
Bosan berkeliling tak tentu arah akhirnya Dion memutuskan untuk menghampiri kedua sahabat dan kakak tirinya. Setidaknya ia akan menggangu kakak ipar untuk menghilangkan rasa sepinya.
Brakk..
Mobil Dion tertabrak sesuatu saat baru saja terparkir di parkiran Kafe Hebat. Buru-buru ia keluar mobil melihat siapa yang sengaja menabrak mobilnya.
Ia melihat seorang cewek terduduk sedang meringis sembari memegang lutut.
"He.. Ngapain lo nabrak mobil gue?" tanya Dion ketus.
Cewek itu pun mendongak langsung terkesima dengan ciptaan Tuhan paling tampan. Bahkan mulutnya sedikit menganga menatap Dio dengan tatapan memuja.
Dion sendiri sudah mengibaskan tangan di depan wajah cewek itu namun berkedip saja tidak. Dia terus saja menatap Dion.
"He.. Lo budek ya?"
"Oppa..." ucap cewek itu tetap menatap memuja sama hal nya fans bertemu langsung dengan idula nya.
"Gimana kaki lo?"
Belum sempat cewek itu menjawab, suara Nadira menghentikan pembicaraan mereka.
"Dion.." panggilnya lalu Nadira mengalihkan pandangan mengarah ke cewek yang masih terduduk menatap kagum pada Dion.
"Loh Elin.. Lo kenapa?" tanya Nadira melangkah membantu Melinda untuk berdiri.
Di bantu Nadira berdiri membuat Melinda meringis. "Apa sakit banget?" tanya Nadira.
"Tadi iya, tapi udah membaik abis lihat oppa Cha Eun-woo." sahut Melinda malu-malu.
Nadira dan Dion mengerutkan dahi. Nadira tahu betul artis Korea tersebut, ketampanan nya tak bisa di ragukan lagi.
"Dimana oppa Cha Eun-woo Lin? aku juga mau ketemu sama dia." tanya Nadira mengedarkan pandangan.
Melinda menoel Nadira lalu memberi isyarat melalui dagunya kearah Dion sembari tersenyum malu-malu.
Nadira melihat kearah Dion masih diam membisu menatap kearahnya dan juga Melinda memperhatikan penampilan Dion dengan kaos putih polos dan celana sekolahnya, tatanan rambut sangat mirip seperti oppa-oppa Korea.
Astaga adikku.
"Kita masuk aja yuk.." anak Nadira kepada dua orang tersebut.
Ia memapah Melinda masuk ke dalam karena lutut sedikit memar.
"Oppa.. Bantuin.." rengek Melinda merentang kedua tangan ke arah Dion.
Dion menatap Melinda dengan tatapan sulit di artikan, namun satu alis terangkat melihat penampilan dan kesan pertama saat bertemu dengan Melinda.
Sangat berisik. Aku kesini mau buat Qenan panas kenapa aku yang panas duluan. Ya panas karena keberisikan ini cewek.
"Dion.." tegur Nadira karena melihat tatapan adik tirinya seperti tak bersahabat.
__ADS_1
Dion berdecak tetapi mengambil alih apa yang dilakukan Nadira. Tetapi lihatlah kelakuan cewek yang baru ditemuinya.
Mengapa harus memeluknya dari samping sambil berjalan? Padahal tadi cewek itu tidak begitu saat di papah Nadira.
Sialan.
"Oppa wangi deh." Celetuk Melinda mengambil kesempatan untuk menghirup tubuh cowok yang membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Diem atau gue tinggal lo disini." Dion mendadak geram namun tetap membantu Melinda masuk ke dalam kafe. Mau bagaimana pun rasa tanggung jawab menyelimuti diri karena Melinda terluka akibat menabrak mobilnya.
Melinda mendongak melihat wajah imut Dion. "Oppa kalau marah tambah ganteng." celetuknya sembari tersenyum.
Nadira yang berada di belakang mereka hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Melinda. Ia akui hari pertama mengenal cewek itu namun dia bisa mendekatkan diri pada dirinya dan Nina, sekarang malah mendekati adik tirinya.
"Cewek baru bro?" tanya Nazeef ketika melihat Dion tengah merangkul Melinda sedangkan yang di rangkul memeluknya dari samping.
Dion berdecak tanpa menjawab duduk di sebelah Nadira karena Qenan belum ada disana.
"Elin sama siapa?" tanya Nina baru tiba di meja mereka.
"Sama oppa Cha Eun-woo." jawabnya santai senyum-senyum menatap Dion.
"Oppa Cha Eun-woo?" tanya Nina membeo.
"Sama adik gue Na.." bukan Dion yang menjawab melainkan Nadira.
