
"Satu tahun yang lalu pa, tapi aku selalu pakai pengaman pa.." Nazeef membuat pembelaan.
"Berhentilah.. Papa tahu itu sangat nikmat tapi lebih baik dilakukan pada satu orang wanita aja, benar begitu kan boy?" pertanyaan papa Reno seakan menyindir Qenan.
Qenan terus saja mencoba menetralkan tubuhnya agar tetap duduk tegak di depan papa Reno.
"I-iya." gumam Qenan lirih.
"Nazeef, Berapa kali kamu celap-celup dalam sehari?"
Nazeef menggaruk alis nya yang tak gatal. Ada rasa malu menyergap dirinya saat ini.
"Gak tiap hari juga pa, kalau ada suntuk sama tugas sekolah dan kerjaan aja."
"Maksud papa berapa kali kamu celap-celup sama satu cewek?" sentak papa Reno.
Astaga. Pertanyaan macam apa ini?
"Paling sedikit sekali aja udah pa.. Tergantung servis nya juga pa." jawab Nazeef takut-takut.
Qenan berdecak menyadari pertanyaan-pertanyaan frontal papa Reno. "Pa. Jangan bandingkan ketangguhan papa sama Nazeef."
"Itu salah satu alasan papa tanya kayak gitu. Tapi ini belum saat nya kamu ngomong Qen, lebih baik siapkan diri dulu."
Keadaan hening sesaat. Papa Reno melihat sang istri masih menelepon dengan raut wajah serius.
"Sekarang dimana menantu papa boy?"
Deg!
Menantu?
"Di-dia ada di kamar mandi pa.." sahut Qenan lirih.
Papa Reno terbelalak mendengar nya. Bagaimana bisa Nadira di sembunyikan di dalam kamar mandi? astaga.
Sedang di dalam kamar mandi Nadira sudah mulai terusik. Tak betah dan juga lelah telah mendera tubuhnya.
Akhirnya Nadira memilih duduk di lantai kamar mandi memejamkan mata sejenak. Ia bisa saja keluar dan menunjukkan diri bahwa ia tinggal bersama Qenan selama ini.
Tetapi ia tak ingin egois, masa depan Qenan di pertaruhkan jika ia melakukan hal itu.
Kembali ke ruang tamu.
"Sejak kapan kalian tinggal bersama boy?" tanya papa Reno menatap anaknya dengan serius.
"Udah lama pa."
"Dan tidur bersama?" sambung papa Reno dan mendapat anggukan dari Qenan.
"Apa ada wanita lain sebelum Nadira?"
"Gak ada pa."
Papa Reno menghela nafas panjang. "Apa kalian tidak ingat waktu yang kita tunggu sebentar lagi?"
__ADS_1
"Tapi Qenan udah ada Rara pa.." Inilah yang ditakutkan Qenan selama ini.
"Papa tahu, Jadi apa rencana kamu?"
"Qenan nggak tahu pa, tapi Qenan gak mungkin jauh dari Rara." Qenan tertunduk memikirkan waktu yang di takutkan Qenan semakin mendekat.
"Boy.. Apa kamu yakin papa Surya akan setuju-setuju aja? lupa gimana kerasnya papa Surya mendidik Dion gimana? karena keras nya papa Surya lah membuat Dion mengikuti kalian kan?" cerca papa Reno kepada Qenan.
"Ingat, masalah ini jangan beri tahu mama kalian dulu. Papa gak mau istri papa jatuh sakit karena memikirkan kedua anak nya yang memiliki dunia lain." imbuh papa Reno lagi dengan sinis.
Qenan bangkit menuju kamar mandi dapur. Setelah pintu kamar mandi terbuka yang ia lihat pertama kali adalah Nadira yang tertidur.
"Maafin aku.." ucapnya lirih lalu mengecup kening Nadira setelah itu ia gendong tubuh Nadira membawanya ke kamar. Di selimuti tubuh mungil itu dengan selimut.
Setelah tubuh itu sudah terbungkus selimut, Qenan kembali ke ruang tamu, ternyata mama Sinta belum juga selesai dengan telepon nya.
"Kenapa Nadira gak ikut?" tanya papa Reno.
"Rara tidur pa." jawab Qenan singkat.
"Papa harus tahu cerita sebenarnya karena papa yakin anak papa yang satu ini gak serupa sama anak papa yang satunya. Apa yang terjadi di malam tahun baru kemarin boy?" papa Reno menyindir Nazeef diakhir kalimat.
"Papa gak tahu apa yang terjadi di malam tahun baru?" tanya Qenan memastikan.
