
"Terus kalau hukuman manis nya apa?" tanya Nadira polos membuat Qenan gemas.
"Aku menginginkan mu. Aku sangat merindukanmu Ra.." ucapnya dengan suara berat menahan gai rah.
"Ya udah ayo di kamar, sebagai permintaan maaf ku, maka dengan senang hati aku akan melayani mu."
Qenan menggeleng mengangkat tubuh Nadira ke pangkuan nya. Di rapikan anak rambut itu lalu di selipkan ke daun telinga nya.
"Aku gak mau di kamar Ra.." Lagi-lagi suara berat itu terdengar seksi di telinga Nadira.
"Jadi?"
"I want to make love in the open." (aku ingin bercinta di alam terbuka.)
"WHAT?!"
"Ka-mu bercanda kan Nan?" tanya Nadira tergagap menatap lekat wajah Qenan sekaligus menahan suara yang akan keluar. Apa lagi kalau bukan desa han.
Qenan menggeleng sembari menciumi leher Nadira, menghirup dalam-dalam harum tubuh istrinya.
"Pilih disini atau di kolam renang? kayaknya bercinta di kolam renang itu ide bagus."
Nadira tak kuasa mendengarnya, tubuhnya terus saja meremang ketika Qenan menyebutkan fantasi liar untuk bercinta. Sungguh hal itu di luar nalar seorang Nadira.
"Kenapa fantasi mu sangat liar Qenan? apa bener kamu itu sama sekali belum pernah bercinta sebelum menikahi ku?" Nadira memicingkan mata menatap curiga pada Qenan.
Qenan sendiri terkekeh di saat sedang membelai pipi mulus Nadira lalu di kecup bibir memble sebagai candu nya selama ini.
"Bagaimana bisa aku bercinta sedang ciuman pertama ku dicuri istriku sendiri." sahutnya lugas membuat Nadira tersipu malu.
"Qenan sakit iihh.." rengek Nadira ketika Qenan menekan hidung nya.
"Aku gemas tahu."
"Dimana-mana cowok itu tarik hidung ceweknya bukan di tekan gini." cebik Nadira dengan sewot.
Qenan tergelak hingga tampak deretan gigi putih dan rata tersebut tapi semakin membuat Nadira sewot.
"Iihh malah ketawa." sewot Nadira sembari mencoba untuk turun dari pangkuan Qenan.
Qenan menahan pinggang Nadira agar tetap duduk di tempat semula. "Mau tahu kenapa aku gak tarik hidung kamu saat gemas begini?"
"Kenapa?" tanya Nadira polos.
"Karena hidung kamu pesek Ra.." sahut Qenan menahan tawa.
"Ah iya aku lupa kalau hidung ku pesek, ya udah aku mau masuk."
__ADS_1
"Ehh.. Mau kemana? Kamu harus tanggung jawab."
"Tanggung jawab?"
Qenan mengangguk. "Rudal Amerika kesayangan kamu udah bangun."
Belum sempat Nadira menjawab bibirnya sudah dilahap Qenan dan tak ada celah untuk melawan hingga ia pun pasrah dan membalas setiap luma tan dan cecapan.
Ia menengadah memberi akses agar Qenan mudah menikmati leher putih dan mulusnya sampai kata 'ah' meluncur begitu saja.
Kedua tangan Qenan sudah menelusup masuk ke kaos yang di kenakan Nadira. Menjamah punggung hingga tempat-tempat yang ia suka. Hingga terdengar suara lenguhan dari Nadira membuat semakin semangat untuk memberikan sentuhan-sentuhan kenikmatan boada Nadira.
"Qenan.. Kamu yakin kita melakukan nya disini? ssshhtt aakh.." tanya Nadira diiringi desa han sebab kini Qenan tengah memainkan dua aset miliknya.
Qenan menghentikan isapan lalu mensejajarkan wajah nya ke wajah Nadira.
"Ya, aku ingin bercinta dan dipertonton bintang-bintang dan bulan." Setelah bicara ia langsung mencium bibir Nadira kembali dan ia merasa kedua tangan Nadira sudah mengalung di lehernya.
"Kasih aku alasan kenapa kamu ingin ingin bercinta di tempat terbuka kayak gini." ucap Nadira yang juga sudah di kuasai hasrat gai rah.
"Biar mereka tahu kalau kamu cuma milik ku dan bercinta di tempat terbuka penuh tantangan, aku akan mengulangi nya lagi."
Gila! itulah yang ada dipikiran Nadira sekarang.
