
Akhirnya waktu itu tiba. Waktu yang sangat tidak diinginkan Qenan telah tiba tetapi sangat diinginkan Nadira.
Setelah dari mall Qenan dan Dion menemani Nadira untuk periksa ke dokter kandungan apakah kandungan nya tak masalah jika bepergian. Hasilnya tidak apa selama Nadira menjaga kesehatan jangan terlalu kelelahan dan tetap meminum vitamin juga susu hamil nya.
Ada sesuatu yang hendak dilakukan Nadira di negeri Jiran tersebut yang tak ada satu orangpun yang mengetahui nya. Bukan... Bukan pameran Dion yang membawa nya kesana.
Di tatap wajah Qenan yang tertutup penutup mata lalu tangan nya yang di genggam erat oleh tangan Qenan.
Sungguh ia sangat merasa bersalah harus membohongi Qenan kali ini.
POV Nadira
Malam ini aku akan berangkat ke Malaysia untuk menghadiri pameran seni lukis adik ku, Dion. Tapi bukan itu tujuan ku, aku akan menemui seseorang. Ya, seseorang dari masa lalu ku hingga sampai saat ini.
Aku ingin mengumpat habis-habisan pada orang itu yang begitu bodoh membiarkan ku jatuh cinta kepada orang lain.
Aku menoleh melihat seseorang yang sudah menjadi suami ku, suami rahasia.
Mau tahu kesan pertama aku melihat wajah bule tampan nya?
Aku terpesona.
Ya, aku begitu terpukau dengan wajah yang di pahat sempurna di wajah nya dan dia datang bak pangeran yang menolong rakyat jelata dari kedua penjahat yang hendak memperkosa ku.
Pertanyaan yang keluar dari bibirnya begitu merdu mengalun di telingaku hingga aku hanya mampu mengangguk lemah.
"Lo gak pa-pa?" kalimat pertanyaan itu dan sentuhan di bahu ku benar-benar membuat aku merasa tenang saat itu juga, sungguh saat itu ada angan ku ingin bisa menjadi kekasihnya.
Kejutan yang aku lihat sebelum nya seakan hilang dalam ingatan ku. Rendi... Kamu keterlaluan.
Pada saat penggerebekan itu, aku masih terpaku dengan bayang-bayang wajah bule tampan di sebelah ku hingga terkejut bahwa kami harus menikah.
Demi apa?
Angan ku hanya menginginkan menjadi kekasihnya tetapi Tuhan seakan memberikan ku lebih.
Aku harus senang atau sedih?
Hari demi hari kami lewati bersama, seakan kebersamaan kami akan terjalin lama. Aku tak tahu jika dia adalah pemilik kafe dimana tempat aku bekerja.
Jangan tanya bagaimana gugup nya aku hidup bersama dia. Jantung ku terus berdegub kencang, tiada waktu tak memikirkan nya, dan satu lagi aku ingin berada di sampingnya sepanjang waktu.
__ADS_1
Malam pertama? Bukan, kami siang pertama. Bahkan penyatuan itu di tunggu sahabatku, sahabat dia, dan adik ku.
Di kamar itu, aku begitu gugup dan ada rasa takut karena Qenan memaksa hak seorang suami hanya karena aku ingin mengakhiri pernikahan rahasia itu.
Aku terjerat.
Tetapi aku terbuai.
Dia, Qenan Abraham suami ku anak SMA tetapi dia jauh lebih dewasa dari ku. Aku suka setiap dia bisa mengendalikan emosi terhadap ku.
Aku mencintaimu, sungguh.
Tetapi ada sesuatu yang belum aku ceritakan padanya. Bahkan sekuat tenaga aku tak mengingat nya, tetapi hal itu terus saja mengganggu ku.
Mungkin lagi-lagi Tuhan memberikan keberuntungan untukku. Dion adalah jalan ku untuk bertemu seseorang itu dan aku akan menyelesaikan masalah ku padanya.
Ku hapus air mataku ketika Qenan membuka penutup mata. Dia tampak terkejut karena aku menangis.
"Kenapa menangis?" tanya Qenan merapikan anak rambutku ke belakang telinga.
Aku menggeleng, lidahku keluh untuk menjawab pertanyaan Qenan. Pertanyaan yang menusuk hati ini karena telah berbohong padanya.
"Maaf." kataku kembali menangis.
"Jangan minta maaf." ucapnya mengelus punggung ku.