"Belum. Orang-orang papa belum selesai sampai kesana karena harus menyelidiki masalah pembangunan apartemen di Bali. Ada yang sabotase pembangunan kita disana. Sekarang jelaskan."
"Sebenarnya-."
"Maaf ya lama, soalnya mama lagi ngurus pameran rancangan mama di Malaysia Minggu depan." Mama datang saat Qenan akan menjelaskan semuanya pada papa Reno.
Sekali lagi Qenan gagal memberitahu pernikahan mereka di depan orang tuanya, ada rasa sesal di hati sebenarnya ia bisa saja memberitahu sekarang namun ia urungkan karena takut mama Sinta jatuh sakit dan ia juga harus meminta izin lebih dahulu pada Nadira.
"Oh iya.. Apa kamu udah makan malam boy?" tanya mama Sinta.
"Belum ma."
"Gimana kalau kita makan malam bersama? udah lama loh kita gak makan bersama.." bujuk mama Sinta langsung di setujui semuanya.
Qenan masuk ke kamar untuk bersiap, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dahulu. Selesai bersihkan diri ia melihat Nadira masih tertidur pulas lalu berjalan ke lemari memilih pakaian casual yang menurutnya nyaman.
Setelah berpakaian kini ia mematut dirinya di depan cermin. Menyisir rambut, mamakai jam tangan, lalu yang terakhir parfum.
"Mau kemana?" tanya Nadira yang ternyata sudah terbangun akibat wangi parfum Qenan yang menggangu tidurnya.
"Udah bangun?" bukan menjawab melainkan balik bertanya dan berjalan mendekati Nadira yang masih berbaring.
"Parfum mu membuat ku terbangun, sangat menyengat banget." gerutu Nadira namun tangan nya melingkar ke perut Qenan yang sudah duduk disampingnya.
"Maaf. Papa sama Mama ajak aku makan malam di luar, kamu mau ikut?"
Nadira menggeleng cepat. "Aku capek banget Nan."
Qenan tersenyum mengusap pipi Nadira. Sungguh ia tak sanggup mengatakan masalah nya pada Nadira.
"Ya udah, mau di bawain apa?"
__ADS_1
"Gak bawa apa-apa. Kamu pulang dan tak akan pergi jauh dari ku itu udah membuat ku seneng tahu gak." sahut Nadira menatap lekat pada netranya.
Sahutan Nadira semakin membuatnya sesak dan tak tahan berada dalam situasi begini."Baiklah, aku gak akan kemana-mana setelah ini."
Qenan mengecup dahi lalu mencium bibir Nadira dengan sayang dan ia sempatkan melu mat nya sesaat.
"Aku pergi ya.."
Nadira mengangguk. "Hati-hati."
Qenan keluar kamar ternyata ia sudah di tunggu sedari tadi. Keempatnya keluar lalu masuk ke dalam lift bersamaan.
Papa Reno terbiasa jika keluarga kecilnya lengkap pasti ketika pergi bersama tidak ada sopir di antara mereka.
Mengapa?
Karena ia sedang melatih kedua anak nya untuk hidup mandiri. Jangan melulu harus melibatkan seseorang jika mereka sendiri bisa melakukan nya. Seperti menyetir mobil ini misalnya.
Keluarga kecil itu memilih makan malam di restoran mewah langganan mereka. Tidak ada yang spesial disana.
Semua di anggap biasa saja oleh Qenan. Hanya desain restoran ini yang menjadi daya tarik untuknya. Jangan tanya soal makanan, nilai plus dari makanan ini hanya tampilan saja. Jika masalah rasa biasa saja di lidahnya.
Enak namun tak sampai ada kata 'Wah'.
Kalau porsi? tak sebanding dengan harga nya, pikir Qenan.
Mahal.
"Lebih enak masakan istri dirumah." gumam nya yang terdengar di telinga Nazeef.
Di tempat lain, Nina baru saja keluar dari bioskop bersama Arga. Namun ia tak menikmati tontonan nya kali ini.
"Kamu kenapa Nin?" tanya Arga.
Nina menggeleng. "Gak kenapa-napa kak.." sahutnya lesuh.
"Kita makan yuk."
Nina mengangguk.
"Mau makan apa?"
"Fast food aja kak, udah laper juga soalnya.."
"Oke."
Nina tersenyum getir merutuki kebodohan nya. Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada seorang playboy bahkan casanova sedang cowok di depan nya begitu perhatian dan gigih untuk mendapatkan cinta darinya.
🌸
***Bersambung...
Boleh emak minta vote dan hadiah?
Boleh dong ya 😂
__ADS_1
Maksa ini emak 🤣🤣***