Nina langsung tertawa diikuti Nadira apalagi melihat Dion sedari tadi memasang wajah kesal. Bukan apa-apa, baru kali ini ia temukan cewek seberisik dan terlalu blak-blakan pada orang.
"Oohh jadi oppa adiknya kak Nadira.. Waahh aku bakalan jadi adik ipar kak Nadira dong.." ucap Melinda girang.
"Adik ipar? Mimpi." sarkas Dion lalu mencari keberadaan Qenan.
"Qenan mana Ra?" bisik Dion.
"Masih mandi." jawabnya juga berbisik saat ini mereka berada di ruangan Qenan.
Tiba-tiba sepasang tangan menjauhkan kedua kepala kakak beradik itu agar berjarak lebih jauh. Lebih tepatnya kepala si adik yang ia jauhkan.
Siapa lagi kalau bukan Qenan Abraham sang pemilik Rudal Amerika.
"Gak usah deket-deket." cegah Qenan.
Yang ada di meja itu hanya memutar bola mata malas jika keposesifan Qenan melanda. Hanya Melinda yang menatap Qenan yang entah namun terlihat ia berulangkali menelan saliva dengan kasar.
"Pindah lo." titah Qenan.
Dion menggeleng kepala. "Males ah, lo sebelah kiri kakak gue aja gih jangan buat rusuh."
"Gue gak mau."
Dion pun berdecak lalu bangkit dengan terpaksa duduk di sebelah Melinda karena sofa di depan nya sudah ada Nazeef dan Nina.
__ADS_1
Makanan sudah tersedia di atas meja. Ini adalah masakan Nadira karena Qenan yang meminta tadi setelah selesai bercinta. Yang pastinya menyediakan makanan kesukaan Dion.
Diam-diam Qenan mencuri kecupan di pipi Nadira saat mengambil makanan untuk Qenan namun bukan curian namanya jika orang yang di dalam ruangan itu melihatnya.
"Gue pun akan lakuin itu kalau sama orang yang gue cinta." gumam Nazeef sembari mengambil makan nya sendiri.
Nina mendengar itu pun tersenyum miring sembari menjawab dalam gumaman juga. "Ya dan lo lakuin itu sama Risa dan cewek-cewek lo yang lain."
Nazeef menghentikan apa yang sedang ia lakukan lalu menatap Nina Dangan tatapan sendu, mengakhiri hubungan dengan banyak cewek ternyata sangat sulit hingga ia belum bisa membuktikan cinta nya.
Di tambah ia yang tidak bisa menahan godaan.
Bolehkah aku berharap padamu Nina.
Ia lantas menghirup udara dalam-dalam melanjutkan makan siang nya.
Sedang di seberang sofa Nazeef dan Nina. Melinda begitu antusias memandangi Dion yang sedang makan. Bahkan dagunya sudah berpangku di kedua tangan nya saking bahagianya melihat Dion.
"Oppa tambah ganteng kalau lagi makan."
Dion menghentikan suapan menatap jengah pada Melinda. "Makan lah, lo gak akan kenyang cuma natap gue gitu." tanpa sadar mulutnya mengeluarkan kalimat perhatian.
Sialan mulut gue. Pasti dia kegeeran.
"Oke, oppa perhatian juga." ucapnya kegirangan langsung mengambil makan siang nya.
Jangan ditanya sepasang suami-istri muda itu. Tentulah sang suami tidak perduli dengan sekitar. Ia makan dalam diam dengan menatap sang istri saat menyuapi dirinya.
Begitu telaten.
"Dion.. Apa gue bisa gak ikut ke puncak?" tanya Qenan.
"Bisa tapi nilai praktek lo pasti nihil. Ingat walau bokap lo pemilik yayasan tapi papa Reno selalu bilang ke semua guru perlakukan lo sama seperti yang lain selain lo ada kunjungan ke tempat usaha lo." sahut Dion.
"Kamu mau pergi?" tanya Nadira.
Qenan mengangguk lemah.
Nadira tersenyum melihat reaksi Qenan ada rasa tak ingin ditinggal namun harus memahami jika Qenan pergi karena itu demi nilai sekolah.
"Berapa hari?"
"Mungkin dua hari. Kamu pulang kan hari ini? pulang ya.. Kalau aku pergi baru boleh nginap di rumah papa Surya."
"Oke. Ini buka lagi mulut nya.. Suapan terakhir untuk kamu si pemilik Rudal Amerika." Nadira berbisik di akhir kalimat.
"Iya dan cuma kamu yang boleh menggunakan nya." jawab Qenan membuat Nadira tertawa dan membuat empat orang lain nya merasa bingung.
🌸
Bersambung...
__ADS_1