
Siang itu, setelah mengantarkan Nadira pergi kuliah Qenan langsung melesat ke tempat yang sudah lama sekali tak ia kunjungi.
Di sebuah desa pinggiran ibu kota, jauh dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Udara sejuk menenangkan jiwa.
Sudah dua jam ia duduk dengan tatapan lurus bak anak panah yang akan menancap pada bidikan.
Hisapan demi hisapan pada benda kecil berzat nikotin terus ia lakukan. Pikiran nya kalut seperti benang kusut yang sulit menemukan ujung dari kedua sisi.
Tak ada ujung.
"Nadira hamil." ucapnya setelah lama berdiam dengan kedua sahabatnya yang menanti jawaban.
Kedua sahabatnya itu tampar terbelalak tak percaya.
"Kok bisa hamil?" tanya Nazeef, pertanyaan yang tak harus di jawab.
Dion menimpuk kepala Nazeef hingga membuatnya meringis.
"Bege! ya hamil lah, Kan itu bibit di tuai ke lahan subur kakak gue." Mendadak Dion jadi kesal pada Nazeef.
"Bibit? di lahan subur apa maksud nya?"
"Astaga.. Memang bener lo ya.. celap-celup aja tahu nya tapi gak tahu perumpamaan yang gue bilang."
"Dan lo Qen.. Gimana bisa sampek kebablasan gini? Lo tahu kan papa gue gimana?"
"Ya, karena itu gue bingung." jawab Qenan terus menghisap rokok lalu menyemburkan asap itu.
"Lo udah bilang papa Reno Qen?" tanya Nazeef dan dijawab gelengan kepala dari Qenan.
"Papa Reno gak ada di kantornya, tadi gue udah telepon nanyak posisi papa dimana."
"Tapi seru loh kalau lo punya anak, hot Daddy." ledek Nazeef mendapat timpukan dari Qenan dan Dion bergantian.
"Sakit bege.."
"Ini bukan waktunya untuk bercanda Zeef. Ini masalah serius, dan lo harus tegas Qen, status kakak gue jangan di gantung. Buktikan kalau lo bener-bener serius sama kakak gue."
Qenan menatap tajam ke arah Dion, ia merasa tersinggung dengan ucapan adik iparnya kali ini.
"Jadi lo pikir gue gak serius sama Rara gitu? kalau gue gak serius sama dia mungkin sekarang dia udah jadi janda di umur muda setelah gue pakek."
"Dan lo harus tahu kalau gue juga udah coba ngomong sama bokap lo tapi apa? bokap lo selalu gak kasih gue kesempatan untuk ngomong."
Dion juga sepertinya terpancing emosi atas ucapan Qenan. "Maksud lo apa ngomong gitu? Lo niat mau ninggalin Nadira setelah dia hamil gitu?"
Semakin tersulut emosi Qenan bangkit langsung menarik kaos Dion hingga ikut berdiri, bahkan kini kakinya jinjit terangkat dengan satu tangan Qenan dan satu tangan lagi sudah tergenggam siap melayangkan bogeman di wajah imut Dion.
Nazeef ikut berdiri mencoba melerai keduanya. "Boy udah, ayo kita selesaikan masalah ini bersama."
Namun Qenan tetaplah Qenan. Ia juga manusia biasa yang bisa saja merasa bahwa dirinya tak bisa apa-apa dan sekarang ia menginginkan pelampiasan.
Bugh
Dion tersungkur ke lantai akibat bogeman dari Qenan. Ujung bibir Dion tampak mengeluarkan darah segar disana.
"Asal lo tahu gue sayang dan cinta sama Nadira jauh sebelum kalian tahu kalau Nadira itu bagian dari keluarga Wijaya. Dan gak usah sok nasehatin gue kalau lo sendiri masih bego karena cinta." sergah Qenan mesin menatap Dion yang terduduk di lantai mengusap darah di ujung bibirnya lalu mendongak menatap Qenan tak terima dengan perkataan Qenan.
__ADS_1
"Apa? gak terima? ya lo memang bego. Karena cinta lo mau di bego-begoin Rania. Lo kira gue gak tahu selama ini kalau lo itu tempat pengaduan Rania? Lo masih aja cinta sama dia padahal dia udah berlaku kasar sama kakak lo dan lebih bego nya lagi biarin seseorang yang terang-terangan serahin hatinya untuk lo."
Nazeef bingung harus apa sekarang bahkan ia lebih terlihat frustasi daripada kedua sahabatnya. Ia sangat tahu bagaimana Qenan jika sudah emosi dan ia berharap Dion tak menjawab segala ucapan dari Qenan. Jika di jawab maka habislah sudah.
Qenan membenci akan hal itu.
Dering ponsel Qenan melihat nama 'Rara❤️' langsung membuat ia menarik nafas dalam-dalam lalu menggesek icon telepon berwarna hijau.
Ia berbalik membelakangi Nazeef dan Dion.
"Hallo Ra.."
