
"Dira.. Kamu baik-baik saja?" tanya Wido khawatir melihat Nadira membenamkan wajah di meja itu dengan satu tangan berada di perut seperti menahan sakit.
Nadira mendongak lalu mengangguk lemah. "Aku baik-baik aja." Setelah menjawab ia keposisi semula.
"Ayo biar abang pulang." kata Wido semakin khawatir ketika mendengar Nadira meringis.
Nadira mendongak lagi melihat Wido sudah berdiri di samping nya.
"Tolong panggilin Qenan bang."
"Baiklah." Wido merogoh ponsel di saku celana lalu mencoba menghubungi Qenan namun tak terhubung.
Berulangkali ia mencoba menghubungi Qenan namun tetap sama, lalu mencoba hubungi Nazeef namun tetap sama.
"Ponsel Qenan dan Nazeef gak aktif. Mau abang antar ke rumah sakit?" tanya Wido semakin khawatir namun ia tak berani menyentuh Nadira.
"Perut Dira sa-sakit. Tolong.." Nadira mencoba berdiri karena ia tak tahan lagi dengan rasa sakit yang mendera di perutnya.
Betapa terkejutnya Wido melihat darah mengalir dari balik rok yang di kenakan Nadira ke betisnya.
"Dira.. Kamu berdarah, apa kamu sedang datang bulan?"
Sontak Nadira melihat ke arah bawah. "Bang, tolong bawa Nadira ke rumah sakit. Selamat kan a-." Belum selesai Nadira bicara tubuhnya sudah limbung dengan sigap Wido menangkap tubuh Nadira.
"Dira.. Apa yang terjadi?"
Panik.
Pastilah panik hingga membuat seorang Wido yang terkenal cekatan menyelesaikan pekerjaan berubah menjadi seseorang yang ling-lung.
"Kita ke rumah sakit, tetap lah sadar Nadira." Sebelum menggendong Nadira, ia tepuk pipi Nadira agar terus sadar walau hatinya teriris mendengar nama Qenan terus terucap dari bibir Nadira.
"Lepaskan istriku." hardik Qenan yang baru saja tiba.
Lagi-lagi Wido menjadi seseorang yang ling-lung mendengar ucapan Qenan.
Istri?
*Bugh
Bugh*
Tubuh Wido terhempas menjauh dari tubuh Nadira yang lemah.
...****...
"Qenan.. Anak kita." ucap Nadira terbata di akhir kesadaran nya.
Sepontan Qenan melihat ke bagian kaki Nadira dan sekali hentakan ia menggendong Nadira keluar ruangan.
"Siapkan mobil Nazeef." teriak Qenan membuat keadaan restoran menjadi riuh.
Nazeef yang baru saja masuk ke dalam restoran tercengang melihat keadaan Nadira ditambah teriakan Qenan membuat ia sigap mengambil langkah menuju mobil nya tadi.
__ADS_1
"Kerumah sakit Zeef cepat."
Qenan terus memeluk Nadira sesekali mengecup dahinya. Khawatir itu sangat kentara dari wajah Qenan. Di tatapnya wajah pucat Nadira semakin membuatnya merasa bersalah.
"Ku mohon kuatlah untukku Ra."
"Lo bisa bawa mobil atau gak? kenapa lama sekali mobil ini sampek Zeef?" Cecar Qenan berteriak lagi pada Nazeef.
Nazeef tak menanggapi karena ia juga panik namun harus tetap tenang. Jika saja ia membalas perkataan Qenan, bisa di pastikan ia akan babak belur dan tak sampai ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian ketika mobil mereka sampai di pelataran Rumah Sakit terdekat, Qenan langsung menggendong Nadira dan berlari menuju ruang UGD.
"please, save my wife." teriak Qenan begitu panik sebelum sampai ke dalam ruang UGD lalu meletakkan perlahan tubuh Nadira yang sudah tak sadarkan diri.
"OK. Wait outside."
Mata cokelat gelap itu menatap nanar pintu UGD yang baru saja tertutup. Berdiri mematung membayangkan keselamatan istri dan calon anak nya berada di ujung tanduk.
"Ini salah gue." ucap Qenan lirih.
Nazeef yang setia berdiri di belakang menepuk pundak Qenan. "Jangan disesali, sekarang waktunya kasih kabar ke semua orang. Jujurlah sama papa Surya boy."
