
Sang malam mulai merangkak ke pagi. Langit suram mulai memudar karena sapuan lembut dari cahaya mentari. Kicauan burung terdengar menemani setiap insan untuk memulai harinya.
Suara hentakan kaki yang lemah melangkah keluar kamar mandi. Mendatangi sang suami yang sudah tampak gusar sedari tadi.
"Qenan.." panggil Nadira lirih.
Qenan yang sedang menunduk langsung menegakkan kepala menatap Nadira yang sedang mengikis jarak diantara mereka.
Nadira memberikan 5 alat test kehamilan kepada Qenan.
Qenan terus memperhatikan satu persatu alat test kehamilan yang dibeli tadi malam saat di restoran dengan seksama. Lima alat test kehamilan dengan berbagai jenis. Dari yang digunakan dengan cara di celupkan ke dalam air seni yang ditampung ke wadah, ada yang di teteskan ke alat tersebut dan ada alat test kehamilan digital.
Semua menunjukkan dua garis merah dan kata 'YES'.
"Kita bakal jadi orang tua Ra.." ucap Qenan lirih dengan mata memerah.
Ia merasa bahagia dan sedih dalam waktu bersamaan.
Qenan beralih menatap Nadira yang sudah terisak di depan nya. "Kenapa menangis hem?" tanya Qenan mendekap sang istri.
"A-aku hamil Nan.."
Qenan menghela nafas panjang sembari mengusap kepala Nadira dengan sayang, mau bagaimana hati nya berkecamuk saat ini, ia harus bisa mengendalikan diri agar tetap terlihat baik-baik saja di depan Nadira.
"Iya, selamat ya istriku.."
"Gimana dengan mu Qenan.. Aku gak mungkin bebankan sekolah mu?"
Qenan terus mengusap rambut Nadira dengan sayang, sekali lagi ia harus terlihat baik-baik saja di depan Nadira.
"Tenanglah, sebentar lagi sekolah ku selesai bukan? kamu jangan khawatir.. Aku akan menyelesaikan semua nya."
"Gimana dengan papa?" tanya Nadira mendongak menatap Qenan yang juga tengah menatapnya.
Qenan mencoba tersenyum. "Tenang ya, hari ini aku akan katakan semuanya pada papa Reno dan papa Surya. Sekarang bersiaplah, kita harus periksa kandungan kamu."
"Kamu gak sekolah?"
"Kayaknya gak deh, aku lebih pengen lihat anak kita daripada sekolah, apalagi mengunjungi nya sekarang." goda Qenan menaik turunkan kedua alisnya.
Nadira terkekeh lalu melayangkan pukulan ringan di lengan Qenan. "Dasar omes."
Aku tahu kalau kamu sedang tertekan sekarang, maaf kalau aku hamil di waktu tak tepat begini Qenan. ucap Nadira dalam hati.
"Ayo kita bersiap, kamu mau sarapan apa?" tanya Qenan mengurai pelukan.
"Aku pengen makan kamu sebenernya, tapi waktu mepet jadi telur dadar aja deh." sahut Nadira enteng sembari memilih pakaian yang aja ia kenakan.
Qenan tampak diam memikirkan sahutan Nadira, otak nya seakan lambat bekerja saat ini.
"Oh ya ampun, kamu baru aja godain aku Ra?" tanya Qenan melangkah menghampiri Nadira memeluknya dari belakang.
Nadira tak menjawab namun tawa nya adalah jawaban untuk Qenan.
__ADS_1
"Qenan.. Kenapa di hisap gitu sih? kayak drakula tahu gak." sungut Nadira ketika merasakan lehernya di hisap Qenan.
"Iya aku akan jadi drakula kalau sama kamu aja." jawab Qenan santai mengusap hasil hisapan nya yang sudah berubah warna merah kebiruan.
"Udah geli Nan.. Katanya aku disuruh siap-siap." gerutu Nadira mulai kesal.
"Baiklah Tuan putri.."
Akhirnya Qenan membiarkan Nadira bersiap sedang ia sendiri sudah rapi dengan setelan casual nya.
Selesai bersiap, Qenan mengajak Nadira untuk sarapan di restoran yang ada di lantai satu apartemen tersebut kemudian menuju rumah sakit.
Tiba di rumah sakit, Qenan langsung mendaftarkan nama Nadira ke meja resepsionis untuk di periksa oleh dokter SpOG. Dokter Dewi namanya.
Banyak pasang mata yang perhatikan mereka karena masih sangat muda dari yang lain. Bahkan terdengar jelas cibiran dari para pasien lain nya.
"Masih *kecil udah hamil."
"Pasti hamil duluan pasti itu."
"Ya ampun, apa mereka gak malu hamil di luar nikah?"
"Gimana orang tua nya kalau tahu anak mereka hamil?"
"Gak tahu malu, ini karena pergaulan bebas pasti*."
Qenan mendekap erat tubuh Nadira, seolah memberi perlindungan untuk sang istri. Ia tahu jika mereka berdua sangat tertekan karena kehadiran calon sang buah hati di waktu yang kurang tepat menurut mereka.
Nama Nadira terpanggil berarti sekarang waktu mereka untuk memeriksa kehamilan Nadira.
"Pagi.." Nadira balik menyapa dengan senyum canggung sedang Qenan masih setia dengan wajah datar nya.
Dokter Dewi menanyakan HPHT Nadira, keluhan-keluhan yang di alami Nadira selama kehamilan. Nadira pun menjawab malu-malu karena ada Qenan di ruangan itu.
"Pasangan muda, udah berapa lama nikah nya?"
