
Niat hati datang ke Surabaya adalah untuk melamar langsung ke orang tua Melinda. Tetapi di urungkan karena papa Surya memberitahu kan akan sampai sore hari.
Ia tersenyum setelah mendapat kabar dari papa Surya. Itu berarti masih peduli terhadapnya. Ia tersenyum kearah Melinda yang masih merengut akibat ulah sahabatnya, Qenan.
Kakaknya itu tidak di izinkan berjalan barang sejenak oleh Qenan. Berlebihan memang, tapi begitulah sahabatnya jika sudah menganggap sesuatu itu berharga dalam hidup sahabatnya.
"Nadira." panggilnya.
"Ya." jawab Nadira ketus. Sepertinya mood wanita itu belum bagus hingga kini.
"Makasih, pasti lo yang bujuk papa kan?"
Nadira berdecak. "Gue cuma ngajak papa makan siang doang terus ngomongin masalah lo. Nggak semua bisa gue bujuk. Hukuman tetap jalan."
Dion mengangguk lalu bangkit kembali duduk di sebelah Nadira. Dipeluk wanita yang menjadi kakak nya itu dengan erat. Di akui semenjak kedatangan Nadira dalam hidupnya dan papa Surya membawa perubahan.
Papa Surya menjadi lebih perhatian walau sekedar bertanya apa kabar setiap harinya itu adalah suatu hal yang amat ia rindukan.
Kecerewetan Nadira mampu merubah sikap papa Surya terhadap nya.
...****...
Setelah pulang dari sawah Qenan membawa Nadira ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh istrinya.
Ia sama sekali tidak menggubris Nadira sedari tadi protes untuk mandi sendiri. Bahkan tanpa rasa jijik melepas dan membersihkan pembalut yang di kenakan Nadira lalu memasukkan nya ke kantung plastik hitam yang sudah ia ambil di dapur tadi.
"Nan, aku malu." tutur Nadira.
"Ngapain malu? aku juga harus mengurus mu, Ra. Masak aku mau enak nya aja. Kalau nggak berdarah kan aku suka hisap, jilat, dan mainin sarang rudal jadi saat berdarah begini ya aku nggak boleh jijik. Apalagi kalau nanti kamu melahirkan anak ku kan? Membersihkan darah mu adalah tugas ku."
Nadira tersenyum haru lalu memberi kecupan di pipi Qenan.
"Jangan menggoda ku, Ra. Kamu lupa sudah lebih setahun rudal puasa."
Nadira terkekeh sembari angkat kedua tangan ke udara karena Qenan sedang mengeringkan tubuhnya. Kemudian memakaikan pakaian ganti untuk Nadira.
"Duduk disini aja, tunggu aku mandi dulu." ucapnya lalu meninggalkan Nadira di ruang tamu sendiri.
Betapa terkejutnya Qenan melihat Nadira di peluk seseorang usai ia mandi. Dengan langkah besar menghampiri lalu memisahkan mereka. Sudah diduga, pria itu adalah Dion.
"Gak usah peluk bisa?" tanya Qenan ketus. Terkadang ia bingung sendiri karena kesulitan mengendalikan diri jika menyangkut Nadira.
"Ck. Enggak." sahut Dion tak kalah ketus.
"Geser." sentak nya agar ia duduk diantara Nadira dan Dion.
Nadira hanya bisa diam menahan senyum melihat suami dan adiknya terus saja adu mulut. Ternyata sedewasa apapun seseorang tetap saja, umur tidak bisa membohongi jika mereka masih lebih muda dari sifat dewasa nya.
Adu mulut mereka terhenti ketika ayah Melinda masuk bersama dua pria dewasa yang tak lain adalah papa Surya dan Wido.
Tanpa di perintah ketiganya berdiri mempersilahkan papa Surya dan Wido duduk di sofa dan mereka memilih ke dapur untuk membuat minuman.
__ADS_1
...****...
Qenan berdecak melihat Nazeef dan Nina sedang duduk berdua di belakang rumah Melinda. Ia paham, Nazeef sedang melepas rindu ala pacaran anak zaman sekarang tanpa ada penyatuan di atas ranjang.
Sedang Melinda bersama adiknya menjemur pakaian. Kini, mereka bertiga masih diam saja karena Nadira tengah memindai pandangan isi dapur.
"Oke, lo bisa masak air kan?" tanya Nadira pada Dion.
"Bisa." Dion bergerak mengambil panci lalu menampung air di kran kamar mandi.
Nadira membuka lemari es mencari bahan-bahan yang bisa di buat makanan. Ia menemukan jagung dan wortel. Di ambil pisau, cutting board, dan mangkuk.
"Nan, bisa bantu pipilin jagung nya?" tanya Nadira.
"Bisa, kamu duduk aja. Biar aku sama Dion yang kerjain."
Nadira mengangguk menyerahkan dua pisau untuk Qenan dan Dion. Ia tidak benar-benar duduk karena memilih menyiapkan tepung untuk membuat bakwan jagung.
Nadira tersenyum mengingat ketika masih hidup di panti asuhan. Sering sekali ia membuat bakwan jagung untuk adik-adik panti apalagi jika turun hujan.
...****...
"Maaf mengganggu waktu anda pak Yusuf." ucap papa Surya. Sungguh kegagahan pria paruh baya ini tengah sirna berganti kegugupan melanda.