Lihatlah, betapa dia mencintai ku? aku merasakan nya begitupun aku sangat mencintai nya. Tapi ku mohon maafkan aku sekali ini saja.
Setelah aku selesai dengan orang itu maka fokus ku hanya kamu. Bukan, tetapi kita.
Ku urai pelukan lalu ku katup wajah tampan nya. Perlahan ku kikis jarak wajah ku dengan wajahnya hingga bibir kami saling menempel.
Lebih dulu ku lu mat bibir yang selalu mencuri kesempatan untuk mencium ku. Aku tahu dia cukup terkejut akibat ulah ku yang lebih dahulu berinisiatif mencium bibirnya di tempat umum.
Biarkanlah ciuman ku ini pengantar kata-kata maaf karena setelah ini aku akan melakukan kesalahan.
"Kamu kenapa?" tanyanya setelah ciuman itu ku akhiri.
Aku menggeleng. "Aku merindukan mu."
"Aku juga rindu." jawabnya langsung mencium ku kembali.
__ADS_1
Tapi tunggu, aku sudah tahu bagaimana dia menciumku. Oh tidak, jangan sekarang suamiku.
"Qenan." desis ku namun aku tetap mendongak memberi akses bebas atas perlakuan nya yang tak kenal tempat. Bahkan aku merasa ia menggigit leherku dan menjilat jejak yang ia ciptakan sendiri.
Oh Qenan.. Mengapa fantasi sek*s mu begitu liar dan justru aku menikmati nya.
"Qenan.. Kita masih di pesawat dan banyak orang." Aku mencoba menghalangi kepala nya yang hendak bermain di payu dara ku yang masih terbungkus pakaian.
"Aku tahu tapi tetap nikmati." Jawaban nya itu membuat ku gusar, bagaimana bisa aku nikmati di tengah banyak nya orang di dalam pesawat?
Qenan menyelimuti tubuhku hingga menutupi leherku, aku hanya bisa pasrah ketika tubuhku sedikit dimiringkan kearah nya dan aku benar-benar terkejut saat kepala Qenan, bukan hanya kepala tetapi tubuh bagian atas nya juga ikut masuk ke selimut ku.
Sekuat tenaga aku mencegah desa han itu keluar dari bibir ku. Astaga Qenan.. Rasanya aku ingin mengumpat nya habis-habisan namun tubuh ku berkhianat.
Aku menikmati nya. Hisapan di pucuk payu dara ku dan gigitan kecil yang di berikan Qenan semakin membuat ku ingin mendesah hebat.
"Qe-qenan.."
Qenan tak menggubris bahkan kini aku merasakan tangan nya sudah mengelus milikku yang masih terbungkus celana.
Ah dasar suamiku.. Dia belajar dimana hal gila seperti ini? ternyata bukan hanya hebat dalam berbisnis. Namun dalam memuaskan ku juga sangat hebat.
Mataku terbelalak saat Qenan menurunkan resleting celana ku dan tangan nya sudah menyusup masuk ke cela na dalam ku.
Qenan keluar dari selimut yang menutupi tubuh ku. Jika kalian ingin tahu bagaimana keadaan pakaian ku? ah jangan, berantakan.
Mata sayu dan tatapan gai rah yang menggelora membuat ku tak tahan. Ku cium kembali dengan penuh tuntutan. Jari tengah yang sudah maju mundur menuntun pinggul juga bergerak seirama walau perlahan agar tak menimbulkan curiga pada penumpang lain nya.
"Qeenaan.. eeungh." lenguhku yang benar-benar sulit ku tahan.
"Apa sayang?"
Wajah yang berkabut gai rah itu semakin tampan di mataku.
"Lebih cepat." bisik ku.
Dan benar saja, di tengah malam itu aku menjadi korban fantasi suamiku lagi. Beruntung tak ada yang terusik disana.
Saat aku merasakan nikmat itu akan berujung, ku tarik tengkuk suamiku lalu ku lu mat kuat bibir bawahnya untuk menahan desa han panjang akibat pelepasan ku.
Aku rasa pelepasan itu selesai ku bebaskan pula bibir suamiku yang membengkak karena ulah ku. Dengan nafas terengah-engah aku meminta maaf pada Qenan dan dibalas senyuman olehnya.
__ADS_1
Qenan membantuku merapikan penampilan ku.
"Fantasi mu sungguh luar biasa suamiku." keluhku membuka selimut setelah penampilan ku sudah tak seberantakan tadi.