
"Tumben playboy cap ikan asin itu gak nyamperin gue hari ini.. Kemana dia?" tanya Nina pada dirinya sendiri.
Nazeef tidak ada mengunjungi Nina hari ini karena tengah asyik bersama Melinda dan sepasang suami istri rahasia di Restoran Pizza Hut.
"Halah.. Paling lagi hura-hura sama para ceweknya. Ngapain lo pikirin dia lagi Nina.."
Mulut berbicara seakan membenci seseorang yang bernama Nazeef namun hati berkata lain.
Ia mencarinya.
Ia merasa kehilangan.
Dimana Nazeef sebenarnya?
Apa benar sedang bersama para kekasihnya?
Mengapa ada rasa tak rela?
"Andai lo serius mau berubah Zeef.. Gue sakit tiap kali Risa ngirim foto kalian berdua Zeef.."
Nina selalu menerima pesan dari Risa yang berisi foto kemesraan mereka berdua. Siapa yang tak sakit hati melihat orang yang kita suka sedari lama menjalin kasih pada banyak wanita?
Hanya berpura-pura benci adalah keputusan yang tepat menurut nya.
"Nina.." panggil Arga yang baru saja menyelesaikan pekerjaan nya di meja kasir.
"Eh iya kak.."
"Kamu ada acara gak nanti malam?" tanya Arga.
"Em.. Enggak kak."
"Kalau kakak ajak nonton mau gak?"
"Banyak duit kakak." seloroh Nina.
"Kan kita gajian hari ini."
"Oke, tapi kita ketemu di jalan XX aja ya.."
"Kenapa?"
"Iya apartemen Nadira dekat situ, aku tinggal bareng Nadira sekarang."
"Oke. Kakak balik duluan ya.."
Sepergi Arga, Nina kembali bekerja lagi. Jangan tanya bagaimana Arga kepadanya. Tentu cowok itu terus mencoba mendapatkan hati Arga namun tetap sama, Nina terus menolak.
...****...
Di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman papa Surya. Dion terus memainkan ponsel nya. Bukan aplikasi melainkan ponsel itu sedari tadi di putar-putar di atas meja.
Ia seperti menunggu sesuatu yang biasa ia lakukan. Ya, setiap sore ia akan menerima panggilan video call dari Melinda dan selalu merasa kesal karena keberisikan dari sang penelepon.
__ADS_1
"Tumben tu cewek berisik gak ada video call gue. Apa dia marah?"
"Ck.. Masak karena gak gue anter pulang marah? cuma segitu usaha lo luluhin hati gue?"
Dion terus berbicara sembari menatap foto profil kontak WhatsApp Melinda dan tanpa sengaja Dion menyentuh icon panggil di ponselnya
"Mampus gue.. Berdering lagi." Dion terus merutuki diri karena kecerobohan nya kali ini.
Saat ia akan menekan icon merah malah panggilan itu sudah terdengar suara Melinda.
"Hallo.."
"Hallo oppa.."
"Hallo.. Hallo oppa ganteng.."
Dion menghela nafas panjang. Entah mengapa mendengar suara Melinda membuat hatinya senang dan merasa ada debaran aneh di jantung nya.
Berirama dengan ritme lebih cepat.
"Hallo."
"Ah akhirnya ada juga suara oppa.. Aku khawatir tadi."
"Hem." Dion hanya berdehem menjawabnya.
"Oppa ada apa telepon Elin? tumben."
Dion terperangah mendengar pertanyaan Melinda. Apa dia sudah lupa kebiasaan nya selama ini membuat kesal dirinya pikir Dion. Entah mengapa hati Dion merasa kesal saat Melinda melupakan kebiasaan nya itu.
"Oh kirain ada apa. Oke deh."
Jawaban Melinda semakin membuat Dion bertambah kesal tetapi ada rasa tak rela bila panggilan telepon ini terputus, ia terus berpikir hal apa yang akan dibicarakan pada Melinda agar panggilan telepon itu tak terputus.
"Lo tadi kemana abis dari taman?" pertanyaan itu lah yang sebenarnya ingin ia ketahui.
"Oh tadi aku makan pizza bareng adik besar."
"Adik besar? siapa adik besar?"
"Oh itu Nazeef, aku belum cerita ya sama oppa kalau aku panggil dia itu adik besar."