Qenan diam terpaku. Lalu dengan cepat ia merogoh ponsel untuk menghubungi orang tua nya bahwa Nadira masuk rumah sakit.
Setelah menghubungi papa Reno dan menelepon seseorang yang bertanggung jawab atas Kafe Hebat untuk meminta maaf tidak dapat hadir karena istrinya masuk rumah sakit.
"Halo ma." sapa Qenan dengan suara serak.
"Boy, are you okay?"
"Katakan ada apa boy?"
"Rara masuk rumah sakit dan tadi mengeluarkan darah."
"Mama sama papa berangkat sekarang, ini papa baru pulang. Kamu tenang dulu, jaga Nadira."
Panggilan itu terputus bersamaan Papa Surya dan Wido sampai disana. Tiba-tiba ketegangan itu tercipta. Bukan dari Papa Surya namun Qenan dengan Wido.
Ia terus menatap tajam ke arah Wido. Seandainya mereka tak berdebat masalah Wido sudah dipastikan Qenan menjaga Nadira dan tak akan terjadi seperti ini.
"Apa yang terjadi Qen?" tanya papa Surya.
Saat Qenan ingin menjawab bertepatan dokter keluar dari ruang UGD.
"Keluarga pesakit?"
"Saya orangtua nya." sahut papa Surya cepat.
Dokter itu menghela nafas lalu berbicara lagi. "Anda lihat, tuan. Anak anda telah keguguran dan mesti disusuli dengan kuretase."
Deg
Mereka yang mendengar merasa jantung berhenti sejenak.
__ADS_1
"Kuretase? berarti anak saya hamil?" tanya papa Surya memastikan pendengaran nya.
Dokter itu mengangguk.
"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok." ucap Qenan lugas.
Papa Surya menatap dalam Qenan. Perasaan marah, kecewa, dan tak percaya menjadi satu dalam hatinya.
"Urus administrasi sekarang Wido." titah papa Surya dan di angguki Wido dengan wajah sendu.
"Apa maksud nya ini Qenan?" tanya papa Surya dingin.
"Seperti yang papa dengar dan itulah kenyataan nya pa." sahut Qenan tanpa ragu.
"Kamu menikahi anak papa tanpa sepengetahuan papa? dimana otak kamu Qenan?" hardik Papa Surya dengan suara menggelar.
"Jangan temui anak papa lagi." imbuhnya lagi.
...****...
Bagai tersambar petir tanpa derasnya hujan. Seakan waktu terhenti dengan suara Qenan dan Nadira terngiang di penjuru ruangan.
"Lepaskan istriku."
"Qenan.. Anak kita."
Dua kalimat itu terus terngiang di kepala Wido. Kalimat yang tidak ingin menjadi nyata. Bagaimana bisa ia kecolongan hal sebesar ini?
Pukulan di dadanya berulang kali ia lakukan. Sesak dan teriris mengetahui kenyataan yang baru saja ia dengar.
"Dira.. Ini sakit."
"Pantas aja hubungan kamu dengan Qenan begitu intim. Kenapa aku gak sadari itu Dira.."
"Aku kalah sebelum berjuang Dira.."
Cukup lama Wido menangisi cinta terpendam nya. Merasa sebagai pengecut yang tak berani menunjukkan cinta untuk Nadira.
Wanita yang sudah mencuri hati nya bertahun-tahun yang lalu.
Bukan, bukan mencuri.
Namun ia lah menyerahkan hatinya tanpa permisi pada Nadira. Gadis remaja yang sudah dewasa bahkan menjadi istri orang lain.
Di hapus air mata itu lalu bangkit melangkah menjemput papa Surya untuk ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, hatinya semakin bertambah sekarat kala mendengar dokter mengatakan harus kuretase.
Langkahnya dengan cepat untuk mengurus administrasi agar Nadira segera cepat di tangani.
Selesai itu ia segera kembali kesana. Ia merasa bingung saat melihat papa Surya mengusir Qenan dan Qenan sendiri memohon agar tetap disana menemani Nadira.
"Ada apa sebenarnya?"
🌸
__ADS_1
Bersambung..
Maaf gaes, emak sedikit sibuk hari ini.