
Di tengah asyik nya Nadira bercengkrama dengan Dion dan Nina yang belum lama datang, papa Surya menghampiri dengan dua orang cowok beda usia.
"Nadira.." panggil papa Surya otomatis Nadira dan Dion menoleh ke samping dimana asal suara papa Surya berasal.
Betapa terkejutnya Nadira melihat salah satu cowok yang baru ia lihat lagi setelah kejadian beberapa bulan lalu.
Seseorang dari masalalu nya.
"Sayang.. Kenalin ini Rendi keponakan om Wido."
Nadira tercengang mengetahui fakta baru tentang Wido adalah paman dari mantan pacarnya. Ia tahu selama di Bogor Rendi tinggal dengan kakek dan nenek nya, ia pun teringat beberapa kali di ajak Rendi berkunjung ke rumah kakek nenek nya hanya beberapa kali Rendi memberi tahu jika mereka kedatangan paman dari kota Jakarta.
Tapi ia belum pernah melihat wajah paman nya itu, hanya melihat punggung paman Rendi karena baik dari Nadira atau paman nya kala itu tak ingin bertegur sapa.
Tapi bagaimana om Wido tahu tentang kehidupan ku?
"Nadira.." tegur papa Surya mendapati putrinya melamun tak menyambut uluran tangan dari Rendi.
"Ah ya." Nadira menerima uluran tangan Rendi kikuk.
"Papa gabung sama sahabat papa dulu ya.. Rendi tolong jaga putri kesayangan saya."
"Baik tuan." jawab Rendi.
"Ah jangan seperti om kamu, panggil saya papa seperti yang lain ya.." Papa Surya pergi di ikuti dengan Wido di belakangnya.
Suasana di meja bundar dimana Nadira dan lain nya tampak hening karena Nadira diam saja semenjak kedatangan Rendi.
Dion dan Nina diam saling pandang lalu mengedikkan bahu masing-masing. Nina menatap Nadira dengan seksama lalu begitu juga menatap Rendi. Ia merasa curiga jika Rendi itu adalah mantan pacar Nadira yang selingkuh.
"Dir?" panggil Nina.
Nadira menatap Nina lalu mengangguk.
"Nana apa kabar?" tanya Rendi menyebutkan panggilan sayang untuk Nadira.
Nadira mencebik bibir mendengar panggilan tersebut karena ia sudah merasa jijik dengan orang yang memanggil ia dengan sebutan 'Nana'.
"Na.. Maafin kakak kejadian malam itu, hanya kamu yang kakak cinta."
"Percuma kak dan tolong jangan bahas itu lagi."
__ADS_1
"Nad, siapa?" tanya Dion penasaran.
"Mantan."
...****...
Qenan baru saja masuk ke dalam ballroom dimana tempat acara Nadira diselenggarakan. Tampak semua tamu memakai baju formal selain dirinya yang hanya memakai jaket berbahan denim dalaman kaos hitam lengan panjang dan celana bahan denim juga berwarna hitam.
Matanya menyipit mendapati Nadira duduk bersama orang yang ia kenal kecuali satu cowok yang mencoba mengobrol dengan Nadira.
Kedatangan nya menjadi pusat perhatian karena tampilan nya yang berbeda. Namun itu tidak membuat ia merasa terpengaruh karena sudah hal biasa di hidupnya. Matanya terus menatap lurus dimana sang istri berada.
"Sayang.." panggil sang istri membuat senyum di bibirnya terbit menambah ketampanan nya.
Nadira berhambur dalam dekapan Qenan yang sudah berdiri tak jauh dari meja mereka. Di kecup pucuk kepala Nadira dengan sayang.
"Kenapa lama datang? kamu terlambat 3 jam tahu.. Apa kamu gak kangen aku? aku nunggu kamu dari tadi." Nadira terus mencecar Qenan karena ia sudah merasa kesal pada Qenan.
Dion dan Nina memandang jengah dengan pasangan halal yang tersembunyi ini.
"Apa mereka tak malu? astaga.. apa mereka lupa kalau di luar sebagai pasangan kekasih?" gerutu Dion.
"Maaf aku terlambat datang Ra.."
