Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Masih gara-gara Dion


__ADS_3

Setelah kepulangan Dion, Melinda, dan Nazeef. Dapur juga sudah rapi kembali, wajah Qenan masih saja di tekuk bagai pakaian terlipat tanpa di setrika.


Tetapi lihatlah istrinya itu bahkan tidak peka dengan dirinya. Rasanya ingin sekali melihat Nadira kembali manja padanya karena ia merasa sangat dibutuhkan oleh Nadira. Berbeda dengan sekarang, Nadira memang tergantung padanya tapi sifat manja nya berkurang seperti Nadira yang dahulu saat baru ia kenal menjadi istri.


Qenan tidak suka itu.


"Nan, kamu enggak tidur?" tanya Nadira baru saja selesai mengerjakan tugas kuliah.


Qenan menggeleng. "Nunggu kamu."


Mana mungkin Qenan mengeluarkan uneg-uneg nya pada Nadira, ia tidak ingin membuat istrinya itu tertekan dan menangis. Sadar, jika ibu hamil dilarang keras akan hal itu.


Nadira mendatangi Qenan sedang duduk di sofa. Tanpa Qenan tahu, kini matanya sudah berkaca-kaca.


Sebenarnya ia tahu jika Qenan masih marah padanya, namun keadaan membuat ia cemburu pada suami sendiri.


"Kok diem, hm?" tanya Qenan sembari mengelus perut Nadira yang sudah sedikit buncit.


"Ge-geli, Nan." ucap Nadira terbata sembari menggeliat menghindari tangan Qenan.


Namun, agaknya suami dari Nadira peka dengan perubahan suara dari istrinya itu. Di katup wajah Nadira lalu di dongakkan ke arahnya.


Masih diam memerhatikan dengan seksama. "Kenapa menangis, hm? cerita sama aku, apa aku melakukan kesalahan?


Nadira menggeleng, namun kedua matanya menganak sungai membuat Qenan yakin jika ada sesuatu yang ditutupi Nadira.


"Nggak pengen cerita sama aku?" tanya Qenan melabuhkan kecupan pada dahi, kedua mata Nadira yang sudah basah, turun ke hidung, lalu kedua pipi, terakhir dagu kemudian mendarat pada bibir dengan sedikit luma tan.


Setelahnya Qenan membawa Nadira dalam pelukan, dan berhasil. Ia selalu bisa membuat tangisan Nadira pecah ketika istrinya itu ingin menahan nya.


Di usap surai cokelat milik Nadira dengan sayang hingga merasa tenang.


"Udah nangis nya?"


"Udah." sahut Nadira dengan suara serak.


"Kenapa, hm? cerita sama aku."


"Aku cemburu sama kamu."


Qenan mengerutkan dahi hingga kedua sudut alis tebal miliknya bertemu. Pasalnya hari ini ia tak ada berdekatan dengan wanita manapun selain Nadira.


"Cemburu gimana?" tanya Qenan masih dengan wajah bingung.


"Iya, kamu enak bisa makan apapun tanpa takut makanan nya keluar lagi. Sedang aku, makanan harus sesuai selera. Padahal bibi selalu nyajikan makanan enak. Dan satu lagi, kenapa aku tambah gendut padahal makanan yang ku makan sering aku keluarin." Nadira mengaduh dengan polos pada Qenan.

__ADS_1


Qenan menghela nafas panjang lalu memeluk Nadira kembali. Jika saja ia ketahuan hendak tertawa bisa hancur dunia persilatan.


Ia berpikir, istrinya memiliki masalah berat. "Kamu enggak gendut, cuma sedikit chubby aja. Kamu tetap cantik."


Nadira mendongak menatap Qenan dengan intens lalu menunduk tersipu karena Qenan terus menatapnya.


"Bohong kan?"


Dikecup pucuk kepala Nadira lalu mengeratkan pelukan. "Ngapain aku bohong hanya untuk membuatmu senang, Ra. Aku ngomong apa adanya, kamu cantik."


Pipi Nadira kembali merona dan membalas pelukan Qenan tak kalah erat. "Nan, udah jangan kenceng-kenceng. Anak kita kecepit."


Qenan tersadar langsung melepas pelukan lalu kembali mengelus perut Nadira. Tubuhnya membungkuk sembari menyingkap baju Nadira di bagian perut. Menghujani kecupan berulang kali disana.


