
"Nak.. Apa gak sebaiknya kamu ikut Qenan ke Amerika?" tanya papa Surya.
Tadi setelah dari kafe, Qenan dan Nadira langsung datang ke rumah papa Surya. Dan kebetulan papa Surya berada di rumah. Rencananya mereka akan menginap malam ini.
Nadira tak langsung menjawab malah memilih menoleh ke arah Qenan untuk memberi jawaban atas pertanyaan papa Surya.
"Papa gak mau egois nak, papa sadar seharusnya papa tak menuntut apapun dari mu. Papa banyak salah sama kamu." tutur papa Surya menunduk sendu.
Nadira bangkit lalu menghampiri papa Surya duduk disampingnya. Di genggam tangan pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu dengan senyum manisnya.
"Pa, jangan omongin masa lalu. Nadira udah maafin semuanya, udah gak ada dendam atau apapun lagi karena sejak awal Nadira hanya ingin tahu kalau papa adalah ayah kandung Nadira itu aja." Nadira merengkuh tubuh papa Surya dan mengusap punggungnya.
"Maafin papa."
"Iya.. Nadira juga minta maaf ya.."
Ayah dan anak itu saling menangisi masa lalu. Papa Surya menyesali semua perbuatan nya dan tentu Nadira memaafkan kesalahan papa Surya.
Sedang Qenan menatap keduanya dengan wajah datar. Ada perasaan tak rela. Bukan karena akan berpisah namun Nadira memeluk papa Surya.
Kenapa harus di peluk?
Ayolah Qenan.. Itu papa kandung nya oke.. Tapi kan mereka baru bertemu, wajar aku cemburu kan?
Oh shi t.
Qenan terus bermonolog pada hati nya. Ada rasa bimbang di hati untuk meninggalkan Nadira namun tekad nya sudah bulat untuk membuktikan bahwa dirinya bisa menjaga kesetiaan.
"Qenan.." Untuk ketiga kalinya Nadira memanggil Qenan namun tak ada jawaban.
"Qenan Abraham." pekik Nadira mulai kesal.
Sang pemilik nama pun akhirnya terjingkat kaget setelah nama lengkapnya disebut sang istri.
Ia mencebik kala melihat wajah masam Nadira, padahal jika istrinya itu tahu yang membuat ia melamun tak mendengar panggilan nya itu karena sang istri berpelukan dengan papa Surya.
"Iya-iya maaf Ra.."
"Qenan.. Apakah keputusan mu untuk membiarkan Nadira tinggal disini sudah bulat?" tanya papa Reno memastikan.
Qenan mengangguk pasti.
"Qenan.. Kamu percaya nggak, yang jauh akan kalah dengan yang selalu ada?" tanya Nadira memastikan karena ia tak ingin menjadi seperti mama Melati.
Qenan menatap lekat mata Nadira yang duduk di seberangnya. "Kalimat itu hanya dipercaya oleh orang-orang yang tidak benar-benar mencintaimu Ra. Apa kamu tak benar-benar mencintai ku?"
"Bukan itu maksud ku Nan.."
Papa Surya menghela nafas melihat anak dan menantunya mulai bersitegang akhirnya memilih pergi dari ruang tamu tersebut. Ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
__ADS_1
"Jadi apa Ra? aku akan membuktikan ke papa Surya kalau aku gak sama kayak beliau dahulu Ra.. Dan aku nggak mau kamu berada di negara bebas itu berlama-lama."
Biarpun keluarga papa Reno berasal dari negara Amerika, namun Qenan tak ingin Nadira menetap lama disana.
"Aku akan membawa mu waktu mengantarku saja. Dan aku akan kembali 3 bulan sekali nanti."
"Soal perkataan mu tadi, apa kamu tak benar-benar mencintai ku Ra? Apa kamu akan berpaling saat aku jauh dari mu?" imbuhnya lagi.
Jika benar, maka pupus sudah harapan Qenan.
Nadira bangkit kembali duduk di samping Qenan. Sama sekali tak bermaksud seperti itu.
"Justru aku takut kamu yang akan berpaling dari ku." keluh Nadira cemberut yang sedang bersandar di lengan Qenan.
