Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Pergi ke Paris


__ADS_3

Sebulan berlalu, kini Nazeef akan membawa Nina ke Paris. Sesuai rencana awal, selama ini ia menyembunyikan semuanya secara apik.


Beruntung memiliki istri seperti Nina yang tidak banyak menuntut apalagi curiga padanya. Padahal, jika dipikir-pikir dirinya ini patut di curigai apalagi masalalunya yang sangat dekat dengan wanita.


Jangan tanyakan bagaimana kejadian bulan lalu. Keesokan harinya, Qenan dan Dion datang ke ruangan nya membawa empat buah durian.


Mereka sengaja membawa durian itu ke ruangan Nazeef karena mereka tahu bahwa ia tak suka bahkan membenci buah berbau itu.


Bahkan Qenan sengaja mengikat kedua tangan Nazeef di kursi kebesaran agar tidak pergi kemana-mana.


"Rasain, lo."


"Please boy, Ion. Gue mau muntah, sumpah." mohon Nazeef sembari menahan mual.


Bukan hanya di kantor, ketika Nina kuliah, mereka berdua datang ke apartemen Nazeef langsung melesat masuk ke ruang kerja Nazeef untuk meninggalkan jejak bau dari buah durian.


Pada akhirnya Nazeef tidak bisa menggunakan ruang kerja nya dan harus mual setiap mencium bau buah durian


...****...


"Zeef, aku takut papa kamu nggak suka sama aku."


Nazeef tersenyum. "Aku nggak butuh restu dari mereka. Tenang ya, kita disana enggak sendiri. Papa Reno dan mama Sinta juga datang. Qenan dan Nadira juga ikut."


Nazeef membiarkan Nina bersandar pada dadanya memberikan rasa aman dan nyaman bersamaan.


Kini mereka berada di pesawat yang hendak membawa mereka terbang ke Paris. Pikiran nya melayang di kota romantis itu.


Persiapan pesta pertunangan nya dengan Risa sudah selesai dan akan di laksanakan malam setelah ia sampai.


Tetapi siapa yang tahu jika pesta itu akan ia sulap menjadi pesta pernikahan nya dan kehancuran ibu tiri dan adik tirinya itu.


Sekali lagi ia sadari betapa miris kehidupan nya, tidak pernah diperdulikan papa kandung nya sendiri. Untuk apa uang mengalir setiap bulan nya jika bertanya kabar saja tidak pernah.


Beruntung keluarga Abraham mau menampung nya. Bahkan mama Sinta tidak pernah membedakan ia dengan Qenan dalam memberikan kasih dan sayang.


Ia sangat ingat dahulu ketika mereka masih Sekolah Menengah Pertama, waktu itu ia dan Qenan harus menjalani hukuman dari papa Reno karena ikut tawuran melawan anak Sekolah Menengah Atas.


Selama sebulan tidak boleh menggunakan fasilitas yang di berikan, mama Sinta lah menjadi malaikat penolong mereka.

__ADS_1


Walau itu hanya sampai di Sekolah Menengah Pertama dapat bermain layaknya anak remaja laki-laki lain nya.


Karena ketika memasuki Sekolah Menengah Atas, mereka berdua sudah di hadapkan bagaimana memajukan usaha kaos berlogo A tersebut.


Tidak ada yang tahu jika dahulu mereka sering pulang sekolah berjalan membawa kaos satu tas ransel untuk di tawarkan ke orang yang ada di sepanjang jalan.


Hingga sekarang usaha kaos tersebut telah memiliki dua pabrik konveksi, beribu reseller. Sedang Kafe Hebat, berawal dari satu kafe yang sepi dan mereka harus promosi via internet juga.


Semua dari tangan mereka berdua hingga sampai sesukses ini di usia muda. Di tambah pabrik makanan milik Qenan menambah penghasilan mereka.


Tanpa malu ia dan Qenan mengajukan proposal di setiap restoran dan Kafe-Kafe untuk menerima makanan buatan pabrik Qenan. Bos nya itu sangat yakin harga jual yang murah dan kualitas produk itu adalah faktor utama masyarakat untuk membeli sesuatu.


