
Di salah satu gedung Apartemen mewah di pusat kota Jakarta dimana Melinda sekarang tinggal. Dan di gedung ini, rata-rata berprofesi tak jauh dari kata sugar baby, wanita malam, wanita simpanan.
Entahlah, mungkin sudah menjadi tempat khusus.
Tidak ada yang tahu bila ia hidup bergelimang harta semenjak menggeluti dunia malam. Ini semua karena ibu tirinya. Bahkan ayah kandung nya tidak tahu menahu nasib anak gadisnya.
Hingga kini ayahnya telah pindah tugas dan beranggapan ia baik-baik saja hidup sendiri di ibukota.
Beberapa bulan lalu, saat ayah nya ditugaskan keluar kota. Ibu tirinya mengajak ia ke sebuah pesta, ia dikenalkan dengan Tante Angel dengan maksud untuk dijadikan wanita malam peliharaan Tante Angel itu.
Begitu banyak dendam di hatinya kepada ibunya tiri nya itu. Masa muda nya hancur malam itu juga.
Lalu bagaimana dengan Dion?
Kini kehidupan nya telah hancur dan ia sudah terikat dunia malam.
Beruntung malam pertama ia bekerja sebagai wanita malam mendapatkan pelanggan baik hati bernama Rian dan ia memanggilnya Daddy.
Malam itu ia sudah di dandani bak wanita malam yang sek*si di dalam kamar hotel.
"Sekarang layani aku." titah Rian.
Melinda menggeleng dengan wajah menunjuk. Sungguh ia tak ingin malam itu terjadi.
Rian mengangkat dagu Melinda dengan jemari nya. "Aku udah membeli mu, sekarang menurut lah."
"Tolong saya tuan, saya tak bisa."
Dan malam itu mereka hanya bercerita panjang kali lebar dan kesepakatan pun terjalin sudah.
Kesepakatan yang membuat sedikit harapan untuk masa muda Melinda walau ia harus menjadi sugar baby Rian.
Ia memang melayani hasrat Rian namun dengan cara lain selain penyatuan. Biarlah ia menjalani ini karena Rian sudah membebaskan nya dari jeratan Tante Angel selama dua tahun ke depan sesuai isi kontrak tersebut.
Tapi ia tidak tahu bagaimana nasib nya setelah dua tahun kemudian, apakah ia siap kesucian nya terenggut oleh pria hidung belang?
"Loh Dad, kapan datang?" tanya Melinda yang baru saja tiba.
Rian berjalan mendekati Melinda lalu mengecup bibir ranum itu.
"Aku baru tiba tapi kamu nggak ada baby. Kemana aja?"
"Keluar sebentar sama teman-teman ku Dad."
Rian memeluk Melinda lalu membisikkan sesuatu. "Daddy merindukan mu."
...****...
"Bapak, Nina disini numpang sama Nadira loh.. Untung Nadira gak minta uang sewa jadi Nina bisa kasih uang gaji Nina ke bapak."
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya Nina harus di hadapkan dengan sang bapak yang terus saja meminta uang dengan dalil biaya sekolah adik nya.
"Tapi kan kamu bisa minta uang lagi sama dia, apalagi sekarang dia banyak duit nya."
"Pak, mau dia seperti apapun tetap aja aku nggak mungkin bisa ngirim duit lebih dari setengah gaji ku."
Nina merasa jengah langsung memutuskan panggilan dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Sungguh, ia merasa tak enak hati kepada Nadira dan juga papa Surya.
"Kenapa bokap gue begitu?"
Bila anak perempuan selalu mengatakan jika seorang ayah adalah cinta pertama mereka namun tidak dengan Nina.
Sedari kecil ia sering sekali melihat bapak nya melakukan kekerasan kepada sang ibu. Ia dan adik nya selalu dipaksa membantu ibunya berjualan kue keliling kampung dan uang hasil penjualan sering sekali di rampas oleh bapaknya.
Beruntung sang ibu sering menyembunyikan setengah hasil itu untuk biaya hidup mereka.