"Takut kenapa?"
"Di Amerika bukan hanya hidup nya yang bebas. Tapi cewek-cewek disana itu cantik dan seksi. Bibir tipis, hidung nya mancung, mon to the toks juga."
Qenan tertawa mendengar itu bahkan ia tak pernah memikirkan cewek mana pun. Hanya Nadira.
"Aku nggak suka mereka. Hidung mancung dan bibir tipis udah biasa."
"Iya tapi tubuh mereka aduhai tahu."
"Nggak ada yang lebih aduhai dari istriku." Ia merangkul tubuh Nadira mencoba menenangkan ketakutan-ketakutan yang dialami sang istri.
"Dasar gombal." cebok Nadira namun ia memeluk Qenan dari samping.
...****...
Tadi ia sengaja naik taksi untuk datang ke kafe Hebat ini sendiri berhubung sang bos sudah berdua dengan istrinya pastilah tak ingin di ganggu oleh orang lain.
Tapi sialnya ia datang di waktu yang tidak tepat. Karena apa? begitu masuk bertepatan dengan jam makan siang ia melihat Arga sedang menyuapi Nina.
Cemburu? pasti.
Ingin memberi pelajaran? tentu.
Tapi ia bukan siapa-siapa.
Dengan dada bergemuruh ia harus menelan bulat-bulat rasa cemburu itu.
Tidak tahukah Nina, jika ia berusaha keras untuk menjadi cowok yang diinginkan Nina? hanya setia pada satu wanita saja.
Andai ia memiliki bukti jika Risa selingkuh pasti dengan mudah ia memutuskan hubungan nya.
...****...
Jika di lantai dasar ada sepasang suami istri saling menggombal lain pula di lantai dua dimana Dion sedang berada di ruang lukis.
__ADS_1
Sedari tadi ia terus menggerutu dan mengumpat dirinya sendiri karena pengaruh ciuman pertama dan wejangan Nazeef begitu kuat. Hingga ia melukis bibir bawah yang tergigit.
"Sial.. Ada apa sama gue?"
Ia geleng-geleng kepala ketika bayangan wajah Melinda mendekat dan semakin dekat lalu kedua bibir itu bertemu.
"Gue harus keluar dari sini, bisa gila gue lama-lama."
Dion memutuskan keluar ruang lukis dan bergabung bersama Qenan dan Nadira.
"Idih.. Najis gue lihat lo manja gini sama kakak gue." ucapnya sewot ketika melihat Qenan sedang tiduran di sofa dengan berbantal paha Nadira.
"Dion.." tegur Nadira karena saat ini Qenan tengah tertidur.
"Tidur?" tanya Dion pelan dan di angguki Nadira.
"Kenapa dia berubah jadi kucing manis kalau sama lo Dir?"
"Gue juga gak tahu karena dari awal kami nikah juga udah manis begini." jawabnya lirih masih mengelus-elus rambut Qenan.
"Serius?" tanya Dion memastikan karena ia ragu untuk percaya.
"Iya Ion, ngapa gue bohong."
"Asal lo tahu ya Dir, dari kami bertiga. yang jadi raja tega itu ya suami lo. Sampek pernah ada adik kelas nembak dia di muka umum di tolak mentah-mentah."
Nadira tertawa mendengar cerita Dion tentang suaminya.
"Pasti malu dan sakit banget jadi cewek itu."
Dion anggukan kepala. "Bener, sampek nangis dan Nazeef yang hibur."
Nadira terkekeh lalu menggeleng kepala tak habis pikir dengan kelakuan suaminya yang sungguh tega kepada orang lain.
"Oh iya, gimana hubungan mu dengan Melinda Ion?"
Dion ngedikkan bahu. "Masih jalan di tempat, gue rasa dia berubah akhir-akhir ini." sahutnya lirih.
"Berubah gimana?"
"Entahlah, dia nggak seberisik dulu dan kalau malam jarang banget ngasih kabar."
"Ya lo yang hubungi duluan dong.."
"Udah tapi gak di respon."
Nadira tak menjawab namun ia juga berpikir ada apa dengan Melinda?
🌸
__ADS_1
Bersambung...