
Tiga jam berlalu namun agaknya Nina belum ingin bangun dari tidur panjangnya. Jarum infus dengan seragam pasien runah sakit telah melekat dalam tubuhnya.
Nazeef memandangi wajah pucat istrinya dengan tatapan penyesalan. Sungguh, ia tak bermaksud membuat Nina menjadi seperti ini.
"Beb." ucapnya ketika melihat Nina mulai terbangun.
Beberapa saat mata mereka saling bertemu lalu di putuskan oleh Nina yang juga menepis tangan Nazeef sedang menggenggam tangan Nina.
Melihat sepasang suami istri itu bersitegang, dua keluarga lainnya keluar dari ruang rawat Nina.
"Beb, maaf." ucap Nazeef sesal.
"Pergilah."
"Enggak, aku mau disini jagain kamu dan anak kita."
Deg.
Nina menatap mata Nazeef seakan meminta penjelasan, tetapi agaknya ucapan Nazeed tidak ada kebohongan.
"Kamu bisa pergi, bukan kah sudah cukup puas menikmati tubuhku? pergilah." ucap Nina. Rasa kecewanya begitu mendalam pada Nazeef.
Apakah suaminya itu tidak berpikir bahwa rintangan untuk bersatu sudah mereka leeati mengapa masih mencari masalah setelah menikah?
"Maaf, tapi aku gak pernah angkat telepon atau video call nya doang, kok. Beneran, Sumpah." Nazeef mengakui apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Nina tersenyum miring. "Tapi chattinggan, kan?"
Sesuai prediksi, pasgi Nazeef melakukan itu untuk penyempurna rencananya.
"Be-beb, tapi aku balas nya cuek kok."
"Sama aja, Zeef. Kamu udah nodai pernikahan kita. Pergilah." Setelah mengucapkan itu. Nina membalikkan badan memunggungi Nazeef.
Nazeef sendiri mengusap wajah dengan kasar. Kini ia sadari kesalahan nya. Tidak seharusnya ia melakukan rencana balas dendam tanpa memberi tahukan Nina.
Apalagi mengingat perkataan dokter bahwa Nina tidak boleh setres dan akan sangat membahayakan janin yang masih rentan itu.
Sial.
Sedang Nina matanya terpejam namun sebenarnya ia tak tidur. Hanya ingin Nazeef tidak mengganggunya saja.
Tapi lihatlah, suaminya menganggap ia seperti patung yang tak memiliki perasaaan.
Di usap perut ratanya. Ia tak tahu jika tengah hamil. Hanya saja belakangan inj terasa pusing dan mual namun masih bisa diatasinya.
Berbeda dengan Nadira. Mungkin janinnya tahu jika papa nya masih berulah.
Ke esokan harinya, Nadira dan Qenan datang menjenguk. Sahabatnya itu membawa makanan.
"Ini aku bawain sarapan khusus untuk ibu hanil dan ini buah juga." Nadira meletakkan bekal yang ia bawa.
__ADS_1
"Kemana Nazeef, Nin?" tanya Nadira karena tak melihat suami sahabatnya disana.
Nina mengedikkan bahu lalu duduk bersandar dengan beberapa tumpukan bantal yang sudah Nadira buat sebelumnya.
"Masih marahan? aku juga gak tahu kalau gini akhirnya. Aku pun marah sama Qenan, tapi lihatlah suamiku itu kayak gak ada masalah." cibir Nadira melihat suaminya duduk tenang dengan ponsel di tangan nya.
"Cowok memang begitu. Ngerasa paling benar." cibir Nadira lagi.
"Mi amor, aku mendengarnya. Apa masih kurang hukuman yang aku kasih?" sahut Qenan yang tak mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Nadira menegang bahkan menelan saliva dengan kasar. Ia tak mau seperti tadi malam karena sudah marah-marah setelah Qenan menjelaskan rencana Nazeef dan suaminya itu mendukung.
Pada akhirnya sepanjang malam suaminya itu menggagahi tanpa rasa lelah.
"Ck, kalian selalu gitu. Mengakhiri masalah dengan berpacu kuda." cibir Nina karena tabu maksud dari perkataan Qenan.
"Itu enak tahu, Nin. Kamu kan tahu kalau aku hamil maunya dekat sama Qenan."
"Dan bos Qenan memanfaatkan situasi." cibir Nina lagi sembari melirik Qenan sedang mengangguk.
Obrolan berlanjut dengan Nina makan sendiri dan Nadira memakan potongan buah yang di suapi Qenan.
Hingga ruang rawat itu mendadak hening karena kedatangan keluarga Alexander.
❤️
__ADS_1
Bersambung...