Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Lepaskan istriku


__ADS_3

Tidur Nadira terusik ketika sinar Mentari menerobos masuk dari sela gorden hingga menyilaukan mata.


Nadira mengerjapkan mata berulang kali hingga ia sadar tidur semalaman dengan tubuh polos. Di sentuh sisi sebelah berharap terasa hangat mengartikan bahwa Qenan tidur di sebelahnya. Namun harapan itu sirna kala tangan nya menyentuh bagian itu terasa begitu dingin.


"Qenan gak pulang." ucapnya lirih lalu duduk bersandar di headboard.


Nadira memijit dahi nya yang terasa pusing. "Aku demam?"


Nadira mencoba bangkit menuju kamar mandi. Ia meringis kala merasakan perut bagian bawah terasa nyeri. Ia memaksakan diri untuk membersihkan diri.


"Kenapa buang air kecil juga terasa nyeri? pinggul ku juga nyeri, apa segini ngefek nya karena ML sama Qenan? punggung ku juga sakit."


Selesai membersihkan diri lalu memakai pakaian ia melihat ponsel nya berharap Qenan memberi kabar namun ternyata itu hanya angan.


Perlahan ia merapikan kamar yang memang sudah berantakan karena ulah mereka tadi malam.


Ia menghela nafas membaca pesan dari papa Surya yang mengatakan sudah menunggu di restoran di lantai dasar apartemen mereka. Langkah kaki nya perlahan keluar apartemen menuju apartemen Dion.


"Dion, Qenan ada?" tanya Nadira setelah Dion membuka pintunya dan akan mengajak Nadira.


"Enggak, dia pergi sama Nazeef tadi. Mungkin ke Kafe Hebat yang ada disini."


Nadira menghela nafas panjang menyesali perbuatan nya sendiri. Berniat tidak menemui orang itu malah keadaan yang mempertemukan mereka.


"Lo kenapa Dir? wajahmu pucat banget tahu gak."


Nadira menggeleng lemah. "Hanya pusing aja."


"Apa mau gue telpon kan Qenan? lo pucat banget Dir.."


Nadira menggeleng lagi. "Gue gak apa-apa kok. Ayo kita cepat kebawah, papa udah nunggu."


Untuk sesaat ia harus terlihat baik-baik saja dan membiarkan Qenan untuk menenangkan pikiran.


...****...


Dion terus memperhatikan Nadira tampak pucat dan lemas. Karena ia penasaran, diletakkan punggung tangan nya ke dahi Nadira, dan benar saja dugaan nya bila Nadira sedang demam dan ada masalah dengan Qenan.


"Anak-anak papa.. Gimana istirahat kalian?" tanya papa Surya.


"Lumayan." jawab Nadira ambigu.


"Ya begitulah." jawab Dion pula.


"Nadira, apa kamu sakit?" tanya papa Surya seperti nya juga menyadari ada yang berbeda darinya.


"Cuma jetlag pa."


Papa Surya manggut-manggut. "Oh, abis sarapan istirahatlah lagi, kalau mau lihat pameran siang atau sore aja. Dimana Qenan dan Nazeef?"


Ia dan Nadira saling melirik. "Em.. Ke kafe nya pa." jawab Nadira sesuai yang dikatakan Dion tadi.


Mereka makan dalam diam, disana juga ada seseorang yang membuat Nadira dan Qenan bertengkar tadi malam. Tak ada lagi niat untuk berbicara secara pribadi dengan asisten papa nya itu.


Selesai sarapan Dion pamit lebih dahulu karena pameran lukisan nya akan segera di mulai dan tak berapa lama papa Surya pamit untuk menemui teman kerja nya dahulu sebelum menikahi mama Dion.


Papa Surya juga memberi perintah pada Wido untuk menjaga Nadira selama ia pergi. Bukan tanpa alasan papa Surya ingin Wido yang menjaga nya, bukan bermaksud tertentu. Itu hanya karena Qenan tidak ada disana.


