
Bagi wanita, kebutuhan seksual dan kehadiran seorang pasangan hidup, bukan menjadi dua hal penting yang mereka harapkan dari pernikahan.
Bagi wanita, kasih sayang lebih penting daripada kebutuhan seksual. Maka tidak heran jika wanita sangat mengharapkan kasih sayang yang terus menerus dari pasangannya, bahkan setelah menikah.
Yang kedua, kejujuran dan komitmen. Bagi wanita, kejujuran dan komitmen merupakan landasan utama dibangunnya sebuah pernikahan.
Rania memandangi penampilan nya dari pantulan kaca, ada rasa bahagia dan sedih menjadi satu yang dirasakan.
Tapi biarlah, ia cukup senang ada yang menerima nya padahal tak lagi gadis.
Satu jam lagi ia akan menjadi Nyonya Wido Prasetyo.
...****...
Nadira, Nina, dan Melinda saat ini masih berada di apartemen yang di tinggali Nina. Saat ini ketiganya masih mode badmood. Bagaimana tidak?
Arga ingin ikut ke acara pernikahan Wido.
Melinda akan bertemu Rian dan Luna di pernikahan Wido.
Dan parahnya, suami Nadira sedari tadi mengomel karena sudah mengetahui kelakuan Nadira masalah pernikahan Wido.
"Sayang, ini hari terakhir kok. Setelah ini aku gak akan dekat sama bang Wido. Tadi udah bilang papa jangan lagi dia yang antar jemput aku."
Ya, Nadira memutuskan untuk tidak terlalu dekat lagi dengan Wido. Jika kesepian, biarlah ia sendiri berada di apartemen Qenan untuk menikmati kerinduan.
"Kenapa kamu nggak bisa dibilangin sih? astaga Rara." tampak Qenan mengacak rambutnya frustasi.
"Kamu tambah ganteng kalau rambut nya acak-acakan begitu."
"Ini bukan waktunya merayu. Jam berapa acaranya?"
Nadira melihat jam dinding. "Satu jam lagi."
"Kamu boleh kesana tapi tetap bareng sahabat mu. Jangan terlalu lama dekat papa Surya, pasti kamu akan dekat sama Wido. Dan aku nggak mau Rania berbuat nekad lagi sama kamu."
Senyum terukir indah di wajah Nadira karena akhirnya Qenan mengizinkan ia pergi.
"Iya, aku sama Melinda aja karena Nina pacarnya ikutan."
"Ya udah, hati-hati. Jangan aneh-aneh Ra."
Nadira mengangguk. "Kamu juga. Jangan mabuk-mabukan loh."
"Iya, I miss you Ra."
"I miss you too Nan, cepat pulang sayang. Kamu nggak takut aku di gaet orang? aku dikira masih single loh.. Nggak ada yang percaya kalau aku ini udah nikah karena kamu gak pernah nampak."
"Kalau sampek itu terjadi, maka bersiaplah pria itu kehilangan kepalanya."
__ADS_1
Nadira menelan saliva dengan kasar setelah mendengar jawaban Qenan. Sungguh bukan itu maksudnya.
Di kampus Nadira bukan lah cewek populer di fakultas nya. Bukan seperti dunia pernovelan. Mana ada cewek populer hidung pesek dan bibir memble.
"Ya udah, aku pergi ya."
"Iya, jangan dandan cantik-cantik. Ingat kamu cuma punya aku."
Setelah panggilan video call terputus ketiganya saling pandang lalu menghela nafas.
"Elin, Lo nggak apa-apa ketemu Rian sama istrinya?" tanya Nadira yang masih penasaran sama perasaan Melinda.
"Gue sih nggak apa-apa kak, gak tau Daddy nya." jawab Melinda lesu.
"Kenapa gitu?"
"Daddy bilang udah mulai sayang sama gue kak."
Nadira memijit pangkal hidung karena merasa pusing dengan keadaan ketiganya.
"Kenapa nasib kita gini amat ya? lo lagi Nin, kapan itu cowok loh mau di putusin?"
Nadira bertanya seperti itu karena sudah sering tahu Nina memutuskan hubungan dengan Arga tetapi Arga tidak mau mengakhiri nya.
"Nggak tahu."