"Hallo Qen.."
"Kamu dimana kok rame?" tanya Qenan.
"Aku di mall."
"Di mall? ngapain? aku kesana ya?"
"Iihh jangan dong.. Aku sama Nina dan Elin masa kamu ikut. Mana seru."
"Sayang, ingat kamu hamil loh.. Aku kesana ya."
"Jangan Qenan.. Mending kamu bilang aku sayang kamu ke aku."
Qenan terkekeh mendengar itu, emosi yang meluap tadi seakan sirna hanya karena seorang Nadira.
"Apa ini termasuk ngidam?"
Nadira tertawa disana. "Entahlah, tapi aku suka denger kamu bilang itu."
"Makasih, udah dulu ya.. bye Daddy."
Deg!
Kata 'daddy' membuat pacuan jantung itu terpompa lebih cepat. Panggilan untuk nya dari sang istri membuat hatinya menghangat.
Ia pandang wallpaper foto Nadira di ponselnya, di usap dengan senyum di bibirnya.
"Kapan papa Surya balik ke Indonesia?"
"Bulan depan." jawab Dion singkat.
...****...
Di salah satu pusat perbelanjaan di ibukota.
Kini Nadira dan kedua sahabatnya, Nina dan Melinda tengah berada di store pakaian wanita. Bukan merk branded melainkan bajakan yang mengadakan diskon besar-besaran.
"Itu diskon 75 persen. Kesana aja yuk.." ajak Nadira setelah memutuskan panggilan telepon pada Qenan.
"Yuk ah.."
Saat Nadira hendak ikut berlari, langkah nya terhenti mengingat ada janin di rahim nya.
"Maafin mommy.." ujarnya sembari mengusap perut ratanya sembari tersenyum.
__ADS_1
Ketiganya memilih pakaian-pakaian yang mereka inginkan. Dengan harga diskonan pastinya.
"Dir, banyak betul baju pilihan lo." kata Nina.
Nadira nyengir kuda. "Gue juga gak nyadar, tahu-tahu udah banyak aja."
"Istri sultan."
Ketiganya tertawa bersama menuju meja kasir. Mereka menunggu seorang kasir yang tengah menghitung belanjaan merek.
"Semuanya Rp1.824.000 ya mbak.." ucap kasir dengar ramah.
"Banyak banget Dir." bisik Nina.
Nadira tak menjawab hanya senyum saja. "Itu udah sama diskonan nya mbak?"
"Udah kak.."
"Oh oke, ini." jawab Nadira menyerahkan kartu kredit platinum pemberian Qenan.
Setelah membayar semua belanjaan kini mereka berada di store kaos milik Qenan yang pernah Nadira kunjungi bersama Qenan.
"Kita mau ngapain lagi Dir?"
"Kalian gak pengen gitu beliin para lelaki kita?" tanya Nadira yang masih berada di depan store kaos tersebut.
Tanpa menjawab keduanya menarik kedua tangan Nadira untuk masuk kesana.
Mereka terus asyik berbelanja tanpa tahu orang yang mereka maksud tengah dilanda tekanan batin karena satu masalah yang akan sulit mencapai ujung nya.
Selesai berbelanja untuk para pemuda kesayangan mereka akhirnya memilih untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali pulang.
🌸
Bersambung..
Gimana? udah siap baca part dimana Qenan mengaku kepada papa Reno?
Oh *iya ada yang komen bilang males baca karena Nazeef nya suka main sama cewek.
Punten kak 🙏🙏
Di novel ini aku ceritain 3 kisah cinta loh.. masak mau aku buat karakter ketiga cowok nya sama? ya gak enak toh?
- Qenan yang tegas dan lebih dewasa dari Nazeef juga Dion. Gak suka neko-neko, selalu mengambil keputusan setelah berpikir panjang. Jika sedang marah tidak suka di jawab jika dia sedang berbicara.
Sebenarnya paling gak suka sama pelajaran sejarah, selain banyak menghafal dan juga sering mengantuk di saat pelajaran berlangsung. Gak banyak bicara selain dengan orang yang di anggap nya penting.
- Nazeef yang terlihat santai tapi selalu fokus pada pekerjaan. gak suka pelajaran sejarah karena guru dan hafalan nya.
Masalah percintaan jangan di tanya, hanya Nina yang berhasil mengetuk hatinya tapi sayang tak terbalaskan.
Jangan di tanya masalah ranjang, itu anak baru gede udah tahu rasanya surga dunia. Tanpa di ketahui kedua sahabatnya dia selalu beranggapan bahwa dia paling hebat dalam urusan ranjang.
- Dion orang merindukan kasih sayang orang tua. Ayah yang sibuk bekerja dan ibu yang menikah lagi itu sangat menghancurkan hati nya.
Dia orang yang cuek dan suka ketenangan. Dia menjadi ketua OSIS karena papa nya selalu membandingkan dia dengan Qenan.
__ADS_1
Jadi sangat beda ya weh*..