Tap lupa dion mengirim pesan pada Qenan bahwa Nadira sendirian dan sedang demam.


...****...


Dan disinilah Nadira, berada di satu ruangan dengan Wido. Orang yang selama ini melindungi nya.


Bagaimana Nadira mengetahui itu semua?

__ADS_1


Nadira tahu ketika ia merawat Wido ketika sakit beberapa waktu lalu. Tanpa sengaja melihat foto dirinya dan Mama Melati. Awalnya mengira jika Wido suka kepada mama Melati, namun ia salah karena banyak foto dirinya disana.


Tubuh Nadira terus merasa lemas bahkan keringat dingin terus mengucur di dahinya. Keram perut dan pinggul yang nyeri dan panas itu sudah merebut pertahanan kaki nya untuk berdiri meninggalkan ruangan itu.


Nadira tak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka.


"Dira.. Kamu baik-baik saja?" tanya Wido khawatir melihat Nadira membenamkan wajah di meja itu dengan satu tangan berada di perut seperti menahan sakit.


Nadira mendongak lalu mengangguk lemah. "Aku baik-baik aja." Setelah menjawab ia keposisi semula.


"Ayo biar abang pulang." kata Wido semakin khawatir ketika mendengar Nadira meringis.


Nadira mendongak lagi melihat Wido sudah berdiri di samping nya.


"Tolong panggilin Qenan bang."


...****...


Pagi-pagi sekali Qenan dan Nazeef sudah rapi dan akan mengunjungi dua kafe Hebat di Kuala Lumpur. Dari sekian lamanya ia tak mengunjungi kafe yang berada disini.


"Gue mending pakek bahasa Inggris boy daripada bahasa Melayu, gak maksud gue." keluh Nazeef ketika baru saja di sambut sang Manager.


"Diamlah, bukan saat nya kita ngeluh disini." Qenan terus saja berjalan walau banyak mata yang memperhatikan mereka.


Setelah 6 bulan lama nya ia tak berkunjung, tentulah banyak perubahan di kafe nya termasuk pegawai nya sendiri.


"Lama tak jenguk bos."


Qenan mengangguk tetapi Nazeef menyikut lengan nya. "Lo ngerti boy?" bisik Nazeef.


Qenan yang geram pun menimpuk kepala Nazeef. "Tugas lo kuasai bahasa luar Zeef. Astaga.. Gimana bisa lo jadi asisten pribadi gue?"


Nazeef meringis namun cengengesan. "Sorry, bahasa luar gue bisa tapi kan gue gak belajar bahasa Melayu."


Qenan tak menanggapi. "Bagaimana keadaan kafe selama 6 bulan ini, kak? adakeh terdapat sebarang masalah yang serius?" Qenan berbicara dengan logat Melayu.


"Bule Melayu." ledek Nazeef membuat Qenan kesal.


Akhirnya Qenan memilih menggunakan bahasa Inggris untuk membahas Kafe Hebat. Bagaimana trend di Kuala Lumpur hingga Qenan memilih waktu dekat untuk mendekorasi ulang Kafe nya.


Setelah itu mereka memilih sarapan yang tertunda lebih dahulu lalu mengunjungi kafe Hebat yang lain.


Ia akui tak sia-sia ikut mengantar Nadira kesini karena bisa sekalian bekerja. Walau pada akhirnya hubungan mereka bermasalah.


Dada Qenan mendadak terasa sesak mengingat kejadian tadi malam dan ada rasa sesal meninggalkan Nadira sendirian sepanjang malam.


Andai tadi malam tidak dalam keadaan mabuk pastilah ia tak bisa tidur karena sudah terbiasa ada Nadira dalam pelukan nya. Dan tadi pagi saat bangun pun dalam keadaan bantal guling dalam pelukan nya.


Sebentar, aku hanya kerja sebentar. Setelah itu kita harus bicara dari hati ke hati. Cicit Qenan dalam hati.


...****...