"Geli, Nan."


Qenan menghentikan kecupan nya lalu menghela nafas. Awal hanya ingin menyapa calon bayi malah ia sendiri yang terpancing.


Rudal bangun.


"Kita tidur yu, gak baik kamu tidur larut malam." ajak Qenan langsung di setujui Nadira.


"Susu hamil dan vitamin udah di minum?" tanya Qenan setelah mereka sudah baring di atas ranjang.


"Udah tadi abis makan, gak lama aku minum. Dion juga minta tadi katanya selera lihat susu hamil."


Tidak ada lagi kalimat yang terucap karena Nadira sudah terlelap dalam pelukan. Begitu juga dengan Qenan yang ikut memejamkan mata.


...****...


"Oppa kenapa sih? malam-malam makan terus. Kalau pagi muntah terus mau nya sama aku." celetuk Melinda melihat Dion mengambil brownies dari dalam lemari es.


"Laper, mi."


"Mi?"


Dion mengangguk. "Aku suka kalau kamu dipanggil mami dan aku papi."


"Bukannya lebih suka di panggil oppa?"


Dion tersenyum hangat lalu memasukkan potongan brownies ke mulut nya lagi. Menelan lalu menjawab pertanyaan Melinda.


"Ya, aku suka jika kita berdua aja. Tapi kita harus biasakan biar nanti kalau kamu hamil terus melahirkan, kita enggak kaku lalu manggil mami papi. Apalagi kalau kamu sedang mende sah. Nanti kita coba ya." Senyum menggoda dengan kedua alis naik turun menatap Melinda.


"Dasar oppa mesum." Melinda tergelak melihat sang suami.

__ADS_1


...****...


"Loh, beb. Ngapain tiduran di ruang tamu?" tanya Nina baru keluar kamar mendapati sang suami sedang tiduran di sofa ruang tamu.


"Nungguin putri tidur." jawab Nazeef ngasal karena jengkel dengan Nina.


"Putri tidur?"


"CK, kamu menyebalkan, Nina. Bisanya malam pertama kita ninggalin aku tidur." gerutu Nazeef seraya bangkit duduk.


Nina terkekeh sadar dengan kesalahan nya. "Tapikan aku lagi kedatangan tamu."


"Aku tahu, ya seenggaknya temani aku yang pusing ini. Udah pusing dari apartemen. Eh, tambah pusing lagi karena kelakuan kakak adik itu."


Nina mengerutkan dahi lalu duduk di sebelah dan menghadap Nazeef. "Maksudmu apa, beb?"


Akhirnya Nazeef menceritakan kejadian di dapur lalu ia memilih tidur, setelah bangun pun Qenan masih merengek juga mencoba menjauhkan Nadira dengan Dion.


"Cemburu nya nggak ketulungan." umpat Nazeef lagi.


"Tapi seru loh di cemburuin gitu."


Nazeef menatap Nina. "Iya, tapi nggak harus cemburu sama adiknya juga."


"Tapi ini ya beb, wajar bos Qenan cemburu karena selama ini Nadira kan gak ada di antara kalian apalagi Dion itu ganteng, imut-imut gitu." Nina berbicara dengan tatapan menerawang.


Nazeef melongo mendengar Nina memuji Dion apalagi sampai membayangkan wajah Dion. "Beb, kok jadi kamu yang muji cowok lain?"


Nina menoleh melihat wajah Nazeef berubah masam. Ia pun cengengesan karena mengaku salah. "Maaf. Bukan begitu maksudku, beb."


Nazeef menghela nafas lalu bangkit hendak ke kamar. Rasanya ia ingin memasukkan Dion dalam karung lalu melemparkannya ke sungai Ciliwung.


Pantas saja Qenan selalu merasa cemburu karena penilaian dari mata wanita mereka begitu. Apalagi Nadira sampai peluk-peluk.


Awas aja lo Dion!


"Kamu mau kemana, beb?"


"Tidur kelonan sama guling." Nazeef berjalan memasuki kamar tanpa perduli dengan Nina.


Nina sendiri merasa bingung mengapa Nazeef berubah ketus begitu setelah ia mengutarakan hasil bayangan nya mengenai wajah Dion.


"Aku yang lagi datang bulan kenapa Nazeef yang sensitif? salah ku apa?"


🌸

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2