...****...


Di kursi penumpang lain, Nadira bersandar di dada bidang Qenan sedang tangan suaminya itu tengah mengelus perut Nadira yang sudah menonjol sedikit.


Ia senang akhirnya dokter Ghading mengizinkan untuk ikut ke Paris. Sudah lama ia ingin ke kota romantis tersebut.


"Kenapa nggak tidur, hm?"


Nadira mendongak lalu tersenyum. "Aku enggak sabar pengen lihat kota Paris."


Nadira yang memang sudah mengantuk hanya mengangguk lalu memejamkan mata. Tak butuh lama Nadira tertidur karena sedari tadi ia sudah menahan kantuk.


Qenan sendiri masih terjaga membayangkan masa depan. Memang tak bisa di prediksi, tetapi ia sudah membuat rencana hidup keluarga kecilnya.


Ia dan Nadira sepakat memiliki anak minimal dua orang. Karena mereka merasa sendiri itu tidak enak.


Mulai sekarang harus ekstra menjaga Nadira apalagi wanita itu masih kuliah seperti biasa. Dan sekarang ia mulai memakai jasa sopir karena pekerjaan nya menuntut untuk kehadiran nya.


Nadira, betapa berharganya dirimu di hidupku.


Di kecup pucuk kepala Nadira lalu ia peluk erat tubuh wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.


...****...


"Pa, nggak nyangka ya kedua anak kita sudah menikah. Sama kayak kita dulu, nikah muda." celetuk mama Sinta yang duduk di belakang kursi Qenan dan Nadira.


"Ya." jawab papa Reno singkat.

__ADS_1


"Ayolah, kenapa masih marah?"


"Mama nyebelin, kenapa harus ikut mereka satu pesawat? kita bisa naik jet pribadi biar ngamar."


Mama Sinta melotot langsung mencubit pinggang suaminya itu. "Ngamar mulu, udah tua juga. Bahkan udah mau punya cucu."


"Sakit, sayang." keluh papa Reno mengusap-usap pinggangnya karena cubitan dari istrinya.


"Sayang, ngamar itu nggak harus muda. Buktinya mama selalu keenakan."


Mama Sinta mendengus lalu merubah duduknya membelakangi papa Reno. Sungguh malu harus membicarakan hal itu di usia yang sudah tak muda lagi.


"Ma, sini lihat papa dong." bujuk papa Reno.


Berulangkali papa Reno membujuk rayu tetapi tidak ada respon sama sekali. Padahal ia yakin istrinya itu masih terjaga.


"Ya udah kalau nggak mau, papa cari istri baru yang lebih muda aja." canda papa Reno.


Dan benar saja, mama Sinta langsung menoleh ke arahnya dan dengan tatapan tajam. Hal itu berhasil membuat bulu kuduk papa Reno berdiri.


"Ya udah sana cari istri baru, keluar dari rumah tanpa bawa apapun. Lupa kalau hasil kerja kita itu milik boy?"


Papa Reno menelan saliva dengan kasar. Maksud tujuan hanya bercanda malah membuat istrinya marah.


"Papa cuma bercanda."


"Asal papa tahu aja, mama juga masih bisa cari suami baru. Berondong ganteng."


"Enak aja, nggak ada yang boleh. Mama cuma punya papa." Papa Reno memeluk mama Sinta dengan posesif. Ia tahu istrinya itu masih terlihat muda dan cantik di usia empat puluh lima tahun.


Apalagi memang sedari muda istrinya banyak di sukai kaum Adam membuat ia sangat cemburu.


"Baru di bilang begitu aja sudah takut, tapi papa udah ngancam mama begitu."


"Maaf. Oke nggak ada lagi. Papa nggak mau mama lihat pria lain. Cukup dahulu aja Qenan rebut perhatian mama dari papa."


Mama Sinta hanya menggeleng melihat suaminya hingga sekarang masih cemburuan. Itu makanya ia selalu ikut kemanapun suaminya pergi walau selalu di sibukkan dengan rancangan gaun-gaun pesanan orang.


🌸

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2