Kening Nadira mengerut saat mencium bau mulut Qenan yang seperti tak biasanya.
"Kamu mabuk?" tanya Nadira.
Qenan menelan saliva kasar saat bertanya seperti itu. Meminum minuman beralkohol hal biasa setelah ia terjun menjadi pebisnis muda karena sebagian rekan bisnis nya terkadang mengajak nya ke club' malam.
"Hanya minum sedikit."
Seketika wajah Nadira berubah masam, pikiran-pikiran buruk merasuki isi kepalanya. Bagaimana orang yang sedang mabuk bisa berlaku kasar, tidur dengan banyak wanita, atau sebagainya.
Qenan menyadari perubahan raut wajah Nadira pun menunduk membisikkan sesuatu hingga membuat Nadira tersenyum.
"Tenang, aku minum nya saat berada di kamar bukan di tempat banyak orang, aku gak akan buat kesalahan akibat dari minuman itu."
"Baiklah, ayo kita duduk. Awas aja kalau sempat minum lagi, maka saat itu juga aku ikutan minum." Qenan mengangguk dan kembali dengan wajah datarnya.
Qenan sadar jika cowok di depan nya menatapnya dengan tatapan tajam seakan mengibarkan bendera perang padanya.
__ADS_1
"Kenalin gue Rendi pacar Nadira saat SMA." Rendi berdiri mengulurkan tangan.
Qenan tersenyum miring setelah tahu siapa cowok yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan tajam.
"Oh ternyata lo Rendi yang ketahuan sedang ciuman di taman waktu malam tahun baru? Kenalin gue Qenan lebih dari pacar Nadira." ucap Rendi panjang lebar tanpa menyambut uluran tangan Rendi.
Semua orang yang duduk dalam satu meja itu melotot mendengar jawaban Qenan. Baru kali ini Qenan bicara terlalu banyak pada orang yang tidak penting di hidupnya.
Apalagi Nina yang notabene nya adalah karyawan Kafe yang beruntung bersahabat dengan istri bos nya itu.
Sedang Rendi sendiri sudah menahan gemuruh di hatinya. Ia sungguh menyesal baru kemarin mengunjungi paman nya, Wido. Jika saja sedari lama pasti ia sudah tahu jika Nadira adalah putri dari bos paman nya itu.
Di meja bundar kain nya yang cukup jauh jarak antara meja itu dengan meja dimana Nadira berada namun masih bisa terlihat oleh mata.
"Surya.. Kayaknya kita bahkan jadi besan. ucap papa Reno melihat interaksi antara Nadira dan Qenan.
Papa Surya mengangguk membenarkan. "Ya, tapi bukan berarti aku memaksakan kehendak untuk kebahagiaan anak-anak ku."
Orang tua Qenan mengangguk setuju. Namun tidak dengan dua orang ibu dan anak itu.
"Sinta. Gimana dengan perjodohan Qenan dan anak ku Rania? Rania sangat menyukai Qenan dari dulu.. Bagaimana bisa malah berhubungan sama Nadira?" protes mama Lusiana.
"Kalau perjodohan itu terjadi dan menyakiti poutri ku, tak segan-segan aku akan membunuh anak mu Reno." Bukan papa Reno atau mama Sinta yang menjawab melainkan papa Surya.
"Kamu harus ingat Surya, yang hendak kamu bunuh adalah anakku." sargah papa Reno.
Papa Surya mengedikkan bahu. "Kamu tahu bagaimana diriku bukan?"
Mama Sinta menghela nafas sejenak melihat situasi menjadi tegang akibat protes dari Mama Lusiana.
"Maafkan aku Lus, tapi sejak awal Qenan gak pernah menyukai Rania dan sangat menentang perjodohan itu. Apalagi sudah ada Nadira."
"Tapi kan anak mas Surya lebih tua dari anak kita."
"Tua bukan berarti tak boleh berhubungan dengan yang muda selagi anakku bahagia." lagi-lagi papa Surya membela Nadira.
Rania yang terus di tolak merasa kesal akhirnya meninggalkan acara tersebut.
🌸
Bersambung...
__ADS_1