Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA

Menjadi ISTRI RAHASIA Anak SMA
Dia milikku, hanya milikku


__ADS_3

"Maaf, sayang." suara Nazeef terdengar seperti menyesal tetapi sebenarnya ia sedang menahan tawa.


"Udah?" tanyanya setelah melihat Nina sudah lebih baik.


Nina mengangguk. Namun wajahnya masih merengut karena Nazeef.


"Gue kangen Nin." ucap Nazeef tulus.


"Kangen sama pacar?" tanya Nina. Ia tidak mau percaya diri jika ucapan Nazeef untuknya.


Nazeef menggeleng. "Enggak, sama calon istri." bisik Nazeef membuat pipi Nina bersemu merah.


"Oh lo mau nikah?"


Nazeef masih tersenyum dan mengangguk. "Kapan gue bisa ke Bogor lamar lo?"


"Apa sih, jangan ngaco deh." Mulut berkata begitu namun percayalah hatinya sedang bahagia sekarang.


Nazeef beralih berdiri di depan Nina melihat rona bahagia di wajah itu. Sungguh, ia merindukan wanitanya saat ini.


"Mau ya nikah sama gue?"


"Lo ngelamar gue?"


Nazeef mengangguk.


"Gak ada romantis nya. Gini seorang playboy lamar wanitanya?"


Nazeef tertawa langsung mendekap tubuh Nina. "Entar gue atur deh. Kalau soal romantis, gue mah suhu nya."


Kedua nya tertawa. Setelah itu, selama jam kerja Nina tetap berada di Kafe. Memandangi Nina dari dalam ruangan nya melalui kaca tidak tembus pandang itu.


Bersyukur penantian nya tak sia-sia. Sekarang hanya memikirkan bagaimana meminta restu papa Reno dan mama Sinta, papa kandungnya, dan orang tua Nina yang materialistis.


Tetapi semua itu tidak akan membuatnya mundur. Cinta nya sudah ke pentok di Nina, si gadis berambut keriting.


...****...


"Kita mau kemana lagi, Ra?" tanya Qenan. Mereka berdua baru saja selesai fitting baju pengantin di butik mama Sinta sekaligus makan siang bersama.


"Mall yuk." sahut Nadira setelah beberapa waktu berpikir.


Qenan mengangguk langsung melajukan mobil menuju mall terdekat. Beberapa saat kemudian, mobilnya sudah terparkir, Qenan keluar dan memutari mobil membukakan pintu untuk Nadira.


"Silahkan, mi amor."


Nadira meraih tangan Qenan lalu keluar dari mobil. Namun perlakuan manis itu hanya sekejap karena Qenan sudah merangkul leher Nadira seperti sewaktu dahulu.


"Qenan." pekik Nadira mengikuti langkah lebar Qenan.


"Ayolah, kita udah lama nggak lakuin ini."


Nadira pasrah dan mengajak Qenan kemana pun ia inginkan, berbelanja keperluan dapur, dan keperluan mereka berdua.


"Aku mau makan es krim Nan."


"Enggak boleh, es krim kesukaan kamu itu mengandung susu dan cokelat. Kamu lagi datang bulan. Enggak baik, Ra."

__ADS_1


Nadira diam dan merajuk bak anak kecil.


Qenan menghela nafas. "Cokelat bisa meningkatkan kadar prostaglandin yang memicu kram saat menstruasi, Ra. Dan Mengonsumsi produk olahan susu saat menstruasi bisa menyebabkan kram. Kayak keju dan es krim itu mengandung asam arakidonat (asam lemak omega-6), yang dapat meningkatkan peradangan dan memperparah nyeri haid."


"Ngerti."


Nadira hanya mengangguk takjub karena suaminya itu menjelaskan secara detail, bahkan dirinya sendiri tak menghiraukan itu.


Ia tahu, tetapi sering abai dengan itu. Di tatap suaminya penuh cinta, sungguh kehidupan nya berubah indah setelah menjadi istri Qenan.


Nadira jinjit lalu mengecup pipi Qenan. "Ayo kita pulang."


...****...


Di sebuah kamar apartemen mewah. Dion membawa nampan berisi makan siang untuk wanita yang tengah berbaring di sana.


Apartemen mewah ini adalah milik Melinda. Tadi malam, setelah pelepasan pertama Dion dan Melinda langsung meninggalkan club' memilih apartemen Melinda untuk melanjutkan permainan karena tidak terlalu jauh dari sana.


"Oppa." cicit Melinda lirih.


Dion tersenyum kemudian duduk di sisi Melinda. "Kenapa ditutup begitu muka nya?"


"Malu sama oppa, aku belum pakek baju." sahut Melinda.


