
Pukul 03.30 di California, Amerika serikat.
Qenan baru saja sampai langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Letak asramanya pun tak jauh dari kampus, sehingga lebih efisien. Penampakan asramanya dari luar seperti bangunan megah dengan arsitektur klasik.
Ia memilih asrama yang tidak mewah. Hanya ada tempat tidur, lemari pakaian, rak buku, meja belajar dan sofa panjang dekat meja belajarnya.
"Apa Rara udah pulang kuliah?"
Dilirik arloji nya lalu mencari nama kontak wanitanya dan melakukan video call.
"Qenan."
Lelah perjalanan seakan sirna mendengar suara Nadira. Seperti biasa, istrinya itu jika menyebut namanya menyerupai sebuah rengekan manja.
Dan ia suka akan hal itu.
"Kamu dimana?"
"Aku di hotel papa lagi makan siang. Mungkin nanti malam aku bakalan kesini sama papa."
Dahi Qenan mengerut. "Mau ngapain?"
"Itu loh, hadir di acara ulang tahun pernikahan model terkenal itu. Luna Laluna itu."
"Jangan aneh-aneh sayang, ingat kamu punya aku."
Ia tersenyum geli melihat ekspresi malu-malu bila ia sudah menyebutkan kepemilikan pada istrinya itu.
Sangat menggemaskan.
"Aku nggak aneh-aneh Nan, lebih baik aku ikut papa dari pada harus di apartemen."
Qenan menghela nafas mengerti keadaan Nadira. Apartemen itu begitu banyak kenangan terlukis dalam ingatan tentang mereka berdua.
"Ya udah, kamu baik-baik disana. Ingat, aku selalu merindukan mu."
Hati Qenan meringis melihat mata Nadira yang sudah berkaca-kaca. Sepertinya ia harus berhati-hati dalam bicara agar istrinya itu tidak larut dalam kesedihan karena kepergian nya.
"Jangan menangis."
Bermaksud melarang dan membuat tenang Nadira justru semakin membuat tangisan itu pecah.
"Cepat pulang Nan."
Ingin rasanya mendekap tubuh sang istri saat ini. Ia pun begitu terpukul sama seperti Nadira. Namun benar yang dikatakan Nadira padanya waktu lalu.
Cinta bukan berarti menghalangi cita-cita.
"Iya aku akan cepat pulang. Kamu baik-baik disana ya. Titip Milly dan Mario juga."
"Iya."
"Aku matiin, bye Ra."
Video call itu terputus. Di ambil satu bingkai di dalam koper. Lalu ia gantung di dinding tepat di mana ia membuka mata di pagi hari maka bingkai itu yang ia lihat pertama kali.
"Kamu baik-baik disini. Marahi aku kalau kesiangan ya."
__ADS_1
Qenan tersenyum lalu menggeleng kepala menyadari kebucinan nya sudah menguasai diri.
...****...
Wijaya's Hotel, Jakarta, Indonesia.
Nadira dan Melinda sudah berada di Ballroom hotel. Awalnya Nina juga ingin ikut namun pacar nya begitu posesif melarang Nina untuk ikut.
"Banyak wartawan Lin." bisik Nadira namun Melinda tak mendengar karena fokus menatap kedua pemeran utama di pesta malam ini.
"Lin, kamu lihat apa sih?"
Melinda gelagapan lalu berdehem menetralkan kegugupan. "Itu lihat yang punya acara."
"Mereka serasi kan Lin."
Melinda hanya mengangguk. Tidak tahu saja bahwa Rian adalah sugar Daddy yang membiayai hidupnya.
Papa Surya menghampiri Nadira dan mengajak ke tempat dimana Rian dan Luna Laluna berada.
Melinda pun mengikuti. Ada rasa takut berada di dekat istri Rian. Mau bagaimana pun, ia adalah wanita simpanan suami Luna.
Melinda berdehem untuk meredupkan kegugupan. "Selamat ya kak Luna. Semoga pernikahan nya tetap langgeng."
Luna mengangguk tersenyum. "Kamu saudara om Surya ya?"
"Bukan, aku sahabat anak Om Surya." Dan simpanan suami kakak. Lanjut Melinda dalam hati.
Melinda meringis merasakan cubitan di pipi nya dari Luna. Namun tindakan Rian membuat ia sesak nafas bahkan tak dapat bergerak.
...****...