Qenan mengangkat tubuh Nadira dan mengarahkan rudal Amerika ke inti Nadira dengan perlahan.
Dengan mata terpejam Qenan menikmati rudal Amerika masuk kedalam inti Nadira hingga sempurna.
"Aakkhh.."
Kini keduanya sudah menyatu. Dengan mata masih terpejam ia tersenyum merasakan denyutan-denyutan nikmat karena perlakuan Nadira saat ini.
Ya, Nadira berinisiatif menggerakkan pinggul naik turun di atas pangkuan Qenan.
"Kenapa? apa gak enak ya goyangan nya?" tanya Nadira karena Qenan menahan pinggul nya agar berhenti naik turun.
Qenan tak menjawab lantas menggendong Nadira ke pagar besi pembatas. Lalu ia membalikkan tubuh Nadira hingga membelakangi nya.
Di sodok kan rudal Amerika kesayangan Nadira sedikit keras hingga membuat Nadira memekik nikmat.
Bintang-bintang dan rembulan seakan iri melihat pergumulan panas di balkon itu. Bagaimana mereka melihat sepasang suami istri tersebut seakan lupa bahwa mereka berada di tempat terbuka.
"Sstthh Qenan.. A-ku akan Aakkhh.."
"Bersama sayang.."
"Aakkhh..."
__ADS_1
Qenan mempercepat ritme hentakan saat akan mencapai puncak kenikmatan. Kepala nya menengadah ketika lahar nya menyembur bersamaan dengan Nadira juga mencapai puncaknya.
"Qenan.. Cepatlah cabut si rudal, aku mau mandi.." rengek Nadira karena cukup lama mereka masih dalam keadaan menyatu.
Bukan menuruti justru Qenan menggerakkan pinggulnya kembali secara perlahan lalu ia memeluk Nadira dari belakang karena posisi Nadira membungkuk berpegangan pada pagar besi.
"Aku belum puas Ra.." bidiknya membuat tubuh Nadira meremang.
Di balik tubuh Nadira hingga menghadapnya lalu mencium kembali bibir ranum Nadira.
"Qenan.." pekiknya ketika merasakan tubuhnya melayang karena Qenan menggendong bak bayi koala membawanya masuk ke kamar.
Diletak tubuh Nadira ke atas ranjang kemudian melanjutkan permainan hingga mencapai puncak kembali.
"Terimakasih sayang.." Dua kata terucap setelah mencapai puncak dan ia beri kecupan di dahi nya.
Akhirnya kedua insan itu terlelap dengan sang suami memeluk sang istri dari belakang.
...****...
"Gue benci kebiasaan gue sendiri." gerutu Nina saat ini ia berada di dalam mini market memilih rasa mie instan.
"Ini aja deh yang pedes biar ngap sekalian." Nina mengambil dua cup mie instan dengan rasa pedas dan tak lupa mengambil sebotol air mineral di rak khusus minuman.
"Di seduh sekalian ya kak.." ucapnya saat berada depan meja kasir.
"Oke, tambah 2000 ya kak."
Nina mengangguk dan mengambil uang pecahan 2000 menyerahkan kepada kasir tersebut tepat saat itu pula ia menerima dua cup mie instan.
Ia berjalan keluar mini market memilih duduk di teras minimarket tersebut. Menikmati satu cup dengan lahap, setelah habis ia ambil satu cup lagi.
"Jangan buru-buru kalau makan." ucap seseorang membuat Nina tersedak karena terkejut melihat orang yang duduk di sebelahnya secara tiba-tiba.
Orang itu menyodorkan botol air mineral milik nya.
"Gak usah sok perhatian, sana lo." usir Nina dengan ketus.
Wajah orang itu terlihat sendu diperlakukan seperti itu kepada Nina.
"Sampai kapan lo ketus sama gue Na? gue kangen Nina yang dulu."
"Udah lah Zeef, gak usah bahas gimana gue dulu ke lo. Jangan lupa kalau dulu gue belum tahu seberengsek apa diri lo." Nina bangkit meninggalkan Nazeef begitu saja.
Sedang Nazeef mengacak rambut dengan kasar karena merasa frustasi. Tadi ia hanya tak sengaja melihat Nina sedang makan di depan minimarket ini dan menghampiri nya berniat meminta kesempatan kepada Nina namun lagi-lagi ia gagal.
"Ya lo bener Nina.. Gue memang berengsek."
__ADS_1
🌸
Bersambung..