Berulang kali Nazeef menghela nafas melihat wajah kusut Qenan sedari tadi malam pertama kali masuk ke apartemen nya.


Hingga pagi pun seperti tak ada semangat menjalani harinya. Hingga saat ini, sengaja ia mengambil alih kemudi karena Qenan banyak melamun.


"Baikan kalau lo gak tahan jauh dari kakak ipar boy." ujarnya dan di anggukin oleh Qenan.


Setidaknya ia merasa tenang Qenan mengangguk itu berarti sahabatnya memang akan berbaikan pada Nadira.


"Gue gak tahu masalah lo sama kakak ipar apa, tapi lo sebagai suami harus lebih sabar apalagi kakak ipar lagi hamil muda dan lo pasti tahu kalau kakak ipar sekarang jadi manja dan mau nya lo ngertiin dia terus."


"Dan lo harus tahu, kalau cewek itu lebih mengutamakan perasaan bukan logika boy."


Seperti keahlian nya mendekati cewek dan sekarang keahlian itu ia tularkan kepada sang sahabat.

__ADS_1


"Ck.. Kenapa lo pinter kalau masalah cewek?" pertanyaan Qenan sukses membuat Nazeef terbahak.


"Tenang boy, setelah kita kembali dari sana pasti gue pinter segalanya."


...****...


Qenan berdecak lalu mengaktifkan ponsel yang sengaja ia nonaktifkan sedari tadi malam. Matanya terbelalak begitu banyak pesan dari sang istri.


Rara❤️ :


*Kamu kemana?


Jangan lama-lama marah nya ya? maaf aku gak ngertiin kamu.


Qenan, aku lagi sarapan bareng Dion, papa, sama dia juga. Datang lah kesini.


Qenan, Dion pergi.


Qenan, papa juga pergi. Disini tinggal kami berdua karena papa minta dia jaga aku.


Kamu dimana? jemput aku Nan.


Please, jangan marah. Cepat jemput aku ya.


Qenan.. 😭😭*


Hatinya menjadi khawatir memikirkan sang istri. Apalagi emoticon pesan terakhir Nadira semakin membuat hatinya tak karuan. Sekali lagi ia merutuki dirinya jika sudah emosi pada seseorang pasti menginginkan pelampiasan dan menghindar beberapa saat untuk melupakan kejadian yang membuat ia emosi.


Lalu ia buka pesan dari sahabatnya, Dion.


Dion :


*Qen, Lo dimana? gue mau pergi ke pameran. Cepatlah kesini. Jangan egois hanya karena masalah yang bisa di omongin baik-baik. Lo tahu gimana gila kerja nya bokap gue kan? pasti setelah ini Nadira sendirian.


Nadira demam dan muka nya pucet banget. Kami ada di ruang nomor 03 di restoran apartemen*.


"Kita ke apartemen sekarang Zeef."


"Iya, Lo kenapa?"


"Rara sakit."


Mobil yang sengaja mereka sewa itu melaju kencang. Qenan tampak diam saja namun wajah dan kepalan tangan itu sudah membuktikan bahwa betapa ia khawatir dan marah kepada dirinya sendiri.


Gue gak akan maafin diri gue sendiri kalau terjadi sesuatu sama Rara. Ya, Lo egois kali ini Nan. Qenan terus merutuki dirinya sendiri di sepanjang jalan.


Hingga mobil itu belum berhenti sempurna namun Qenan sudah membuka pintu mobil lalu keluar mobil dengan pintu tertutup keras.


"Oh Tuhan.. Selepeuw banget lo Qenan." gerutu Nazeef karena terkejut.


Jalan tergesa menuju ruangan dimana Nadira berada. Bahkan pintu ruangan itu terbuka terbanting keras sekeras rahang nya yang melihat sesuatu diluar dugaan.


"Lepaskan istriku."


🌸


Bersambung...


*Maafkan emak yang semalam hanya 1 bab.


Emak benar-benar gabut*.



Om Wido

__ADS_1




__ADS_2