Ehem
Wido berdehem untuk menyadarkan atas perbuatan yang melewati batas dari sahabatnya itu.
Sebenarnya sedari tadi siang, Wido sudah mencurigai gelagat aneh yang di timbulkan kedua nya.
"Ah, maaf saya gak sengaja."
"Iya gak apa-apa."
Benar dugaannya, ada yang di sembunyikan dari kedua orang itu.
...****...
"Maafin suami kakak ya, dia memang gitu."
Melinda mengerutkan dahi melihat mimik wajah Luna yang tak mempermasalahkan kelakuan suaminya.
Sebagai seorang wanita, walau pasangan kita begitu baik kepada orang lain tetapi jika melakukan hal tadi pun pastilah cemburu, pikir Melinda.
Ia pun berjabat tangan pada Luna tak lupa menempelkan pipi kanan dan kiri pada pipi orang itu juga.
Lalu ia menghela nafas sejenak sebelum mengucapkan selamat pada Rian.
"Selamat ya Dad eh mas." Secepat kilat ia mengubah panggilan itu.
__ADS_1
Rian tampak terkekeh. "Makasih Mel." Ia mencondongkan tubuh mendekat pada Melinda.
"Daddy kangen desa han mu. Nanti Daddy pulang ke apartemen." bisik nya.
Melinda hanya mengangguk. Sekali lagi ia harus sadar jika itu adalah pekerjaan nya.
Tetapi, mengapa harus malam ini? apa tidak mengapa meninggalkan istri setelah acara ulang tahun pernikahan mereka?
Terserah mereka!
...****...
Nadira memilih menjauh dari Papa Surya bersama rekan-rekan bisnis itu karena obrolan mereka hanya seputar tentang tender-tender yang di menangkan perusahan papa Surya, harga saham yang terus meningkat, hingga terakhir ia dengar mereka membicarakan Caddy Golf yang membantu dan menemani mereka bermain di lapangan Golf.
Ia pun berjalan menuju meja tempat dessert di hidangkan. Memilih hidangan penutup karena tadi sebelum memasuki hotel, ia mampir ke warung nasi goreng langganan nya yang tak jauh dari apartemen Qenan.
Di ambil satu cup puding custard dengan toping potongan buah strawberry, buah kiwi, buah anggur, dan jeruk.
"Ini cantik." pujinya melihat dessert tersebut.
Pandangan matanya melihat Wido yang tampak duduk sendiri disana. Lalu berdecak ketika mendapati Wido curi-curi pandang padanya.
"Kamulah pria terbodoh yang pernah ku kenal Wido. Bagaimana bisa kamu tak ada menunjukkan cinta mu pada ku dulu."
"Dan aku penasaran apa alasan mu untuk tak menunjukkan cinta mu itu padaku."
...****...
Di tengah berjalan nya acara, tanpa mereka sadari kini Rian dan Melinda sudah berada di sebuah kamar Presidential Suite hotel tersebut.
Mereka tengah menikmati cumbuan panas yang tercipta. Rasa rindu terus menggebu hingga menciptakan gerakan menuntut meminta lebih dari cumbuan.
"Daddy, kenapa gak nunggu di apartemen aja? gimana kalau mereka mencarimu?" tanya Melinda setelah cumbuan panas mereka berakhir.
Rian tak lantas menjawab, sekali hentakan ia menggendong bak anak koala membawanya ke atas ranjang.
Di bawah kukungan Rian, Melinda menatap mata sayu Rian yang sudah bergai rah.
"Udah aku bilang, kalau aku kangen kamu Mel."
Melinda menghalangi bibir Rian yang hendak mencium nya.
"Kamu menolak ku, hem?" tanya Rian sedikit kecewa.
"Dad, ini bukan bentuk dari perasaan lebih dari partner di atas ranjang kan?" tanya Melinda takut-takut.
Jika ditanya bagaimana hati nya untuk Rian tentu ia merasa aman dan nyaman. Sugar Daddy nya itu begitu menjaga dan menghangatkannya.
Tak ada yang mendampingi disaat keterpurukan selain Rian, sugar Daddy nya.
Bahkan Dion pun tak ada, tapi ia tak menyalahkan cowok yang masih ada di hatinya itu.
"Aku nggak pernah tahu sejak kapan. Tapi aku begitu kangen kamu. Ayolah Mel, ini udah nanggung."
🌸
Bersambung..
__ADS_1