
Qenan mendekatkan wajahnya ke inti milik Nadira setelah kakinya di tekuk dengan posisi terlentang.
"Punya kamu indah banget, merah merona. Pasti kamu merawatnya dengan baik kan?" tanya Qenan fokus pada milik Nadira.
"Ya, aku menjaga nya selama ini." sahut Nadira.
"Apa ini juga milikku?"
Nadira tertawa kecil mendengar pertanyaan itu lalu ia mengangkat kepala melihat Qenan sedang apa di depan miliknya.
"Kenapa kamu selalu bertanya kayak gitu setiap kamu mau bermain disana?"
"Itu karena aku suka pengakuan jujur mu apalagi kalau suara erotis mu."
Nadira menelan saliva terasa kasar. Lalu tubuhnya menggelinjang saat merasakan lidah Qenan menyapu milik nya. Ia cukup takjub dengan Qenan yang tak merasa jijik melakukan hal itu.
"Ssshhh ah."
Qenan tersenyum. Jari tangan nya mulai membelai dan mengusap lembut keindahan yang terpampang indah di depan matanya. Bahkan sesekali ia juga memijit pelan-pelan hingga menimbulkan sensasi luar biasa bagi pemilik nya. Cukup lama Qenan bermain-main di sana.
Kini ia menempelkan hidung nya menghirup aroma segar dari inti Nadira. Setelah itu ia julukan lidah menikmati yang tersaji disana. Ia tersenyum kala merasakan tubuh Nadira menegang dan mengeluarkan cairan disana. Tanpa rasa jijik ia hisap habis.
"Kamu udah siap sayang?" tanya Qenan bangkit mengambil posisi.
Nadira hanya mengangguk lemah dan ia kembali mengeluarkan suara syahdu membuat semangat Qenan kian menggebu.
Suami istri muda menikmati paginya dengan bertukar peluh keringat.
...****...
"Qenan.. Nanti aku ke rumah papa ya.." pamit Nadira karena besok adalah acara penyambutan nya di keluarga Wijaya.
"Sama Dion lagi?" tanya Qenan karena ia masih cemburu.
"Ya, nanti kami juga mau ambil baju yang udah kami pesan." jawab Nadira santai.
"Kalian pakai baju couple?" matanya terbelalak.
Nadira terkekeh. "Enggak lah, aku pakai warna pink gak mungkin Dion mau."
"Ya udah, Nanti aku sama Nazeef mau ke store kaos aku."
"Hati-hati."
Qenan mengangguk lalu mengecup kening Nadira. "Kamu juga hati-hati, jaga diri juga.. Kamu punya aku. Bye pesek."
Mendengar kata 'pesek' membuat ia cemburut dan itu terlihat lucu di mata Qenan.
"Awas jatuh bibir memble nya." ledek Qenan dan mendapat pukulan dari Nadira di dadanya.
"Udah sana pergi, nanti terlambat."
Qenan masuk ke dalam mobilnya melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolahnya.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah, ia sudah di tunggu dengan Nazeef dan Qenan.
Tumben!
"Hey brother.." sapa Nazeef dengan senyum misterius begitu juga dengan Dion.
"Ada apa?" tanya Qenan datar.
"Lo gak tahu kalau sekarang bertambah julukan lo menjadi sadboy?" tanya Dion masih tersenyum misterius.
Kening Qenan mengerut hingga membentuk lipatan masih tak mengerti dan bagaimana bisa ia mendapat julukan sadboy di sekolah nya.
"Apa maksud kalian? dan gak perlu senyum gitu. Gak akan nambah kegantengan malah makin jelek."
Senyuman Nazeef dan Dion surut bersamaan dengan kalimat pedas Qenan terhenti.
"Lo tahu kan postingan Nadira semalam?" tanya Nazeef dan mendapat anggukan namun matanya menyalang menatap Dion.
"Nah, kan ada foto Nadira yang foto berdua sama Dion, dan anak-anak pada ngira lo sama Nadira putus dan jadian sama Dion."
Mata Qenan membulat sempurna mendengar nya dan lalu menatap tajam Qenan.
"Kan udah gue bilang jangan dekatin Nadira dan apa itu foto bareng."