Bohong jika Nadira tidak takut atau curiga kepada Qenan yang sedang hidup di negara maju sana. Di tambah ada cewek yang menginginkan Qenan.
Akhirnya mereka menuju hotel dimana tempat acara pernikahan Wido. Bukan pernikahan mewah, hanya acara akad yang di hadiri papa Surya, papa Reno dan mama Sinta, Rian dan Luna, Nadira, Melinda, dan Nina, juga Arga. Bahkan orang tua Rania tak di izinkan hadir oleh Wido. Sedangkan Rendi tak bisa hadir.
...****...
Melinda terus saja merangkul lengan Nadira setelah memasuki Ballroom hotel. Mencoba bersikap wajar di depan para tamu apalagi setelah melihat tatapan mata Rian begitu menusuk jantung.
Ya, mereka sedang perang dingin beberapa terakhir karena ia merasa bersalah kepada istri Rian setelah ungkapan hati itu ia terima tetapi Rian beranggapan bahwa ia berubah setelah pulang dari Amerika.
"Lin, Daddy lo tajem bener kalau lihatin Lo dari tadi."
"Biarlah kak, gue gak mau lebih dari partner di atas ranjang doang."
"Tapi Daddy loh keren tahu nggak." puji Nadira sembari melirik ke arah Rian.
"Keren pun, kalau gue di jadikan simpenan mulu ya sakit juga."
"Tapi kalian kayak anak abege yang lagi marahan tahu nggak, gemesin."
Keduanya tergelak atas ucapan Nadira dan keduanya menjadi pusat perhatian.
Melinda menemani Nadira menyapa papa Reno dan mama Sinta. Cukup lama ia berdiam diri hingga Nadira mengajaknya untuk mengucapkan selamat pada pengantin.
__ADS_1
...****...
"Rania, selamat ya. Semoga langgeng sampek punya anak cucu." ucap Nadira tulus lalu menyerahkan kado yang ia bawa dan Rania membalas dengan pelukan dan ucapan terimakasih.
Melinda menatap dalam setiap gerak gerik Rania kepada Nadira. Dan ia menggeleng kepala merasa aneh melihat itu.
Mukanya antagonis banget.
"Selamat ya, walau gue gak pernah kenal sama lo, tapi gue harap pernikahan lo langgeng." ucap Melinda dan dibalas ucapan terimakasih dengan canggung.
"Selamat ya bang, moga cepat dapat momongan." ucap Nadira tulus dan dapat dilihat, kesenduan menghiasi wajah Wido.
...****...
Acara telah selesai, Wido dan Rania berada di sebuah kamar Presidential suite khusus di hadiahkan untuk mereka berdua kini.
"Mas. Ini-"
"Walau kita udah nikah bukan berarti posisi mu berubah." potong Wido masih duduk di sofa.
"Tuan. Nadira kasih ini ke aku. Apa harus ku pakek?"
Wido mendongak melihat apa yang di berikan. Sebuah lingerie merah menyala. Tampak sangat sek*si.
Namun kemudian senyum miring tercetak di bibir Wido.
Senyum meremehkan.
"Sepertinya kamu begitu menginginkan pernikahan ini sampek tak sabar ingin malam pertama." ejek Wido ketus.
"Gak perlu." Wido bangkit mendekati Rania lalu merebut lingerie tersebut dan memasukkannya ke paper bag.
"Pemberian Nadira terlalu berharga untuk kamu kenakan." ucap Wido tajam lagi.
"Kamu menginginkan malam pertama bukan? cepat buka baju mu." titahnya membuat Rania takut namun tetap menuruti apa yang Wido perintahkan.
Begitulah pria, bisa melakukan tanpa ada rasa cinta di antara mereka. Wido tak perduli bagaimana hati Rania, baginya malam ini adalah penyiksaan yang diberikan Nadira untuknya.
Begitu tega Nadira meminta dirinya menikah padahal tak ada sedikitpun niatnya untuk merebut Nadira dari Qenan.
Dan kini, Rania lah yang menjadi pelampiasan nya. Ia terus menjajakan kekuatan hingga puncak itu menghampiri nya.
"Nadiraaaa..." erang nya di akhir permainan.
Dengan cepat ia mencabut miliknya lalu bangkit menuju kamar mandi meninggalkan Rani yang meringkuk menahan tangis.
🌸
Bersambung..
__ADS_1