jangan bertele-tele."


"Dia butuh lo. Tolong bebasin dia." Setelah Nazeef menjawab itu langsung membuka pintu kamar 01 mendorong Dion tanpa mendengar umpatan sahabatnya itu dan tak lupa mengunci kamar tersebut.


"Semoga mereka baikan. Dan sekarang sisa gue doang. Pulang? gue nggak mau main solo sendiri." ucapnya bermonolog sendiri membayangkan di rumah baru Qenan pasti sedang melepas rindu dengan Nadira.


"Andai lo tempat gue pulang Nina."


🌸


Bersambung..


*Eng-ing-eng.

__ADS_1


Apa yang terjadi di kamar 01?


Penasaran nggak*?


__ADS_2