"Hampir 4 bulan dok." sahut Nadira kikuk.
"Jangan bilang dokter juga mengatai kami hamil di luar nikah." kalimat itu keluar dari mulut Qenan dengan tatapan tajam mantap sang dokter.
Dokter Dewi tampar tersenyum ramah seperti awal mereka masuk. "Enggak kok, ayo Nadira baring di brankar biar saya periksa."
Nadira menuruti naik ke atas brankar dan seorang perawat menyingkap kaos Nadira namun di hadang Qenan.
"Kenapa di buka sus?"
"Ya harus di buka agar di USG."
"Tanpa di buka bisa gak?" tanya Qenan merasa tak terima perut Nadira di lihat orang lain.
Nadira kesal melihat itu langsung melayangkan bogeman di lengan Qenan membuat sang empunya kebingungan.
"Di USG itu harus langsung di perut ku Qenan.. Jangan posesif di waktu yang gak tepat deh."
__ADS_1
"Iya-iya." Qenan membiarkan perut Nadira di buka dan di lihat orang lain. Walau yang melihat adalah seorang wanita namun ia tak berani protes lagi.
"Selamat! Kehamilan kamu sudah memasuki usia 4 minggu alias satu bulan. Di usia kehamilan ini, ukuran bayi sudah semakin berkembang lagi. Organ-organ tubuhnya pun mulai berfungsi."
"Pada minggu keempat usia kehamilan, janin kalian berukuran sebesar biji bayam atau biji kacang hijau, yaitu sekitar 2 milimeter. Secara teknis, janin di dalam kandungan kamu sudah bisa disebut sebagai embrio. Embrio terdiri dari dua lapisan sel yang akan berkembang menjadi organ dan bagian tubuh bayi kalian. Dua struktur lainnya yang juga berkembang pada masa ini adalah amnion dan yolk sac."
Dokter Dewi menjelaskan secara detail walau kedua sepasang suami istri itu saling menatap dengan wajah bingung.
"Di kehamilan sekarang ini jangan kaget ya kalau payu dara kamu akan terasa nyeri seperti saat menstruasi tapi ini lebih nyeri."
"Iya aku juga ngerasa gitu dok, aku kirain karena mau datang bulan." celetuk Nadira membuka suara.
"Kok gak pernah cerita Ra?" tanya Qenan yang baru tahu keluhan sang istri.
"Gimana mau kasih tahu, kamu nyosor mulu." jawab Nadira sewot tanpa sadar membuat dokter Dewi dan suster terkekeh pelan.
"Oh iya dok, apa udah bisa denger detak jantung nya?" tanya Nadira.
"Di usia kehamilan sebulan atau 4 minggu setelah terjadinya pembuahan, umumnya detak jantung janin belum bisa terdengar meskipun jantung sudah mulai berkembang. Perlu diketahui, di tahap perkembangan ini, sebuah tabung hati yang menjadi cikal bakal jantung janin akan membelah untuk membentuk dua bagian, jantung dan katup."
"Pada minggu ke-5 kehamilan biasanya suara detak jantung janin sudah mulai bisa terdengar."
Jawaban dokter Dewi membuat kecewa Nadira, sangat kentara dari penglihatan Qenan.
"Minggu depan kita kesini lagi, jangan sedih gitu." Qenan mencoba menghibur Nadira walau dirinya juga butuh hiburan saat ini.
Nadira tersenyum lalu mengangguk. Nadira bangkit setelah suster membersihkan sisa gel di perut nya. Dokter juga memberikan beberapa vitamin dan obat anti mual jika Nadira mengalami nantinya.
Qenan merangkul Nadira sampai ke parkiran, membuka kan pintu mobil untuk istri dan ibu untuk calon anaknya kelak.
"Ada pengen sesuatu?" tanya Qenan.
Nadira menggeleng. "Aku hanya pengen tidur Nan.."
"Kamu gak kuliah?" tanya Qenan.
"Ada, siang nanti jam 10. Bangunin ya.."
Qenan mengangguk lalu melajukan mobil menuju apartemen nya. Untuk saat ini ia mementingkan kesehatan Nadira dan calon anak mereka. Siang nanti setelah Nadira pergi kuliah, ia akan mendatangi papa Reno lebih dahulu untuk menceritakan segalanya.
Jangan di tanya seberapa beratnya yang dilalui Qenan. Menjadi dewasa itu sangat berat. Bukan hanya cara berpikirnya yang dewasa namun tindakan juga itu sangat sulit.
Hingga beban itu bertambah karena kehamilan Nadira. Bukan ia tak senang, tetapi ia khawatir mereka berdua belum siap menjadi orang tua. Mau bagaimana pun dewasa nya seseorang pasti adakalanya ia ingin seperti pasangan muda-mudi di luar sana yang hura-hura tanpa perlu di repot kan oleh seorang anak.
Jangankan berpikir adanya anak atau istri lebih dahulu. Sebelum ia mengenal dan menikah dengan Nadira. Qenan sering merasakan yang namanya nongkrong dengan teman-teman nya, atau tidak sekedar clubing menikmati alunan musik yang menyentakkan jiwa.
Namun sekali lagi ia katakan, itu bukan dunia nya. Ia akan pergi ke club' jika bersama dengan Nazeef hanya karena urusan bisnis dan pernah beberapa kali di ajak Nazeef untuk happy-happy walau pada akhirnya ia di tinggal sendiri.
Tapi itu dahulu sebelum menikah dengan Nadira, wanita pertama setelah sang mama.
"Aku mencintaimu Ra.."
🌸
__ADS_1
Bersambung..