Dion terkekeh lalu menarik paksa selimut itu agar wajah Melinda terlihat. "Makan dulu, kamu belum makan dari pagi. Bukan nya dia mau menemuimu setelah ini?"


Ya, Dion sudah tahu semuanya. Tadi malam setelah tiba di apartemen ini, Dion meminta penjelasan Melinda.


Tentu saja dia cemburu dan marah. Tetapi cinta nya mengalahkan semua. Apalagi setelah mengetahui ialah pria yang mendapat kesucian Melinda. Dan ia meminta Melinda untuk segera menyelesaikan hubungan mereka.


"Maaf oppa." cicit Melinda.


Melinda mengangguk lalu duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut menutupi tubuh polosnya.


"Oppa yang masak?"


Dion menggeleng. "Aku gak bisa masak. Itu tadi pesan."


Dion meninggalkan Melinda di kamar. Dan Melinda membiarkan itu. Usai makan, ia memilih untuk membersihkan diri.


Ketika melangkah, ada rasa tak nyaman di area inti tubuhnya, tapi tidak begitu sakit karena Dion melakukan nya sangat lembut.


"Gini rupanya pecah pera wan." gumam nya dengan jalan perlahan.


...**...


"Qenan, kembalikan ATM gue."


"Ngapa? ini belum seminggu."


Ya, kemarin ketika mereka menemui Nadira di kampus pertama kali dan dengan berani kakak nya itu mencium pipinya membuat Qenan cemburu dan tanpa sepengetahuan Nadira, ATM Dion yang berisi uang jajan dari Nadira di sita Qenan.


"Ayolah, gue butuh. Kenapa lo suka banget sita ATM gue? bangkrut lo?"


"Diem lo, kalau mau ambil ke rumah. Masalah Melinda ke Tante Angel udah gue kelarin. Lo hutang banyak sama gue."


Senyum Dion mengembang. Ia tahu pasti Qenan akan bantu dirinya.

__ADS_1


"Thanks, brother."


"Hem. Burung Pipit lo udah nemuin sarangnya tapi jangan terus masuk sebelum lo nikahin."


Senyuman Dion terus terukir. "Baiklah, kakak sulung ku. Sekarang matikan telepon nya karena aku mau enak-enak sama calon istriku. Selamat menahan sampek Minggu depan."


"Bangsat."


Dion tertawa sembari memutuskan panggilan. Ia tentu tahu karena Nazeef yang bercerita padanya tadi pagi-pagi sekali ketika bercerita tentang Nina yang sudah putus dengan Arga.


Dion melihat Melinda berjalan ke arah pintu saat mendengar suara bel. Alisnya terangkat melihat siapa yang datang langsung memeluk Melinda.


Cemburu?


Pasti, tapi ia ingin hubungan mereka segera berakhir hari ini juga.


...****...


"Baby, maafin Daddy." Rian langsung memeluk tubuh Melinda begitu pintu terbuka.


Melinda menepuk punggung Rian agar pelukan itu terlepas. "Em, Dad jangan gini."


Rian mengurai pelukan memandang wajah Melinda lalu ketika arah pandangan nya ke leher Melinda membuat rahangnya mengeras.


"Apa kalian melakukan nya?" gumam Rian masih terdengar oleh Melinda.


"Iya, Dad."


Rian menggeleng lalu memeluk Melinda kembali. "Enggak, Mel. Kamu hanya milikku."


"Lepas, Dad. Aku nggak mau istri Daddy kesini."


...**...


Dion melihat suasana sudah tak kondusif membuat ia mendekati Rian dan Melinda.


"Lepaskan Elin." tukas nya membuat Rian menoleh kearah nya menatap dengan tajam.


Ia dapat melihat seringai menghiasi wajah Rian tetapi ia tidak perduli itu.


"Meli milikku." ucap Rian.


"Ya, dia milik mu dua tahun terakhir tapi enggak dengan sekarang." Dion menarik Melinda agar berdiri di belakangnya.


"Aku yang melindungi dia dan temani dia. Kamu kemana? hanya hinaan yang kamu berikan. Aku sayang dia bukan sepertimu yang gak pernah ada untuknya."


Dian terdiam membenarkan ucapan Rian tetapi hal itu tak membuatnya gentar sedikitpun.


"Kalau memang kamu sayang sama dia, kemana om semalam sampai Elin bisa ku sewa?"


Kini berganti Rian yang terdiam.


"Pasti sedang sama Tante Luna kan Dad?" tanya Melinda sedari tadi hanya menyaksikan perdebatan Dion dan Rian.


Dion menyeringai. "Itu yang dinamakan sayang? menomor duakan Elin? Pergilah, Elin tak lagi membutuhkan mu. Dia milikku, hanya milikku."


🌸

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2