Sering sekali ia merutuki dan mengumpat sang ibu mengapa mau diperlakukan buruk begitu tanpa melawan namun ibunya selalu saja menjawab dengan kalimat yang sama.
"Pernikahan itu adalah ikatan janji suci untuk menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, dan ibu menerima kekurangan bapak mu Nin."
Hanya helaan nafas darinya karena sebal mendengar jawaban beliau.
"Bapak telepon lagi?" tanya Arga dan di angguki Nina.
"Kakak mau pulang?" tanya Nina karena tadi malam Arga menginap.
"Iya, kakak pulang ya." sahut Arga lembut lalu mengecup kening Nina.
"Hati-hati."
Setelah Arga sudah menghilang dibalik pintu, ia langsung mendudukkan bobot tubuhnya ke sofa. Bayangan dimana tak pernah berpura-pura bahagia bila bersama Nazeef membuat sesak di dada.
Arga memang baik namun ia tak suka di atur-atur. Semakin kesini Arga semakin melarangnya ini dan itu.
"Gue bukan Nadira yang selalu tahan dengan keposesifan bos Qenan."
Hatinya di selimuti rasa sedih.
"Kenapa lo nyerah gitu aja Zeef?"
...****...
Sore di hari Minggu. Sepasang suami istri itu sudah di perjalanan menuju Bandara hendak berangkat ke Bali.
Kata Qenan bulan madu.
Dengan sengaja Nadira memejamkan mata dan bersandar di lengan kokoh Qenan. Bukan tertidur namun menahan sesak yang bisa membuat ia meneteskan air mata.
__ADS_1
Bagaimana tidak? setelah kepulangan dari Bali, perpisahan itu tiba.
Perpisahan yang akan mempertaruhkan kepercayaan dan pertahanan.
Percaya untuk mengikat janji setia.
Percaya untuk tak tergoda oleh kemaksiatan.
Percaya untuk pasangan kitalah satu-satunya orang yang berhak atas jiwa dan raga.
Bertahan untuk tak goyah atas godaan yang tersuguh kan.
"Sayang." panggil Qenan.
Kata 'sayang' semakin membuat Nadira bergetar, bagaimana tidak? panggilan itu yang akan dirindukan.
"Hem." Nadira berdehem dengan menggigit bibir bawah menahan getaran sebagai tanda sedang menahan tangis.
"Kamu udah bangun? aku kira masih tertidur." ucapnya beralih memeluk Nadira.
Nadira mendongak menatap wajah Qenan, wajah yang akan ia rindukan. Wajah yang tak dapat ia sentuh selama dua tahun kedepan.
"Aku mencintaimu." ucap nya membuat Qenan tersenyum dan membalas ucapan Nadira.
"Yo también te amo.Te amo mucho, mi amor.(Akupun mencintaimu, Sangat mencintaimu, sayangku.)"
Nadira mencebik bibir karena tak tahu dengan apa yang dikatakan Qenan.
"Kalau mau ejek itu jangan nanggung-nanggung Nan. Bahasa Inggris aja pas sekolah dulu selalu remedial ini malah ngomong bahasa planet lain lagi." Nadira tak lagi menatap Qenan karena merasa kesal dan malu menjadi satu.
Mendengar Nadira bicara seperti itu di tambah Nadira yang cemberut membuat ia tergelak. Satu yang ia lupakan, istrinya itu memiliki otak yang sedikit lamban.
"Itu bahasa spanyol sayang."
"Tahu ah."
Nadira menatap tajam ke Qenan karena suaminya itu kembali tertawa.
"Seneng punya istri yang nggak tahu apa-apa sampek di ketawain begitu? kalau gitu cari aja yang pinter semua bahasa di dunia ini."
Qenan langsung menghentikan tawa dan mengerutkan dahi merasa ada yang aneh dengan istrinya.
"Dengarkan aku itu tadi artinya." Ia diam sejenak menikmati wajah Nadira yang masih cemberut karena ulahnya."
"Akupun mencintaimu, sangat mencintaimu, sayangku."
Wajah Nadira berubah menjadi bersemu merah mendengar ucapan Qenan yang memang itulah yang diharapkan.
🌸
__ADS_1
Bersambung..