Hati Dion mendadak terasa seperti terkena percikan bara api, kecil namun mampu membuat orang yang terkena itu merasakan sakit. Seperti itulah keadaan hati Dion sekarang.
"Sejak kapan lo dekat sama Nazeef?" tanya Dion dingin.
"Udah lama, kami juga sering berkabar oppa."
"Gue kira lo marah sama gue karena gak bisa anter lo-."
Belum siap Dion menyelesaikan bicara nya sudah di potong oleh Melinda dan semakin membuat hati Dion kian tercubit.
"Ya oppa lebih memilih menemani Rania. Cewek yang oppa sayang dan cinta tapi tak pernah terbalaskan. Dia malah cerita tentang cowok yang dia cinta ke oppa sementara cowok yang dia suka adalah pacar kakak oppa sendiri. Kakak jadi cowok pinter dikit napa. Miris banget."
__ADS_1
"Sebenernya kita itu sama oppa.. Kita sama-sama orang yang merasakan cinta tak terbalas tapi bedanya aku terus mencoba berjuang untuk dapatkan hati oppa dengan menekan segala sakit hatiku saat oppa selalu cuek padaku. Tapi kejadian tadi aku sadar, di saat aku mulai lelah maka disaat itu pula aku berhenti mencintaimu oppa.."
Tidak ada sautan dari Dion hingga panggilan itu terputus.
Dion mati kutu dibuat Melinda dan ia tidak menyangka cewek berisik itu bisa mengucapkan kalimat menohok seperti itu.
"Kenapa lo mau nyerah ketika sudah sejauh ini?"
...****...
"I beg you.. one more time ok." (Ku mohon.. Sekali lagi ya).
Bagaimana Qenan tak menginginkan lagi? Nadira dalam keadaan berpakaian lengkap saja sudah mengganggu pikiran apalagi seperti saat ini yang hanya menggunakan baju tidur dari bahan satin yang tipis.
"Nanti lagi Qen.. Aku masih buat omelet." cegah Nadira karena ia benar-benar lapar setelah melewati pertempuran panas dengan Qenan.
Qenan terus mengecup, menyesap, bahkan menjilati tengkuk leher dan pundak Nadira yang terekspos. "Ya kamu buat aja omelet nya, aku yang bekerja di bagian ini."
"Oh astaga... Bagaimana bisa aku buatnya kalau kamu menjamah tubuh ku Qenan.. Ternyata bener, naf su bisa mengalahkan akal sehat." Gerutu Nadira lagi.
Akhirnya Nadira menyerah saat Qenan sudah bermain di inti tubuh nya. Ia akui bahwa suaminya itu sangat pandai menguasai dirinya.
Pasrah.
Dimatikan kompor gas tersebut lalu menikmati setiap sentuhan dari Qenan dan ia pun membalas sentuhan itu.
Ketika rudal Amerika itu menyodok nya dari belakang erangan dan desa sahan itu saling bersahutan di dapur.
"Qenan.. Seperti ini aja.."
"Seperti ini?" tanya Qenan mempercepat ritme sodokan nya.
"Yes baby.. Aakkhh Qenan.."
"Sebut nama ku setiap desa han mu sayang.. Itu sangat seksi." puji Qenan menikmati setiap gerakan nya yang terjepit di dalam sana bahkan saking nikmatnya sampai menengah kepala menatap langit-langit dapur apartemen miliknya.
"Sayang.. Aakkhh.." Qenan mengerang hebat di akhir permainan nya.
"Qeennaan.."
Nafas keduanya masih nampak memburu ketika Qenan sadar melakukan kesalahan segera ia mencabut rudal Amerika lalu membalikkan tubuh Nadira.
"Ra.. Aku lupa.. Maafin aku Ra, aku kelepasan."
Qenan terus meminta maaf karena ia benar-benar tak sengaja melakukan kesalahan itu. Bahkan rasa bersalah itu terlihat jelas di wajahnya.
Tadi Nadira sempat syok menyadari pergumulan kali ini tanpa pengaman bahkan Qenan menumpahkan bibit-bibit unggul itu di lahan suburnya.
Mata Nadira melotot kala mengingat sesuatu yang bisa saja mengubah takdirnya.
"Qenan, dinding." Teriak Nadira membuat Qenan terkejut.
🌸
__ADS_1
Bersambung..
Hayo.. Ada apa dengan dinding?