Bukan tanpa sebab, ini adalah pengalaman pertamanya melamar anak orang untuk putra nya. Jika orang tua si wanita tak setuju maka apapun yang ia miliki tak ada harganya di mata orang tua si wanita.
Sedang ayah Melinda bernama Yusuf itu tak kalah gugup menerima tamu salah satu orang terpandang di Jakarta di rumah nya.
Ia takut jika sawah itu di inginkan papa Surya dan kedatangan ini untuk bernegosiasi kepada dirinya.
"Saya tidak merasa terganggu, Tuan." jawab Ayah Melinda kikuk hingga menggunakan bahasa formal.
"Jangan terlalu formal, pak. Kami kesini bukan untuk masalah pekerjaan."
Jawaban papa Surya membuat ia lega. "Lantas apa yang membawa anda datang kerumah kecil kami ini, tuan?"
Papa Surya menghela nafas sebelum berbicara kembali. "Saya datang kesini untuk melamar Melinda, anak bapak untuk anak saya."
"Ta-tapi tuan, siapalah kami yang berhak menerima lamaran dari orang terpandang seperti tuan."
"Saya anggap itu adalah jawaban anda, pak." Papa Surya tidak menggubris ucapan ayah Melinda karena Wido sudah memberi kode kepada para preman untuk masuk membawa bingkisan yang mereka bawa.
Ayah Melinda terperanjat melihat para pria bertubuh kekar masuk ke dalam rumah nya. Menelan saliva dengan kasar serta rasa takut jika menolak lamaran menyergap pada dirinya.
Dion dan Qenan masuk keruang tamu membawa 3 gelas minuman dan 3 piring berisi bakwan lalu meletakkan di atas meja.
Dion dapat melihat wajah pucat ayah Melinda pastilah mengerti apa penyebabnya. Apalagi para preman itu terlihat menyeramkan.
"Silahkan." ucap Dion seraya berjalan kembali ke dapur.
...****...
__ADS_1
"Mon, bakwan jagung. Pengen gue." ucap salah satu preman yang sering di panggil Donal.
"Diam dan nikmati bau bakwan nya aja." ujar Emon si preman yang di ajak bicara Donal.
"Kira-kira Dira disini nggak ya? pasti bos pengen banget lihat Dira. Kan udah lama bos gak minta foto ataupun video kegiatan Dira." bisik Donal langsung mendapat pukulan di kepala dari Emon.
"Diem lo, nanti di dengar suaminya."
Ya, Donal dan Emon adalah bodyguard Nadira yang tersembunyi yang diperintahkan Wido. Bukan hanya karena untuk melepas rindu, tetapi sebagai anak pengusaha besar pasti ada saja yang ingin menjatuhkan papa Surya. Belum lagi dendam tersembunyi dari orang-orang yang belum rela tanah nya di beli papa Surya namun terpaksa setuju pasti bisa saja penyerangan itu akan terjadi jika tahu Nadira adalah anak papa Surya.
...****...
"Oppa, kenapa ada preman juga?" tanya Melinda mengintip dari dapur.
"Memang begitulah hidup kami, Lin. Nggak jauh dari preman." sahutnya sembari memakan bakwan jagung buatan Nadira.
"Ayah kelihatan banget takut nya."
Dion terkekeh. "Itu juga salah satu trik menaklukkan lawan agar setuju."
Melinda berdecak langsung memukul lengan Dion. "Itu licik namanya."
...****...
Di belakang rumah, Nazeef dan Nina masih asyik mengobrol. Nazeef menceritakan bagaimana kehidupan nya saat di luar negeri dengan uang yang dibatasi Qenan hingga membuatnya harus bekerja paruh waktu. Begitu juga Qenan dan Dion.
"Kenapa kamu turuti Qenan? padahal itu uang mu sendiri."
Nazeef tersenyum. "Karena Qenan adalah kakak ku. Walau Qenan itu raja tega tetapi pemikiran nya untuk masa depan sudah terencana. Dia cowok mandiri yang patut di acungi jempol, Na. Gue salut sama dia. Walau harta papa Reno gak akan habis tujuh turunan, tujuh tanjakan, atau tujuh tekongan. Tapi Qenan memilih mendirikan perusahaan nya sendiri."
"Selama kami di luar negeri, dia merencanakan pembangunan pabrik. Beruntung papa Reno tetap mendukung hingga mengurus surat izin pembangunan, ngurus NPWP, ngurus akta pabrik, semua papa Reno. Dan pabrik nya udah siap operasi, dua bulan lagi pembukaan pabrik. Kamu ikut aku kesana ya."
Nina tersenyum sembari mengangguk. "Jadi kerja mu apa kalau bos Qenan yang bekerja?"
"Kalau masalah pabrik aku hanya mengikuti apa yang di perintahkan Qenan dan sembari mempelajari nya juga. Aku lebih sering mengontrol pabrik konveksi kaos dan kafe."
......****......
"Kamu kenapa sih, Nan?" tanya Nadira melihat wajah Qenan bermuram durja.
"Ada Wido."
"Lah ya wajar ada dia, kan papa juga ada."
Nadira yang gemas langsung mencium dan melu mat bibir Qenan. Ia tahu mengapa Qenan seperti ini. Semakin kesini, Nadira semakin mengerti bila Qenan adalah tipe cowok pencemburu.
Dan ia suka akan hal itu.
"*I have you, you have me."
🌸*
__ADS_1
Bersambung