"Nadira kan kakak gue, ya gue dekat lah sama dia. Foto itu pun Nadira yang ambil." Dion membela diri.
"Lo harus gue hukum. Istirahat temui gue di kantin."
"Dasar cemburuan." bibir Nazeef dan Dion melihat Qenan sudah berjalan lebih dulu dari mereka.
"Kakak ipar lo itu." cibir Nazeef tak mau kalah.
...****...
"Pa.. Kenapa secepat ini Nadira kuliah?" tanya Nadira setelah baru sampai di kantor papa Surya.
Tiga hari lagi Nadira masuk kuliah namun Nadira masih ragu untuk hal itu.
"Papa mau kamu juga bantu Dion kelak ngurus perusahaan Nadira."
Tiba-tiba Nadira mengingat Nina yang ingin sekali kuliah berbeda dengan nya dulu yang tidak ingin bermimpi apapun.
"Pa, kalau misalnya Nadira minta papa biayain sahabat Nadira kuliah papa mau gak?"
"Siapa sahabat kamu nak?"
"Namanya Nina, dia kerja di tempat Nadira waktu itu."
"Apa dia gadis baik-baik?"
"Ya, dia gadis baik-baik. Dia sama-sama dari Bogor cuma beda kecamatan."
Papa Surya diam sejenak sebelum menjawab karena ia baru tahu jika selama ini istri rahasia nya dan juga anaknya berada di Bogor.
__ADS_1
"Apa dia punya keluarga disana?" tanya papa Surya.
"Ya punya yah."
"Kita harus minta izin dulu sama orang tuanya sayang kalau di izinkan baru papa akan kabulkan permintaan kamu."
Nadira tersenyum senang lalu berhambur dalam pelukan papa Surya.
Untuk pertama kalinya papa Surya di peluk oleh anak dari cinta pertama nya dahulu. Hatinya menghangat tanpa sadar air mata bahagia itu menetes. Beliau punembalas pelukan putri nya.
Melati.. Dia sama seperti mu, mengapa dia sama seperti mu yang mudah nya melupakan kesalahan ku dan sekarang lihatlah anak kita, dia udah melupakan kemarahan nya kemarin dan kini dia memeluk ku.
"Papa kenapa menangis?" tanya Nadira setelah pelukan itu usai.
Papa Surya menghapus air mata dengan punggung tangannya.
"Papa hanya bahagia kamu bisa menerima papa secepat ini." sahut papa Surya.
Tok..tok..tok..
"Masuk." titah papa Surya.
Masuklah asisten papa Surya tak lain adalah Wido. Nadira dapat melihat Wido menunduk hormat pada papa Surya namun saat dengan nya tidak hanya menatap sekilas saja.
"Tuan, rapat segera di mulai."
Papa Surya mengangguk. "Baiklah, kamu disini saja temani putri saya.
Tampak Nadira dan Wido terkejut namun dengan cepat Wido menormalkan mimik wajahnya lalu mengangguk patuh.
"Pa.."
"Tetaplah disini bersama Wido sayang."
Papa Surya meninggalkan ruangan meninggalkan dua orang beda jenis kelamin dan berbeda usia yang cukup jauh.
"Mending om pergi deh." usir Nadira karena Wido terus menatapnya dengan tatapan yang tak bisa di artikan Nadira.
Wido yang berdiri tegak kini melipat kedua tangan di dada berjalan dan duduk di sofa berseberangan dengan Nadira.
"Eehh.. Ngapain om duduk disini? kan Nadira suruh om pergi." sungut nya dengan wajah tertekuk.
Wido hanya tertawa pelan. "Kamu belum juga berubah."
Nadira menatap Wido lekat, ia merasa memang pernah bertemu dengan Wido namun lupa dimana.
"Ck.. Kita baru bicara sekarang kenapa harus bilang belum berubah?" tanya Nadira sewot.
Wido menyeringai. "Nadira Fazilla Zharifa umur 19 tahun, pernah pacaran dengan Rendi dan di selingkuhi, sekarang memiliki hubungan dengan Qenan Abraham." Wido menghentikan bicaranya menatap Nadira yang terlihat tegang.
"Dan ti-..."
"Jangan di terusin om.." Nadira membekap mulut Wido.
__ADS_1
🌸
Bersambung...